Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ibu Mertuaku Mengusirku

Ibu Mertuaku Mengusirku

Hidup Anjani hancur setelah divonis mandul. Ia dibuang oleh Bagas, suaminya, yang justru memilih menikahi Sinta, adik tiri Anjani sendiri. Di tengah luka pengkhianatan itu, Anjani dipaksa menikahi seorang pria lumpuh demi melunasi tumpukan utang ayahnya. Terjepit di antara nasib malang dan tekanan keluarga, mampukah Anjani bertahan? Akankah ia menerima pernikahan barunya atau memilih melarikan diri demi membalaskan dendam pada Bagas dan Sinta?
Bab
Bagikan

Bab 2

Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa serta janji sebuah hari yang baru, namun bagi Anjani, ia terasa seperti permulaan sebuah siksaan yang lain. Semalam ia tidak tidur. Kata-kata Pak Rahmat, tentang perjodohan dengan Bima, pria lumpuh yang akan melunasi semua utangnya, terus berputar di benaknya. Ini adalah langkah yang mengerikan, namun juga satu-satunya jalan keluar yang ia miliki. Jalan yang penuh duri, tapi mungkin juga jalan menuju kekuasaan yang bisa ia gunakan untuk membalas dendam pada Bagas dan Sinta.

Anjani bangun dari tempat tidur sewaan yang sempit dan kurang nyaman. Ia hanya mampu menyewa kamar kecil di sebuah losmen kumuh dengan sisa uang yang ia miliki. Setiap sudut kamar terasa mencemooh nasibnya. Dinding yang mengelupas, kasur yang tipis, jendela yang menghadap gang sempit-semua berteriak tentang kehancuran hidupnya. Namun, kini ia memiliki tujuan, dan tujuan itu memberinya kekuatan untuk bangkit.

Ia meraih ponselnya. Sebuah pesan dari Pak Rahmat sudah masuk, berisi alamat kediaman keluarga Bima. Sebuah alamat di kawasan elit Jakarta Selatan, kontras dengan tempat Anjani berada saat ini. "Jalan Camar Biru No. 17." Sebuah alamat yang terukir di benaknya, gerbang menuju babak baru yang tak terduga.

Anjani mandi dengan cepat, membasuh sisa-sisa air mata dan keputusasaan yang melekat di kulitnya. Ia mengenakan satu-satunya setelan pakaian formal yang ia bawa: blus putih sederhana dan rok hitam. Rambutnya ia kuncir rapi. Ia berusaha keras untuk terlihat tegar, meski hatinya terasa seperti remahan biskuit. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan di hadapan keluarga Bima, apalagi di hadapan Bima sendiri. Ia harus tampil sebagai wanita yang berharga, yang layak untuk dinikahi, bukan sebagai wanita yang terbuang dan putus asa.

Sebelum berangkat, ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Matanya masih sembab, tapi kini ada percikan api di sana, percikan tekad yang membara. "Ini bukan untuk mereka," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Ini untukmu, Anjani. Untuk balas dendammu."

Ia keluar dari losmen, udara pagi Jakarta yang panas langsung menyergapnya. Ia memutuskan untuk naik taksi online, meski ia tahu itu akan menguras sebagian besar uangnya. Ia tidak ingin terlambat, dan ia tidak ingin tiba dalam keadaan lusuh.

Perjalanan terasa sangat lama. Setiap gedung pencakar langit yang menjulang, setiap mobil mewah yang melintas, seolah menertawakan kemiskinan dan penderitaannya. Anjani menekan gejolak emosi di dadanya, membiarkan kemarahan menjadi bahan bakar.

Akhirnya, taksi berhenti di depan sebuah gerbang hitam besar yang menjulang tinggi, diapit tembok batu alam yang kokoh. Ini bukan sekadar rumah, melainkan sebuah kompleks megah. Gerbang itu terbuka otomatis, menampakkan taman yang terawat sempurna dengan air mancur di tengahnya. Sebuah mansion bergaya Eropa klasik berdiri anggun di ujung jalan berliku, dikelilingi pepohonan rindang dan bunga-bunga eksotis.

Anjani merasakan lututnya sedikit gemetar. Ini adalah dunia yang sangat berbeda dari yang pernah ia kenal. Ia terbiasa hidup sederhana, bahkan setelah menikah dengan Bagas pun, rumah mereka tidak semewah ini. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia adalah Anjani, bukan lagi gadis polos yang mudah diinjak-injak.

