Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hot Billionaire

Hot Billionaire

Kehidupan Ariel dipenuhi cemoohan karena statusnya sebagai anak dari hubungan gelap. Meski menyandang nama besar sang ayah, ia tetap dianggap sebagai noda hitam yang tak termaafkan. Di tengah penderitaan itu, takdir mempertemukannya dengan Shawn Geovan, seorang miliarder sempurna yang memiliki dunia berbeda. Akankah Shawn mampu menjadi pelindung bagi Ariel dan menjaganya dari hinaan dunia? Ikuti perjuangan cinta mereka yang penuh tantangan dan perbedaan kasta.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Aaaaaaa—” Suara lengkingan teriakan Ariel sontak membuat Shawn yang tertidur di samping, langsung membuka mata. Pria tampan itu mengumpat kasar seraya menyentuh telinganya yang sakit akibat suara teriakan Ariel.

“Apa kau ini tinggal di hutan? Kenapa kau berteriak-teriak?” Shawn menatap jengkel Ariel yang ada di sampingnya. Pria itu benar-benar berusaha menahan kesabaran. Bayangkan saja, sudah sejak tadi malam, dirinya disusahkan oleh wanita ajaib itu.

Ariel menarik selimutnya, memincingkan mata, menatap tajam Shawn. “Apa yang sudah kau lakukan padaku?! K-kau memerkosaku?”

Shawn ingin mengumpat kasar pada wanita di sampingnya. “Kau lihat tubuhmu masih terbalut bathrobe. Kau masih memakai pakaian utuh. Kau juga dokter, kau tahu tanda-tanda tubuhmu telah diperkosa. Kenapa kau malah menanyakan pertanyaan konyol? Kau ini dokter lulusan mana?!”

Ariel terdiam sebentar mendengar apa yang dikatakan oleh Shawn. Ingatannya langsung teringat bahwa tadi malam setelah membersihkan tubuh, dia sangat amat lelah—dan langsung terlelap di ranjangnya.

Ariel menundukkan kepalanya, melihat bathrobe yang masih melekat rapat di tubuhnya. Tanda-tanda tubuhnya remuk karena berhubungan badan pun tidak ada. Dia merasa baik-baik saja seperti biasanya.

“A-aku—” Ariel menjadi salah tingkah dan malu. Tapi tidak! Bukan Ariel namanya jika tak penuh percaya diri. Wajar saja kalau wanita itu terkejut dan melontarkan tuduhan kejam. Posisinya Shawn tidur di sampingnya.

“Kenapa kau tidur di sampingku, Tuan Kaya? Pasti kau tergoda pada tubuhku, kan?” Ariel kembali melayangkan tuduhan pada Shawn.

Shawn mengatur napasnya. “Lalu kau minta aku tidur di mana? Di sofa? Aku yang membayar sewa kamar hotel ini.”

Bibir Ariel menekuk. “Kebanyakan pria suka mengalah dan tidur di sofa, demi wanita nyaman tidur di ranjang. Kenapa kau malah tidak mengalah?”

Ariel kesal pada Shawn yang tidak mau mengalah. Padahal kan dirinya wanita, dan Shawn adalah pria. Kenapa malah pria itu sama sekali tidak mau mengalah padanya? Sungguh, itu sangat amat menyebalkan.

Shawn lama-lama bisa gila jika berhadapan dengan Ariel. Pria itu tidak mengira sama sekali kalau Ariel sudah tidak waras. Jika kebanyakan dokter berpikiran cerdas, lain halnya dengan Ariel yang sepertinya memiliki otak yang lemah.

“Kebanyakan pria yang kau maksud itu, sayangnya aku bukan bagian dari sana. Lebih baik kau berpikir menggunakan otak kecilmu itu. Kau menumpang padaku, dan sudah aku berikan tempat kau bersembunyi dari kejaran orang tidak jelas. Bukannya berterima kasih malah kau menuduhku sembarangan.” Shawn berdecak.

Bibir Ariel semakin tertekuk dalam. Dia menyadari bahwa memang dirinya bersalah menuduh Shawn sembarangan. Kata-katanya keluar begitu saja di bibirnya, seolah tidak bisa disaring sama sekali.

“Iya, maafkan aku, Tuan Kaya. Aku hanya terkejut kau ada di sampingku. Selama ini belum ada pria yang tidur di sampingku. Jadi wajar kalau aku terkejut.” Ariel meminta maaf, tapi tetap membela diri tidak ingin sepenuhnya disalahkan oleh Shawn.

