
Hot Love - George & Regina
Bab 2
George hampir tak tahan lagi, dia ingin secepatnya keluar dari tempat kerja yang dianggapnya bagai 'neraka yang selalu dijaga ketat oleh malaikat pencabut nyawa'.
George bekerja sebagai seorang service cleaning di sebuah restoran cepat saji yang berlogo seorang kakek berjanggut.
Pria Amerika bertubuh atletis itu sudah tak tahan lagi mendengar omelan panjang kali lebar 'seperti sungai Amazon' dari mulut Marco, manager yang selalu mencari-cari kesalahan karyawannya. Entah mengapa dia hobi sekali memarahi George dan Sony.
Sore hari, detik-detik terakhir George hendak bersiap-siap ke toilet untuk melepas baju seragamnya dan mendatangi Marco untuk menyatakan bahwa dia ingin berhenti bekerja, seorang gadis Rusia datang ke restoran cepat saji itu dan berjalan dengan anggun menuju ruangan Marco.
Gadis seksi dengan rok mini itu menenteng sebuah map warna jingga. Kelihatannya dia melamar pekerjaan di restoran cepat saji itu.
George mengurungkan niat semulanya. Pria Amerika itu mengambil semprotan pembersih kaca dan kanebonya, dia pura-pura membersihkan pintu kaca, ruangan sang manager yang sedikit terbuka. George penasaran sekali, ingin tahu siapakah gadis cantik berkulit putih itu.
Sesekali dia mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Namun George sedikit teledor, semprotan pembersih kaca jatuh dari genggaman tangan kirinya. "Buggg!"
Marco keluar, aksi George meniru gaya paparazzi Italia idolnya, terbongkar, gagal karena kesalahan kecilnya. Aksinya penyadapan George ketahuan oleh sang manager yang terkenal super killer itu.
"George! Lihat-lihat apa kamu!!? Ingin jadi paparazzi??? Ingin mematai-matai aktivitasku?!" omel Marco.
"Em ... tidak." George mengelak tuduhan Marco.
"Saya hanya ingin membersihkan kaca ini!" lanjutnya.
George menutupi kesalahannya dengan berpura-pura mengelus-elus pintu kaca ruang sang manager.
Dalam hati, George sedikit takut karena jika tuduhan memata-matai itu terbukti, maka detik itu dia bisa dipecat dan kecil sekali peluang baginya untuk bertemu dan berkenalan dengan gadis cantik yang sedang interview di ruangan Marco.
"Tidak memata-matai apa? Itu buktinya, pintu kaca sudah bersih kenapa kamu elus-elus terus. Sana! Bersihkan pintu kaca depan yang masih kotor itu!" bentak Marco dengan ekspresi muka, sangat marah.
"Iya ... iya ..." kata George.
"Iya ... iya ... dasar!" Marco melampiaskan seluruh kemarahannya karena dari pagi belum sempat memarahi George. Marco pun kembali ke ruangannya.
George pun memilih untuk menyingkir jauh-jauh darinya. Jika marah, Marco seperti singa terusik dari tidurnya.
George memungut kembali semprotan pembersih kacanya dan keluar untuk membersihkan kaca pintu depan restoran.
George mengelus-elus pintu kaca depan sambil bersenandung dan bersiul. George memang periang, dia selalu gembira, dia tak pernah merasa sakit hati.
Bagi George diomelin atasan adalah hal hal biasa. Sebab, sejak kecil George selalu menjadi sasaran omelan dan ocehan serta 'kotbah Alkitab' dari ibunya karena sifat teledor yang susah untuk diubah. Hampir segala yang dilakukan George pasti menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil lalu membesar dan bisa berakibat fatal.
George kecil, tumbuh menjadi seorang periang dan tahan banting. Kebal mendapat omelan dan pelampiasan kemarahan. Dan George pun menjadi sangat ahli dalam menjinakkan orang yang pemarah.
-----
Sepuluh menit kemudian gadis berkulit putih itu keluar dari ruang Marco. Dia berjalan lurus menuju pintu keluar.
