Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hilang Selamanya Dari Hatiku

Hilang Selamanya Dari Hatiku

Sepuluh tahun pernikahan dengan Dennis hanya menyisakan luka. Sebagai istri, aku selalu dijadikan alasan bagi Dennis untuk memutuskan hubungan dengan kekasih-kekasih barunya saat dia mulai bosan. Di hari ulang tahun pernikahan kami, aku justru harus menenangkan mahasiswi yang baru dicampakkannya, sementara dia asyik berkencan dengan wanita lain. Menyadari diriku terjebak dalam siklus toxic ini, aku memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai. Meski Dennis memohon agar aku menunggu perubahannya, keputusanku sudah bulat. Aku memilih pergi jauh ke negeri seberang dan meninggalkan dirinya selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku tak akan lupa suara dingin Dennis yang terdengar dari luar ruang rawat saat itu.

“Lebih baik begitu, lagipula dia juga nggak seharusnya ada.”

Sejak hari itu, kami seolah mencapai kesepakatan dalam diam.

Dia melanjutkan hidupnya sebagai seorang buaya darat.

Asal keluargaku masih bertahan, itu sudah cukup.

Dennis bisa menjalin hubungan tanpa menikah, asalkan… tidak ada yang hamil.

Sekarang, dia yang lebih dulu mengingkari janji.

Keluargaku sudah menjadi cangkang kosong sejak orang tuaku meninggal.

Jadi, aku juga tak perlu memaksakan hubungan dengan Dennis lagi.

Aku bersandar di jendela mobil, napasku terengah-engah dan terasa panas.

Aku melihatnya menenangkan Rani, lalu kembali lagi ke depanku.

Dia membuka pintu mobil, melingkari tanganku di lehernya dan menggendongku ke UGD.

Di balik bahunya, aku melihat Rani mendengus dingin dan menatapku dengan jijik.

Saat Dennis berjalan melewatinya, Rani mencoba meraih ujung pakaiannya, tapi tak berhasil.

Dennis melangkah cepat. Bahkan pemahat terbaik pun tak bisa menandingi wajahnya yang tampan dan serius itu.

Dia selalu memberikan ilusi, tak peduli berapa lama dia berkeliaran, akhirnya akan kembali padaku.

Namun kali ini, aku menggelengkan kepala dan menyadarkan diri lebih dulu.

“Dennis, kita cerai saja.”

Langkahnya terhenti, tapi matanya tak menoleh ke arahku.

“Ya?”

“Cerai, boleh?”

Ekspresi di wajahnya tampak rumit, dari muram menjadi bingung, hingga akhirnya hanya tersisa tawa pelan.

“Nggak mau tunggu sebentar lagi? Siapa tahu beberapa tahun lagi….”

Dia melirikku dan senyumannya penuh ejekan.

“Aku bakal sadar dan berubah?”

Aku juga tersenyum, mataku terasa panas, mungkin demamnya semakin tinggi.

“Bagaimana dong? Sudah bosan, nggak ada perasaan baru lagi, lebih baik kita jadi saudara angkat saja,” ujarku.

Seketika, raut wajah Dennis menegang, dia menggertakkan gigi sekuat mungkin, hingga otot-otot di wajahnya menegang.

“Masih nggak cukup perasaan barunya?” tanya Dennis.

Pandangan mataku sudah kabur karena genangan air mata, tapi aku tetap berusaha tersenyum.

“Kita memang tak seharusnya menikah, seperti yang kamu bilang dulu,” ujarku.

“Rina? Lebih baik aku menjadi saudara angkat dengan dia!”

Tentu saja Dennis tak ingin menjadi saudara angkat denganku.

Keluargaku sudah banyak mendapat bantuan dari keluarga Dennis selama sepuluh tahun terakhir.

Kami sudah menjadi beban.

Jadi, ketika berita perceraian kami menyebar, seluruh keluarga Dennis tampaknya pun menghela napas lega.

Aku menandatangani perjanjian cerai dengan demam tinggi yang tak kunjung turun, lalu pingsan selama dua hari.

Saat sadar, kulihat surat itu sudah ditandatangani oleh Dennis.

Aku sempat terdiam sejenak, lalu merasa kosong bercampur rasa bersalah.

Surat cerai itu jelas tak bisa disebut jujur, apalagi berjiwa besar.

Selama ini, aku selalu membantu menyingkirkan para mantannya dan setiap kali selesai, aku bakal menerima transfer uang darinya.

Uang itu selalu kusimpan dan kini, dalam pembagian harta, aku tetap menyiapkan jalan keluar untuk diriku sendiri.

Orang secerdas dia pasti bisa menyadari ketamakanku.

Namun, dia tetap menandatanganinya tanpa ragu.

Hal itu membuatku sedih cukup lama. Mungkin dia sudah lama menungguku untuk mengucapkan kata cerai.

Baginya, mengeluarkan uang untuk menyingkirkan masalah jauh lebih baik daripada terikat lagi denganku sepuluh tahun ke depan.

Setelah suhu tubuhku kembali normal, aku yang masih lemah mulai berkemas.

Sepuluh tahun yang terasa panjang itu ternyata hanya terisi dalam dua koper kecil.

Aku menuruni tangga, pelayan dan sopir memandangiku dari dalam dan luar rumah.