Shawn mengembuskan napas kasar, tak mau menggubris ucapan wanita itu. “Mandilah. Ganti pakaianmu.”

“Mau ganti dengan pakaian apa? Aku hanya memiliki gaun pengantin saja yang aku pakai kemarin. Kan kemarin hujan besar. Aku belum sempat membeli pakaian baru,” ujar Ariel pelan. Bukan tak ingin mandi, tapi dia bingung karena dirinya belum memiliki pakaian baru.

“Lihatlah paper bag yang ada di atas sofa,” jawab Shawn dingin dan datar.

Ariel mengalihkan pandangannya, menatap paper bag yang ada di atas sofa. Rasa penasaran dalam diri Ariel, membuatnya turun dari ranjang dan mengambil paper bag itu. Tampak matanya melebar melihat ada sebuah dress cantik di dalam paper bag tersebut. Merk serta tag harga masih terpasang di sana. Dress itu merupakan brand ternama yang membuatnya sakit perut karena harganya terlalu mahal.

Jika Ariel ingin membeli barang mahal, maka dia pasti membutuhkan waktu karena harus menabung. Meski berprofesi sebagai dokter, tetap saja dia harus menabung. Apalagi dia bekerja menjadi dokter belum terlalu lama.

“Tuan Kaya, kau membelikanku dress mahal ini untukku?” tanya Ariel seraya menatap Shawn.

“Kalau dress itu tiba-tiba ada di kamar ini, menurutmu siapa yang beli? Tidak mungkin hantu, kan?” balas Shawn dingin.

Bibir Ariel mencebik. “Tuan Kaya, kau ini kalau bicara pedas sekali. Ibumu dulu saat mengandung dirimu, makanan apa yang dia makan?”

Shawn bangkit berdiri tak peduli ucapan konyol Ariel. “Segera kau mandi dan ganti pakaianmu.”

Ariel mendesah panjang. Dia sangat senang karena mendapatkan hadiah bagus dan mahal. Tapi di sisi lain, dia tidak enak menerima hadiah yang terlalu mahal. Apalagi pria kaya di hadapannya ini merupakan orang lain.

“Aku tidak bisa menerima hadiah mahal ini,” tolak Ariel meletakan kembali paper bag itu ke tempat semula. “Hadiahmu terlalu mahal. Aku tidak enak menerimanya.” Lanjutnya lagi dengan bibir yang masih tertekuk.

Shawn melayangkan tatapan dingin dan tajam. “Persetan dengan harga dress itu. Apa kau ingin keluar dari kamar ini menggunakan gaun pengantin kemarin? Kau ingin menjadikan dirimu pusat perhatian? Atau kau sengaja ingin membuatku masuk berita seolah diriku membawa kabur pengantin wanita?”

Tadi pagi-pagi sekali, sebelum Ariel terbangun, Shawn meminta asistennya untuk membelikan dress untuk Ariel. Bukan karena dia peduli. Kondisinya adalah dia tidak mau sampai orang lain, melihat Ariel memakai gaun pengantin lagi. Bisa-bisa orang berpikir dirinya membawa kabur wanita itu. Shawn sejak dulu paling menghindar dari pemberitaan berita murahan.

Diamnya Ariel, bukan tidak peduli dengan apa yang Shawn katakan. Malah sebaliknya. Dia membenarkan apa yang Shawn katakan. Dia membutuhkan pakaian baru untuk saat ini.

“Baiklah. Aku akan memakai dress pemberianmu. Terima kasih.” Ariel mengambil paper bag itu. “Kau tuliskan saja nomor rekeningmu. Aku akan mengganti uangmu.” Lalu dia melangkah pergi meninggalkan Shawn yang masih bergeming di tempatnya. Terlihat Shawn berdecak sambil menatap jengkel Ariel.

***

Midi dress dengan model lengan pendek berwarna emerald, sangat cantik membalut tubuh Ariel. Dress itu tidaklah seksi. Tapi malah menunjukkan sisi anggun Ariel. Kulit putih mulus Ariel begitu kontras pada dress yang dipakainya.

