
I Love My Mother's Ex Lover
Bab 2
"Say cheese!" ujar Junsu dengan posisi tangan kanannya memegang ponsel, sementara tangan kirinya merangkul bahu Dasom. Kepalanya sedikit dimiringkan ke bawah untuk menyamai tinggi Dasom.
Melihat Dasom tidak banyak bergaya, Junsu kemudian berhenti mengambil gambar dan menatap gadis itu lekat-lekat, bertanya, "Apakah kau suka sekali padaku? Kenapa kau bahkan tidak mampu berkutik sama sekali?" Ia terkekeh menatap pipi merah merona Dasom.
Gadis itu tergagap menjawab, "A-aku hanya ... ak-aku c-cuma y-ya, bagaimana, ya, menjelaskannya? Kau tau, kau pasti akan gugu ... gugup bukan kalau tiba-tiba bertemu dengan idolamu?" Ia menaikkan satu alisnya, seolah berusaha memperkuat argumentasi soal ketidakmampuannya mengimbangi seorang Yoo Junsu.
Alih-alih menanggapi dengan serius, Junsu tertawa mendengar jawaban Dasom. "Kau polos sekali. Aku belum pernah menemukan penggemar yang sepertimu. Apakah kau limited edition?" tanyanya menggoda sembari menunduk, mendekatkan wajahnya dengan wajah Dasom.
Gadis itu sontak menyingkir, memundurkan wajahnya, takut kalau-kalau ada yang memperhatikan mereka. Padahal sejak tadi memang ada yang memperhatikan! Siapa lagi kalau bukan masternim alias fans berat yang selalu membawa kamera besar ke mana-mana demi mendapatkan foto-foto HD idola untuk disebar dalam fansite-nya? Fyuh, rupanya itu tidak hanya berlaku untuk member-member grup saja, tapi juga untuk aktor dan aktris, bahkan beberapa model dan atlet.
"Junsu Ahjussi, sepertinya kau tidak boleh terlalu banyak mengajakku bicara," desis Dasom. Ia melirik ke arah salah satu lensa lebar kamera masternim di belakang semak hias, menunjuknya dengan ekor matanya dan berkata, "Lihatlah. Kau akan mendapati foto-foto beresolusi tinggi ketika sedang berbicara dengan orang sepertiku di sini. Apakah tidak masalah untukmu?"
Junsu mengikuti arah pandang Dasom, kemudian tersenyum dan memasang berbagai pose supaya kamera itu bisa mendapatkan banyak jepretan gambar yang bagus. Terhitung oleh Dasom, sembilan belas kali Yoo Junsu melakukan pose yang berbeda, kemudian kembali fokus dengannya dan berkata dengan amat enteng, "Tentu tidak jadi masalah buatku." Belum lagi ia tersenyum seolah yang barusan ia lakukan itu adalah hal yang amat biasa untuk dilakukan oleh seorang idola. Yoo Junsu benar-benar sesuatu di mata Dasom.
Junsu melihat Dasom terdiam menatapnya selama beberapa saat, dan sungguh, ia sudah bosan dipandang seperti itu. Dasom seperti gadis yang melihat malaikat berkali-kali, tapi tidak bosan dan terus-menerus ternganga, seperti tersihir dan langsung jatuh cinta. Aduh, Dasom, Dasom.
Junsu bertanya sembari menyibakkan tangannya di depan wajah Dasom, "Kau mau terus melamun seperti itu atau mengambil beberapa foto denganku?"
Dasom belum sempat menjawab—bahkan mencerna perkataan pria itu saja belum—saat Junsu dengan paksa menarik gadis itu mendekat dan mulai mengeluarkan jurus swafoto monumentalnya.
Junsu terlihat begitu santai mengambil beberapa foto, sementara Dasom berkutat dengan perasaannya sendiri, menahan diri untuk tidak bersikap agresif. Dalam hatinya, ada sesuatu yang membuncah-buncah. Rasanya ia sudah dekaaat sekali, dan bisa langsung memeluk tubuh pria di sebelahnya atau mencium pipi Junsu yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Pemikiran itu sudah lama berkecamuk dalam benaknya. Selama bertahun-tahun, ia sudah menghalusinasikan momen ini ribuan kali setiap malam sebelum tidur. Dasom benar-benar punya kesempatan sekarang kalau ia emmang nekat dan mau. Benar, kan? Hanya saja, kewarasan Dasom menahannya untuk melakukan kegiatan-kegitan di atas ambang batas wajar. Dasom memang punya banyak keinginan, tapi ia cuma penggemar, tak boleh kurang ajar. Ia harus tahu tempatnya. Ia harus menahannya, meski itu berarti ia hanya akan kembali mengandai-andaikan berbagai hal tak mungkin sepuluh menit sebelum tidurnya di malam hari yang panjang.
Junsu menatap layar ponselnya sejenak, lalu tersadar bahwa jangankan mengatakan 'cheese', tersenyum pun Dasom tidak. "Senyum," suruhnya kepada Dasom, tentunya dengan menatap langsung wajah gadis itu. Dasom kemudian tersenyum tulus sekali, mengabaikan detak-detak abnormal dalam dadanya.
