Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ia menenggelamkan aku, aku membakar dunianya.

Ia menenggelamkan aku, aku membakar dunianya.

Pasca kecelakaan, Adrian membangun Nusantara Saga untukku, namun itu hanyalah penjara manipulatif. Dia berselingkuh dengan Dahlia, mencuri identitas virtualku, dan sengaja menghambat kesembuhanku demi kontrol penuh. Setelah dipermalukan secara publik dan dibuang ke air mancur hingga nyaris tewas, aku berhasil bangkit. Kini, dengan kaki yang kembali kuat, aku masuk kembali ke dunianya bukan untuk mengalah, melainkan untuk menghanguskan seluruh kerajaannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tunanganku, Adrian, membangun seluruh dunia virtual untukku setelah kecelakaan panjat tebing membuatku harus duduk di kursi roda. Dia menamainya Nusantara Saga, tempat perlindunganku. Dalam permainannya, aku tidak lumpuh; aku adalah Srikandi, sang juara tak tertandingi. Dia adalah penyelamatku, pria yang dengan sabar merawatku hingga aku pulih dari ambang kematian.

Lalu, aku melihat siaran langsungnya di atas panggung sebuah konferensi teknologi. Dengan lengan melingkari fisioterapisku, Dahlia, dia mengumumkan kepada dunia bahwa Dahlia adalah wanita yang akan dia habiskan sisa hidupnya bersamanya.

Kenyataan itu adalah mimpi buruk yang nyata. Dia tidak hanya berselingkuh; dia diam-diam menukar obat pereda nyeriku dengan dosis yang lebih lemah dicampur obat penenang, sengaja memperlambat pemulihanku agar aku tetap lemah dan bergantung padanya.

Dia memberikan gelang unik milikku pada Dahlia, gelarku di dunia virtual, dan bahkan rencana pernikahan yang telah kubuat untuk kami.

Dia membocorkan foto memalukanku di titik terendahku, membuat seluruh komunitas game berbalik melawanku dan mencapku sebagai penguntit.

Pukulan terakhir datang ketika aku mencoba menemuinya di pesta kemenangannya. Petugas keamanannya memukuliku, dan atas perintah santainya, mereka melemparkan tubuhku yang tak sadarkan diri ke dalam air mancur kotor untuk "membuatku sadar."

Pria yang bersumpah akan membangun dunia di mana aku tidak akan pernah menderita, justru mencoba menenggelamkanku di dalamnya.

Tapi aku selamat. Aku meninggalkan dia dan kota itu, dan seiring kakiku yang kembali kuat, begitu pula tekadku. Dia mencuri namaku, warisanku, dan duniaku. Sekarang, aku masuk kembali, bukan sebagai Srikandi, tapi sebagai diriku sendiri. Dan aku akan membakar kerajaannya hingga menjadi abu.

Bab 1

Sudut Pandang Elara Salsabila:

Satu-satunya cahaya di kamarku berasal dari ponsel di tanganku. Wajah Adrian, terpahat sempurna bahkan di layar kecil, disinari oleh lampu panggung konferensi teknologi tempatnya berbicara. Siaran langsung. Seharusnya aku ada di sana, di barisan depan, sebagai tunangannya yang bangga. Sebaliknya, aku di sini, di dalam sangkar emas yang dia bangun untukku setelah kecelakaan itu.

Suaranya, yang biasanya menjadi penenang bagi sarafku yang tegang, bergema aneh di ruangan yang sunyi. Itu adalah suara yang sama yang membisikkan janji-janji kepadaku dalam gelap, suara yang sama yang membimbingku melewati jam-jam fisioterapi yang menyiksa.

Tapi kata-katanya semua salah.

"Dahlia Hartono lebih dari sekadar fisioterapis yang luar biasa," umumkannya kepada kerumunan yang bersorak, lengannya melingkar posesif di pinggang Dahlia. Dahlia, terapistku. Senyumnya begitu menyilaukan, tiruan sempurna dari senyum yang dulu kumiliki sebelum duniaku hancur bersamaan dengan hujan batu kerikil dan suara tulang yang patah. "Dia adalah inspirasi di balik evolusi selanjutnya dari Nusantara Saga Chronicles. Dia adalah jantung perusahaan kami. Dan dia adalah wanita yang akan saya habiskan sisa hidup saya bersamanya."

Napas seakan terenggut dari paru-paruku. Buku-buku jariku memutih saat aku mencengkeram ponsel, casingnya yang licin menekan telapak tanganku. Sebuah klip video, yang dikirim oleh nomor tak dikenal beberapa saat yang lalu, diputar berulang-ulang. Itu adalah cuplikan dari feed media sosial situs gosip, diposting kurang dari satu jam yang lalu.

Wanita yang akan dia habiskan sisa hidupnya bersamanya.

Kata-kata itu memantul di dalam tengkorakku, hampa dan tak berarti. Jika dia wanita itu, lalu siapa aku?

