Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel I Hate Birthday Party

I Hate Birthday Party

“Aku ingin mencoba seperti apa layanan dari pelacur yang sudah kubayar 3 kali lipat,” ujar pemuda tampan itu dengan ekspresi datar tanpa emosi. Gadis yang menjadi sasaran pembicara hanya berjalan mendekatinya mengelus kejantanan pemuda itu dari luar celana dan menciumi bagian bawah perutnya. Dia berusaha untuk membuat kejantanan pemuda itu mengeras dengan mempermainkan bagian kepalanya. Tapi ternyata tidak ada yang berubah. Tidak ada tanda-tanda benda itu akan bangkit. “Hah! Seperti inikah sentuhan pelacur mahal itu? Aku bahkan tidak bergairah sama sekali!” maki pemuda itu. Tatapannya tajam menatap gadis di hadapannya. Umur mereka hampir sama hanya berbeda beberapa bulan saja. Mereka bahkan berada di sekolah yang sama. “Hentikan permainanmu! Aku muak berada disini!” Dia mendorong tubuh kecil gadis itu dan keluar dari kamar hotel yang sudah di bayar mahal. “Kalau kamu tidak mau tidur denganku, kenapa kamu harus membayarku sebanyak itu?” gumam gadis itu dengan suara pelan. Ekspresinya menampakkan kesedihan yang mendalam. Rasa hancur dari kehidupannya jelas terlihat dari sana. Dia bahkan seperti boneka yang tidak layak hidup lagi. *** “Aku akan mengeluarkanmu dari sana! Tunggu dan lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, Tiara!”
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi ini, Tiara pergi ke sekolah dengan syal menutupi lehernya dan stoking hitam menutupi kaki kecilnya. Bukannya apa-apa, tapi tanda merah itu sulit sekali untuk di hapus, apalagi bagian leher dan paha dalamnya. Ini sudah dua hari berlalu, tapi tandanya belum hilang juga.

“Heh, Pelacur! Kamu masih belum menjawab pertanyaanku! Siapa yang kamu tiduri kemarin?” Seorang gadis bertanya tepat saat Tiara duduk di bangkunya.

Tiara tidak punya niatan untuk menjawabnya. Dia hanya mengalihkan pandangan untuk melihat pemandangan luar lewat kaca jendela saja.

“Sialan, jawab bego!” Gadis yang marah itu menarik rambut Tiara kencang-kencang sampai dia meringis kesakitan.

“Hei, dilarang ada kekerasan di dalam kelas!” Seorang pemuda yang menjadi ketua kelas bersuara dari bangku tempatnya duduk. Sejujurnya, dia tidak membela Tiara, dia hanya tidak mau kelasnya terkena masalah.

“Pelacur sialan! Awas kalau kamu tidur dengan Papaku! Kujamin hidupmu tak akan tenang!” ancam gadis itu sambil melempar kepala Tiara dengan kasar sebelum kembali ke bangkunya.

Tiara mendesis pelan sambil mengelus-ngelus kepalanya. ‘Buat hidupku tidak tenang, karena aku tidak layak hidup tenang.’ Pikir Tiara sebelum memilih membuka bukunya dan mempelajari pelajaran yang mungkin akan dibahas gurunya.

Jam istirahat, seperti biasa, Tiara pergi ke tempat yang tenang yaitu bawah pohon di belakang sekolahnya. Matanya menatap langit cerah dengan bibir terangkat sedikit. Lalu sebuah notifikasi mengalihkan perhatian Tiara dan segera membuka pesan yang baru masuk ke ponselnya.

Bibirnya yang tadinya mengulas senyum tipis, kini hilang seketika saat membaca pesan itu. Kemudian dia menyimpan ponselnya dengan kasar dan melirik langit cerah lagi.

“Ternyata langit cerah ini tidak serta merta menyerahkan hidupku,” gumam Tiara.