Saat dia hendak membuka pintu, George bergerak lebih cepat --seper sekian detik-- membukakan pintu untuknya. "Silakan tuan puteri!" Gadis itu tersenyum, keluar dengan anggun.
"Thank's, Sir." jawabnya.
"Maaf nona. Bolehkah saya bertanya?" kata George kepada Anda.
"Boleh. Silakan, Sir?"
"Tidak, a ... apa ... apakah nona diterima kerja di sini?" tanya George penuh harap.
"Iya. Mulai besok pagi saya masuk kerja di sini. Saya diterima dibagian kasir, menggantikan Mrs. Sinta yang akan resign besok karena dia harus mempersiapkan pernikahannya," jawab gadis itu.
"Oh ... syukurlah, saya ikut senang!" kata George.
"Ok, Sir. Saya harus pergi sekarang, mobil yang menjemputku sudah tiba."
"Ok, nona, sampai jumpa besok pagi!" kata George yang merasa bahagia bagaikan musafir yang mendapatkan mata air di tengah padang gurun yang gersang.
-----
George mengurungkan niatnya untuk berhenti kerja. Dia menjadi bersemangat kembali.
Hati George berbunga-bunga, diam-diam dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia sangat tertarik dengan gadis cantik yang akan menggantikan posisi Mrs. Sinta di tempat kerjanya.
Baru kali ini George tertarik lawan jenis. Hingga jelang usia 30 tahun, George belum pernah pacaran sama sekali. Bahkan dia berniat untuk tidak menikah.
-----
Kesokan harinya, pukul 04.00 AM
Tak seperti biasa George bangun pagi-pagi buta. Biasanya dia bangun lima belas menit sebelum tempat kerjanya buka. Apartemen tempat tinggal George terbilang dekat dengan tempat kerjanya. Hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki, George bisa sampai di sana.
Hari itu George bangun pukul 04.00 AM. entah petir mana yang sanggup membangunkannya sepagi itu.
Ternyata George tidak bisa tidur semalaman. Bayangan gadis cantik, kasir baru pengganti Mrs. Sinta membuatnya sangat bersemangat ingin datang lebih pagi.
Dia ingin berjumpa dengan bidadari yang kemarin sore telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
-----
George bangun dari tempat tidurnya, lalu langsung mandi. Selanjutnya George mencukur kumis serta jamangnya agar nampak lebih rapi.
Di depan kaca, George tersenyum bangga melihat ketampanan wajahnya. "Kamu tampan sekali George, memiliki wajah mirip aktor utama film 'James Bond 007'."
-----
Selanjutnya George menyeterika baju dinasnya, seragam service cleaning berlogo kakek berjenggot dan menyemprotnya dengan minyak wangi mahal yang dibelinya sebulan lalu.
"Aku harus tampil sempurna didepan gadis cantik itu. Jangan sampai bidadari bernama .... "
"Aduh George! Mengapa kemarin kamu lupa bertanya siapa nama gadis itu?" sesalnya.
"Ahh tidak mengapa. Nanti aku pasti tahu siapa nama bidadari itu." gumam George berdiskusi dengan bayangan dirinya di kaca.
"Ok George, kamu sudah tampil sempurna, tampan sekali dan wangi. Pasti bidadari itu akan tertarik kepadamu."
-----
"Ok teman. Aku akan meninggalkanmu sejenak, nanti kita jumpa lagi. Doakan aku bisa mendekati dan mendapatkan bidadariku itu." George pun menempelkan tangannya ke bayangan telapak tangannya sendiri di kaca.
Dengan mantap George membalikkan badan dan berjalan menuju pintu keluar apartemennya.
-----
Sampai di depan lift, George berdiri dengan gagah dan penuh keyakinan.
"Hai ganteng, tumben berangkat lebih pagi, sayang?" sapa manager pengelola apartemen George. Seorang wanita paruh baya berstatus jomblo, dengan gaya rambut kribo dan bertubuh gendut.
George cuek tak menggubris sapaannya. "Iiiih jaga image banget!" kata wanita paruh baya itu, sewot.
