
Hot Secret On The Rooftop
Bab 2
Angela melirik jam tangannya saat melangkah keluar dari taksi, menyadari bahwa waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh lima menit. Ia berdiri sejenak di depan gedung bertingkat di daerah Thamrin, mencoba menenangkan diri sebelum masuk. Setelah menghela napas panjang, ia berjalan dengan percaya diri melewati pos keamanan, menunjukkan identitasnya kepada petugas.
"Selamat pagi, saya Angela, ada janji dengan Pak Faisal di lantai 6," katanya sambil tersenyum.
Petugas keamanan mengangguk dan membiarkannya lewat. Angela segera menuju lift, mengikuti arahan yang sudah diberikan Tante Yoke melalui pesan singkat. Perasaan cemas sempat melintas, mengingat betapa pentingnya kesempatan ini. Sesampainya di lantai 6, ia langsung disambut oleh suasana kantor yang sibuk.
Di meja resepsionis, seorang wanita cantik dengan blazer biru gelap menyambutnya dengan senyum profesional. "Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?" tanyanya.
"Pagi, saya Angela, ingin bertemu dengan Pak Faisal, Manager HRD," jawab Angela, berusaha terdengar tenang.
"Sudah ada janji sebelumnya?" tanya resepsionis dengan nada yang lebih tajam.
Angela tersenyum gugup. "Belum, saya datang atas undangan Ibu Yoke Safitri, Kepala Cabang Kuningan. Beliau Tante saya," jelasnya.
Resepsionis itu menatapnya sejenak sebelum menjawab, "Baik, silakan duduk dulu ya. Saya akan panggil nanti." Angela merasa ada sesuatu yang ganjil dalam tatapan resepsionis itu, tapi ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih lanjut dan duduk di sofa yang ditunjukkan.
Menunggu di sofa kulit berwarna kuning gading, Angela memperhatikan sekeliling. Dinding kaca di depannya dihiasi lukisan besar berpigura kayu keemasan yang mengapit nama perusahaan, Nirvala International Ltd. Di dinding sebelahnya, foto-foto pejabat dan karyawan serta berbagai piagam penghargaan tertata rapi. 'Lumayan elit kantor pusatnya,' gumam Angela dalam hati.
Dulu, ketika masih kecil dan remaja, ia dan sepupunya Dita sering dibawa Tante Yoke ke basecamp armada bus, mobil-mobil box, truk, dan motor-motor pengantar paket. Saat itu, Tante Yoke masih menjabat sebagai koordinator operasional. Memori itu membuat Angela tersenyum sedikit, mengingat betapa berbeda suasana di sini dibandingkan tempat itu.
"Mbak Angela," suara lembut resepsionis membuyarkan lamunannya. Angela segera bangkit dari sofa dan menghampiri resepsionis tersebut.
"Iya, Mbak."
"Silakan masuk, sudah ditunggu Pak Faisal. Mari saya antar ke ruangannya." ujar resepsionis dengan senyum yang masih terpajang.
Angela mengikuti langkah wanita cantik itu menyusuri lorong yang dipenuhi kubikel-kubikel karyawan yang sedang sibuk di depan komputer mereka masing-masing. Namun, mereka masih sempat melempar senyum yang Angela balas demi sopan santun. Di depan pintu kayu berwarna coklat gelap bertuliskan 'Manager HRD,' langkah sang resepsionis terhenti.
"Mbak Angela, silakan masuk ya. Saya akan kembali ke tempat saya," ujarnya, menyisakan senyum sebelum kembali ke meja resepsionis.
"Terima kasih, Mbak," balas Angela dengan senyuman. Ia lalu mengetuk pintu tiga kali dan membukanya ketika terdengar jawaban dari dalam. Hatinya sedikit berdegup kencang saat melangkah memasuki ruangan full AC itu.
Seorang lelaki berperawakan sedikit gemuk dan berkacamata, duduk di balik meja, menyambut kedatangan Angela dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Mbak Angela. Silakan duduk," ujarnya dengan suara berat. "Bisa saya lihat berkas lamaran dan CV-nya?"
"Selamat pagi, Pak Faisal. Terima kasih." Angela menarik kursi dan duduk di hadapan lelaki yang usianya mungkin sama dengan Tante Yoke. Ia menyerahkan berkas yang diminta.
Pak Faisal menatap Angela sejenak sebelum berbicara lagi. "Benar kamu keponakannya Yoke Arsita?"
"Iya, Pak Faisal. Tante Yoke adalah adik kandung papa saya," jawab Angela berusaha tetap tenang walau detak jantungnya tak beraturan. Sejujurnya dia tetap merasa nervous.