Shawn yang sudah selesai membersihkan tubuh, dia menatap Ariel yang sudah segar dan cantik dengan balutan dress yang wanita itu pakai. Dalam hati, dia memuji selera asistennya yang cukup baik. Bukan dress seksi yang dibeli, melainkan dress yang sopan, namun menunjukkan keanggunan.

“Gaun ini sangat bagus. Bahannya juga nyaman. Aku menyukainya. Terima kasih.” Ariel melangkah menghampiri Shawn. “Aku minta nomor rekeningmu. Aku akan mengganti uangmu.”

Ariel sekarang sedang hemat karena dalam keadaan melarikan diri. Tapi, dia tetap tidak mungkin menerima hadiah mahal secara gratis. Dia tetap haris mengganti uang yang sudah Shawn keluarkan.

“Uang untuk membeli dress ini sangat receh untukku. Simpan uangmu. Aku tidak suka menyimpan uang receh,” ucap Shawn dingin dan angkuh. Harga dirinya terjatuh di kala Ariel ingin mengganti uang dari dress yang dia beli.

Mata Ariel melebar di kala dress dengan brand ternama ini dikatakan sebagai dress yang sangat murah. “Tuan Kaya, beri tahu aku berapa total harta kekayaanmu sampai dress seharga $6.500 kau katakan receh?”

Shawn mendekat pada Ariel dan menatap dingin wanita itu. “Kalkulatormu tidak akan cukup untuk aku tuliskan total harta kekayaanku.”

Ariel mencibir. “Sombong sekali.”

Shawn melangkah keluar dari kamar. Sontak Ariel terkejut di kala Shawn pergi. Buru-buru, Ariel menghampiri Shawn dengan langkah cepat. Untungnya, pria itu membelikan flat shoes. Jadi dirinya akan mudah dalam melangkah. Daripada harus memakai heels. Itu akan menyusahkan gerakannya.

“Tuan Kaya, tunggu aku. Kau ini jalan seperti tentara saja. Cepat sekali.” Ariel mengeluh karena cara jalan Shawn sangat cepat.

Shawn tak peduli dengan ucapan Ariel, dia segera masuk ke dalam mobilnya, dan bersamaan dengan Ariel yang juga masuk ke dalam mobilnya. Detik selanjutnya, dia melanjukan mobilnya meninggalkan tempat itu.

“Ck! Tuan Kaya, kau ini sudah pernah memiliki kekasih atau belum? Kenapa kau dingin sekali pada wanita? Kau sebelas dua belas dengan kulkas,” ketus Ariel jengkel.

Shawn melirik Ariel sekilas. “Kau ingin aku antarkan ke mana?” tanyanya tegas, tak mengindahkan kata-kata Ariel. Baginya, wanita di sampingnya ini adalah musibah yang menyusahkan. Semua rencaannya di Washington D.C tertunda karena disusahkan oleh wanita di sampingnya.

Ariel nampak berpikir. “Antarkan aku ke bandara. Aku ingin meninggalkan kota ini.”

Sebelah alis Shawn terangkat. “Kau yakin?”

Ariel mengangguk. “Ya, aku sangat yakin. Tolong antarkan aku ke bandara.”

Shawn menuruti keinginan Ariel. Pria itu mengemudikan mobilnya menuju bandara. Ada pertanyaan yang muncul di kepalanya. Tapi, dia memilih untuk tidak bertanya. Dia tak mau ikut campur dengan urusan orang lain.

“Turunlah.” Kata pertama yang Shawn ucap, di kala mobilnya sudah memasuki lobby bandara.

Ariel menatap Shawn dengan tatapan sedikit tak enak. “Tuan Kaya, terima kasih sudah menolongku. Kalau nanti kita bertemu lagi—”

“Kita tidak akan bertemu lagi.” Shawn langsung memotong ucapan Ariel.

Ariel mencebik. “Iya-iya, aku tahu aku menyusahkanmu, Tuan Kaya. Sekali lagi aku minta maaf. Aku juga berterima kasih kau sudah menolongku. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa bantuanmu.”

Ariel merasa bersyukur karena semesta mempertemukannya dengan Shawn. Tidak bisa dipungkiri bahwa, dia sangat lega dan senang bisa selamat dari maut. Jika saja kemarin tidak ada Shawn, entah bagaimana nasibnya.

Lalu, Ariel turun dari mobil, dan hendak pergi namun tiba-tiba dia mengingat sesuatu hal yang ada di kepalanya. Wanita itu segera menoleh menatap Shawn yang masih membuang wajah tak menatapnya.

