
Ibu Tiri yang Buta Hati
Bab 3
Tapi sesaat berikutnya, tanganku diinjak keras dengan hak sepatu stiletto.
"Masih ingin mengadu ke suamiku?"
Aku menjerit kesakitan. "Aku Kiara Danaraja! Ayahku nggak akan mengampunimu!"
Sandra terdiam sejenak, memicingkan matanya melihatku.
Kukira dia akhirnya menyadari bahwa mataku mirip dengan mata ayahku. "Kalau kamu nggak percaya, telepon ayahku sekarang juga!"
Tak kusangka, dia tertawa seperti sedang melihat orang bodoh.
"Payah sekali. Kalau kamu mau bohong, mikir yang realistis sedikit."
Sambi terus mengerahkan kekuatan pada kakinya, mata Sandra menatapku penuh rasa jijik. "Siapa yang nggak tahu kalau anak perempuan Ditya buta untuk menyelamatkannya!"
"Apa nggak lucu kamu mengaku-ngaku sebagai anaknya dengan dua mata besarmu ini?"
Hatiku tersentak sampai aku tidak bisa bicara.
Tidak pernah kubayangkan bahwa kejutan yang ingin kuberikan kepada ayahku malah membuatku terjebak dalam bahaya.
Tiba-tiba, sebuah kantong hitam menutupi kepalaku.
"Lepaskan aku!"
"Kalian nggak boleh melakukan ini padaku. Aku Kiara Danaraja!"
Aku meronta-ronta sekuat tenaga.
Tapi tidak ada gunanya. Aku tetap dibawa ke bagasi mobil oleh pengawal itu dengan kasar.
Sandra mendesak, "Jalan yang cepat! Aku nggak mau terlambat ke pernikahan."
Mobil itu pun melaju lebih kencang lagi. Tubuhku semakin terhempas ke sana kemari hingga aku benar-benar pingsan.
Aku terbangun kembali disambut ejekan dan tertawaan.
"Sedang apa kalian! Jangan sentuh aku!"
Aku sangat ketakutan, mencoba bangkit dan melarikan diri.
Tawa itu bercampur dengan jeritan-jeritanku.
Liliana masih lanjut mengarahkan mata kameranya padaku.
"Tunggu sebentar, aku mau cari posisi dulu!"
"Ide Kak Sandra bagus sekali. Selain membuat pelacur ini jera, kita juga harus tunjukkan ke Pak Ditya betapa murahnya simpanan kesayangannya ini."
"Biar jangan jajan di luar lagi setelah menikah dengan Kak Sandra!"
"Aku 'kan mau jadi istrinya, tentu saja aku harus menguruskan hal ini untuknya."
Aku bahkan tidak ingat lagi berapa lama aku dilecehkan. Aku bahkan tidak bisa membedakan wajah-wajah mereka lagi.
Aku terbaring tak bergerak di lantai seperti boneka yang rusak.
"Dia ... nggak akan mati karena ini, 'kan?"
Seorang pengawal menatapku dengan khawatir. "Kak Sandra, ini hari pernikahanmu, jangan sampai ada kejadian yang membawa sial. Pak Ditya suka memperhatikan hal-hal seperti ini ...."
Sandra tidak senang mendengarnya dan menatap pengawal itu dengan tajam. "Jangan percaya takhayul!"
Tapi dia lalu tersenyum tipis.
"Tapi kalau dipikir-pikir ... warna merah membawa keberuntungan di hari pernikahan, 'kan?"
Anda Mungkin Juga Suka





