Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ibu Mertuaku Mengusirku

Ibu Mertuaku Mengusirku

Hidup Anjani hancur setelah divonis mandul. Ia dibuang oleh Bagas, suaminya, yang justru memilih menikahi Sinta, adik tiri Anjani sendiri. Di tengah luka pengkhianatan itu, Anjani dipaksa menikahi seorang pria lumpuh demi melunasi tumpukan utang ayahnya. Terjepit di antara nasib malang dan tekanan keluarga, mampukah Anjani bertahan? Akankah ia menerima pernikahan barunya atau memilih melarikan diri demi membalaskan dendam pada Bagas dan Sinta?
Bab
Bagikan

Bab 3

Tiga hari berlalu dalam kabut kecemasan dan persiapan yang terburu-buru. Bagi Anjani, setiap detik terasa berlarut-larut, namun di saat yang sama, waktu seolah melesat dengan kecepatan gila. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di losmen kumuh, mencoba mencerna semua informasi tentang kondisi Bima, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Artikel-artikel medis, forum-forum diskusi tentang kehidupan dengan disabilitas parah, semuanya ia lahap habis. Ia ingin mempersiapkan diri semaksimal mungkin, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Anjani tahu, ini bukan pernikahan biasa. Ini adalah sebuah misi.

Pagi pernikahan tiba, diselimuti oleh mendung tipis yang terasa pas dengan suasana hatinya. Tidak ada gemuruh pesta, tidak ada tawa riang sanak saudara. Hanya kesunyian yang mencekam, diselingi suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Pak Rahmat menjemputnya di losmen dengan mobil sewaan yang terlihat agak lusuh. Anjani mengenakan gaun putih sederhana yang dipinjamkan oleh Nyonya Diana melalui Pak Rahmat. Gaun itu indah, terbuat dari brokat lembut dengan sedikit payet di bagian dada, namun terasa asing di tubuhnya. Ia merasa seperti boneka yang dipakaikan gaun, tanpa jiwa.

"Kau terlihat cantik, Anjani," kata Pak Rahmat, suaranya sedikit canggung. Ia menghindari tatapan mata Anjani, seolah masih merasa bersalah atas situasi ini.

Anjani hanya tersenyum tipis. Kecantikan apanya? Ia merasa hancur. Namun, ia tidak boleh menunjukkan kelemahan. Hari ini, ia akan mengenakan topeng. Topeng seorang calon istri yang patuh, topeng seorang wanita yang siap menerima takdirnya.

Perjalanan menuju mansion keluarga Bima terasa lebih cepat kali ini. Mungkin karena Anjani sudah tahu apa yang menantinya. Gerbang hitam itu kembali terbuka, dan mansion megah itu menyambutnya, bukan dengan kehangatan sebuah rumah, melainkan dengan aura dingin sebuah benteng.

Di dalam, suasananya hening. Hanya beberapa anggota keluarga inti Bima yang hadir, semuanya berwajah serius. Nyonya Diana mendekat, meraih tangan Anjani. "Terima kasih sudah datang, Anjani. Kami sangat menghargai ini."

Anjani hanya mengangguk. Ia merasakan tatapan aneh dari beberapa wanita paruh baya lainnya-mungkin bibi atau sepupu Bima-yang menatapnya dengan rasa ingin tahu bercampur simpati. Mereka pasti tahu cerita di balik pernikahan ini. Wanita yang dicampakkan, kini dipaksa menikah dengan pria lumpuh demi utang. Sebuah kisah klise yang memilukan.

Upacara pernikahan dilangsungkan di ruang keluarga yang luas, dihiasi bunga-bunga putih yang elegan. Penghulu sudah siap, begitu pula saksi-saksi. Namun, ada satu hal yang berbeda: mempelai pria tidak duduk di kursi, apalagi berdiri di sampingnya.

Bima terbaring di ranjang medisnya, yang telah dipindahkan ke tengah ruangan. Selang-selang medis sedikit disembunyikan, namun keberadaannya tetap terasa. Matanya tetap kosong, menatap langit-langit seolah tidak ada siapa-siapa di sana.

