Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hot Love - George & Regina

Hot Love - George & Regina

George, agen CIA, dan Regina dari KGB, gagal menjalankan misi pembunuhan presiden lawan karena terlalu asyik bercinta hingga kesiangan. Kini, apartemen mereka dihujani tembakan helikopter Apache. Diburu oleh organisasi masing-masing dan tentara bayaran, sepasang kekasih ini harus melarikan diri demi nyawa mereka. Di tengah pelarian maut yang menegangkan, gairah panas tetap membara di antara keduanya. Mampukah mereka bertahan dari pengepungan global ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Tiba-tiba hujan turun. George dengan spontan melompat ke pintu depan restoran cepat saji itu. Ada ruang sedikit ke dalam sekitar satu meter.

"Regina cepat sini. Nanti bisa basah seragam kamu!" panggilnya.

Regina pun berlari ke samping George. Nampak dia sedikit menyesal sepatunya basah karena tidak berespon cepat panggilan George.

George melihat sepatu Regina sedikit basah oleh air hujan. Dia mengeluarkan sapu tangan sutera wangi dari kantung celananya. George berjongkok dan membersihkan air yang membasahi sepatu Regina. "Don't worry, ada George!" kata George sambil mengelap sepatu Regina.

"Ah tak perlu, Kak. Nanti kering sendiri," kata Regina sedikit membungkuk sambil menarik lengan George.

"Ah tak apa-apa. Tenang saja. Aku ahli soal bersih-bersih. Sayang sepatu baru basah kena air hujan," katanya dalam posisi masih jongkok membersihkan sepatu Regina.

"Nah, sudah kering, bukan?" tambahnya. George pun berdiri, rambutnya sedikit basah karena percikan-percikan air hujan.

Hujan makin deras.

"Thank's, George," kata Regina.

"Tetapi lain kali tidak perlu dibersihkan seperti tadi, sayang sapu tangan mahal milikmu!" tambahnya.

"Ah, untuk bidadari secantik kamu tidak apa-apa membuang satu dua sapu tangan. Coba lihat ini di dalam tasku masih ada selusin lagi," ungkap George sambil mengeluarkan selusin sapu tangan sutera mahal dari dalam tasnya.

"Ini beberapa lagi untuk mengeringkan rambutmu!" kata George memberikan beberapa sapu tangan sutra nan wangi.

-----

Regina sedikit terbelalak. Dia merasa aneh dengan petugas cleaning service yang ada di depannya.

"Siapakah dia? Tak mungkin karyawan cleaning service biasa mampu membeli selusin sapu tangan sutera semahal itu. Dan dari harum minyak wanginya bukan minyak wangi biasa. Minyak wangi bermerk terkenal dengan kisaran harga 2 kali gaji mereka." Regina terlihat melamun, segudang pertanyaan hilir mudik memenuhi benaknya.

"Dan dilihat dari ketampanannya tak mungkin dia orang biasa!" gumam Regina dalam hati.

Regina terdiam, berpikir keras menebak siapakah pria yang baru dikenalnya itu.

-----

George menepuk pelan lengan kanan Regina, "Regina, kamu kenapa?"

Regina tersadar. Spontan gadis itu membuat alasan kreatif untuk menjawabnya, dengan sedikit terbata-bata, "Ti .. tidak, em ... a .. aku hanya teringat jemuran di apartemenku. Pasti basah lagi karena hujan sederas ini."

"Oh, jemuran? Aku pikir kamu kenapa? Sakit, atau ... hmmm kangen dengan pacar kamu?" kata George memancing untuk mengetahui status Regina.

"Ah, aku belum punya pacar. Masih sendiri sampai detik ini."

"Oh," gumam George yang meresa lega karena masih ada peluang emas baginya untuk mendekati bidadari pujaan hatinya.

"Regina, gadis secantik kamu pasti sangat menarik bagi para pria, dan pasti banyak pria yang telah menyatakan cinta kepadamu, namun mengapa kamu belum berkeinginan memiliki pacar? Sorry aku menanyakan hal privat," tanya George.

"Iya, dulu pernah pacaran, tetapi kami putus. Maklum cinta monyet!" ungkap Regina sambil sedikt tertawa.

"Iya lucu, pacaran masa kanak-kanak, seperti monyet!" tambahnya.

"Oh, cinta waktu masih anak-anak?" ungkap George.

-----

"Bagaimana denganmu, George? Apakah kamu sudah punya istri?" tanya Regina polos.