Seorang pria berseragam membukakan pintu mobil untuknya. Anjani melangkah keluar, kakinya menapak di atas kerikil putih bersih. Aroma bunga melati dan mawar samar-samar tercium di udara. Ia berjalan perlahan menuju pintu utama mansion, yang terbuat dari kayu jati ukiran, terlihat begitu kokoh dan megah.

Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Seorang pelayan wanita dengan seragam rapi tersenyum ramah padanya. "Selamat pagi, Nona Anjani. Silakan masuk. Tuan dan Nyonya sudah menunggu."

Anjani mengangguk, melangkah masuk ke dalam mansion. Interiornya jauh lebih mewah dari yang ia bayangkan. Lantai marmer berkilau memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang menjuntai di langit-langit tinggi. Lukisan-lukisan mahal tergantung di dinding, dan perabotan antik tertata rapi di setiap sudut. Ini adalah kekayaan yang nyaris tak terbayangkan.

Ia diantar ke sebuah ruang tamu yang luas. Di sana, duduk sepasang suami istri paruh baya, yang Anjani yakini adalah Tuan Arion dan Nyonya Diana, orang tua Bima. Mereka mengenakan pakaian yang raawat dan berkelas. Nyonya Diana tersenyum tipis, tapi matanya terlihat menilai. Tuan Arion tampak serius, dengan tatapan tajam yang sulit ditebak.

"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya," sapa Anjani, berusaha terdengar sopan dan tenang.

"Selamat pagi, Anjani," sahut Nyonya Diana, suaranya lembut namun berwibawa. "Silakan duduk."

Anjani duduk di sofa empuk, punggungnya tegak. Ia mencoba mengamati ekspresi mereka, mencari tahu apa yang ada di benak mereka.

"Jadi, Anda sudah tahu maksud kedatangan kami?" tanya Tuan Arion, suaranya dalam dan tegas.

Anjani mengangguk. "Ya, Pak. Pak Rahmat sudah menjelaskan situasinya."

"Baik. Kami tidak akan berbasa-basi. Kami tahu Anda sedang dalam kesulitan, dan kami bersedia membantu melunasi semua utang ayah tiri Anda," lanjut Tuan Arion, langsung ke intinya. "Sebagai gantinya, Anda harus bersedia menikah dengan putra kami, Bima."

"Saya mengerti," jawab Anjani, suaranya mantap.

Nyonya Diana menatapnya lekat-lekat. "Kami tahu ini mungkin terdengar mendadak dan tidak adil bagi Anda, Anjani. Tapi kami perlu jaminan bahwa Anda tulus. Bima... dia sudah melewati banyak hal. Kami tidak ingin dia terluka lagi."

"Saya akan berusaha menjadi istri yang baik," Anjani berjanji, berusaha terdengar meyakinkan. "Saya mengerti kondisi Tuan Bima."

"Mengerti kondisi putra kami?" Tuan Arion mengangkat alis. "Apakah Anda tahu bahwa Bima... lumpuh total? Dia bahkan tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya sendiri."

Jantung Anjani berdesir. Pak Rahmat mengatakan Bima lumpuh, tapi ia tidak menyangka separah itu. Total? Ia bahkan tidak bisa bergerak? Gambaran tentang kehidupan pernikahannya kelak mendadak menjadi jauh lebih kompleks. Ini bukan sekadar pernikahan tanpa cinta, ini adalah pernikahan dengan seseorang yang benar-benar bergantung padanya.

"Saya... saya tahu dia lumpuh," kata Anjani, berusaha menutupi keterkejutannya. "Pak Rahmat mengatakan itu."

"Tapi apakah Anda tahu seberapa parah kondisinya?" Nyonya Diana menambahkan, seolah ingin memastikan ia tidak salah paham. "Dia membutuhkan perawatan penuh waktu. Ada perawat khusus, tapi sebagai istrinya, Anda juga diharapkan untuk mendampinginya."

Anjani menarik napas dalam-dalam. Balas dendam memang penting, tapi apakah ini harga yang harus ia bayar? Menjadi perawat seumur hidup? Sebuah penjara emas?