“Nyo… Nona Rina, perlukah kami mengabari Pak Dennis kalau kamu mau pergi?”

Aku menggeleng dan menjawab, “Nggak perlu.”

Jadi, tak ada yang mengucapkan selamat tinggal dan tak ada juga yang maju untuk menghentikan.

Mereka hanya terdiam sebentar, lalu kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Seketika, aku merasa hampa. Bahkan mereka pun sudah menyadari bahwa diriku hanya seorang tamu.

Saat taksi yang kupesan keluar dari rumah Dennis, aku tidak menoleh ke belakang.

Kenangan yang dimulai sejak masa kecil, akhirnya berakhir di saat ini.

Sopir bertanya dalam keheningan, “Butuh tisu?”

Barulah aku sadar bahwa wajahku sudah penuh air mata.

Padahal, seharusnya aku merasa lega.

Namun, burung yang terlalu lama terkurung dalam sangkar, saat tiba-tiba dilepaskan, tetap akan merasa asing.

Dari rumah Dennis menuju bandara, aku menukar boarding pass dan sekaligus menukar kartu lamaku.

Begitu masuk pesawat, aku langsung terlelap.

Beberapa hari ini, aku seperti dilanda kantuk yang tak ada habisnya.

Merasa kehilangan arah, aku hanya ingin larut dalam mimpi dan diam-diam mengobati luka perasaan ini.

Belasan jam kemudian, akhirnya aku mendarat di negeri seberang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "B56660" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B56660
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKAN KUBUAT KAU MENYESAL, MAS!
7.8
Selama ini aku rela menyokong finansial Mas Arya, bahkan menghidupi ibu dan adiknya saat gajinya tak mencukupi. Namun, pengkhianatannya dengan menikah lagi menjadi titik balik bagiku untuk berhenti peduli. Kini, biarlah ia memikul beban keluarga itu sendirian agar menyadari peranku yang selama ini ia remehkan. Aku enggan terus terjebak dalam pernikahan beracun ini. Masa depanku masih panjang, dan aku berhak mencari kebahagiaan tanpa dirinya lagi.
Sampul Novel Aku Bukan Pelakor.
9.3
Hidup Nada hancur seketika saat hari pernikahan yang seharusnya indah berubah menjadi petaka. Kehadiran sosok wanita yang mengaku sebagai istri sah calon suaminya membongkar rahasia kelam di hadapan semua tamu, meninggalkan rasa malu mendalam bagi keluarganya. Kini, Nada terjebak dalam dilema batin yang menyakitkan. Di tengah rasa kecewa dan pengkhianatan itu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung benih dari pria tersebut.
Sampul Novel Cinta yang Dipaksakan Berakhir Tragis
9.6
Sejak kecil, Wira dan Raisa tidak pernah akur. Saat dijodohkan, Wira menolak keras sementara Raisa justru menerima tantangan itu. Di hari pernikahan, Wira melepas puluhan ayam untuk mempermalukan pengantinnya, tetapi Raisa dengan tenang menganggap ayam tersebut sebagai suaminya. Sikap dingin Raisa membuat Wira mencibir dan memperingatkan bahwa dia akan menyesal. Tiga tahun berlalu, setelah memergoki Wira berselingkuh untuk ke-99 kalinya, Raisa akhirnya memahami arti penyesalan itu.
Sampul Novel Dikejar Lagi oleh Istri CEOku
8.7
Setelah tiga tahun menjalani biduk rumah tangga, hubungan suami istri ini berakhir di ambang kehancuran. Sang istri yang kini telah mencapai puncak kesuksesan memilih untuk melayangkan gugatan cerai. Dia memandang rendah suaminya, menuduhnya sebagai pria pemalas yang tidak memiliki masa depan dan tidak berguna. Namun, di balik keangkuhannya, wanita itu sama sekali tidak menyadari sebuah kenyataan besar: seluruh pencapaian, kekayaan, dan kesuksesan yang ia banggakan saat ini sebenarnya adalah pemberian rahasia dari suaminya sendiri.
Sampul Novel Kalau Cinta, Pasti Sayang
8.3
Lima tahun pernikahan tanpa cinta membuat sang istri menderita karena diabaikan suaminya. Begitu sang istri meninggal, sang suami justru segera menemui cinta pertamanya. Ketika istrinya menghilang, dia hanya mencemooh dan menganggapnya sebagai taktik mencari perhatian. Demi membuktikan kebohongan tersebut, ia berniat memastikan kabar kematian istrinya secara langsung. Namun, dia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang diabaikannya itu memang telah tiada sejak beberapa hari yang lalu.
Sampul Novel KETIKA CINTA BERTASBIH
9.3
Meski ikhtiar telah maksimal, takdir tetap menjadi penentu akhir sebuah hubungan. Kisah ini menyoroti dilema cinta beda keyakinan antara dua insan yang mustahil bersatu dalam ibadah. Sebagai hamba Allah, ia tak mungkin menjadikan seseorang yang berbeda iman sebagai imamnya. Namun, rasa cinta yang telanjur mengakar kuat membuatnya sulit untuk melepaskan. Akankah perasaan ini berujung di pelaminan, atau ia harus mengikhlaskan perpisahan demi prinsipnya?