Pesan yang dia baca tadi adalah tagihan baru yang harus segera dia bayar. Sebuah tagihan Rumah Sakit tempat ibunya dirawat. Tagihannya benar-benar besar! Tiara lupa kalau dia belum membayarnya sejak dua bulan yang lalu. Kini tagihannya mencapai 30 juta hanya untuk obat dan perawatan saja. Hei! Siapa yang rela ibu kandungnya menerima perawatan yang jelek? Tiara harus memberikan perawatan terbaik untuk ibunya.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Tiara. Dia tidak mungkin meminta uang lagi pada pelanggannya yang kemarin. Apa dicoba saja?

Tiara mendial nomor pelanggannya. Dan ketika teleponnya diangkat, betapa terkejutnya dia …

[Pelacur! Jangan kamu hubungi suamiku lagi, sialan! Atau aku akan menghancurkan hidupmu sampai mati! Jalang!!]

PIP

Jantung Tiara serasa mau copot. Makian kasar dari istri pria itu membuatnya terkejut bukan main. Pelanggan paling kayanya hilang, dia tidak mungkin menemuinya lagi. Jadi apa yang harus Tiara lakukan?

Tiara berdiri setelah bosan duduk di sana. Dia memutuskan untuk kembali ke kelas saja. Namun, sebelum dia melangkah memasuki lorong sekolah, seorang gadis datang dengan wajah merah karena marah.

“Dasar Jalang!!!!”

PLAKK

“Berani kamu menggoda pamanku!!”

PLAKK

Pipi kiri Tiara sangat panas dan sakit sampai telinganya berdengung. Gadis itu memakinya sambil mengungkit-ngungkit nama pamannya. Ternyata gadis ini keponakan dari pelanggannya yang tadi hendak dia telepon.

“Jalang ini menggoda pamanmu?” tanya gadis lain yang menyaksikan kejadian itu. Ternyata mereka sudah dikerumuni banyak orang.

“Sialan! Tidak tahu malu!”

PLAKK

“Akhh …” Kali ini Tiara melenguh pelan. Tangannya sudah mengepal di kedua sisi tubuhnya.

“Anak ini perlu diberi pelajaran!”

“Aku tidak menggoda pamanmu,” ujar Tiara dengan suara dingin bahkan tatapannya tajam.

“Masih mengelak rupanya! Aku mendapatkan nomormu di ponsel pamanku, sialan! Aku juga melihat mobil pamanku menjemputmu dua hari yang lalu!”

“Bagaimana jika kubilang pamanmu sendiri yang mendatangiku?”

“Pelacur sialan!”

Tiara menghentikan tangan yang akan menampar dirinya lagi. “Lagi pula, aku sudah memutus hubungan dengan pamanmu. Kami tidak akan bertemu lagi. Jadi menyingkirlah dari hadapanku.” Tiara berjalan melewati gadis itu dengan wajah tidak peduli. Namun sebenarnya, hatinya bergetar ketakutan. Lagi-lagi dia mencoba untuk tidak memperdulikan mereka. Dia tidak tahu kalau pria itu punya keponakan yang satu sekolah dengannya.

Ternyata hari buruk Tiara tidak hanya sampai di sana. Ketika dia berjalan menuju lorong kelasnya, seseorang menariknya kasar dan menyeretnya menuju ke belakang sekolah.

Kedua tangan Tiara dipegangi dengan dua pria. Sekalipun dia memberontak, genggaman mereka benar-benar kuat sampai tangannya terasa nyeri.

Lalu tubuhnya terlempar ke sebuah ruangan lumayan besar. Mata bulat itu menatap orang-orang yang sudah berdiri menunggunya dengan tangan terlipat di depan dadanya.

Tiara tahu tempat ini, tapi dia tidak pernah memiliki niatan untuk masuk ke dalam. Dia menatap dua pria yang menariknya dan dua gadis yang berdiri menghadapnya secara bergantian.

“Kenapa kalian menarikku ke sini?” tanya Tiara dengan suara datar.

“Pelacur ini berani bicara rupanya,” ucap seorang gadis cantik keturunan China yang tampak lebih muda dari Tiara. Sepertinya gadis itu satu atau dua tahun lebih muda darinya. Sedangkan gadis di sampingnya seperti ditahun yang sama sepertinya.