Anjani berjalan perlahan menuju ranjang Bima, jantungnya berdebar kencang. Gaun putihnya berdesir pelan di lantai marmer. Ia menempatkan dirinya di samping ranjang, berusaha tersenyum ramah kepada Bima, meski ia tahu senyumnya tak akan sampai ke hati pria itu.

Penghulu memulai prosesi ijab kabul. Suara lantang penghulu mengisi ruangan yang hening. Anjani mendengarkan setiap kata, setiap doa, dengan seksama. Ketika tiba saatnya bagi Bima untuk mengucapkan janji, Tuan Arion membisikkan sesuatu di telinganya. Bima menghela napas, lalu dengan suara serak dan putus asa, ia mengucapkan ijab kabul.

"Aku terima nikahnya Anjani binti Rahmat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Satu kalimat itu. Hanya satu kalimat itu. Namun, kalimat itu mengikat Anjani dalam sebuah takdir yang ia sendiri belum tahu akan membawanya ke mana. Ia resmi menjadi istri dari pria yang tidak ia kenal, yang bahkan tidak mampu bangkit dari ranjangnya sendiri. Ia adalah pengantin dalam bayang-bayang, menikahi sebuah bayangan.

Setelah prosesi selesai, beberapa kerabat mengucapkan selamat. Nyonya Diana memeluk Anjani erat. "Selamat datang di keluarga kami, Anjani. Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku harap kau bahagia di sini."

Anjani membalas pelukan itu. Ia bisa merasakan ketulusan di balik kata-kata Nyonya Diana, sebuah kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Mungkin, di balik semua ini, ada sedikit harapan.

Sore itu, setelah semua kerabat pergi, mansion kembali sunyi. Anjani diantar ke kamar barunya, yang ternyata bersebelahan dengan kamar Bima. Sebuah kamar yang luas dan mewah, dengan balkon pribadi yang menghadap taman. Jauh lebih indah dari rumahnya dulu bersama Bagas. Namun, kemewahan ini terasa dingin, tanpa jiwa.

Seorang pelayan masuk, membawa koper Anjani yang sudah dipindahkan dari losmen. "Nona Anjani, jika ada yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk memanggil saya."

"Terima kasih," Anjani mengangguk.

Ketika pelayan pergi, Anjani duduk di tepi ranjang besar. Ia melihat sekeliling. Lemari pakaian yang luas, meja rias yang elegan, kamar mandi pribadi yang mewah. Semua serba ada, serba sempurna, namun terasa hampa.

Ia bangkit, berjalan ke balkon. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, sedikit meredakan ketegangan di hatinya. Ia melihat ke arah kamar Bima, jendelanya tertutup rapat.

"Ini adalah awal, Anjani," bisiknya pada diri sendiri. "Awal dari perjuanganmu."

Malam hari, setelah makan malam yang sepi bersama Tuan Arion dan Nyonya Diana, Anjani kembali ke kamarnya. Ia tahu ia harus memulai misinya. Misi untuk menembus dinding pertahanan Bima, misi untuk mencari tahu lebih banyak tentang keluarga ini, dan misi untuk menemukan celah dalam sistem yang akan membantunya membalas dendam.

Ia memutuskan untuk mengunjungi Bima. Ia harus membangun koneksi, tidak peduli seberapa sulitnya. Anjani tidak akan membiarkan dirinya diabaikan. Ia mengetuk pintu kamar Bima pelan, lalu membukanya.

Kamar Bima remang-remang, hanya diterangi lampu tidur. Bima masih terbaring di ranjang, wajahnya menghadap jendela, membelakanginya. Ia tidak menoleh.

"Tuan Bima," Anjani memulai, suaranya lembut. "Saya datang untuk melihat Anda."

Tidak ada respons.

Anjani melangkah mendekat, duduk di kursi di samping ranjang. "Saya tahu Anda mungkin tidak menginginkan pernikahan ini. Dan saya... saya juga tidak pernah membayangkan ini akan terjadi." Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian. "Tapi kita sudah terikat. Dan saya ingin membuat ini berhasil. Bukan hanya untuk keluarga Anda, tapi juga untuk kita berdua."

Bima tetap diam. Anjani menghela napas. Ini akan menjadi lebih sulit dari yang ia duga.

"Saya tahu Anda pasti merasa sedih," lanjut Anjani, mencoba empati. "Kecelakaan itu pasti sangat berat."