"Istri? Ah, pacaran sekali saja aku belum pernah. Sungguh seumur hidup aku belum pernah berpacaran." ungkap George.

"Aku dibesarkan di keluarga hiper protektif sehingga tidak diijinkan pacaran sebelum lulus kuliah dan kerja." tambahnya.

"Oh. Begitu ya. Baguslah. Dan pasti gadis-gadis suka pada sosok pria sepertimu!" ungkap Regina.

-----

"Mana ada gadis yang mau menjadi pacarku, aku hanya sebagai karyawan cleaning service bergaji rendah seperti ini?" kata George.

"Sebenarnya, tak masalah bekerja sebagai karyawan cleaning service. Sebab kamu memiliki kelebihan lain, seperti : wajah tampan, postur tinggi atletis, kulit putih bersih, tampan, jujur, ramah dan wangi lagi. Pastilah semua gadis mau menjadi pacarmu!" puji Regina jujur.

"Em ... benar juga katamu," ungkap George sambil melirik ke kasir baru yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.

Nampak Regina tertarik kepada George.

-----

Hujan mulai reda keduanya masih namun keduanya masih berbincang akrab.

Suasana sekitar restoran cepat saji itu masih sepi. Hujan lebat menjadikan orang malas untuk keluar. Kebetulan hari Minggu, hari libur bagi para pekerja biasa dan kantor-kantor pemerintahan.

Alam seperti berpihak kepada mereka, seolah tahu arti penting awal kedekatan seorang pria dan wanita yang berbeda negara, beda kepentingan, dan misi. Kini keduanya berada di tampat sama, berbincang akrab. Seolah New York hanya milik mereka berdua.

Dinginnya pagi kota megapolitan New York takluk oleh kehangatan mereka.

Waktu pun berpihak kepada mereka, detik demi detik seolah olah makin melambat, memberi kesempatan bagi keduanya untuk membuka ruang-ruang eksplorasi untuk saling mengenal dua insan yang mulai menemukan benang-benang pengait hubungan awal mereka.

George dan Regina saling tertarik. Bulir-bulir cinta mulai tumbuh diantara mereka.

-----

Dua jam dinding raksasa yang tertempel di gedung kembar pencakar langit, apartemen termewah dan perkantoran di New York, seberang jalan mereka berdiri berdentang 7 kali.

George tersadar. "Oh, sudah pukul 07.00 AM sekarang. Tak terasa kita berdiri di sini hampir satu jam, seperti 'boneka-boneka manequin', pejengan etalase baju branded yang tak terjangkau harganya oleh kalangan biasa!" celetuknya.

"Ya. Tetapi aku merasa sangat bahagia. Ada kebahagian berbeda saat berbincang dan mengenalmu, George. Aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini."

"Ya, seumur hidupku baru bisa sebahagia seperti saat ini!" ungkap Regina.

-----

"Semua serba tersedia bagiku, orang tuaku memiliki segalanya. Ayahku salah satu konglomerat ternama di Rusia. Ibuku konglomerat di China. Dan aku anak tunggal mereka. Satu-satunya pewaris kerajaan bisnis mereka. Tetapi jujur, baru kali ini aku merasa bahagia. Disini, disinilah kudapat hal yang tak pernah aku dapatkan. 'Kebahagiaan yang sebenarnya'. yaitu berada di dekatmu!" tambahnya.

"Hmmm selamat untukmu, Regina. Kamu telah menemukan arti kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan kebahagiaan semu yang ada di harta yang dicari dan diimpi-pimpikan oleh sebagian besar orang."

"Kebahagian hadiah terindah dari alam aku menyebutnya. Aku juga merasakan kebahagiaan yang berbeda, kebahagiaan yang tak pernah kudapat seumur hidupku. Kini kutemukan itu. Disini, saat aku bersamamu. Dan aku makin bahagia karena melihat kamu bahagia," ungkap George.

Keduanya hening sejenak. Meramu kristal-kristal kebahagiaan yang baru saja mereka berdua dapatkan dalam eksplorasi 'gunung cinta'.

-----

Kebahagiaan mereka harus berjeda, "Hai George, tumben kamu datang sepagi ini!" Dari jarak 100 meter Sony berteriak kepada George.

Sony sahabat terdekat George di restoran cepat saji itu. Sony pelayan restoran cepat saji seumuran dengannya namun dia bergaya lebih muda dengan tatto menutup seluruh leher aneka warna.

