
I Love You Daddy
Bab 2
Agam terlonjak dari duduknya, saat Erik menelpon dan memberitahukan kalau dia tidak menemukan Michy di kampusnya. Bahkan teman Michy mengatakan, kalau Michy pulang lebih dulu.
"Kamu sudah telpon dia Erik?"
"Sudah Tuan, tapi ponsel nona Michy tidak aktif," jawab Erik
"Coba kamu cari informasi, siapa saja teman Michy yang biasa bersamanya, mungkin saja Michy pergi bersama teman-temannya.”
"Siap Tuan"
Agam kembali duduk, ia mencoba menghubungi nomer Michy, tapi seperti yang dikatakan Erik, Michy tidak bisa dihubungi. Agam menatap ponselnya ponselnya kembali berbunyi sebelum ia meletakan ponsel itu di atas meja. la menerima panggilan dari Bianca.
"Agam, mana Michy, bukannya dia harus ke sini setelah kuliah?"
"Erik tadi menjemputnya, tapi Michy tidak ada di kampusnya, sekarang Erik sedang berusaha mencarinya."
"Hmmm, anak itu sepertinya sengaja, dia pasti tidak ingin datang ke sini"
"Kamu harus lebih keras lagi berusaha, Bianca. Bukan salah Michy kalau dia membencimu, aku sangat tahu bagaimana rasanya hidup dan dibesarkan tanpa kasih saying seorang ibu." Agam membela putrinya.
"Kamu terlalu memanjakannya Agam," gerutu Bianca.
"Apa lagi yang bisa aku lakukan selain memanjakannya. Aku hanya ingin dia tumbuh dengan bahagia, meski tidak dalam naungan kasih sayang dari kedua orang tuanya."
"Jangan mulai menyalahkan aku lagi Agam"
"Aku tidak perlu menyalahkanmu, kamu memang sudah melakukan kesalahan, meskipun kamu menolak untuk mengakuinya."
"Hhhh, aku tidak ingin lagi bertengkar denganmu karena – masa lalu, selamat siang."
"Selamat siang Bianca," Agam mematikan ponselnya, disandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.
Sedikitpun ia tidak mendengar nada cemas pada suara Bianca, saat mengetahui Michy tidak ditemukan Erik di kampusnya.
Tidak mudah bagi Agam untuk membesarkan Michy sendirian, apa lagi harus menjawab pertanyaan Michy kecil tentang ibunya. Di saat gadis kecil lain selalu ditemani ibu mereka, Michy kecil harus puas hanya dengan Agam saja. Sementara Agam juga harus mencurahkan perhatian untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan yang diwariskan oleh Bastian, kakek Michy, ayah Bianca kepada Michy.
Agam teringat akan pesan terakhir kakek Michy. Kalau ia harus merawat dan mendidik Michy dengan baik, juga harus menjaga dan menjalankan perusahaan dengan baik. Kakek Michy bahkan sudah menyiapkan jodoh untuk Michy.
Bianca sendiri meninggalkan Michy sejak Michy masih berusia enam bulan. Bianca meninggalkan rumah untuk mengejar keinginannya menjadi penyanyi. Dia memang bisa menggapai keinginannya menjadi penyanyi. Bianca berpetualang dengan grup bandnya dari satu cafe ke café lainnya. Dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negara ke negara lainnya. sampai usianya kini menua, dan grup bandnya bubar karena para anggotanya ingin fokus membina keluarga.
Suara ponselnya menyadarkan Agam dari lamunan.
"Erik, bagaimana Erik?"Agam menegakan 'tubuhnya.
"Saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang Nona Michy, Tuan."
"Apa? Bukankah tadi pagi kamu mengantarkan Jenhy ke kampus? Apa tidak ada yang melihat Michy pergi dengan siapa."
"Benar Tuan, tapi tidak ada seorangpun yang tahu kemana perginya nona Michy."
"Ya Tuhan, Michy kamu kemana? Hhhh, Sebaiknya kamu pulang saja Erik. Nanti aku akan meminta orang-orangku untuk mencari Michy."
"Baik Tuan"
Agam tidak ingin menunggu lagi, ia langsung menelpon orang yang ia yakin bisa ia andalkan untuk mencari Michy.
°♡°♡°♡°
Michy menghempaskan tubuhnya, di atas ranjang kecil yang kini menjadi tempat tidurnya. la menyewa sebuah flat kecil, untuk tempat tinggal. Pekerjaan memang belum ia dapatkan, tapi dengan uang tabungannya, ia yakin bisa bertahan selama dua bulan, jika ia belum juga mendapatkan pekerjaan.
Tatapan Michy lurus, menatap langit-langit kamarnya, di sana terbayang wajah Agam, daddynya. Tanpa terasa air mata mengalir di sudut matanya. Setelah kakeknya meninggal, hanya daddynya yang dekat dengannya. Meski daddynya tidak banyak bicara, tapi selama ini apapun keinginannya selalu diluluskan.
Agam sangat memanjakannya, tapi kini semua itu kini sudah berakhir. Bukan Agam yang mengakhiri, tapi pilihannya untuk pergilah yang mengakhiri semua perhatian Agam untuknya. Dan, itu semua karena Bianca, wanita yang tak bisa ia pungkiri sudah mengandung dan melahirkannya. Tapi hanya sebatas itulah, peran wanita itu dalam hidupnya. Tak ada cinta, tak ada kasih sayang, tak ada perhatian, tak ada pelukan, tak ada kecupan, tak ada apapun yang membuatnya bisa menerima wanita itu dalam hidupnya. Apa lagi wanita itu sudah berusaha merebut Agam dari dirinya.
Tanpa sadar, air mata jatuh di sudut mata Michy. Meski selama ini ia merasa bahagia, hanya hidup berdua dengan daddynya. Tapi, tetap saja, terkadang ia merasa iri dengan teman-temannya, yang bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dalam hidup mereka. Michy menghapus air matanya, ia bangun dari berbaringnya, ia mengambil oran yang tadi ia beli. la harus mencari lowongan pekerjaan segera.
°♡°♡°♡°
Ini hari ketiga Michy menghilang. Agam tidak bisa menahan rasa cemasnya. Michy, gadis rumahan, ia jarang keluar untuk bepergian, Agam sangat yakin, Michy tidak akan pergi jauh.
Agam berdiri di tengah-tengah kamar Michy, tatapannya menyapu seluruh ruangan, hal ini hampir tiap malam ia lakukan, semenjak Michy menghilang. Agam melangkah mendekati jendela, tatapannya jauh terlempar ke luar sana. Pikirannya terlempar ke masa saat ia masih muda. Saat cinta tengah mekar di hatinya. Tapi ingatan itu melukai hatinya, hatinya terluka karena ia harus meninggalkan wanita yang ia cintai, demi menikahi Bianca. Agam menundukan kepalanya, rasa rindu pada Michy seakan menggerogoti hatinya.
‘Michy, apapun yang ingin kamu minta, akan daddy luluskan. Tapi tolong, pulanglah, ini rumahmu, semuanya adalah milikmu, aku hanya menjaganya untukmu. Rumah, dan perusahaan, atas namamu, jika ada yang harus pergi dari rumah ini, maka akulah yang harus pergi. Bukan dirimu, tapi aku tidak akan pergi sekarang, sampai seseorang bisa menggantikan aku untuk menjagamu, dan meneruskan untuk menjalankan perusahaan. Ya Tuhan, dimanapun putri ku Michy berada, tolong lindungi dia.'
Anda Mungkin Juga Suka





