
Ijinkan Aku Mencintaimu
Bab 2
“Heeum tapi ada satu hal yang ingin ku bicarakan juga dengan mas,” deham Sheeree. Tangannya mengetuk-ngetuk meja mini malis di depannya.
“Apa?” tanya Arvid singkat.
“Kesepakatan—aku ingin membuat kesepakatan dengan mas,” jawaban Sheeree spontan membuat Arvid berhenti membaca berkas. Matanya beralih menatap ke arah gadis yang sudah satu tahun di nikahinya.
“Kesepakatan?” beo Arvid mengernyitkan dahinya. “Apa maksudmu?”
“Iya kesepakatan. Hari ini kontrak pernikahan kita berakhir tapi aku ingin membuat kesepakatan baru. Beri tambahan waktu selama 1 bulan untukku lebih berusaha mendapatkan cinta mas. Jika selama 1 bulan itu, aku tetap gagal. Aku sendiri yang akan menandatangani surat perceraian dan bercerai tanpa meminta harta. Aku juga akan bertanggung jawab untuk memberitahukan pada keluarga besar mas tentang alasan kita bercerai karena tidak cocok. Bagaimana menurut mas kesepakatan ini?” jelas Sheeree lembut seperti biasanya.
Sheeree sudah memikirkan kesepakatan itu sebelumnya dan sangat berharap Arvid mau menyetujuinya. Ia tidak meminta lebih. Hanya persetujuan Arvid yang di mintanya.
“Kamu pikir saya mau menyetujuinya?”tanya Arvid datar. Matanya menatap tajam ke arah Sheeree.
“Yeah aku pikir memang begitu. Mas merupakan sosok yang selalu berpikir dengan logika. Jadi ku rasa mas tidak akan mengabaikan kesepakatan yang saling menguntungkan ini,” ucap Sheeree tidak merasa takut sama sekali dengan tatapan tajam Arvid.
“Hmmm baiklah,” Arvid menganggukkan samar kepalanya.
“Mas setuju?” tanya Sheeree memastikan arti anggukan Arvid barusan.
“Ingat hanya satu bulan saja, tidak lebih!” dengan ucapannya ini, berarti Arvid setuju. Sheeree bisa bernafas lega dan tentu merasa senang mendengarnya. “Saya setuju dengan kesepakatan ini bukan karena ucapanmu tadi. Anggap saja ini sebagai kompensasi untukmu,”
“Kompensasi?”beo Sheeree tidak mengerti. Kompensasi apa yang di maksudkan Arvid. Sampai suaminya itu mau menyetujui kesepakatan yang di ajukannya.
“Kompensasi untukmu yang sudah mau berakting dengan saya. Sebagai suami-istri yang saling mencintai,”ucapan Arvid ini membuat Sheeree tersenyum kecut mendengarnya.
Selama ini memang ia dan Arvid selalu berakting di hadapan keluarga besar suaminya itu. Mereka berdua berakting layaknya saling suami istri. Padahal hanya ia yang benar-benar mencintai, tidak dengan Arvid.
Sheeree selalu berharap satu hal. Bisakah mereka berdua benar-benar saling mencintai, bukan cuma akting semata?
“Mas sendiri sudah tahu. Aku benar-benar mencintaimu, bukan berakting. Em tapi kalau mas menganggap seperti itu, juga bukan masalah. Setidaknya kesepakatanku di setujui mas,” balas Sheeree masih dengan mengetuk-ngetuk meja mini malis di depannya.
“Kesepakatanmu sudah saya sepakati. Lalu sekarang apa lagi yang perlu kita bicarakan?” Arvid bertanya seraya kembali fokus membaca berkas di tangannya.
Yah bagaimana pun Arvid sudah tahu bahwa Sheeree mencintainya tapi hatinya tidak bisa di paksakan. Ia tidak bisa membalas cinta Sheeree dan tidak ingin menyakitinya terlalu jauh. Makanya ia membuat dinding penghalang untuk mereka berdua dengan kontrak pernikahan.
“Masih ada yang perlu kita bicarakan, mas!” jawab Sheeree.
“Katakan!” seru Arvid singkat.
“Kesepakatan ini akan di mulai dari besok. Selama kesepakatan ini berlangsung, aku mau mas menuruti semua keinginanku. Apa pun itu, mas tidak boleh menolaknya sama sekali!” ucap Sheeree tanpa ragu. Ia memang sudah memikirkan beberapa hal yang mungkin bisa membuatnya berhasil mendapatkan cinta Arvid.
“Salah satunya?”
“Aku ingin memeluk dan di peluk mas,” dengan santainya Sheeree mengucapkan itu.
Selama ini memang tidak pernah sekali pun merasa di peluk oleh Arvid. Kalau pun ada, paling tidak benar-benar memeluk atau pun di peluk. Mengapa? Hal ini di karenakan Arvid selalu berusaha menjaga jarak darinya.