"Ke kamera," ujar Junsu menahan tawanya. Dasom yang sebelumnya tersenyum menatap keindahan Junsu buru-buru menatap kamera. Ia malu sekali ketahuan tidak konsentrasi seperti ini. Senyumnya juga jadi kelihatan aneh dan ia menyadari, juga amat menyesalinya. Ia berharap Junsu tidak akan ambil serius soal foto itu, dan cuma menggunakannya sebagai hiburan biasa untuk penggemar yang lewat.
Belum sempat foto terbaik itu diambil, beberapa suara kembali menginterupsi ....
"Junsu-ssi! Kami juga mau fotooo!"
Untuk pertama kalinya, Dasom benar-benar merasa lega ketika penggemar lain—yang tentu merupakan 'saingannya'—datang dan membuat ricuh momen antaranya dengan Junsu. Paling tidak, kamera ponsel Junsu batal menangkap gambarnya yang tengah tersenyum dengan tidak sempurna itu—menurut penilaiannya.
Junsu tersenyum mendapati kedatangan gadis-gadis yang jumlahnya dua kali lipat dari sebelumnya. Dasom menatap wajah yang tersenyum beberapa senti dari wajahnya itu dengan teliti. Wajah dengan tulang rahang yang jelas, tulang hidung yang tinggi, dan tulang mata yang indah. Ah, Dasom ini pecinta tulang? Bukan hanya itu. Alisnya yang tebal, telinganya yang lebar, pipinya yang tirus dan lucu—buat Dasom. Terakhir dan paling spesial, bibir kecilnya yang selalu menyenangkan untuk dilihat saat tersenyum.
"Kenapa?" tanya Junsu yang menyadari tatapan Dasom beberapa senti di bawah dagunya. Dasom menggeleng kikuk seketika, membuat Junsu tertawa. Poninya yang kala itu terbelah dua karena karakteristik rambutnya, tersibak sedikit. Dahi ituuu! Dahi yang membuat Dasom hampir pingsan saking shining, shimmering, splendid-nya! Sudah, kita bisa memastikan bahwa Dasom sudah mabuk kepayang gara-gara Junsu.
"Aku berfoto dengan mereka dulu, ya," pamit Junsu. Dasom buru-buru mengangguk. Dalam batin, ia bertanya-tanya, mengapa juga Junsu harus meminta izin padanya?
Setelah sesi foto-foto dadakan part 2 selesai, Junsu kembali mendatangi Dasom yang berdiri kikuk di depan gedung salah satu agensi aktor terbesar, agensi tempat Junsu dikontrak.
"Dasom Eonni!" Seruan itu sontak membuat Dasom membalik badan.
"Ayo pulang!" seru anak kecil itu, Ddalgi, adik Dasom.
"Yuk," kata Dasom begitu Ddalgi sampai di sampingnya.
Anak dengan seragam TK itu menggandeng tangan Dasom dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa es krim. Ia menatap Junsu yang masih berjalan mendekati mereka selama beberapa saat, sebelum akhirnya membuka mulutnya yang berlepotan krim. "Ini Junsu Ahjussi yang sering membuat Eonni senyum-senyum sendiri seperti orang gali, kan, Ahjussi?"
Junsu tertawa mendengarnya, sementara Dasom menyikut pelan adiknya. "Diam," bisiknya.
"Gali? Gila mungkin maksudnya," ujar Junsu membetulkan perkataan Ddalgi.
Gadis kecil itu berpikir sejenak, kemudian mengangguk membenarkan. "Iya. Lupa. Terima kasih, Ahjussi. Ternyata selain bisa membuat Kak Dasom gali, Ahjussi juga pandai," ujarnya sembari mengacungkan jempol.
"Gila, bukan gali." Junsu tertawa lepas, lalu mencubit pipi Ddalgi pelan. Ddalgi ikut tertawa.
Tanpa mereka sadari, orang-orang yang lewat memperhatikan mereka. Junsu adalah aktor, mana mungkin ia bisa sebebas itu berbicara dengan lawan jenis di luar pekerjaannya. Dasom sadar akan hal itu. Jadi, sebelum urusannya semakin panjang, ia memohon undur diri.
"Tapi kita belum jadi berfoto," kata Junsu.
"Ah, besok lagi," lirih Dasom.
Junsu tersenyum miris. Ini yang tokoh publik siapa, sih? Kok, malah seperti ia yang mengemis untuk berfoto bersama Dasom?
"Sampai ketemu lagi," kata Junsu kemudian berlalu. Ia mau jadi yang pertama meninggalkan. Masa iya aktor terkenal ditinggal seorang gadis di depan kantornya? Sungguh memalukan. Karenanya, Junsu mengambil langkah awal pencegahan.
"Tapi ...." Dasom membalikkan badannya, melihat punggung lebar Junsu yang semakin menjauh darinya, masuk ke dalam gedung.
Anda Mungkin Juga Suka





