
His First Love
Bab 3
Terlahir sebagai seorang perempuan itu berarti harus menerima keterbatasan. Keterbatasan dalam melakukan banyak hal, keterbatasan dalam mengemukakan pendapat. Bahkan rasanya untuk mendapatkan sebuah penghidupan yang benar-benar layak terlalu sulit untuk digapai. Meskipun hidupku dahulu pastinya akan sangat diimpikan oleh banyak pihak, terutama perempuan dari kalangan rakyat jelata. Namun kini posisiku sendiri tidaklah seberuntung itu. Sebagai seorang mantan putri aku banyak mengalami hal buruk.
Sesungguhnya aku justru mengalami tentang adanya cobaan dalam hidup secara terlambat. Hingga pernah aku berpikir untuk mati dan bereinkarnasi sebagai seorang pria dikehidupan berikutnya. Jika saja aku terlahir menjadi seorang pria, tentu aku akan memperlakukan istriku dengan baik. Aku juga akan menyayanginya dan memberinya banyak cinta yang berlimpah. Aku akan memastikan istriku tidak berakhir seperti nasib buruk yang kualami kini. Tapi itu hanya sebatas dikata seandainya.
Sebab di negeri ini hanya ada dua cara untuk mendapatkan penghidupan yang bebas.
Sebuah kesuksesan dalam mencari uang untuk kaum pria dan sebuah pernikahan untuk kaum wanita. Para wanita tidak memiliki pilihan lain selain itu. seolah hidup hanya digariskan untuk menikah atau mati tanpa pasangan.
Dua tahun telah berjalan dan bagiku itu merupakan sebuah waktu yang terlampau lama untuk bertahan dalam sebuah bahtera rumah tangga yang aku tahu tidak begitu bagus untuk dijalani. Aku telah salah memilih. Ah… tidak, lebih tepatnya aku sejak awal memang tidak pernah memilih menjadi wanita yang serta merta dinikahi oleh pria yang tampan dan berkuasa. Kondisiku disini adalah dipaksa untuk menikahi suamiku, tidak lebih dari itu.
Namun sial bagiku sebab ditengah fakta tersebut aku justru malah jatuh cinta terhadap sang suami hanya dalam sekali pandang saat upacara pernikahan kami berdua dihelat.
Setelahnya aku bisa menghitung jari keberadaan Zhepyr disekitarku. Pria itu selalu pergi semaunya tanpa menghiraukan keberadaanku sebagai seorang istri yang menantikan moment untuk bersama.
Mungkin akan normal bila kehidupan seperti ini terjadi secara bertahap. Namun sayangnya kondisi ini sudah berlaku sejak kami dipersatukan. Masih segar dalam ingatanku, ketika Zhepyr memboyong diriku untuk tinggal dirumah sang mertua. Usai dengan hal tersebut, pria itu bahkan dengan begitu teganya meninggalkanku saat malam pertama pernikahan kami dan baru kembali satu bulan kemudian. Hubungan kami begitu dingin.
Dalam dua tahun kebelakang ini suamiku bahkan hanya mengunjungi saat dia dipanggil oleh sang mertua. Itupun, Zhepyr tidak pernah meluangkan waktu untuk menemuiku atas dasar kemauannya sendiri. Aku tahu dia teramat membenci diriku. Aku sudah sangat sadar akan hal itu. Tapi meski Zhepyr membenciku. Aku sudah terlanjur mencintainya.
Bahkan seperti saat ini, begitu mendengar kabar bahwa dia berkunjung. Aku langsung menunggunya seperti orang asing yang putus asa didepan ruang istirahat suamiku. Sejatinya Aku tidak memiliki pengharapan muluk, aku hanya sebatas ingin bicara dengan Zhepyr saja.
Aku mengetuk pintu kayu mahoni besar didepan tubuhnya. Berkali-kali dia melakukannya, berharap Zhepyr keluar dari sana dan menatapku dengan hangat.
“Nyonya, Tuan bilang dia tidak ingin bertemu dengan siapapun,” ujar salah satu pelayan yang baru saja keluar dari ruangan.
“Saya ingin bertemu dengan suami saya.”
“Nyonya, tolong permudah pekerjaan saya dengan tidak keras kepala seperti ini.”
Suara keras yang menekankan penolakan dari para pelayan tadi seperti berupaya melakukan pencegahan dari pertemuan ini. Tetapi sebanyak apapun aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya Aku sama sekali tidak bergerak dari tempat.