“Hmmm tidak masalah,” deham Arvid langsung menyetujuinya.
“Mas tidak keberatan?” tanya Sheeree tersenyum lebar.
“Hanya seperti itu tidak masalah. Asal tidak tidur bersama,” tukas Arvid tanpa berhenti membaca berkas di tangannya. Seolah berkas lebih nyaman untuk di lihat, daripada Sheeree.
“Terima kasih, mas. Aku jamin semua yang ku inginkan hal biasa saja. Tidak mengarah ke hal yang tidak di inginkan mas,” ungkap Sheeree lembut.
“Itu bagus,” singkat Arvid.
“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggu mas lagi. Aku pergi kuliah dulu,” Sheeree beranjak berdiri dari sofa yang di dudukinya.
“Jangan lupa sarapan, mas!” lanjutnya
Selama ini Sheeree tidak pernah sarapan atau makan bersama Arvid. Padahal mereka berdua tinggal di satu rumah yang sama. Bukankah itu terdengar konyol?
“Hmmm,” Arvid berdehem ringan membalas ucapan Sheeree.
Sheeree keluar dari ruang kerja Arvid, sesudah berpamitan. Ia berjalan dengan perasaan bahagia. Setidaknya masih ada waktu 1 bulan untuknya berjuang lagi mendapatkan cinta Arvid. Walau pun nantinya ia gagal, tidak akan di sesalinya.
“Non sarapan dulu!” seru wanita paruh baya yang tadi datang ke kamarnya. Saat ini ia menghampiri Sheeree.
“Aku makan di kampus saja, bi Ana! Takut telat,” Sheeree menolak secara halus.
Wanita paruh baya itu bernama Damiana. Di panggil Bi Ana. Sudah bekerja bertahun-tahun di rumah Arvid. Kerjanya pun dari pagi sampai sore hari saja. Setelah pekerjaannya selesai, Bi Ana akan pulang ke rumahnya sendiri.
“Begitu ya non? Bagaimana kalau bibi buatkan bekal untuk nona?” tawar bi Ana pada istri dari tuannya itu.
“Boleh deh, bi! Maaf kalau merepotkan,” Sheeree merasa tidak enak hati kalau menolak tawaran dari bi Ana. Wanita paruh baya itu sudah datang pagi-pagi sekali ke rumah untuk membuatkan sarapan.
“Tidak apa-apa. Nona tunggu sebentar, bibi buatkan bekal!” seru bi Ana yang langsung di balas anggukan pelan dari Sheeree.
Bi Ana segera pergi dari hadapan Sheeree dan membuatkan bekal di dapur. Beruntungnya sarapan sudah siap. Sehingga bi Ana hanya perlu memasukkan beberapa menu sarapan itu ke dalam kotak bekal Sheeree. Tidak lupa pula beberapa potongan buah segar di masukkan bi Ana. Sheeree memang suka menjadikan potongan buah segar sebagai penutup makannya.
Berselang 5 menit, bi Ana sudah kembali ke hadapan Sheeree. Di tangannya membawa kotak bekal. “Ini bekalnya, non!”
“Terima kasih, bi! Aku pergi kuliah dulu,” Sheeree menerima kotak bekal itu seraya berpamitan.
“Hati-hati non!”
Sheeree mengangguk samar, sebelum pergi dari hadapan bi Ana. Ia pergi menuju keluar rumah. Di mana mobil Lamborghini biru miliknya sudah terdapat di sana.
“Kuncinya non,” seorang laki-laki paruh baya bergegas menghampiri Sheeree dan memberikan kunci mobil padanya.
Sheeree memang pergi kuliah dengan mengemudikan mobil sendiri. Sama seperti pada saat ia masih duduk di SMA. Keluarganya cukup kaya sehingga untuk membelikan Sheeree sebuah mobil, bukanlah hal yang sulit.
“Terima kasih, pak Diky!” Sheeree menerima kunci mobilnya dan tidak lupa berterima kasih pada pak Diky, sopir pribadi dari Arvid. Baru bekerja sekitar 2 tahun yang lalu.
“Sama-sama non,” pak Diky menunduk hormat seperti biasanya.
“Aku pergi dulu, pak Diky!” seru Sheeree sembari membuka pintu mobilnya dan meletakkan tas beserta kotak bekalnya di kursi sebelah kursi pengemudi.
“Hati-hati di jalan, non!”
Sheeree tersenyum tipis, bersamaan dengan anggukan pelan kepalanya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam mobilnya. Pintu mobil kembali tertutup secara otomatis. Sebelum melajukan mobil, tidak lupa Sheeree memasang sabuk pengamannya. Kemudian barulah ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menjauhi kawasan rumah.
Anda Mungkin Juga Suka





