
Ibu Tiri yang Buta Hati
Bab 4
Sandra menyuruh pengawalnya untuk menggantungku.
"Kamu ...."
Aku sudah di ambang kematian. Melihat pisau yang ada di tangannya, aku hanya bisa memohon dengan tubuh gemetar, "Kamu ... nggak boleh melakukan ini kepadaku ...."
"Kenapa nggak?"
Dia tertawa sinis. "Sudah berani jadi pelakor, harusnya berani juga menerima kemarahan istri sahnya."
Segera, darah mengalir ke lantai.
Aku meringis kesakitan, tersadar kembali, dan menjerit.
Sandra mengerutkan kening. "Berisik."
Jadi, Liliana cepat-cepat memotong selembar kain dari gaunku yang sudah robek dan menyumpal mulutku dengan tatapan jijik. "Seluruh tubuhnya bau laki-laki, menjijikkan sekali!"
"Makanya, aku harus membantunya."
"Ini hadiah yang ingin kuberikan untuk suamiku. Kulit kotor ini nggak pantas muncul di pesta pernikahan dan menodai pandangannya."
Aku mengejang kesakitan. Air mataku berderai bercucuran.
Dia menusukku dengan pisaunya. Bibirnya tersenyum puas. "Pernikahanku nanti pasti berjalan dengan baik."
Aku akhirnya berhenti gemetar, dan kepalaku terkulai lemas.
Karena aku mati dalam siksaan ini.
Tapi Sandra kembali meminta pengawal untuk memasang kawat di bahuku untuk dibentuk menjadi sayap.
Lalu, dia mengeluarkan campuran pasta berwarna abu-abu.
Sedikit demi sedikit, campuran itu menutupi daging dan darahku.
Agar cepat kering, semua pengawal memegang pengering rambut besar ke tubuhku. Sementara Sandra berkonsentrasi mengukir tubuhku dengan pisau, dan akhirnya mengubah tubuhku menjadi patung malaikat yang menderita.
"Kak Sandra memang hebat seperti biasa. Cantik sekali hasilnya!"
"Pak Ditya nggak akan menyangka kalau kesayangannya disembunyikan di sini!"
Liliana bertepuk tangan dan memuji, bahkan hampir memuja-muja.
"Memang biar dia nggak tahu!"
Sandra mengangkat dagunya dengan bangga. "Tunggu beberapa saat, baru beri tahu. Biar dia terkejut!"
Tepat pada saat itu, ponselnya berdering.
"Sandra, dari mana saja kamu? Kenapa kamu belum mulai rias?"
Ternyata Ayah yang menelepon.
Suara itu sangat lembut di telingaku. Rasa sakit merobek-robek hatiku yang telah berubah menjadi roh yang melayang.
Sandra tertawa misterius. "Aku sedang menyiapkan hadiah untukmu!"
"Oh ya? Kamu memang selalu perhatian."
Ayah sangat senang, dan suaranya menjadi semakin lembut. "Waktunya sudah mepet, cepat ke sini. Jangan sampai terlambat."
"Aku tahu. Tunggu aku!"
Sandra menutup telepon dengan wajah bahagia.
Aku dimasukkan ke dalam lemari kayu yang indah dan dibawa ke tempat pernikahan.
Ayah telah mengenakan setelan jas dan sepatu kulit. Dia tersenyum dan bertanya penasaran, "Apa isinya, kenapa besar sekali?"
Ini aku, Ayah ....
Aku berteriak sekeras yang aku bisa, tapi dia bahkan tidak bisa melihat aku.
Sandra memeluk lengannya dan bertingkah manja. "Buka sendiri, Sayang."
"Oke, oke."
Ayah membuka lemari kayu besar itu.
Patung malaikat seukuran manusia pun sontak menarik perhatian para tamu di sekitar.
"Detailnya indah sekali!"
"Hasil karya pematung terkenal memang nggak diragukan lagi!"
Pujian dari para tamu membuat ekspresi Sandra semakin bangga.
Mata Ayah juga tampak kagum. "Sandra, ini pasti karya bersejarah lagi. Aku yang nggak mengerti seni saja bisa merasakan kesedihan seorang gadis muda yang akhirnya terbebas setelah penderitaan besar!"
"Soalnya, memang ada seorang gadis di dalamnya."
Sandra terkekeh.
Wanita berusia empat puluhan itu mengedipkan mata sambil bercanda. "Dia pelacur yang kamu simpan di luar."
"Karena aku tahu kamu menyukainya, aku membuatnya jadi patung."
"Patung ini harus ditaruh di kamar, biar kamu bisa melihatnya setiap malam. Biar kamu nggak repot-repot menyelinap ke luar, oke?"
Anda Mungkin Juga Suka