Namun, ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, Pak Rahmat akan dalam bahaya. Dan ia tidak bisa membiarkan Bagas dan Sinta berpikir bahwa ia telah kalah sepenuhnya.

"Saya siap," Anjani mengangguk yakin, meskipun hatinya berteriak ragu. "Saya akan merawat Tuan Bima dengan baik."

Tuan Arion dan Nyonya Diana saling bertukar pandang. Ada ekspresi lega yang samar di wajah mereka.

"Baiklah. Jika Anda bersedia, kami akan mengatur pernikahan secepatnya. Upacara akan sederhana, hanya keluarga inti. Kami akan mengurus semua detailnya," kata Tuan Arion. "Dan sebagai permulaan, kami ingin Anda bertemu dengan Bima. Dia ada di kamarnya. Saya akan antar Anda."

Anjani mengangguk. Inilah saatnya. Saatnya bertemu dengan pria yang akan menjadi suaminya, sang "sarang singa" yang harus ia masuki. Ia mengikuti Tuan Arion menaiki tangga marmer yang melingkar, menuju lantai dua mansion.

Langkah kaki mereka bergema di lorong yang panjang dan sunyi. Anjani merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Apa yang harus ia katakan? Bagaimana ia harus bersikap? Ia tidak tahu apa-apa tentang Bima, kecuali bahwa ia lumpuh dan kaya raya.

Tuan Arion berhenti di depan sebuah pintu ganda kayu solid. Ia mengetuk pelan, lalu membukanya. "Bima, ada tamu."

Anjani melangkah masuk, dan dunia seolah berhenti berputar. Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menghadap taman. Namun, perhatian Anjani langsung tertuju pada sosok yang terbaring di ranjang medis yang tinggi di tengah ruangan.

Bima.

Ia tampak... lebih muda dari yang Anjani bayangkan. Mungkin sekitar usia 30-an awal. Wajahnya tampan, dengan fitur yang tegas dan hidung mancung. Namun, matanya... matanya terlihat kosong, hampa, dan ada kesedihan mendalam yang terukir di sana. Tubuhnya terlihat kurus, terbalut selimut, dan selang-selang medis terlihat jelas di samping ranjang.

Anjani melihat ke bawah, ke arah kakinya. Kaki Bima terlihat sangat kurus, tak bergerak. Ia benar-benar lumpuh, seperti yang dikatakan. Parah. Jauh lebih parah dari yang ia bayangkan.

Bima tidak menoleh saat Anjani masuk. Matanya tetap terpaku pada langit-langit, seolah dunianya hanya sebatas plafon kamar.

"Bima, ini Anjani," kata Tuan Arion, suaranya lembut. "Calon istrimu."

Tidak ada respons. Bima tetap diam, seolah tidak mendengar apa pun.

Anjani merasa canggung. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping ranjang. "Halo, Tuan Bima," sapanya, mencoba terdengar ramah.

Tidak ada jawaban. Bima tetap menatap kosong.

"Bima, bicara pada calon istrimu," desak Tuan Arion, ada nada kesedihan dalam suaranya.

Akhirnya, Bima memalingkan wajahnya, perlahan, matanya bertemu dengan mata Anjani. Tatapan itu dingin, kosong, dan dipenuhi kepedihan. Ia menatap Anjani seolah Anjani adalah hantu, atau benda tak bernyawa.

"Untuk apa kau di sini?" suara Bima serak, nyaris tak terdengar.

Pertanyaan itu membuat Anjani terkejut. Ia mengira Bima mungkin tidak akan berbicara sama sekali. "Saya... saya datang untuk bertemu Anda."

"Untuk apa?" Bima bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih jelas, namun tetap tanpa emosi. "Untuk mengasihani saya? Untuk mengambil uang keluarga saya?"

Perkataan Bima bagaikan tamparan keras. Anjani memang memiliki motif tersembunyi, tapi ia tidak menyangka Bima akan langsung menuduhnya seperti itu. Ia menatap mata Bima, mencari tahu apakah ada sedikit pun niat untuk menyinggungnya. Tapi yang ia temukan hanyalah kehampaan.

"Saya tidak bermaksud mengasihani Anda, Tuan Bima," jawab Anjani, mencoba menjaga ketenangan. "Saya datang karena... ini adalah kesepakatan. Ayah tiri saya memiliki utang besar, dan keluarga Anda bersedia membantunya."