Mendengar kata 'kecelakaan', bahu Bima sedikit bergetar. Ia sedikit bergerak, tapi tetap tidak menoleh.

Anjani melanjutkan. "Saya tidak tahu apa yang Anda alami. Tapi saya ingin Anda tahu, saya ada di sini. Saya akan mencoba memahami Anda. Saya tidak akan pergi."

Hening. Lalu, Bima akhirnya berbicara, suaranya bergetar, lebih lemah dari sebelumnya. "Semua orang pergi. Pada akhirnya, mereka semua pergi."

Kata-kata itu menusuk hati Anjani. Ada kesedihan yang mendalam di balik setiap suku kata. Ia sadar, Bima bukan hanya seorang pria yang lumpuh. Ia adalah pria yang terluka parah, yang telah kehilangan kepercayaan pada dunia.

"Saya tidak akan," kata Anjani, dengan nada yang mantap. "Saya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan. Saya tahu bagaimana rasanya dikhianati. Saya tidak akan melakukan itu pada Anda."

Bima tetap diam untuk waktu yang lama. Anjani tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ia hanya duduk di sana, sabar, membiarkan kehadirannya menjadi satu-satunya jawaban.

"Kau... kau tahu bagaimana rasanya?" Bima akhirnya bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Anjani mengangguk, meskipun Bima tidak bisa melihatnya. "Ya. Saya dicampakkan oleh suami saya. Dia menikahi adik tiri saya sendiri. Hanya karena saya tidak bisa memiliki anak."

Ada keheningan panjang. Bima tidak berkata apa-apa, tapi Anjani merasakan ada perubahan tipis di atmosfer. Mungkin, sedikit saja, Bima mulai mendengarkannya.

"Jadi... kita sama-sama terluka," kata Anjani pelan. "Mungkin, kita bisa saling memahami."

Bima tetap tidak menjawab. Namun, ia tidak lagi memunggungi Anjani. Ia sedikit memiringkan kepalanya, seolah mendengarkan lebih saksama.

Anjani mengambil kesempatan ini. Ia mulai bercerita tentang hidupnya, tentang bagaimana ia membesarkan Sinta setelah ibunya meninggal, tentang bagaimana ia mencintai Bagas dengan sepenuh hati, dan tentang bagaimana semua itu berakhir hanya karena vonis medis. Ia tidak melebih-lebihkan, tidak mencari simpati. Ia hanya menceritakan fakta, dengan kejujuran yang tulus.

Ia berbicara selama hampir satu jam. Bima tidak menyela. Ia hanya mendengarkan. Dan itu, bagi Anjani, adalah sebuah kemajuan besar. Ia tidak bisa mengharapkan Bima langsung bangkit dan berbicara dengannya. Ini adalah proses, dan ia harus sabar.

Ketika Anjani selesai berbicara, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun, kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Ada sedikit kelembutan di dalamnya.

"Terima kasih sudah mendengarkan saya, Tuan Bima," kata Anjani. "Saya akan pergi sekarang. Selamat malam."

Anjani bangkit dari kursi, melangkah perlahan menuju pintu. Saat ia mencapai ambang pintu, ia mendengar suara Bima lagi.

"Siapa namamu?"

Anjani menoleh. Bima masih menatap langit-langit, tapi kali ini, ada sedikit kerutan di dahinya, seolah ia benar-benar memikirkan sesuatu.

"Anjani," jawabnya, suaranya sedikit bergetar karena terkejut sekaligus lega. "Nama saya Anjani."

"Anjani..." Bima mengulang nama itu pelan, seolah sedang mencicipi rasanya.

Anjani tersenyum. Itu adalah sebuah kemajuan. Sebuah langkah kecil, tapi signifikan. Ia telah menembus sedikit dinding yang mengelilingi Bima. Ini adalah awal.

Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan sedikit lebih ringan. Ia tahu, tugasnya tidak akan mudah. Bima adalah pria yang hancur, dan untuk membantunya bangkit, Anjani juga harus kuat. Tapi setidaknya, ia tidak sepenuhnya diabaikan. Ada percikan harapan di sana.

