
His First Love
Bab 2
Aku dan Zhepyr sejak semula memang menikah bukan atas dasar cinta. Itu merupakan hal biasa dalam politik keluarga kerajaan dan bangsawan. Hari pernikahan kami juga dihelat sebagaimana mestinya meskipun tidak semewah seluruh pernikahan seorang putri raja pada umumnya. Tapi aku tidak perlu harus terlalu kecewa atas hal ini, mengingat situasi dan kondisi. Aku memang tipe yang cukup pengertian untuk beberapa hal. Mempermudah segalanya untuk oranglain itu jauh lebih membuatku tenang ketimbang harus merengek untuk diberi keistimewaan.
Ketika untuk pertama kalinya kami bertemu dan saling berhadapan, tidak ada praduga apapun selain daripada pemikiran-pemikiran tak masuk akal yang berseliweran dikepala. Harusnya saat itu aku lebih peka memaknainya sebagai sebuah firasat. Tapi aku sayangnya terlalu bodoh dan naif saat itu untuk menyadari pentingnya arti kata intuisi.
Aku sudah terlanjur terdistraksi oleh ketampanan Zhepyr. Pria itu punya fitur wajah yang unik dengan mata berwarna abu-abu sebagai ciri khas yang tidak bisa dihilangkan sebagai pesona sekaligus juga aib bagi dirinya. Sebab mata itu bukanlah mata dari seseorang yang berasal dari darah murni keluarga duke yang kini menjadi rumah tempat dia tinggal. Aku dengar usianya baru dua puluh lima tahun kami berusia setara. Namun sosoknya benar-benar jauh lebih mencerminkan kedewasaan melebihi usia yang sebenarnya. Ada suasana asing yang aku temukan hanya dengan melihatnya.
Aku ada didepannya seperti ini, bukankah sebuah keberuntungan besar? Ibu pengasuhku kerap bercerita bahwa beberapa pasangan menikah tidak berdasarkan cinta. Ya, beberapa mereka hanya menikah karena salah satu diantaranya mencintai pasangannya. sementara yang lain tidak. Ketika aku berpikir bahwa adalah sebuah fakta pria ini melamarku, aku sempat mengesampingkan fakta lainnya dan lebih suka percaya bahwa pria ini datang padaku karena cinta.
"Apa dia akan menyukaiku seperti aku menyukai dia?" Itulah hal yang aku katakan dalam hatiku.Sebab aku selalu berpikir bahwa cinta sejati adalah cinta yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan. Dan sebagai seorang putri, aku juga tidak pernah memiliki waktu untuk bercengkrama dengan pria. Oleh sebab itu aku selalu punya prinsip bahwa pria yang menikahiku berarti dia juga mencintaiku. Pemikiran yang polos memang, tapi itulah yang ada di dalam pikiranku saat itu.
Diakhir ikrar janji suci, aku tidak lagi dapat mengendalikan diri untuk menahan rasa penasaran lebih lama. Terlebih ketika pria itu meraih tanganku sebagai bentuk kami telah dipersatukan secara sah dimata hukum dan negara. Saat mata kami bertemu satu sama lain, sekali lagi jantungku berdetak lebih cepat. Aku benar-benar butuh banyak keberanian untuk dapat menerima genggaman tangan dari orang asing seperti ini. Namun, meski begitu aku sangat menyukai seluruh desiran dan reaksi tubuhku yang dihasilkan hanya dari sentuhan pria ini saja. Dia seperti seorang magician.
"Saya bertemu Anda untuk pertama kali hari ini, lalu kita kemudian menikah seperti ini.Saya rasa itu adalah sebuah keberuntungan yang tidak dapat saya sangkal." Pada akhirnya aku mengujar demikian terhadap dia. Sebuah pengakuan yang terbilang memalukan tapi entah mengapa sanggup aku lakukan.
Namun, reaksi yang aku dapati tidak terlalu sesuai harapan. Tidak ada jawaban apapun dari pria itu selain hanya tatapan mata yang mengarah ke satu direksi. Sehingga aku kemudian tergelitik untuk mengikuti arah pandang pria itu yang Nampak fokus memperhatikan keramaian, yang dimana saat itu adikku Volker maju ke depan podium khusus tempat dimana aku dan Zhepyr menerima pemberkatan dengan segelas anggur ditangan. Kedatangannya sebagai calon putra mahkota dimasa depan cukup mencolok masa.