Pintu kamar tidur terbuka, menumpahkan seberkas cahaya lorong ke lantai.

"Elara? Sayang, kenapa semua lampunya mati?" Suara Adrian, kini diwarnai dengan keprihatinan yang akrab dan terlatih, memotong kegelapan.

Lampu utama menyala, dan mataku terpejam menahan silaunya cahaya yang tiba-tiba. Langkah kaki bergegas ke arahku, kulit mahal sepatunya berdesir di lantai kayu. Dia berlutut di samping kursi rodaku, tangannya yang dingin menempel di dahiku.

"Kamu berkeringat dingin. Apa kamu kesakitan? Kamu melewatkan dosis obatmu?"

Perlahan aku membuka mata, tatapanku menelusuri garis-garis khawatir di wajah tampannya. Inilah pria yang telah duduk di samping tempat tidur rumah sakitku selama berminggu-minggu. Pria yang dengan sabar menyuapiku, memandikanku, dan berbisik bahwa tubuhku yang rusak masih satu-satunya yang dia inginkan. Dia telah menciptakan Nusantara Saga Chronicles, sebuah game VR haptic revolusioner, hanya untukku, sebuah dunia di mana aku bisa mendaki gunung lagi, di mana kakiku berfungsi sempurna, di mana aku kuat.

Tapi pria di atas panggung itu, pria yang baru saja menjanjikan hidupnya untuk wanita lain... itu bukan Adrianku. Atau mungkin, Adrian yang kukenal tidak pernah ada sama sekali.

Aku mengangkat ponselku. "Siapa Dahlia Hartono bagimu, Adrian?"

Dia mengambil ponsel itu, senyumnya goyah saat melihat video itu. Sekilas kepanikan melintas di matanya sebelum dengan cepat digantikan oleh ekspresi frustrasi yang lelah.

"Ya Tuhan. Ini lagi?" Dia menghela napas, menyisir rambutnya yang ditata sempurna. "Sayang, sudah kubilang. Orang tuanya adalah investor besar. Mereka terus menekannya untuk segera menikah, dan dia memintaku untuk membantunya menciptakan... citra publik. Hubungan palsu sementara untuk membuat mereka berhenti mendesaknya. Ini semua hanya bisnis."

Dahlia. Terapis yang dia sewa untukku tiga bulan lalu. Orang yang seharusnya membantuku mendapatkan kembali kemandirianku.

Aku tetap diam, mengawasinya. Kepanikan awalnya terasa terlalu nyata.

Dia pasti melihat keraguan di mataku karena dia buru-buru mengeluarkan ponselnya sendiri. "Lihat," katanya, menyodorkan layarnya ke depan wajahku. "Ini pesan-pesan kita. Semuanya ada di sini. Merencanakan pengumuman, berkoordinasi dengan tim PR keluarganya. Ini hanya permainan, Elara. Permainan perusahaan."

Aku membaca pesan-pesan itu. Tampak... masuk akal. Bahkan terkesan kaku. Penuh dengan jargon bisnis dan catatan penjadwalan. Hatiku, yang tadinya terasa seperti balok es di dadaku, mulai mencair, sedikit.

"Oke," bisikku, semangatku terkuras habis. Aku lelah. Sangat lelah dengan rasa sakit, kecurigaan, dan empat dinding ruangan ini.

Dia tampak lega, bahunya merosot. Dia menarikku ke dalam pelukan, membenamkan wajahnya di rambutku. "Aku bersumpah padamu, Elara," gumamnya, suaranya sarat emosi. "Hanya kamu satu-satunya. Selalu. Tidak ada dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita."

Aku bersandar padanya, membiarkan aroma parfumnya yang akrab menyelimutiku. Aku ingin memercayainya. Aku harus.

"Bantu aku berdiri," kataku, sebuah tekad baru mengeras dalam suaraku. "Aku mau latihan jalan."

Wajahnya bersinar dengan senyum penyelamat yang membuatku jatuh cinta. "Tentu saja, cintaku. Apapun untukmu."

Dia membantuku berdiri, tangannya mantap dan kuat di pinggangku, gerakannya hati-hati dan terlatih. Aku mengambil satu langkah ragu, lalu satu lagi, kakiku gemetar tapi mampu menahan. Kami sedang berjalan melintasi ruangan ketika sakunya bergetar.

Dia tersentak, menarik diri untuk memeriksa ponselnya.

"Angkat saja, Adrian," kataku, bersandar di dinding untuk menopang diri. "Mungkin urusan pekerjaan."

Dia memberiku tatapan terima kasih dan melangkah keluar ke lorong untuk menjawab, menutup pintu dengan lembut di belakangnya.