Malam itu, Anjani kembali merenung. Rencana balas dendamnya pada Bagas dan Sinta masih ada, membara di dalam hatinya. Namun, kini ia memiliki tanggung jawab baru. Tanggung jawab terhadap Bima. Ia tidak bisa hanya fokus pada dendamnya, ia juga harus memperhatikan pria ini, suaminya.

Ia harus menemukan cara untuk menyeimbangkan keduanya. Ia membutuhkan kekuasaan keluarga Bima untuk mewujudkan balas dendamnya. Dan untuk mendapatkan kekuasaan itu, ia harus mendapatkan kepercayaan Bima, dan mungkin, bahkan membuat Bima kembali bangkit dari keterpurukannya. Jika Bima pulih, ia akan menjadi sekutu yang sangat kuat.

Anjani tahu, ini akan menjadi permainan yang rumit. Ia harus bersikap hati-hati. Keluarga Bima mungkin tidak akan menyetujui jika mereka tahu motif tersembunyinya. Ia harus pintar.

Keesokan harinya, Anjani memulai rutinitas barunya. Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan sederhana, dan mengantarkannya ke kamar Bima. Pelayan di mansion ini memang banyak, tapi Anjani ingin menunjukkan bahwa ia serius dengan janjinya.

Ketika ia masuk, Bima sudah bangun. Ia menatap Anjani dengan tatapan yang sama kosongnya seperti kemarin.

"Selamat pagi, Tuan Bima," sapa Anjani, meletakkan nampan di meja samping ranjang. "Saya membawakan sarapan Anda."

Bima tidak menjawab. Ia hanya melihat nampan itu dengan tatapan hampa.

"Saya akan membantu Anda makan," kata Anjani, lalu mengambil sesendok bubur dan menyodorkannya ke arah Bima.

Bima tidak membuka mulutnya.

"Anda harus makan, Tuan Bima," kata Anjani lembut. "Anda butuh energi."

Bima masih diam. Anjani menyadari bahwa ini bukan tentang lapar atau tidak. Ini tentang perlawanan pasif, tentang keputusasaan yang membuatnya tidak ingin berbuat apa-apa.

"Saya tahu Anda marah," Anjani mencoba lagi. "Marah pada dunia, pada takdir Anda. Tapi dengan tidak makan, Anda hanya menyakiti diri sendiri."

Tiba-tiba, Bima menoleh, menatap Anjani tajam. "Untuk apa kau peduli?" suaranya serak. "Kau hanya ingin memastikan aku tetap hidup agar ayahmu terbebas dari utang, bukan?"

Anjani terdiam. Itu adalah tuduhan yang berat, dan sebagian darinya memang benar. Namun, ia tidak hanya peduli pada utangnya. Ia juga peduli pada Bima, pria yang kini menjadi suaminya, pria yang terluka parah.

"Saya peduli," jawab Anjani, menatap mata Bima tanpa gentar. "Saya peduli karena saya sekarang adalah istri Anda. Dan saya tidak akan melihat Anda menderita seperti ini. Saya juga tahu bagaimana rasanya berada di titik terendah. Saya tidak akan membiarkan Anda sendirian."

Ada sesuatu dalam tatapan Anjani, dalam ketulusannya, yang membuat Bima terdiam. Ia menatap Anjani lekat-lekat, seolah mencoba membaca pikirannya. Akhirnya, perlahan, ia membuka mulutnya.

Anjani menyuapinya bubur. Satu sendok, lalu dua, lalu tiga. Bima makan dengan lambat, tanpa selera, tapi ia makan. Itu adalah sebuah kemenangan kecil.

Anjani menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar Bima. Ia membaca buku-buku untuknya, menceritakan tentang kejadian-kejadian di luar yang ia ketahui dari televisi atau percakapan dengan pelayan. Ia mencoba membuat Bima merasa tidak sendirian, tidak terisolasi.

Awalnya, Bima sangat pasif. Ia jarang bicara, dan jika bicara, nada suaranya selalu penuh keputusasaan. Namun, seiring berjalannya waktu, Anjani mulai melihat perubahan kecil. Bima mulai sedikit merespons, kadang-kadang mengangguk, atau mengernyitkan dahi jika ia tidak setuju.

Suatu sore, Anjani sedang membacakan sebuah artikel berita tentang perkembangan teknologi. Tiba-tiba, Bima memotongnya.

