
Hot Desire Mr. Thompson
Bab 2
Malam sebelum kejadian...
"Bagaimana boss? Barangnya bagus bukan?" tanya Helen yang menyerahkan Elvira pada bossnya.
"Kau pintar mencari orang Helen. Lihatlah, betapa cantik wajah gadis ini. Kita benar-benar akan mendapatkan jackpot darinya," jawab wanita paruh baya, dengan dandanan nyentrik dan polesan hitam di bibirnya.
Selain masih perawan Elvira memiliki paras yang sangat cantik. Katakan saja seperti Cleopatra. Kecantikan Elvira memang secantik itu. Dan tentu saja harga jualnya akan sangat tinggi. Entah siapa yang akan beruntung mendapatkan wanita ini untuk menjebol gawang pertama kali lembah milik Elvira.
"Tentu saja, kita bisa mendapatkan uang yang sangat besar dengan menjualnya. Dan lagi dia masih perawan. Itu pointnya boss. Kau menyukainya kan boss? Jadi aku akan dapat bonus besar juga kan boss?"
"Aku suka hasil kerjamu. Nanti akan aku kirim yang banyak, ketika kita sudah mendapat tawaran pertama untuknya. Lain kali bawakan barang yang bagus lainnya kepadaku." Wanita itu tersenyum culas menatap berlian di depan mata.
Uang yang melimpah akan segera datang dan masuk menjadi pundi-pundi yang berlimpah ruah. Meski Elvira tak perawan sekalipun, pasti akan banyak yang menawar untuknya karena kecantikannya. Serta kesensualan tubuh yang di miliki gadis kecil ini. Satu lagi point untuk Elvira. Dada itu begitu pas dengan ukuran yang di bawah.
'Maafkan aku ponakanku sayang. Kau terpaksa aku jual di sini. Kau sendiri yang membuatku melakukannya. Aku memerlukan harta milik kakakku. Nikmatilah pekerjaan barumu setelah ini sasayan.' Menatap Elvira penuh kemenangan.
Elvira belum juga sadar. Pukulan yang cukup keras pada bagian belakang kepalanya, membuatnya kini belum juga tersadar. Masih tertidur bagaimakan putri dalam kaca.
'Demi apa keponakanku sangat cantik. Andai aku lelaki, kau pasti akan aku nikmati sendiri seumur hidupku sayang.'
Gadis malang berusia 20 tahun itu terpaksa harus menerima nasibnya yang di jual oleh sang bibi pada germo yang bernama madam Grace.
Setelah menikah dengan suaminya, Elvira honeymoon ke Swiss. Namun naasnya, di hari kedua ia malah di culik setelah kedatangannya di negara dengan segala keindahannya di bumi.
⬳꙳꙳꙳⬳
Malam harinya Elvira baru terbangun. Ia mengedarkan pandangannya memperhatikan semua yang ada di sana. Tempat yang asing dan tidak ada Reeve, suaminya.
Hanya ada lampu temaram di dalam sana. Membuat Elvira sedikit takut. "Reeve kau di mana?" gelisah yang di rasakannya kini. Sendirian dalam gelapnya malam. Tanpa tau apa yang sedang menunggunya di balik pintu.
Klek..
"Oh sayangku, kau sudah bangun?" tanya wanita nyentrik bernama Grace yang mendekat padanya.
"Kau siapa nyonya? Di mana aku? Reeve di mana nyonya?" Karena dandanan Grace yang menurutnya terlalu berani, Elvira sedikit takut pada wanita paruh baya tersebut.
"Tenang cantik, kau jangan takut. Namaku Grace, anak-anakku biasa memanggilku dengan sebutan madam Grace. Ini aku bawakan kau makan malam sayang."
"Tapi aku ingin ketemu dengan Reeve nyonya. Di mana dia? Seingatku tadi aku bertemu dengan bibiku, Helen. Aku tak ingin bertemu dengannya nyonya. Aku mohon keluarkan aku dari sini," mohon Elvira yang kian gelisah dan meloloskan air matanya dari sudut mata.
Ia ingat sebelum pingsan, Elvira bertemu dengan bibinya. Dia takut jika harus bertemu lagi dengan Helen.
"Tenang sayang. Kau tak akan bertemu dengan siapapun yang akan menyakitimu selama kau bersamaku. Nanti madam akan membawamu ke tempat Reeve. Sekarang makanlah. Setelah itu aku akan membantumu pergi, ya sayang?" Elvira pun mengangguk percaya dengan bualan wanita nyentrik di depan mata.
Ia menerima nampan makanan dari Grace dan memakannya dengan lahap. Grace yang melihatnya tersenyum penuh arti.
'Tenang sayang, setelah makan kau akan aku antarkan pada pelanggan pertamamu. Dan kau akan lebih bahagia bersamanya nanti.'