Aku diam di sana sejenak, napasku terengah-engah. Aku menyeka keringat di dahiku dengan punggung tangan dan mendorong diri dari dinding. Satu langkah. Lalu dua. Gerakanku menjadi lebih mantap, lebih percaya diri. Senyum sungguhan, yang pertama dalam beberapa bulan, menyentuh bibirku. Aku bisa melakukan ini. Aku semakin kuat.

Aku berjalan melintasi ruangan, tanganku meluncur di sepanjang dinding, sampai aku mencapai pintu. Aku ingin menunjukkannya padanya. Aku ingin melihat kebanggaan di matanya, untuk membuktikan bahwa keyakinannya padaku—keyakinan kami pada kami—tidak salah tempat.

Jemariku menyentuh gagang pintu logam yang dingin tepat saat suaranya terdengar dari lorong, rendah dan tanpa kehangatan yang terlatih.

"Aku tahu, Dahlia, aku tahu. Aku memang mencintainya. Tapi rasanya tidak sama. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu?"

Darahku seakan membeku.

"Dia melihat videonya, aku harus menenangkannya. Jangan khawatir, dia percaya." Jeda sejenak. "Ya, aku sudah bicara dengan apoteker. Kita akan ganti obat pereda nyerinya besok dengan dosis lebih rendah yang punya efek samping obat penenang. Itu akan memperlambat kemajuan pemulihannya. Kita hanya butuh sedikit waktu lagi."

"Tidak akan ada yang tahu tentang kita. Aku janji."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel I Love You Daddy
8.4
Michaela memilih kabur demi menolak kembalinya Bianca, ibu kandung yang dulu meninggalkannya. Sang ayah, Agam, awalnya mengira pelarian ini karena perjodohan dengan Dilan, namun alasan sebenarnya jauh lebih pelik. Konflik ini membongkar rahasia asal-usul Michy, wasiat keluarga, hingga perasaan terlarang yang terpendam. Di tengah intrik warisan dan penculikan yang mengancam, Michy dan Agam harus berjuang mempertahankan ikatan mereka demi memulai babak baru.
Sampul Novel Istri Dari Masa Depan
8.2
Pasca terjatuh dari tangga, Li Mei terbangun di rumah reyot yang asing. Alih-alih di rumah sakit, ia justru mendapati Bai Changyi, pria tampan yang mengaku sebagai suaminya, bersiap menceraikannya karena menyangka Li Mei mencoba bunuh diri. Meski bingung, Li Mei menolak berpisah dan memilih bertahan demi ambisinya. Di era kuno ini, mampukah ia mengubah nasib dan mewujudkan impian menjadi pengusaha kaya raya bersama suaminya yang penuh rahasia?
Sampul Novel Jangan Pernah Mengkhianatiku
9.0
Arvella Siregar melarikan diri dari kekejaman suaminya, Rivan, hingga tersesat di hutan dan diselamatkan oleh Kael Mahendra yang misterius. Di sana, ia bergabung dengan kelompok ahli untuk belajar bertahan hidup dan menjadi tangguh. Arvella mengungkap fakta bahwa kematian orang tuanya adalah konspirasi jahat, bukan kecelakaan. Bersama Kael, ia kini bersiap keluar dari hutan untuk membalas dendam dan mengungkap asal-usulnya meski nyawa menjadi taruhan utama.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Malam pertama Joseph Hunter berubah tragis saat istrinya, Camila, jatuh ke laut demi menghindari restu maut sang ayah. Setelah nyaris tewas, Joseph terjebak kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi, ia bertemu Vanessa, kekasih musuh bebuyutannya yang berwajah identik dengan mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terkuak kemudian menyeret Joseph ke dalam pusaran dendam mendalam, memaksanya berjuang demi sebuah kepercayaan di dunia mafia.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Di Pulau Sepuluh Ribu Binatang yang megah, puluhan ribu anak di bawah sepuluh tahun berkumpul di Puncak Lundao dengan penuh keseriusan. Sebagai murid baru yang baru saja menemukan akar spiritual mereka, mereka mendengarkan wejangan dari seorang tetua berjubah hijau. Ia mulai mengisahkan sejarah sekte, bermula dari sang pendiri legendaris, Wan Beast Immortal Li. Dahulu, Li hanyalah seorang kultivator biasa dari Kerajaan Qin di Alam Qianyang sebelum akhirnya mencapai keabadian.
Sampul Novel Perjalanan Melawan Dunia
7.8
Shua Xie adalah gadis dari dimensi lain yang terbangun di raga Putri Langit setelah tewas tertembak. Terlempar melintasi waktu, ia kini memikul beban sebagai Ratu segala Ratu. Takdir membawanya pada misi balas dendam demi merebut kembali haknya yang dirampas. Mengandalkan kecerdasan dan pengalaman, Shua menghadapi musuh penuh tipu muslihat. Ia bukan pahlawan suci; Shua berjuang menyelamatkan dunia yang tak menghargainya dengan caranya sendiri yang dingin.