Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hot Secret On The Rooftop

Hot Secret On The Rooftop

Angela mulai curiga dengan keganjilan di kantor tantenya, terutama skandal rooftop dan hubungan gelap antara Tristan si bos galak dengan sekretarisnya, Tike. Di tengah tekanan tugas tak biasa dan gangguan Mark yang licik, Angela harus menjaga reputasi Yoke dari musuh-musuhnya. Tantangan semakin rumit saat ia harus memilih antara sumpah menghindari rekan kerja atau menerima perlindungan tulus dari Tom. Mampukah ia mengungkap rahasia rooftop dan bertahan di lingkungan penuh intrik ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah lima belas menit berada dalam mobil berdua dengan sang bos tanpa ada pembicaraan, Fortuner hitam yang mereka kendarai memasuki halaman sebuah gedung. Pak Tristan memarkir mobilnya dengan gesit ke tempat khusus, melewati beberapa motor dan mobil box yang sedang memuat barang. Angela tak banyak bertanya karena ia merasa tak asing dengan tempat itu. Dulu Tante Yoke sering mengajaknya ke kantor ini.

"Ayo turun!" titah Pak Tristan pada Angela yang masih termangu di kursinya. "Tempat kita di lantai dua."

"Iya Pak," cicit Angela membuka safe belt dan keluar dari mobil.

Ia mengikuti saja langkah sang bos memasuki lobby gedung. Melewati beberapa lelaki berpakaian seragam kemeja biru dan celana hitam yang langsung tersenyum dan menganggukkan kepala pada Pak Tristan. Mereka juga memandang Angela dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah melihat Pak Tristan memasuki lift bersama Angela, para lelaki itu saling berbisik.

"Wah kayaknya Pak Tris dapat mangsa baru, daun muda bro!" bisik lelaki tinggi kurus memulai. "Cantik juga ya."

"Kita lihat aja berapa lama bisa tahan hahaha," sahut temannya.

Sementara Angela dan Pak Tristan telah keluar dari lift yang membawa mereka ke lantai tiga gedung ini. Mereka menyusuri lorong kubikel berisi beberapa pria dan wanita yang sedang duduk menghadap komputer masing-masing. Sedikit canda mereka terjeda saat melihat kehadiran Pak Tristan.

"Pagi Pak Tristan!" sapa seorang lelaki berkulit coklat dengan senyum berlesung pipi. Wajahnya manis dihiasi sorot mata yang terlihat ramah dan bersahabat. Ia berjalan dari kubikelnya menghampiri Pak Tristan yang menghentikan langkah.

"Pagi Ndra, sudah sehat kamu?" sahut Pak Tristan menyambut jabatan tangan lelaki di hadapannya. "Katanya kamu kena tipes ya?"

"Alhamdulillah, iya Pak. Bosan juga seminggu harus bed rest di Rumah Sakit." Lelaki berkulit coklat itu menatap Angela yang berdiri canggung di belakang Pak Tristan. "Karyawati baru lagi Pak?"

Pak Tristan menggeser tubuhnya yang menutupi Angela. "Iya. Keponakannya Yoke. Kamu kenal ga Ndra?"

Angela mengulurkan tangan pada lelaki manis yang sekali lagi menebar senyum menjabat tangannya.

"Angela," cicitnya ikut tersenyum.

"Ini namanya Pak Indra, Manager IT disini." Pak Tristan bertutur singkat menerangkan.

"Oh ya, saya baru ingat nama kamu Angela. Dulu waktu masih sekolah pernah beberapa kali kesini ya sama Mbak Yoke?" tanya Indra menatap Angela. "Pernah ke Jogja dan Solo juga kan berdua anak perempuan Mbak Yoke ikut armada bus kantor yang trayeknya kesana?"

"Iya om ... eh Pak Indra," sahut Angela tersipu. Ia sedikit terkejut saat tiba-tiba pintu dibelakang lorong tempatnya berdiri terbuka dan muncul wajah seorang wanita setengah baya dengan dandanan yang sedikit over.

"Pagi Pak Tristan! Wah Angela sudah sampai sini rupanya?" Sapa wanita itu dengan bibir merah yang tersenyum lebar. "Tadi Kakak habis teleponan sama tante kamu lho."

"Ini operator telepon kepo banget sih. Ngapain kamu keluar segala Marinka? Sana masuk kandang lagi," tukas Pak Tristan dengan tatapan tak suka pada wanita itu. "Ayo Angela kita ke ruangan saya."

"Iya Pak Tristan," sahut Angela segera mengikuti langkah bosnya. Sempat ia menoleh sejenak dan tersenyum pada wanita bermake up over dosis yang berteriak padanya.

"Angela! Nanti jam istirahat main sini ya ketempat Kakak."