“Hei, kami hanya ingin kamu menjauh dari teman kami!” Seorang pemuda tinggi berambut coklat berkata sambil melemparkan tatapan tajam pada Tiara.

Tiara mendongak menatapnya. Keningnya mengerut merasa heran. “Siapa yang berniat mendekati teman kalian?”

“Sialan, menjauh dari Daniel!”

PLAKK

“Akh …” Tamparan lain didapatkan Tiara dari tangan besar yang bahkan telapak tangannya hampir menutupi seluruh wajah Tiara.

Rasa amis darah terasa di dalam mulut Tiara dan dia hanya bisa menelan semua rasa besi itu.

“Aku beri peringatan padamu, jangan pernah menggoda teman kami!” Pemuda yang tadi menampar Tiara mulai menaikkan suaranya.

Tiara yang mendengarnya ikut marah. Dia menatap nyalang orang-orang di hadapannya. “Aku tidak pernah menggoda siapapun! Cobalah tanya temanmu sendiri, siapa yang mendekati siapa,” ucap Tiara.

“Sepertinya kita tidak bisa bicara baik-baik padanya,” ucap gadis yang lebih muda dengan tatapan kesal dan mengejek.

“Memang!”

GRAB

“Aduh, lepas!”

Tangan Tiara ditarik lagi sampai punggungnya membentur dinding dengan keras. Lalu pemuda itu meraih ponselnya di meja dan mulai mengarahkannya pada Tiara. Sepertinya dia sedang mengambil video.

“Mulai buka bajunya!” perintah pemuda tinggi itu pada pemuda lain yang berlesung pipit.

“Apa yang akan kalian lakukan?” Tiara mulai merasa panik. Bibir mereka menyeringai menyeramkan. Walaupun Tiara adalah orang yang kotor, tapi dia tidak pernah dipermalukan seperti ini sekalipun oleh pelanggannya!

“Pelacur sepertimu tidak akan pernah malu menunjukkan tubuhnya, bukan?” tanya pemuda yang berjalan mendekatinya. Pemuda berlesung pipit itu meraih seragam Tiara.

“Hentikan!” Tiara menampar tangan yang mau membuka kancing seragamnya.

“Ini akan sulit, aku akan memeganginya, siapapun tolong buka bajunya!” Pemuda itu meraih kedua tangan Tiara dan menguncinya di belakang tubuhnya agar tidak banyak bergerak.

Gadis yang lebih muda berjalan mendekatinya. Bibirnya menyeringai menatap Tiara.

“Beginilah kalau wanita pelacur sepertimu berani mendekati teman kami,” ujarnya sambil membuka satu persatu kancing baju Tiara.

“Tidak … Jangan! Tolong lepaskan aku!” Kali ini Tiara mulai memohon. Suaranya berdecit pelan di tenggorokannya. Dia benci dipermalukan!

“Memohonlah, kami tetap tidak mau melepaskanmu begitu saja!” ujar gadis muda itu.

“Tidak! Tolong! Jangan …” Tiara benar-benar menangis sekarang. Ini pertama kalinya dia menangis di depan orang lain.

Seragam Tiara sudah terbuka seluruhnya, menyisakan bra berwarna putih dengan tubuh langsing yang terlihat sangat cantik jika tidak mengingat bahwa dia seorang pelacur.

“Tolong, jangan!” mohon Tiara lagi. Dia akan lebih membenci dirinya jika semua ini terjadi. Rasa jijik itu pasti semakin memenuhi isi kepala Tiara.

“Memohonlah terus, kami tidak akan berhenti.” Pemuda yang merekam terkekeh penuh kemenangan.

Rok pendek Tiara mulai dibuka dan menurunkannya. Karena Tiara menggunakan stoking hitam, tapi gadis muda itu berjalan ke arah meja mengambil sebuah gunting.

“Tidak … Tidak!!” Tubuh Tiara benar-benar gemetaran sekarang. Wajahnya sudah memerah karena menahan malu.

“Tidakkah kalian berlebihan?” gadis lain bertanya pada teman-temannya. Orang yang sedari tadi diam kini mulai membuka suara.