"Para hadirin sekalian terimakasih telah datang ke acara pernikahan kakak perempuanku. Dan seperti yang sudah anda sekalian ketahui, Sir Zhepyr berkontribusi banyak pada keluarga kerajaan sebab telah memberikan kami uang dan sebagai gantinya kami melangsungkan pernikahan ini sebagai sebuah janji kuat diantara dua keluarga," ungkap Volker dengan penuh kepercayaan diri.
Aku kontan melangkahkan kaki hendak menuju tempat dimana adikku berada dan membawanya turun dari podium. Bukankah ini bukan saat yang tepat baginya berkoar-koar disana? Tapi langkahku justru malah dicegat oleh Ibunda. Ada apa ini? apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui ?
"Tentunya dengan uang yang kami dapatkan dari Sir Zhepyr kami dapat melunasi sebagian besar hutang ayah saya dari kegagalannya menjalankan kebijakan nasional. Namun dalam moment seperti ini saya juga ingin mengumumkan bahwa keluarga kerajaan resmi dibubarkan. Hal ini tentu saja mempertimbangkan dari beberapa aspek lainnya. Seluruh kekuasan sendiri akan dilimpahkan sepenuhnya ke pihak Legislatif. Itu berarti dengan sangat menyesal keluarga kerajaan akan kehilangan gelarnya." tutup Volker seraya mengangkat gelas anggurnya ke udara seolah menunggu sambutan dari semua orang.
Mendengar kata-kata yang Volker, seketika keheningan mendominasi. Aku bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa karena bagiku itu lebih terdengar seperti omong kosong saja.Namun sialnya beberapa detik setelah itu tamu undangan mulai riuh memberi tepuk tangan. Mereka sangat menyukai gagasan Volker yang dinilai terlalu provokatif dan berani.
Sementara itu, disisi lain Zhepyr mengerutkan keningnya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi keras. Pria yang berdiri sejajar denganku sebagai suami ini segera menjadi pusat perhatian semua orang. Bukan dalam konotasi yang baik, melainkan pandangan yang penuh cemooh. Melihat situasinya kurang lebih aku tahu apa yang ada dikepala pria itu sekarang.
Meski Zhepyr tidak berkata apapun, namun jelas sekali ada kemarahan yang tidak dapat semudah itu disembunyikan. Terlebih adikku sendiri yang menjadi pelaku dari tercorengnya muka Zhepyr dimuka umum. Zhepyr menggenggam gelas yang ditangannya hingga pecah belah. Warna merah darah serta alcohol bercampur menjadi satu.
“Z-zhepyr?” Aku berusaha menggapai tangannya yang terluka oleh pecahan kaca. Tapi pria itu menepisku dengan keras.
“Jangan sebut namaku,” ujarnya dengan nada tinggi. Aku yang diperlakukan secara kasar untuk pertama kalinya kini tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya sebatas bisa menutup mataku erat-erat.
Kejadian itu berlalu dengan cepat hingga aku tersadarkan bahwa pernikahan ini adalah jalan menuju pintu neraka. Apalagi saat Zhepyr meninggalkanku begitu saja di altar dengan sangat mudah. Tidak ada lagi kebahagiaan di pesta yang seharusnya dipenuhi oleh ucapan selamat dan cinta yang berhamburan diudara.
Ruang resepsi hanya tinggal diisi olehku saja sebagai mempelai wanita.Semua orang meninggalkan sisiku, tempat ini berubah menjadi ajang lain. Aku semakin menyadarinya begitu semua tamu berkerumun memberi pujian berlimpah pada Volker.
Dalam kondisi itu aku tahu jelas apa yang baru saja terjadi. Aku bisa memprosesnya. Di tempat ini, ada dua karakter yang baru saja di jatuhi hukuman sosial. Aku yang dikambing hitamkan, dan Zhepyr yang menjadi korban. Pernikahan kami benar-benar membuat banyak orang menahan napas.
Sementara segalanya makin kacau aku hanya bisa duduk dengan pandangan kosong. Apalagi saat pihak dari keluarga Zhepyr memberikanku pandangan kebencian yang jelas. Tentu saja itu adalah konsekuensi yang akan aku terima. Keluargaku memang sudah merencanakan itu. Dan aku adalah boneka marionet yang dijadikan sebagai tumbal untuk memenuhi kepentingan mereka saja.
"Pernikahan macam apa ini?”
Anda Mungkin Juga Suka