'Astaga, Kakak katanya? Dilihat sekilas saja aku tahu wanita itu hampir seumuran Tante Yoke,' Angela membatin geli. Tapi ia berusaha keras menahan tawa agar tak lagi kena semprot bos galaknya yang telah membawanya memasuki sebuah ruangan lagi.

"Nah, Angela ini ruangan kerja saya. Kursi di sebelah kanan itu tempat Tike sekretaris saya," tutur Pak Tristan menjelaskan. "Meja kamu di sebelah kiri tempat saya, itu kalau kamu sedang ada kerjaan di ruangan ini."

Angela mengangguk pelan. Matanya memindai isi ruangan berhawa sejuk karena AC di dinding yang mengarah ke meja Pak Tristan. Ruangan yang cukup luas berisi tiga meja kerja yang dilengkapi laptop di masing-masing meja ini, juga dilengkapi dengan flat TV berukuran cukup besar di sudut tempat sebuah sofa berwarna hitam dan meja kaca berada.

"Maaf Pak Tristan, lalu kalau sedang tidak ada kerjaan di ruangan ini, saya ditempatkan dimana?" tanya Angela. Ia agak ambigu dengan penuturan bosnya.

"Memangnya waktu tadi mau masuk ruangan ini kamu ga lihat ada meja kerja kecil lengkap dengan komputer tepat di depan pintu masuk?" jawab Pak Tristan dengan nada agak tinggi. "Kamu duduk disana kalau ada tugas yang ga bisa dikerjakan di dalam ruangan ini, ngerti?"

"Iya Pak Tris, maaf saya ga memperhatikan tadi," cicit Angela menunduk. Ia masih berdiri di depan meja kerja bosnya yang sudah duduk di kursi dengan sandaran tinggi.

"Ya sudah. Mau sampai kapan kamu berdiri disitu kayak anak sekolah lagi dihukum guru? Sana tempati meja kerjamu! Rapikan aja dulu, sambil nunggu si Tike datang. Nanti saya cari apa yang bisa kamu kerjakan sementara ini." Suara bariton Pak Tristan kembali menggema di ruangan.

"Baik Pak." Angela langsung melangkah kearah meja kerjanya. Menaruh tas dan langsung membenahi kertas-kertas yang berserakan diatas meja. Menyusun ATK dan beberapa buku berukuran besar yang susunannya tak beraturan.

Melirik meja kerja di seberang mejanya, Angela menggeleng-gelengkan kepala. 'Berantakan banget. Sekretaris apa tuh kerjanya ga rapi gitu. Lagian kok jam segini belum datang? Malah bos duluan yang sampai kantor. Padahal bosnya galak banget,' batin Angela.

"Nih daripada kamu bengong gitu nanti kesambet, coba kamu cek dan sesuaikan data di formulir ini dengan yang ada di email. Buka laptopnya. Kamu bisa kan mengoperasikan komputer? Kudengar dari Yoke, kamu belum selesai kuliah kan?" Pak Tristan menghampiri meja Angela dengan setumpuk formulir di tangannya.

"Iya Pak. Tentu bisa walaupun kuliah saya belum selesai," sahut Angela bergegas menerima tumpukan kertas dari bosnya dan langsung membuka laptop yang tergeletak di meja kerjanya. Ia sedikit grogi karena bos galak yang seusia ayahnya itu masih berdiri tak jauh dari tempatnya duduk dan memperhatikan apa yang ia lakukan.

Belum reda debaran di dada Angela bertambah dengan terdengarnya suara pintu ruangan yang dibuka dan ditutup kembali dengan kasar. Seorang wanita bertubuh subur dengan warna lipstik merah menyala memasuki ruangan tergesa-gesa. Wanita dengan rambut bergelombang sebahu itu memandangnya sekilas tanpa senyum.

"Pagi Pak Tristan," sapanya memandang sang bos sebelum meletakkan tas diatas meja kerjanya dan duduk. Ia membuka vest berwarna biru gelap yang dikenakan dan menyampirkannya di sandaran kursi.

"Ini sudah siang Tike! Lagi-lagi kamu terlambat," gerutu Pak Tristan sambil berjalan kembali ke meja kerjanya.

"Yah maklum lah Pak, saya kan harus mengantar Tegar ke sekolahnya dulu. Nunggu dia selesai dan jemput lagi, baru kesini," balas Tike. Ia tak langsung mengerjakan tugas, tapi malah mengeluarkan compact powder dan lipstik dari tasnya. Lalu mulai touch up, padahal make up yang ia kenakan belum luntur.

Angela yang memindai semua itu dari sudut netra, memutar bola mata dan kembali membatin. Mahluk yang aneh! Kenapa dia begitu santai berhadapan dengan Pak Tristan yang segitu killer-nya? Hmm, pasti ada sesuatu dibalik ini semua.