"Berhenti."

Anjani menghentikan bacaannya. "Ada apa, Tuan Bima?"

"Bukan Tuan Bima," kata Bima, suaranya lebih jelas dari biasanya. "Panggil aku Bima."

Anjani terkejut. Itu adalah langkah maju yang signifikan. "Baik... Bima."

"Aku... aku dulu bekerja di bidang itu," kata Bima, matanya menatap langit-langit. "Teknologi. Aku punya perusahaan startup. Kami sedang mengembangkan aplikasi untuk membantu orang-orang dengan disabilitas."

Anjani menatapnya. Inilah pertama kalinya Bima berbicara tentang masa lalunya, tentang pekerjaannya. Sebuah celah telah terbuka.

"Itu... itu luar biasa," kata Anjani, berusaha terdengar tulus. "Apa yang terjadi pada perusahaan Anda?"

Bima terdiam sejenak. "Setelah kecelakaan itu, semuanya hancur. Mitra kerjaku pergi, investor menarik diri. Mereka bilang aku tidak berguna lagi. Aplikasi itu... aku tidak tahu bagaimana nasibnya."

Ada nada kepedihan yang mendalam dalam suaranya. Anjani merasa iba, namun ia juga melihat sebuah kesempatan. Jika Bima memiliki ambisi, jika ia memiliki sesuatu yang ia pedulikan, maka itu bisa menjadi kunci untuk membangkitkannya.

"Bima, apakah Anda masih ingin melanjutkan itu?" tanya Anjani, hati-hati.

Bima mendengus. "Untuk apa? Aku bahkan tidak bisa menggerakkan jariku."

"Teknologi itu berkembang, Bima," kata Anjani, suaranya penuh keyakinan. "Mungkin ada cara. Mungkin Anda bisa memimpinnya dari sini. Menggunakan ide Anda, pengalaman Anda."

Bima menoleh, menatap Anjani. Ada percikan di matanya, percikan rasa penasaran, atau mungkin, secercah harapan yang sudah lama padam.

"Bagaimana?" tanyanya.

Anjani tersenyum. "Saya akan mencari tahu. Saya akan melakukan riset. Kita bisa mencari cara. Anda punya pikiran yang cerdas, Bima. Itu tidak lumpuh."

Melihat Bima sedikit tertarik, Anjani merasakan harapan tumbuh. Jika ia bisa membuat Bima kembali bangkit, itu tidak hanya akan memberinya sekutu yang kuat, tetapi juga akan memberinya akses ke sumber daya dan koneksi yang lebih besar.

Ia juga menyadari, bahwa selama ini, perhatiannya pada Bima tidak lagi sepenuhnya karena motif tersembunyi. Ada rasa kasihan, ya, tapi juga ada keinginan tulus untuk membantu pria ini. Bagaimanapun, ia adalah suaminya. Dan Anjani sendiri tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya.

Selama beberapa hari berikutnya, Anjani mulai mencari tahu tentang perusahaan startup Bima, tentang industri teknologi, dan tentang kemungkinan rehabilitasi bagi orang dengan kondisi lumpuh total. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan rumah yang luas, membaca buku-buku tentang bisnis dan teknologi. Ia juga mulai mengamati interaksi Bima dengan perawatnya, mempelajari rutinitas dan kebutuhan medis Bima.

Nyonya Diana dan Tuan Arion tampak terkejut, namun juga lega, melihat perubahan pada Anjani. Mereka melihat Anjani tidak hanya pasrah, tetapi juga aktif dan peduli terhadap Bima. Mereka mulai mempercayai Anjani lebih dalam.

Anjani tahu, ini adalah bagian dari rencananya. Semakin keluarga Bima percaya padanya, semakin besar kebebasan dan akses yang akan ia dapatkan. Dan semakin Bima pulih, semakin dekat ia dengan tujuan balas dendamnya.

Suatu malam, saat Anjani sedang menyuapi Bima makan malam, Bima kembali bertanya.

"Kenapa kau tidak pergi?"

Anjani menatapnya. "Pergi ke mana?"

"Pergi dari sini. Mencari hidup baru. Kau masih muda, kau bisa mendapatkan pria lain, yang sehat."