"Aku akan keluar dulu untuk bersiap. Setelah kembali aku akan mengantarmu. Tunggu aku ya sayang." Elvira mengangguk setuju mendengar penuturannya.
⬳꙳꙳꙳⬳
"Tuan, nyonya sudah di temukan," teriak Roger dari jauh. Dengan nafas tersengal, ia mendekat pada tuan.nya yang sejak tadi bingung harus menjawab apa atas panggilan telepon dari sang mommy.
"Di mana dia? Antarkan aku padanya, Roger. Jangan buang-buang waktu." Roger mengangguk. "Brengsek! Saat aku menemukan siapa yang menculikmu, kalian akan mati di tanganku. Membuat aku pusing saja. Sialan!"
"Nyonya di culik dan di bawa ke club malam tuan. Beberapa anak buah sudah lebih dulu berangkat ke sana." Roger menjelaskan sambil mengantarkan Reeve ke mobilnya.
Selama perjalanan Reeve memikirkan kata-kata sang mommy, Rose. 'Jaga baik-baik Elvira. Dia sudah mommy anggap sebagai anak mommy sendiri. Jika kau membawanya pulang dengan goresan sedikit pada tubuhnya. Kau yang akan mommy hajar.'
'Mommy sangat menyayangi gadis itu. Jika sampai mommy tau apa yang terjadi pada anak gadisnya. Aku yang akan langsung di bunuh oleh mom.'
Ia menghembuskan nafasnya kasar.
Meski mereka menikah karena sebuah perjodohan yang Rose lakukan, tapi rasa sayang Reeve pada Rose, membuat lelaki itu mau menerima Elvira sebagai seorang istri.
Di gelapnya malam, mobil Reeve terus melaju kencang. Membelah kabut malam dengan cuaca extrim di Swiss yang bersalju. Memikirkan betapa ketakutannya sang wanitanya di tempat yang asing di sana sendiri.
Tanpa terasa perjalan hampir 1 jam dan akhirnya sampai juga. Nampak mobil mereka berhenti di sebuah bangunan besar di tengah kota. Suara sorak music dari dalam sedikit terdengar dari luar.
"Nyonya ada di dalam kamar vvip 1 tuan. Nyonya sudah di persiapkan untuk pelanggan pertamanya. Begitu informasi yang saya terima," jelas Roger sambil mengantarkan Reeve masuk ke dalam club.
Suara dentuman music hip hop terdengar memekakkan telinga. Dengan lautan manusia dan terlihat, dj sedang beraksi di altar dengan menanti seorang penari yang nanti akan ikut meramaikan panggung dance.
Roger membawa Reeve menaiki tangga menuju lantai dua. Terlihat dua anak buahnya berjaga di satu pintu yang terlihat jelas dengan tulisan vvip room setelah melewati beberapa lorong.
"Di dalam sini tuan, nyonya berada." Roger pun mempersilahkan Reeve untuk masuk ke dalam.
Ketika masuk, tak terlihat ada sang istri di dalam sana. Hanya di terangi cahaya lampu tidur, membuat kamar nampak sedikit gelap. Namun sayup-sayup suara isak tangis terdengar dari dalam kamar mandi.
"El.. kau di dalam El? Apa tak ada lampu yang lebih terang dari ini? Sialan." Ia mencoba memanggil Elvira dari balik pintu kamar mandi. Namun Elvira tak menjawabnya.
"El, kau kah itu? Aku Reeve. Aku buka pintunya kalau kau tak mau membukanya." Perlahan Reeve membuka pintu kamar mandi.
Karena pintu terkunci, Reeve terpaksa mendobraknya. Saat Reeve masuk ke dalam, ia melihat sang istri yang duduk meringkuk di dalam bathub berisi air. Menangis terisak di sana.
"Oh God, apa yang terjadi padamu? Hei El, ini aku Reeve. Kau baik-baik saja kan?" tanya Reeve yang sudah mendekat di samping bathub. Tapi Elvira sama sekali tak menjawabnya.
Gadis itu tak menghiraukannya. Ia hanya menangis.
"Apa yang terjadi padamu? Aku sudah di sini. Kita pulang sekarang, ya?" Reeve berniat akan menggendongnya Elvira yang sudah basah kuyup di dalam bathtub. Namun, El menahannya.
"Menjauh dariku Reeve. Kau pergilah." Terlihat Elvira yang gemetaran dengan raut wajah sayunya menahan sesuatu.
"Ada apa denganmu. Kenapa? Ayo kita pergi dari sini?"
"Menjauhlah Reeve. Tubuhku terasa panas. Meskipun aku sudah berendam masih saja terasa panas. Kau pergilah." Wajah Reeve langsung berubah mendengarnya.
"Apa kau meminum sesuatu sebelumnya? Atau makan sesuatu?"
Anda Mungkin Juga Suka