Bima mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar seperti tawa tanpa kegembiraan. "Kesepakatan. Ya, sebuah kesepakatan yang menguntungkan kalian semua. Saya hanya benda tawar-menawar."

Kata-kata itu menusuk Anjani. Ia merasakan kemarahan yang samar mulai muncul. Ia datang dengan hati yang hancur, dipaksa melakukan ini, dan sekarang ia dituduh sebagai wanita yang hanya mengejar harta.

"Saya tahu Anda mungkin merasa begitu," kata Anjani, suaranya mengeras sedikit. "Tapi saya juga terpaksa. Saya tidak ingin ini. Saya juga tidak pernah membayangkan hidup saya akan berakhir seperti ini."

Bima akhirnya memalingkan wajahnya lagi, kembali menatap langit-langit. "Pergilah."

"Bima!" Nyonya Diana, yang ternyata sudah masuk dan berdiri di belakang Anjani, berseru. "Bersikaplah sopan!"

"Untuk apa?" Bima membalas, suaranya putus asa. "Untuk apa berpura-pura? Tidak ada yang akan berubah. Saya tetap seperti ini. Dan dia, dia akan pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan."

Kata-kata Bima menyakitkan, tapi Anjani melihat lebih dari sekadar kekasaran. Ia melihat keputusasaan yang mendalam, luka yang teramat sangat. Bima bukan hanya lumpuh fisiknya, tapi jiwanya juga.

Tuan Arion menghela napas berat. "Bima, Anjani akan menjadi istrimu. Tolong hargai dia."

Bima tidak menjawab. Ia hanya terdiam, tenggelam dalam dunianya sendiri.

Anjani memandangi Bima. Ini adalah pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang hampa dan putus asa. Bagaimana mungkin ia bisa menjalani kehidupan dengannya? Bagaimana ia bisa membangun rencana balas dendamnya jika ia terikat dengan seseorang yang bahkan tidak mau berkomunikasi dengannya?

Namun, ia teringat kembali pada Bagas dan Sinta. Senyum kemenangan mereka, pengkhianatan mereka. Anjani tidak akan membiarkan dirinya jatuh lagi. Ia harus kuat. Ia harus memanfaatkan setiap kesempatan.

"Tuan Bima," kata Anjani lagi, suaranya kini lebih lembut, lebih penuh pengertian. "Saya tahu ini sulit bagi Anda. Tapi saya berjanji, saya tidak akan meninggalkan Anda. Saya akan ada di sini, untuk Anda."

Bima tetap diam. Anjani tidak tahu apakah Bima mendengarkan atau tidak.

Nyonya Diana mendekat, menyentuh lengan Anjani. "Maafkan putra kami, Anjani. Dia... dia sangat terpukul sejak kecelakaan itu."

"Tidak apa-apa, Bu," Anjani berusaha tersenyum. "Saya mengerti."

Tuan Arion akhirnya berbicara. "Baiklah. Kami akan mempersiapkan segala sesuatunya. Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi. Kami akan mengirimkan semua detailnya ke Pak Rahmat. Anda bisa kembali ke sana untuk sementara."

Tiga hari? Begitu cepat. Anjani merasakan gelombang kekhawatiran dan ketakutan menyergapnya. Tapi ia tidak menunjukkannya. Ia mengangguk. "Baik, Pak."

Sebelum keluar dari kamar Bima, Anjani menoleh sekali lagi. Bima masih menatap langit-langit, seolah Anjani tidak pernah ada di sana. Anjani merasa seolah ia masuk ke dalam kandang singa, dan singa itu tidak punya niat untuk bersahabat.

Ia meninggalkan mansion dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega karena kesepakatan sudah tercapai, tapi juga ada kekhawatiran yang mendalam tentang masa depannya dengan Bima. Ia harus hidup dengan pria yang lumpuh total, yang depresi, dan yang menganggapnya hanya sebagai barang dagangan.

"Ini bukan pilihan, Anjani," bisiknya pada dirinya sendiri saat taksi membawanya kembali ke losmen kumuh. "Ini takdir. Dan kau harus menjadikannya senjatamu."