"Ketiup angin puyuh mana? Sehingga kamu berubah rajin sekali!" teriak lanjutan memecahkan suasana sepi di tempat itu.

Sony sambil melangkah mendekati George dan Regina.

"Oh ... karena nona cantik ini?" tanya Sony lebih pelan saat dia sudah berada di depan George dan Regina.

"Ini pacarmu ya, George?" tanyanya lagi.

Sony terus memberondong George dengan kalimat-kalimat pertanyaan yang belum sempat dijawab George.

"Kapan kalian jadian? Setahuku kamu belum pernah punya pacar, bukan?" tanya George entah pertanyaan ke berapa.

"George, aku heran sekali denganmu. Pria setampan kamu mengapa sangat takut dengan makhluk hidup yang berjuluk 'wanita'!" ungkap Sony jujur.

"George, kenalin denganku dong, siapakh dia? Siapakah nama bidadarimu ini? Kapan kamu berani mendekatinya, kapan kamu menyatakan cinta kepadanya?" Sony kambuh lagi rombongan pertanyaan nerocos dari mulut lebarnya.

Tak mengherankan jika Sony dijuluki 'Mr. Ask', jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, 'orang yang hobi bertanya'.

-----

"Jangan kuatir teman, aku tidak akan merebutnya darimu. Aku tidak akan memisahkannya darimu. Aku akan ikut menjaga bidadarimu dan menghajar siapapun yang mengganggunya!" ungkap Sony.

Regina tersenyum melirik ke arah George.

-----

Sedikit memerah wajah George, dia sedikit kesal dengan sahabat terdekatnya itu namun dia senang dengan kejujuran dan sikap apa adanya, Sony.

George mengedipkan sebelah matanya kepada Sony, memberi kode agar dia jangan terlalu banyak bicara. Namun Sony tak mengerti arti kode khusus dari George yang memperingatkannya.

Dan justru sebaliknya, Sony kembali bertanya kepada George.

"George kenapa mata kananmu berkedip kedip melulu saat menatap ke arahku? Adakah debu jalanan New York ini yang menyelinap masuk ke mata kananmu?Tetapi tidak mungkin sangat tak masuk akal jika ada debu berani terbang disini, semua tempat basah oleh hujan yang saja reda, semua jalanan masih basah. Tak mungkin ada debu hadir mendekatimu. George ada apa di mata kananmu? Kenapa mata kananmu, sahabatku?" Sony memborbardir George dengan pertanyaan lanjutan.

George semakin salah tingkah, tak tahu lagi bagaimana cara memberitahu Sony. George memilih 'membeku', terdiam seribu bahasa.

-----

"George, restoran ini buka jam berapa, ya?" tanya Regina mencoba mencairkan suasana beku dalam diri George.

Saat George hendak menjawab, Sony lebih dulu menjawab pertanyaan Regina.

"Pukul 07.00 AM, nona!" celetuk Sony lebih cepat seper sekian juta detik, karena Sony tak sabar menunggu jawaban George yang dia nilai sangat lamban merespon pertanyaan Regina.

"Oh, pukul 07.00 AM?" Regina tersenyum.

"Biasanya nona, George sahabat terbaikku ini datang pukul 07.00 AM kurang 10 menit. Kadang kurang lima menit karena tak bisa keluar dari lift apartemennya. Biasa, manager pengelola apartemennya, ibu setengah baya bertubuh gendut itu selalu menghalangi jalannya. Ibu-ibu jomblo itu naksir berat kepada George, sahabat baikku yang sangat tampan ini."

"Oleh sebab itu nona, dari tadi aku sangat heran, tumben sekali George datang pagi-pagi buta?" sahut Sony.

Regina tersenyum melirik George yang menjadi salah tingkah karena sebagian rahasia pribadinya dibongkar oleh Sony yang tahu persis bagaimana kehidupan sahabatnya itu.

Beberapa detik menjadi hening.

-----

"Tumben juga, si Marco belum menampakkan batang hidungnya. Jika kita terlambat 2 detik saja bisa diomelin sepanjang hari hingga detik-detik terakhir restoran ini tutup."

"Kemana 'manager killer tetapi sangat takut dengan istrinya' itu? Coba aku telpon dia. Aku akan omelin balik sebab dia yang membawa kunci restoran ini. Ini kesalahan fatal yang dibuatnya, kesempatan bagiku untuk memarahinya balik."