Anjani tersenyum pahit. "Saya sudah melakukannya. Dan hasilnya? Saya dicampakkan. Saya dikhianati. Saya tidak akan lari lagi, Bima. Saya akan menghadapi apa yang ada di depan saya. Dan sekarang, yang ada di depan saya adalah Anda. Dan saya tidak akan meninggalkan Anda."

Bima menatapnya lekat-lekat. Ada keraguan di matanya, tapi juga ada rasa ingin tahu yang dalam.

"Aku... aku tidak percaya pada siapapun lagi," kata Bima, suaranya pelan.

"Saya tahu," jawab Anjani. "Tapi saya akan membuktikannya pada Anda. Saya tidak akan menyerah pada Anda, Bima."

Dalam keheningan malam itu, Anjani merasakan sesuatu yang baru tumbuh di antara mereka. Bukan cinta, belum. Tapi mungkin, permulaan dari sebuah kepercayaan. Sebuah ikatan yang, meskipun terbentuk dari kehancuran, bisa jadi merupakan fondasi bagi sesuatu yang lebih besar.

Anjani tahu, jalannya masih panjang. Balas dendamnya belum terlaksana. Namun, ia merasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak lagi sendirian. Ia punya Bima, bahkan jika Bima sendiri belum menyadarinya. Dan bersama Bima, Anjani akan menemukan cara untuk bangkit, dan untuk membalas setiap luka yang telah Bagas dan Sinta torehkan padanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Bisakah Untuk Tidak Memilih
7.9
Kehidupan sering kali melenceng dari rencana awal dan menyajikan beragam pilihan sulit bagi setiap orang. Meski sebuah jalan terlihat menjanjikan, tiap keputusan pasti membawa konsekuensi tertentu. Sebagai manusia, kita dituntut bijak dalam menilai situasi demi masa depan. Terkadang, berdiam diri dan mengikuti arus pun tetap memiliki risiko tersendiri. Renungkanlah setiap langkah dengan matang agar tidak ada penyesalan mendalam akibat salah mengambil keputusan di kemudian hari.
Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini menyoroti perjalanan emosional antara David dan Arina saat mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah mekarnya bunga musim semi yang sangat berharga, keduanya belajar untuk saling memahami dan mengisi kekosongan hati satu sama lain. Hubungan mereka berkembang dengan indah seiring berjalannya waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam ikatan cinta yang tulus dan sangat mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku
9.4
Bagi Pratama, Dewi hanyalah persinggahan sementara sebelum ia kembali ke pelukan kekasih masa lalunya. Setelah mencampakkan Dewi, ia membiarkan wanita itu hancur dalam hinaan keluarganya. Di tengah kegelapan masa depan yang penuh luka akibat janji palsu, Dewi bertemu Reza. Pria ini menawarkan ketulusan yang sangat berbeda dari pengkhianatan sebelumnya. Kini, Dewi harus memilih antara menutup diri atau kembali membuka hati di bawah bayang-bayang trauma masa lalu.
Sampul Novel Istri Kelima Sang Presdir
8.3
Menjadi istri Presdir kaya mungkin impian banyak orang, namun bagi Cassandra, hal itu adalah jebakan maut. Lewat siasat licik Bardolf Konstantino, ia terikat kontrak sebagai istri kelima. Hidupnya penuh penghinaan dan ia dipaksa melahirkan anak demi bertahan hidup. Demi melindungi masa depan sang adik dari ancaman keluarga Konstantino, Cassandra harus bertahan. Kini ia bertekad memenangkan hati suaminya yang dingin, meski pria itu tampak tak punya perasaan.
Sampul Novel Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
9.0
Elara menggunakan kekuasaan keluarganya demi memaksa Julian, cinta pertamanya, ke dalam pernikahan tanpa cinta. Selama tiga tahun, ia menghadapi dinginnya kebencian Julian yang merasa kebebasannya dirampas. Saat menyadari cintanya hanya menjadi racun, Elara memilih menyerah dan menghilang sepenuhnya. Namun, kepergian Elara justru meninggalkan kehampaan tak terduga bagi Julian. Akankah kebebasan ini yang ia cari, ataukah benci itu sebenarnya adalah cinta yang tersembunyi?