
Hot Desire Mr. Thompson
Bab 3
"Kau sudah selesai makan sayangku?" tanya madam Grace yang langsung masuk ke dalam kamar Elvira.
"Sudah. Apa anda akan membantuku untuk keluar dari sini nyonya? Aku mohon tolong aku. Aku tak ingin bertemu dengan bibi Helen lagi," mohon Elvira dengan wajah sendunya.
"Tentu saja aku akan membantumu sayang. Kau bergantilah dulu. Ini pakaian untukmu. Pakaianmu itu sudah terlalu kotor. Bersiaplah cepat. Aku akan menunggumu di luar," ucapnya sambil memberikan kantung berisi pakaian.
Meski bingung kenapa harus berganti pakaian, El menurut saja apa kata Grace. "Iya nyonya, terima kasih banyak."
Grace tersenyum dan keluar dari kamar itu. "Selamat bersenang-senang Elvira sayang? Selamat datang di pekerjaan barumu." Hatinya bersorak, karena uang segunung telah masuk ke dalam akun banknya.
Sementara di dalam, Elvira dengan cepat mengganti pakaiannya. Semakin bingung karena pakaian itu sangat menggoda, sehingga mengurungkan niat hati gadis itu untuk berganti pakaian.
"Tidak, aku tak akan menggunakan pakaian seperti ini. Aku akan tetap menggunakan pakaianku saja." Ia keluar dari kamar mandi dan meninggalkan gaun itu di toilet.
"Aku harus keluar sekarang. Eh kenapa di kunci? Nyonya.. nyonya.. kenapa pintunya di kunci nyonya? Nyonya? Buka pintunya nyonya? Nyonya, apa anda juga membohongiku? Nyonya buka pintunya! Nyonya!" teriak Elvira yang terus menggedor pintu dari dalam.
"Nyonya, bibi! Jangan lakukan ini padaku! Buka pintunya. Buka!" Elvira terus saja mencoba menggedor pintu dari dalam. Namun tak ada sahutan juga.
Ia yang panik, mulai merasakan tubuhnya yang terasa panas, setelah beberapa saat waktu berlalu. "Kenapa panas sekali?" Elvira mengibaskan tangannya untuk di jadikan kipas, dan menekan tombol pendingin ruangan untuk menurunkan suhunya.
Ia melihat dari kaca jendela, ternyata dia ada di lantai atas. Tidak mungkin jika Elvira harus melompat dari atas situ. "Bagaimana caraku harus keluar dari sini? Apa yang harus aku lakukan? Reeve kau di mana? Apa kau sedang mencariku? Aku di sini?!" Kebingungan mulai melanda. Air matanya pun mulai menggenang.
Kekalutan dalam diri membuatnya kian panik. Tanpa terasa tubuhnya terus merasakan panas. Membuat gadis itu tak sengaja membuka jaket kulit miliknya. Hingga menyisakan kaos oblong dan belt jeansnya.
"Nyonya! Buka pintunya. Siapapun yang di luar, buka pintunya!" teriak Elvira yang semakin kencang. "Bagaimana caranya aku keluar dari sini? Dan kenapa rasanya panas sekali?" ucapnya sambil menghapus air mata yang terus mengalir.
Elvira melihat air di gelasnya yang belum habis, dengan cepat iya teguk sampai tak tersisa. Perasaan dahaga dan panas di sekujur tubuh mulai mengalir di seluruh darahnya.
Membuat detak jantung ikut berdetak semakin kencang. "Oh Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa semakin panas? Ini panas sekali! Mommy, selamatkan Elvira. Elvira takut! "
Kegelisahan sudah menyelimuti dirinya dari segala hal yang akan terjadi. Pikiran-pikiran negatif bermunculan dari otaknya. Membuat ketakutan kian melanda. Dengan nafas yang tak beraturan, dan pikirannya yang mulai kalut, El masih mencoba untuk bertahan.
"Tidak! Ada yang aneh sepertinya dengan diriku. Ini sangat panas sekali. Tapi apa? Kenapa tiba-tiba aku merasa panas? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa membuka pintunya untuk kabur dari sini."
Elvira masuk ke dalam kamar mandi. Ia mencoba membasuh wajahnya. Untuk menghilangkan rasa panas dalam diri. Namun sia-sia saja. Rasa itu kian menjalar bagai darah di dalam tubuhnya. Mengalir begitu saja.
Tetapi dinginnya suhu air, sedikit menghilangkan rasa itu. "Mungkin aku bisa mandi untuk menghilangkan rasa panas ini. Tapi? Tidak! Bagaimana jika ada yang masuk tiba-tiba ke sini? Aku harus segera kabur. Aku harus kabur dari sini. Tapi bagaimana?"