Pintu lift terbuka, manager pengelola apartemen itu masuk lebih dulu. George belakangan. George mengingat sekali dan selalu menerapkan sopan santun ajaran orang tuanya - "Ladies First".
Di dalam lift, sang manager bertubuh besar itu mulai usil lagi kepada George. "Ganteng. Siapa namamu?" tanyanya sambil mencubit lengan kanan George.
George mengambil sikap tetap diam tak meladeni godaan wanita paruh baya yang sering menggodanya itu.
"Baru sakit gigi ya?" godanya.
"Tingggg ...!" pintu lift terbuka, mereka sampai di lantai dasar. George terselamatkan.
-----
Pria ganteng yang menyamar sebagai karyawan service cleaning restoran cepat saji itu keluar dengan lega. George berjalan sedikit tergesa-gesa menuju tempat kerjanya.
Empat menit tiga puluh detik George lebih cepat sampai tujuan. -- Record baru bagi George sampai di tempat kerjanya.--
George berdiri 2 meter dari pintu utama tempat kerjanya. Di saat yang hampir bersamaan, bidadari yang ditunggunya pun turun dari sebuah mobil BMW sport warna biru. Kaki jenjangnya terilihat seksi menawan saat turun dari mobil mewah itu, walaupun dia hanya mengenakan rok mini merah seragam restoran cepat saji berlogo kakek berjenggot itu.
Gadis itu berjalan dengan anggun ke arah George. Dia berjalan pelan, berlenggak lenggok seperti peragawati berjalan di atas Catwalk.
George menyambut kedatangannya dengan stok senyuman termanis yang dia kumpulkan selama hampir 30 tahun.
"Selamat pagi, Sir!" sapa kasir baru yang akan bekerja di tempat yang sama dengan George.
"Hai nona cantik, bidadari yang turun dari Sorga. Apa kabar?" sapa George dengan kata-kata gombal klasiknya.
"Baik, Sir!" jawabnya singkat.
Keduanya karyawan itu datang terlalu pagi. Pintu restoran cepat saji dimana mereka bekerja belum dibuka oleh Marco. Marco dan karyawan lain pun belum belum menampakkan 'batang hidungnya'.
George dan gadis cantik yang akan menggantikan kasir lama, harus bersabar menunggu kedatangan Marco pemegang 'kunci-kunci sakti' restoran cepat saji itu.
-----
"Oh iya nona cantik. Siapakah nama nona?" tanya George.
"Regina, Sir!" jawab gadis itu.
"Waoww nama yang sungguh indah. Tepat sekali sekali dengan kecantikan dan keanggunan nona." ungkap George memuji gadis cantik berkulit putih yang baru dia kenal itu.
"Terima kasih." Regina tersenyum.
George nampak sedikit melamun dia mencari kata-kata yang tepat untuk merayu gadis yang membuat jantungnya berdebar-debar.
Gadis itu pun terdiam. Sesekali dia melirik ke arah George.
-----
"Em ... boleh tahu nama Anda, Sir?" tanya Regina balik.
George tergagap mendengar gadis itu mendadak bertanya kepadanya.
"Oh, nama? Namaku? .... Em ... panggil aku George. Namaku George Washington." jawabnya dengan senyum ramah.
"Nama yang hebat. Mirip nama presiden Amerika Serikat, ya?" ungkap Regina polos.
"Iya benar, ayahku pengagum berat George Washington presiden Amerika Serikat pertama.
Karena alasan itulah aku diberi nama George Washington. Mereka berharap aku, anak laki-laki satu-satunya akan menjadi presiden Amerika jika sudah dewasa. Tetapi .... sayang sekali, kenyataan jauh berbeda dengan harapan. Sekarang seperti kamu lihat, aku hanya hanya menjadi ... karyawan cleaning service di restoran cepat saji ini," kata George dengan muka sedih.
"Tetapi tak apalah. Yang penting aku happy. Ha ha ha ...!" kata George dengan tawa lebar.
"Iya benar, yang penting Anda happy!" ungkap Regina memberi semangat.
-----
Anda Mungkin Juga Suka