“Ohh, Anjas! Memangnya kamu mau lihat Daniel bersama pelacur ini?” tanya pemuda yang merekam.

“Lanjutkan, Sayang,” perintah pemuda itu pada gadis muda itu. Ternyata mereka berpacaran.

“Tidak … Tolong! Hentikan semua ini!” mohon Tiara.

BRAKK

“BRENGSEK! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

-

~2 Be Con~

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Punya Ragamu Tapi Tidak Hatimu
8.4
Silva dan Silvi adalah kembar identik yang berbagi segalanya, termasuk perasaan cinta pada Kenzo. Namun, takdir berkata lain saat Silva yang sakit-sakitan meninggal dunia di usia dua puluh tahun. Sebelum wafat, Silva meminta Silvi menggantikan posisinya untuk menikah dengan Kenzo. Meski Silvi menerima wasiat itu demi cintanya, kehidupan pernikahan mereka tidak seindah bayangan. Mampukah Silvi memenangkan hati suaminya yang masih terikat bayang-bayang kakaknya?
Sampul Novel Aldrich Delano And His Wound
8.0
Saat Ara mengungkap kehamilannya, Aldrich justru menyambutnya dengan senyum bahagia yang luar biasa. Ara pun tak menduga bahwa Aldrich memilih langkah besar ini demi menebus segala kesalahan di masa lalu mereka. Meski tetap setia mendukung keputusan sang pria, Ara perlahan menyadari bahwa momen ini bukanlah akhir dari penderitaan. Kehamilan tersebut justru menjadi gerbang pembuka bagi badai konflik baru yang siap menerjang kehidupan mereka berdua secara lebih hebat.
Sampul Novel Ayah Tiri yang Aku Idam-Idamkan
9.0
Banyak yang menganggap kasih sayang ayah tiri takkan pernah setara dengan ayah kandung. Namun, bagiku anggapan itu keliru. Sejak ibuku menikah kembali, aku justru menemukan figur pelindung yang sangat mencintaiku pada sosok ayah tiri. Hubungan hangat ini membuatku mempertanyakan keberadaan ayah kandungku sendiri. Apakah pria yang memiliki ikatan darah denganku itu mampu memberikan perhatian dan ketulusan yang sama luar biasanya seperti ini?
Sampul Novel Batas Kesabaran Seorang Wanita
8.9
Sera merasa jengah dengan Darren yang tiba-tiba terobsesi setelah rahasia insiden hotel tiga tahun lalu terkuak. Namun, upaya Darren tampak terlambat karena kehadiran Alvin, pria yang dahulu menolong Sera di masa sulit. Kehangatan Alvin mulai meluluhkan hati Sera, memberikan rasa aman dan cinta tulus yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Kini Sera harus memilih: memaafkan Darren yang penuh penyesalan atau melangkah maju bersama Alvin yang mencintainya sepenuh hati.
Sampul Novel Doa Istri Pertama
8.2
Kehidupan Annisa berubah drastis sejak Hamza memutuskan untuk berpoligami dengan menikahi Aina. Alih-alih membenci madunya, Annisa justru memanjatkan doa unik yang menargetkan dirinya sendiri. Ia memohon agar setiap kepedihan dan luka batin yang ia rasakan akibat pengkhianatan suaminya dikonversi menjadi tumpukan dosa bagi Hamza. Ini adalah kisah tentang perjuangan batin seorang istri pertama yang melawan kedzaliman lewat kekuatan doa dan air mata.
Sampul Novel Gadis Jaminan Tuan Max
7.8
Hera mengira penderitaannya sudah mencapai batas, namun kemalangan lebih besar justru datang menghampiri. Ibunya terjerat utang pada Max, seorang lintah darat kejam, dan kini Hera yang harus menanggung konsekuensinya. Ia dijadikan tawanan sebagai jaminan hingga utang tersebut lunas sesuai tenggat waktu. Jika sang ibu gagal membayar, Hera harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dalam hidupnya. Akankah ia mampu bertahan di bawah kendali penuh Max?