"Jangan sampai dia mencari kambing hitam lagi dan menyalahkan aku dan George. Padahal kesalahan seperti ini murni kesalahannya. Kesalahan pemimpin. Kita bawahannya biasa dia salahkan dan hukum dengan memotong setengah gaji kami. Dasar 'manager killer' dan tak berkeadilan!" umpat Sony.

Sony mengeluarkan iPhone barunya yang dia beli dua hari yang lalu.

"Halo ... Sir, posisi dimana? Tumben belum datang. Apa Anda membolos kerja lagi hari ini? Dan mencoba membuat keonaran yang mengganggu kinerja restoran cepat saji ini? Bagaimana sih Anda ini? Jadi manager, atasan kami kok berkelakuan buruk seperti ini, tidak memberi contoh yang baik kepada kami, karyawan rendahan!"

Sony memanfaatkan situasi untuk balas dendam mengomeli balik atasannya. Biasanya George dan Sony, sepasang karyawan rendahan yang kerap dikambing hitamkan oleh Marco, sang manager.

"Oh ... maaf, maaf Sony, aku hubungi Fredy, hmmm ... aku sedang di rumah sakit, mengantar istriku yang akan melahirkan. Kata dokter 3 jam lagi anak pertama kami keluar."

"Dan tadi aku sudah aku menitipkan kunci-kunci restoran kepada Fredy adikku untuk mengantar dan memberikannya kepadamu atau kepada George. Aku menyuruhnya dan memberikan kunci-kunci restoran sejak pukul 06.00 AM, tadi."

"Maaf, maaf. Enak saja bilang maaf giliran kami tiada maaf bagi kami!" omel Sony.

-----

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alfaro David
9.6
Dunia yang keras sanggup mengubah kebaikan menjadi kegelapan. Tanpa bimbingan keluarga, Alfaro tumbuh menjadi pemuda pemberontak yang sulit dikendalikan. Namun, di balik sikap nakalnya, ia menyembunyikan luka batin mendalam di balik topeng tak kasat mata demi melindungi diri. Saat ia menganggap sahabatnya sudah seperti saudara sendiri, sebuah ancaman besar muncul. Akankah ikatan mereka bertahan ketika pengkhianatan mulai merayap masuk ke dalam lingkaran persahabatannya?
Sampul Novel Dendam Sang Pewaris Genius
9.7
Yuvina kembali ke keluarganya sebagai pewaris sah yang terabaikan. Meski telah menyerahkan identitas dan karyanya demi saudari angkatnya, ia justru dibalas dengan pengabaian. Kecewa, Yuvina memutus ikatan emosional dan bangkit sebagai sosok jenius. Kini ia menguasai bela diri, medis, desain, serta delapan bahasa. Dengan kekuatan barunya, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun di keluarga itu meremehkannya lagi. Dendam sang pewaris kini dimulai.
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Mafia
9.5
Keadaan darurat memaksa Reynand pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Setahun berlalu, sang mafia kembali dan mendapati Keisha dikabarkan menikah dengan mantannya. Amarah Reynand memuncak pada Reza dan Bram, ayah Keisha. Ia bersumpah menghancurkan semua orang yang berkhianat setahun lalu. Saat berbagai rahasia kelam terungkap, Reynand semakin murka dan bertekad melindungi istrinya dari siapa pun, bahkan dari keluarga wanita itu sendiri.
Sampul Novel Kelahiran Kembali
9.1
Nona keempat keluarga Lu selalu dianggap sampah karena lemah dan bodoh di antara saudara-saudaranya yang berbakat. Kematian tragisnya menjadi awal perubahan besar saat jiwa seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21 merasuki tubuhnya. Terjebak di zaman kuno yang penuh konflik kekaisaran, ia harus berjuang bertahan hidup dengan prinsip membunuh atau dibunuh. Di tengah intrik istana yang rumit dan berbahaya, dimulailah sebuah kisah romansa yang sangat unik.
Sampul Novel Mantan Istriku yang Penurut Adalah Seorang Bos Rahasia?!
9.4
Tiga tahun Emilia mengabdi sebagai istri penurut Brandon berakhir sia-sia demi wanita lain. Namun, setelah bercerai, ia muncul kembali sebagai sosok tangguh yang jauh berbeda. Brandon terkejut saat mengetahui identitas rahasia Emilia sebagai peretas, dokter, hingga pembalap. Saat pria itu berusaha mengejarnya kembali, Emilia justru menikmati kebebasan dan menunjukkan keahliannya yang tak terbatas. Kini, Brandon harus menghadapi kenyataan bahwa mantan istrinya adalah bos rahasia.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3
9.5
Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.