Pak Faisal mengangguk pelan. "Oke, apakah beliau sudah menjelaskan tugasmu nanti?"
"Belum terperinci, Pak. Hanya garis besarnya saja," jawab Angela.
"Tugasmu nanti adalah membantu Mbak Tike, sekretaris Pak Tristan, Kepala Bagian Keuangan Divisi Operasional. Detailnya akan diarahkan oleh Mbak Tike," jelas Pak Faisal dengan nada serius. "Kedatanganmu ke sini bukan untuk tes atau wawancara, hanya formalitas karena rekomendasi dari karyawan senior. Jaga kepercayaan kami dengan kerja yang baik. Selamat bergabung, besok sudah bisa mulai bekerja. Sebelum pulang, temui Mbak Della, resepsionis tadi."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak," ucap Angela seraya bangkit dari duduknya dan menjabat tangan Kepala Bagian HRD itu.
Saat berjalan kembali keluar dan melewati meja Della, Angela sedikit ragu untuk berbicara karena melihatnya sedang mengobrol dengan seseorang di depan mejanya. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang berdiri membelakangi Angela berbalik mendengar langkah kakinya.
"Selamat pagi, Pak. Mbak Della. Mohon maaf mengganggu," sapa Angela ramah walau sedikit gugup dipindai oleh sepasang mata sipit yang dibingkai oleh kacamata.
"Oh iya, Mbak Angela, saya akan menjelaskan tentang..." ucapan Della terputus oleh suara berat milik lelaki paruh baya yang masih berdiri di hadapannya.
"Jadi ini keponakan Yoke yang akan bekerja dengan saya?" tukas lelaki berkemeja biru langit dengan nada mencurigakan, memindai Angela dari atas ke bawah.
"Benar, Pak Tristan. Namanya Angela," jawab Della, yang diamini Angela dengan anggukan dan senyum.
"Saya ditugaskan Pak Faisal untuk memberi pengarahan sebelum bekerja pada Bapak," tutur Angela sopan.
"Mumpung saya di sini, sebaiknya langsung saja saya bawa dia ke tempat saya," ujar Pak Tristan tegas.
"Tapi, Pak..." cicit Angela. "Pak Faisal bilang saya mulai besok."
"Kalau kamu niat kerja, ikuti saya!" perintah Pak Tristan tanpa memberikan ruang untuk debat.
Angela berjalan sedikit berlari mengikuti langkah lebar bos barunya menuju lift. Ia sedikit heran ketika melihat Pak Tristan menekan tombol basement saat pintu lift tertutup. 'Kenapa ke basement? Itu artinya ke parkiran, dan keluar dari gedung ini,' batinnya bertanya.
"Maaf Pak Tristan, kita mau ke mana? Bukankah basement itu tempat parkir ya?" akhirnya Angela tak tahan juga untuk bertanya.
Lelaki tinggi besar yang berjalan cepat itu tiba-tiba menghentikan langkah. Sialnya, tubuh mungil Angela yang tak siap dengan itu jadi menabrak punggung Pak Tristan lumayan keras.
"Mm...maaf Pak! Bapak ngerem mendadak, saya ga siap," cicitnya dengan pandangan takut melihat sorot mata Pak Tristan yang lagi-lagi memindainya dengan tatapan killer.
Pak Tristan membuang nafas kasar. "Angela, perlu kamu tau ya, walaupun kamu keponakan Yoke, kalau kerjamu ga benar, saya bisa langsung pecat kamu. Paham?!"
"I...iya Pak, maaf, saya hanya bertanya." Angela masih berusaha membela diri.
"Kalau kerja sama saya itu jangan kebanyakan nanya, tapi ikuti aja apa yang saya bilang," ujar Pak Tristan yang sudah berjalan lagi mendekati sebuah mobil Fortuner hitam dan membuka pintunya. "Ayo masuk, tempat kita bukan di gedung ini, ngerti sekarang?"
"Iya Pak," sahut Angela sedikit berlari memutar dan bersiap masuk ke pintu belakang. Tapi lagi-lagi ia dikejutkan oleh suara Pak Tristan yang menggelegar bak halilintar ditengah hari yang panas.
"Siapa suruh kamu duduk di bangku belakang Angela? Kamu pikir saya driver pribadi kamu? Cepat pindah ke depan!"
"Oh, iya iya Pak Tristan, maaf," cicit Angela lagi. Benaknya menggerutui kebodohannya sendiri. Ia duduk di sebelah bosnya dan segera memasang safe belt sebelum kena semprot lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