Ia menghabiskan sisa hari itu dengan mencoba memahami kondisinya. Internet menjadi teman satu-satunya. Ia mencari informasi tentang kondisi lumpuh total, tentang perawatan yang dibutuhkan, tentang rehabilitasi. Semakin banyak ia membaca, semakin ia menyadari betapa besar tanggung jawab yang akan ia emban. Bukan hanya istri, tapi juga pendamping, perawat, dan mungkin, harapan terakhir bagi seorang pria yang telah kehilangan segalanya.

Malam itu, ia kembali tidak bisa tidur. Bukan karena kesedihan, melainkan karena pikiran yang berpacu. Ia mulai menyusun strategi. Bagaimana ia bisa mendapatkan kepercayaan Bima? Bagaimana ia bisa menembus dinding keputusasaannya? Jika Bima tetap dalam kondisi seperti itu, Anjani tidak akan bisa melakukan apa-apa. Ia membutuhkan Bima untuk bisa bangkit, untuk bisa menjadi sekutunya dalam rencana balas dendamnya.

Ia tahu, langkah pertamanya adalah membangun koneksi dengan Bima. Bukan dengan mengasihani, tapi dengan menunjukkan pengertian dan kekuatan. Ia harus menjadi cahaya di tengah kegelapan Bima, bukan sekadar bayangan lain yang lewat.

"Tiga hari," gumamnya. Waktu yang singkat untuk mempersiapkan diri menghadapi babak baru yang begitu berat ini. Tapi Anjani tidak akan mundur. Ia akan menghadapi takdirnya, dan ia akan mengubahnya menjadi kekuatan. Untuk dirinya sendiri, dan untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup; ini tentang memenangkan kembali hidupnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Bisakah Untuk Tidak Memilih
7.9
Kehidupan sering kali melenceng dari rencana awal dan menyajikan beragam pilihan sulit bagi setiap orang. Meski sebuah jalan terlihat menjanjikan, tiap keputusan pasti membawa konsekuensi tertentu. Sebagai manusia, kita dituntut bijak dalam menilai situasi demi masa depan. Terkadang, berdiam diri dan mengikuti arus pun tetap memiliki risiko tersendiri. Renungkanlah setiap langkah dengan matang agar tidak ada penyesalan mendalam akibat salah mengambil keputusan di kemudian hari.
Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini menyoroti perjalanan emosional antara David dan Arina saat mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah mekarnya bunga musim semi yang sangat berharga, keduanya belajar untuk saling memahami dan mengisi kekosongan hati satu sama lain. Hubungan mereka berkembang dengan indah seiring berjalannya waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam ikatan cinta yang tulus dan sangat mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku
9.4
Bagi Pratama, Dewi hanyalah persinggahan sementara sebelum ia kembali ke pelukan kekasih masa lalunya. Setelah mencampakkan Dewi, ia membiarkan wanita itu hancur dalam hinaan keluarganya. Di tengah kegelapan masa depan yang penuh luka akibat janji palsu, Dewi bertemu Reza. Pria ini menawarkan ketulusan yang sangat berbeda dari pengkhianatan sebelumnya. Kini, Dewi harus memilih antara menutup diri atau kembali membuka hati di bawah bayang-bayang trauma masa lalu.
Sampul Novel Istri Kelima Sang Presdir
8.3
Menjadi istri Presdir kaya mungkin impian banyak orang, namun bagi Cassandra, hal itu adalah jebakan maut. Lewat siasat licik Bardolf Konstantino, ia terikat kontrak sebagai istri kelima. Hidupnya penuh penghinaan dan ia dipaksa melahirkan anak demi bertahan hidup. Demi melindungi masa depan sang adik dari ancaman keluarga Konstantino, Cassandra harus bertahan. Kini ia bertekad memenangkan hati suaminya yang dingin, meski pria itu tampak tak punya perasaan.
Sampul Novel Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
9.0
Elara menggunakan kekuasaan keluarganya demi memaksa Julian, cinta pertamanya, ke dalam pernikahan tanpa cinta. Selama tiga tahun, ia menghadapi dinginnya kebencian Julian yang merasa kebebasannya dirampas. Saat menyadari cintanya hanya menjadi racun, Elara memilih menyerah dan menghilang sepenuhnya. Namun, kepergian Elara justru meninggalkan kehampaan tak terduga bagi Julian. Akankah kebebasan ini yang ia cari, ataukah benci itu sebenarnya adalah cinta yang tersembunyi?