Aku tidak peduli jika kembali dipersalahkan sebagai biang kerok keributan. Aku punya satu alasan yang membuatnya bersikukuh.
Aku takut dan membutuhkan Zhepyr. Hanya itu.
Ketika si pelayan mulai hilang kesabaran dan hendak memberikan tamparan. Pintu terbuka secara perlahan menimbulkan bunyi derit. Pelayan tadi langsung menepi, karena takut terhadap orang yang barangkali akan keluar dari sana. Sedangkan aku justru berbinar-binar tatkala menangkap siluet seseorang yang keluar dari ruangan. Sampai binar itu kemudian meredup dan menjadi sebuah kekecewaan besar. Sebab yang aku dapati sekarang bukanlah Zhepyr, suamiku. Melainkan Haekal, pria yang aku kenal sebagai asisten pribadinya.
“Saya ingin bertemu suami saya,” ujarku padanya ketika pria itu baru saja keluar dari ruangan.
Haekal menghela napas berat.
“Kami sedang ada pekerjaan Nyonya Davira. Harap Anda mengerti bahwa suami anda sedang sibuk saat ini.”
“Saya tidak akan menyita waktunya. Ini tidak akan lama,” balasku lagi dengan cepat.
“Tapi beliau membutuhkan konsentrasi tinggi untuk pekerjaan yang sedang dilakoninya. Saya harap Nyonya Davira tidak mengganggu dan membuat keributan disini.”
“Saya hanya ingin bicara, jadi tolong pertemukan saya dengan Zhepyr,” timpalku tegas.
Ketika kami berdua bersitegang, tiba-tiba dari belakang sudah muncul Zhepyr. Wajahnya nampak ditekuk dengan kedua alis menyatu. Dia terlihat terganggu dengan apa yang aku dan Haekal lakukan didepan ruang kerja pribadinya. Aku juga menyadari bahwa Zhepyr terlihat sedikit berantakan dibandingkan penampilan yang sering kulihat. Sepertinya Haekal tidak benar-benar berbohong mengenai Zhepyr yang sedang beristirahat.
Dia berjalan kearah kami dengan kondisi bertelanjang kaki, semua itu benar-benar tidak seperti Zhepyr yang biasa. Yang tersisa dari penampilan normalnya seorang Zhepyr adalah sorot mata yang dia berikan padaku. Tidak ada perubahan setitik pun. Dia selalu saja memandang diriku dengan penuh amarah sekaligus rasa jijik padahal aku bahkan tidak melakukan apapun padanya. Aku tidak pernah menyakitinya.
Saat kami berdua bersitatap, saat itu pula aku menggunakan seluruh keberanian yang kumiliki untuk menatap mata itu pula. Tak hanya sampai disitu aku juga mengarahkan kedua kaki untuk mendekati sang suami yang enggan mendekat padaku lebih dulu.
“Saya ingin bicara,” ujarnya lagi pada Zhepyr secara langsung. Aku sejak awal memang sudah bertekad untuk ini.
“Kau tidak dengar apa yang dikatakan oleh Haekal? Aku sedang bekerja. Tidak bisakah kau mengerti itu?” Suara yang keluar dari mulut Zhepyr jelas nampak sangat risih.
“Saya ingin Anda menemani saya ke pesta minum teh yang diadakan oleh ibu mertua besok. Saya mohon tolong luangkan waktu anda,” pintaku dengan jelas.
“Kau tahu kalau aku ini orang yang sibuk. Besok aku ada perjalanan bisnis yang penting.” Aku sudah menduga akan penolakan ini. Padahal tidak perlu memandangku sebagai istrinya bila itu terlalu sulit. Tapi minimal aku berharap suamiku ini masih memiliki sisi empati sebagai seorang manusia.
“Tidak bisakah Anda tidak pergi? Bila Anda tidak bisa membatalkannya paling tidak bisakah Anda datang terlambat satu hari?”
“Kali ini aku akan kembali dalam satu pekan.” Jelas itu bukan jawaban yang Aku inginkan. Zhepyr seperti sengaja menulikan telinganya untuk mendengar apa yang aku katakan. Zhepyr memang pria berhati dingin.
“Anda bisa menundanya bukan? Saat ibu Anda sakit anda pernah melakukannya. Apakah Anda tidak bisa melakukannya untuk saya? Saya meminta tolong pada Anda dengan sangat,” pintaku sekali lagi.