“Tuan Kaya, kalau suatu saat semesta kembali mempertemukan kita, mungkin saja kita sudah ditakdirkan bersama sejak kita masih bayi,” ucap Ariel konyol—dan langsung pergi begitu saja masuk ke dalam lobby bandara.

“Wanita itu memang sudah gila!” Shawn mengumpat seraya menatap punggung Ariel yang mulai lenyap dari pandangannya. Dia tak mengira kalau di muka bumi ini, ada dokter yang memiliki pikiran sekonyol wanita itu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JUY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JUY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A MAN IN A TUXEDO
9.7
Psikiater muda Auristela Indira mengemban tugas berat merawat Vincent Oliver, CEO penyiaran yang menderita Anterograde Amnesia pasca insiden tragis. Stela harus menyamar sebagai sekretaris dan pengawal pribadi sebelum akhirnya diminta menikahi Vincent yang ingatannya hanya bertahan sehari. Di tengah dilema itu, misteri besar menyelimuti penyebab kecelakaan Vincent serta hilangnya calon tunangannya tepat di malam sebelum hari pernikahan mereka.
Sampul Novel Asisten Pribadi CEO Dingin
9.7
Elena, desainer berbakat, terpaksa menunda mimpinya demi menjadi asisten Arion, CEO startup yang dingin. Meski awalnya sulit menghadapi sikap kaku sang atasan, Elena mulai menemukan sisi hangat Arion. Saat skandal besar mengancam perusahaan, Elena beraksi heroik membongkar pelaku sabotase. Kedekatan ini memicu perasaan cinta Arion, namun Elena terjebak dilema besar antara mengejar asmara atau mewujudkan ambisi agensi pribadinya yang sempat tertunda.
Sampul Novel Asisten Terkekang Oleh Majikan
8.3
Dian telah mengabdi sebagai asisten di keluarga Firdaus sejak remaja. Namun, ketenangannya terusik saat Niko, sang putra sulung, pulang untuk memimpin bisnis keluarga. Meski sudah beristri, Niko justru terobsesi mengejar Dian dan menjadikannya tawanan asmara yang tersembunyi. Tinggal satu atap membuat tekanan Niko semakin menggila hingga Dian sulit menghindar. Di tengah jeratan obsesi sang majikan, mampukah Dian melepaskan diri dari kungkungan pria itu?
Sampul Novel Berselingkuh dengan calon suami adik ipar
9.0
Amel terjebak dalam pernikahan hambar bersama Andre, pria kasar yang tak pernah menghargainya. Di tengah rasa frustrasi, wanita 24 tahun ini justru menjalin hubungan gelap dengan Arman, calon suami dari adik iparnya, Bella. Bagi Amel, Arman adalah pelarian sempurna dari derita batin dan finansial. Meski bertahun-tahun tak terendus, rahasia mereka terancam saat Andre tiba-tiba ingin berubah. Akankah Amel memilih setia pada penebusan Andre atau tetap bersama selingkuhannya?
Sampul Novel Pengantinku Menyembunyikan Banyak Rahasia
9.0
Pertemuan tak terduga menyatukan Helena dengan pria berkuasa bernama Charlie. Meski tampak lugu, Helena menyimpan rahasia sebagai ahli jenius dengan kekuatan luar biasa yang ditakuti keluarga elite. Charlie yang protektif bersumpah melindungi sosok yang ia anggap rapuh tersebut. Namun, saat Helena berhasil melarikan diri, Charlie pun gelisah mencarinya ke penjuru dunia. Baginya, Helena adalah kunci penting yang akan membantunya meraih puncak kesuksesan tertinggi.
Sampul Novel Penyesalan Selalu Datang Terlambat
9.8
Mencintai Stevan Nicolas hanya membuahkan luka bagi sang protagonis. Di saat dia membutuhkan kehangatan di tengah malam yang dingin, Stevan justru mendekap wanita lain. Pria itu menuduhnya terlalu manja dan memutuskan untuk pergi, tanpa pernah tahu bahwa waktu sang protagonis di dunia ini tidak lama lagi. Di ambang kematiannya, sebuah rahasia besar tersimpan rapat, meninggalkan penyesalan yang terlambat bagi Stevan yang telah mengabaikannya demi cinta yang lain.