"Tike, nanti kamu tolong bimbing Angela tuh ya! Biar bisa bantu kerjaan kamu yang jarang bisa selesai tepat waktu," titah Pak Tristan dari meja kerjanya. Lelaki paruh baya berwajah oriental itu dengan santai mengeluarkan sebungkus rokok, mengambilnya sebatang lalu membakarnya dengan korek api gas berbahan metal.

Tike hanya melirik sekilas dengan pandangan angkuh pada Angela tanpa bersuara.

"Lho, Pak Tristan merokok di ruangan ber AC?" Angela spontan bertanya dengan nada tinggi. Ia cukup terganggu dengan asap yang menguar dan menyentuh indera penciumannya.

"Memangnya kenapa? Ini ruangan saya dan saya bebas melakukan apa saja disini," tukas Pak Tristan dengan suara menggelegar. "Kalau kamu ga suka, kamu bisa keluar!"

Nyali Angela langsung menciut. "Bu_bukan begitu Pak, maaf, tapi..."

"Ya udah sih, kamu kan bisa ngerjain kerjaan kamu di meja yang ada di luar ruangan ini. Disana juga ada komputer. Atau kamu bawa aja laptop itu kesana. Gitu aja kok repot sih," sungut Tike sinis.

"Baik Bu Tike, ga apa ya kalau saya kerjakan tugas ini di meja kerja yang di luar?" cicit Angela bersiap bangkit dari kursinya.

Tike mendelik sewot. "Ya ga apa lah! Daripada kamu disini rewel kena asap rokok. Dasar! Anak baru udah banyak tingkah. Oiya, satu lagi, jangan panggil saya Ibu, tapi Mbak Tike! Paham?"

"I_iya Mbak Tike, maaf. Permisi Pak Tris, mohon ijin pindah ke meja depan sana," lirih Angela bersuara. Ia segera membawa laptop dan tumpukan formulir di tangannya meninggalkan ruangan yang sudah dipenuhi asap rokok. 'Ya Tuhan, tolong kuatkan mentalku', batinnya nelangsa.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DINGIN TUAN BESAR
8.4
Marla masuk ke kediaman Austin sebagai pelayan, namun ia tidak menyadari bahwa Margaret memiliki agenda tersembunyi untuk menjodohkannya dengan sang cucu tertua, Richard Branson Austin. Richard adalah pria kaku yang sangat pendiam, kontras dengan adiknya, Ascar, yang gemar memberontak. Terjebak di antara dua kepribadian yang bertolak belakang, Marla kini menghadapi dilema besar: bertahan dalam rencana perjodohan tersebut atau memilih untuk melarikan diri.
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Padam
8.3
Dua tahun Nayara terkurung dalam pernikahan tanpa cinta akibat paksaan ibu Ravian. Sebagai pemimpin perusahaan yang dingin, Ravian Aditya Maheswara hanya menganggap hubungan ini kewajiban belaka. Namun, saat Nayara menyerah dan meminta cerai, sikap Ravian berubah drastis. Alih-alih setuju, ia justru mulai mempermainkan perasaan Nayara, menjebaknya dalam teka-teki hati yang membingungkan tepat saat ia ingin pergi menjauh dari bayang-bayang pria itu.
Sampul Novel Hasrat Aneh Rahasiaku
9.4
Kehidupan normalku hancur setelah mengintip melalui jendela yang mengungkap rahasia gelap para tetangga. Aku menyaksikan Dela yang tomboy berubah menjadi sosok penggoda, Pak RW yang terhormat menunjukkan sisi liarnya, hingga Rifan yang tampak polos ikut terlibat dalam ritual penuh gairah itu. Meski hanya penonton, hasrat aneh mulai menghantuiku setiap malam. Terjebak dalam rasa ingin tahu dan ketegangan, aku terseret jauh ke dunia terlarang yang mereka sembunyikan.
Sampul Novel I WAS NEVER YOURS
9.0
Menjalin ikatan dengannya adalah sebuah larangan keras yang tidak seharusnya kulanggar. Namun, perasaan ini tumbuh begitu dalam meski aku tahu bahwa memilikinya adalah hal yang tabu. Setiap detik aku mencintainya, rasa sakit itu justru semakin mengoyak batasan hatiku. Aku terjebak dalam dilema antara keinginan memiliki dan kenyataan pahit yang terus menyiksa. Mencintai dirinya hanya membawaku pada luka yang kian menganga tanpa ada kepastian.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel Misteri Birahi Kampung Cilendir
9.5
Kehidupan Reza sebagai duda di lingkungan baru terusik saat bertemu Naila. Meski dikenal sebagai ustazah yang salehah dan santun, Naila menyimpan gejolak rasa yang sulit dibendung terhadap Reza. Kedekatan mereka memicu dilema antara iman dan hasrat yang melanggar norma. Saat pertemuan rutin berubah menjadi momen penuh getaran, mampukah mereka menjaga batasan? Ataukah keduanya akan menyerah pada gairah terlarang yang mulai membakar hati mereka?