Sungguh, bayangan mengerikan soal jamuan teh yang diadakan oleh sang ibu mertua sudah menghantui. Aku sadar bahwa diriku ini sudah ada pada batasnya untuk mendengarkan cela dari para tamu yang diundang dalam acara tersebut setiap bulannya.
“Kau kan bisa bilang kau sakit,” ujarnya remeh.
“Jika semudah yang Anda katakan, tentu saja saya tidak akan mungkin datang dan memohon kepada Anda seperti yang sedang saya lakukan.” Kali ini Aku sudah sangat putus asa.
Aku mencoba untuk memohon sembari memegang tangan suamiku dengan seluruh jemari yang bergetar hebat. Meski diriku tahu mengemis begini pada Zhepyr bukan pilihan terbaik, namun tetap saja aku tidak memiliki opsi lain.
“Aku! Kurasa kau sudah melebihi batasmu!”
Benar saja, suara pria itu langsung menggelegar, bahkan Zhepyr sampai hati mendorong tubuhku agar menjauh darinya. Untung saja aku masih memiliki cukup keseimbangan sehingga tidak langsung jatuh didepan semua orang. Aku mencoba untuk tetap bertahan, meskipun hatiku tidak.
Seluruh pelayan yang ada disana nampak terdiam. Mereka mengalihkan perhatiannya kearah lain dan kemudian pura-pura sibuk. Dimarahi dihadapan pelayan adalah sebuah kehinaan lain. Aku yakin bahwa mereka semua yang melihat kejadian ini telah menyiapkan seribu macam skenario yang siap untuk disebarkan melalui mulut ke mulut. Aku ini bukanlah perempuan yang buta untuk tahu bahwa hubunganku dan Zhepyr memang selalu menjadi buah bibir dimanapun. Aku juga meyakini bahwa mereka saat ini pasti menganggapku sebagai perempuan gila yang sedang cari perhatian pada suami sendiri. Selain itu fakta bahwa aku tidak dicintai Zhepyr juga sudah menjadi rahasia umum di mansion ini.
“Apa kau tahu berapa banyak uang yang sudah aku berikan untuk membawamu kemari? Apa kau tidak setidak tahu diri itu masih memintaku untuk menenamimu saat kau tahu aku sibuk? Apa kau berpura-pura bodoh dan tidak tahu bahwa yang kau lakukan sekarang hanya membuang-buang waktu berhargaku untuk beristirahat setelah dua tahun lamanya ini aku bekerja keras untukmu?! Aku sudah memberikanmu banyak uang untuk membeli status kebangsawanan yang keluargamu janjikan. Tapi kenyataannya kau malah menjadi beban baru untukku. Sebab mereka menipuku dan juga mempermalukanku didepan semua orang saat pernikahan kita. Bisa-bisanya kau tidak tahu diri begini!” Zhepyr berkata, suaranya terdengar jengkel dan keras. Seolah belum puas hanya dengan memarahinya dengan sedikit kata. Dia selalu membawa persoalan masa lalu untuk dijadikan senjata guna menghakimiku seperti ini.
Aku hanya bisa menerima konsekuensi sejak memutuskan menjadi tumbal demi keluarga.
“Saya tahu tentang hal itu, tapi Anda—”
“Kalau kau tahu harusnya kau gunakan otakmu itu. Paling tidak pikirkan caranya untuk tidak merugikanku lebih dari ini. Bayar uang yang telah kau ambil, atau berikan aku status yang kau janjikan. Kalau kau tidak bisa melakukan keduanya. Kau hanya perlu tutup mulut sampahmu itu!”
Aku kini sudah terlanjur tidak punya muka. Harga diri yang telah aku junjung tinggi dan miliki memang sudah diinjak semenjak aku dan Zhepyr mengucap janji ikrar dihadapan penghulu saat hari pernikahan kami. Karena itu, aku memaksakan diriku sekali lagi untuk membujuknya. Aku kembali meraih kedua tangan suamiku. Menggenggamnya dalam keputus asaan berharap dengan itu dia bisa sedikit peduli. Aku bahkan sekali lagi memohon padanya. tidak peduli seberapa banyak pria itu mencoba untuk menolak.