Tubuhnya yang merasakan panas membuat otak Elvira tak bisa lagi berpikir. Karena merasa tak ada ujung, Elvira mengunci pintu toilet. Masih dengan pakaiannya yang lengkap, ia memasukkan tubuhnya dalam bathub.
Panas dalam dirinya tak sanggup lagi terbendung. Tubuhnya semakin bergetar menahan dahaga di dalam diri. Membuat dirinya harus berendam dalam-dalam di air dingin.
"Kenapa jadi begini? Tuhan tolong aku! Aku tak ingin sampai terjadi sesuatu denganku. Aku sudah memiliki suami, Tuhan. Tolong selamatkan aku!" Di dinginnya air dalam bathtub, Elvira memeluk tubuhnya erat.
Setelah beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Tapi Elvira yang merasakan aneh di sekujur tubuhnua memilih tetap diam. Ia tak bergeming dari tempatnya. Tak juga menjawab teriakan dari luar.
Hingga pintu toilet berhasil di buka. Dan terlihat wajah sang suami yang datang menolongnya. Air matanya kian merembes dari pelupuk mata. Ternyata Tuhan masih sayang padanya, dengan mendatangkan malaikat penolong untuknya berwujud sebagai lelaki tampan yang berstatus suami.
"Apa yang terjadi padamu? Aku sudah di sini. Kita pulang sekarang, ya?" Reeve berniat akan menggendong Elvira yang sudah basah kuyup di dalam bathub. Namun, El menahannya.
"Menjauh dariku Reeve. Kau pergilah." Terlihat Elvira yang gemetaran dengan raut wajah sayunya menahan sesuatu.
"Ada apa denganmu. Kenapa? Ayo kita pergi dari sini?"
"Menjauhlah Reeve. Tubuhku terasa panas. Meskipun aku sudah berendam sejak tadi. Tapi masih saja terasa panas. Kau pergilah." Wajah Reeve langsung berubah mendengarnya.
"Apa kau meminum sesuatu sebelumnya?"
"Sebelum ini aku menerima makanan dan minuman dari mereka. Tapi aku tidak tau jika akan membuatku seperti ini. Kau keluarlah Reeve. Keluar sana. Biarkan aku di sini dulu."
"Oh God..." Nampak Reeve sedang berpikir. Dan ia melihat kembali pada Elvira yang masih di posisinya. "Kau percaya padaku kan?" El melirik sang suami. Dan mengangguk.
Segera Reeve mengambil handuk yang ada di rak dalam toilet. Kemudian ia mengangkat tubuh El dari dalam bathub. Tubuh bergetar El terlihat jelas, jika gadisnya begitu menahan hal dalam tubuhnya. Dan kaos oblong yang di kenakan, mencetak isi di dalamnya. Membuat Reeve sedikit tergiur. Tapi ia menepisnya.
Ia balut tubuh sang istri dengan handuk dan menggendongnya kembali. Reeve pun segera keluar dari sana. "Roger, urus semua yang ada di sini. Kau paham maksudku 'kan?" tutur Reeve penuh penekanan dan perintah menatap tajam pada sang pengawal setia.
"Siap tuan."
Mereka semua segera menuju mobil. Di dalam mobil, Reeve terus merangkul istrinya yang terus bergerak. Meski pendingin mobil di hidupkan tak membuat panas dalam tubuh Elvira berkurang. Yang ada sentuhannya dengan Reeve membuatnya kian haus.
Menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar rangkulan. Tanpa sadar tangannya sudah meremat paha sang suami. Membuat Reeve sedikit tersentak dengan tindakan istrinya.
"Tenanglah, aku di sini. Kau jangan takut!" ucap Reeve sambil mengecup kening El. 'Akan aku bunuh kalian semua!' jerit Reeve dalam hati.
Meski pernikahan mereka lewat perjodohan yang Rose lakukan, tapi keduanya juga tak menolak pernikahan itu. Sekalipun tak ada cinta di antara mereka. Biarkan cinta itu tumbuh sendiri di saat yang tepat.
"El, kau baik-baik saja kan?" Reeve ikut merasa gelisah dalam dirinya, karena rematan tangan El di pahanya membuat ada aliran darahnya yang merasakan sesuatu hal yang sedang bergejolak dalam diri.
Elvira hanya menggeleng. Ia menahannya begitu kuat. Hingga membuat luka gigitan di bibirnya. Reeve yang mendongakkan kepala El, melihat setitik darah itu mengalir dari sana. Dengan air mata yang sudah tak lagi terbendung.
Tak tega melihat keadaan El yang seperti itu, Reeve menarik nafasnya dalam. "Hentikan mobilnya. Kalian berdua keluar, dan pergi hingga jarak tiga meter. Tunggu aku sampai menyuruh kalian masuk. Cepat!"
Hingga terjadilah, malam pertama mereka di dalam mobil.
Anda Mungkin Juga Suka