“Saya mohon, terlambat satu hari saja tidak akan membuat perbedaan yang besar bukan? Sekali ini saja tolong saya…”
Ketika aku tidak juga mundur, sekilas aku bisa melihat para pelayan disekitar hendak melakukan sesuatu. Aku berkesimpulan bahwa mereka hendak menyergap dan melepaskan paksa pegangan tanganku terhadap Zhepyr. Namun untuk sebuah alasan yang tidak aku mengerti, pria itu justru seperti menghalangi mereka untuk merealisasikan hal demikian lewat sorot matanya yang tajam.
Ketika aku bersitatap lagi dengannya, saat itu pula aku sadar bahwasanya Zhepyr benar-benar tidak tertarik untuk mendengarkan kata-kataku sama sekali. Pria itu menamparnya ribuan kali dengan realita, dan memberi kesadaran secara utuh bahwa apa yang aku lakukan saat ini hanyalah sebuah kesia-siaan belaka.
Aku najis baginya.
Tapi aku malah berani menyentuhnya.
Ini seperti malam dimana kami bersama dan Zhepyr terpaksa untuk bercinta denganku karena tuntutan.
Tidak ada nikmat.
Tidak ada rasa yang katanya menggelora.
Tidak ada surga dunia.
Yang aku rasakan saat itu hanyalah perih. Pedih di bagian bawah tubuh dan juga perih dihatiku. Tidak pernah lebih dari itu.
Dan apa yang aku dapatkan sekarang bahkan lebih dari itu. Rasa sakitnya jauh lebih parah.
Tepat saat Zhepyr kemudian menghempaskan tanganku sambil mendecakan lidah. Melewatiku begitu saja bersama sang asisten pribadi tanpa menghiraukanku lagi. Kini hanya tinggal aku sendiri yang tersisa ditemani tatapan yang kudapatkan dari para pelayan yang seperti singa kelaparan. Mereka menyaksikan semuanya dan berkat itu mereka memiliki bahan lain yang bisa disebarkan kepada semua orang.
Aku masih termanggu ditempat. Melepaskan Zhepyr dari genggaman dan melihat punggungnya menjauh. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Kepalaku benar-benar kosong.
Apalagi ketika sosok Zhepyr telah menghilang dari tempat ini, suasana mendadak riuh.
Tidak jauh dari dugaan awal, celaan demi celaan mulai terlontar. Cibiran yang dibalut tawa jenaka mereka serukan tanpa merasa bersalah sama sekali. Padahal aku yang adalah objek perbincangan mereka masih berada disini. Mereka bahkan tidak menunggu jeda waktu untuk membiarkan diriku berlalu lebih dahulu, Aku hanya sanggup menutup kedua telinganya ketika tawa renyah dan sindiran yang dibalut apik mulai mengkontaminasi atmosfer ruangan.
Aku tidak bisa melakukan apapun selain menulikan pendengaran.
Aku kini mulai meninggalkan tempat, berjalan dengan cara yang paling anggun dan elegan didepan semua orang. aku tidak bisa membalas apa yang mereka katakan. Namun setidaknya aku masih bisa berlagak seperti seseorang yang tidak punya malu dan juga hati paling tidak untuk saat ini.
***
Aku tiba dikamar pribadi. Membuka jendela lebar-lebar untuk kemudian melihat kearah halaman. Disana sudah terparkir kereta kuda yang biasa Zhepyr tumpangi. Nampaknya pria itu benar-benar akan pergi malam ini. Dia bahkan melupakan waktu istirahatnya yang berharga dan tidak menunggu hingga esok tiba. Barangkali dia sudah terlanjur jijik untuk berlama-lama ditempat yang ada aku disana.
Aku terdiam lagi.
Hingga pikiranku mengawang begitu saja. Bertanya-tanya, mengenai hal apa yang membuatnya tidak sibuk. Atau mengapa dia begitu sangat jarang pulang kerumah.
Apakah dia tidak bisa meluangkan waktu satu hari saja untuk aku yang adalah istrinya?
Apa dia akan bersedia membuang waktu yang menurutnya berharga untuk mendatangi pemakamanku?
Pertanyaan itu berulang dikepala. Opsi mengakhiri hidup jadi jelas lebih menggoda ketimbang terus berada ditempat ini dan mengalami banyak cercaan yang penuh tekanan.
Tapi pertanyaan yang paling sering membuatnya resah dan gundah adalah…
“Kenapa aku masih bisa tetap mencintaimu padahal kau sedingin itu padaku?”
Anda Mungkin Juga Suka





