Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hello Again, Husband!

Hello Again, Husband!

Natta hancur saat memergoki pengkhianatan Hasbi. Keajaiban jam misterius membawanya kembali ke masa SMA, memberinya peluang untuk membalas dendam. Namun, saat menggali masa lalu suaminya, ia justru menemukan trauma mendalam yang selama ini tersembunyi. Pesona Hasbi muda membuatnya bimbang antara amarah atau jatuh cinta lagi. Natta harus memilih: menuntaskan dendamnya atau merajut kembali kebahagiaan di tengah misteri kesalahpahaman yang mulai terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 2

Natta menarik napasnya dalam-dalam. Ia sudah selesai memakai seragam putih abu-abunya. Ini rasanya aneh dan lucu. Sudah lama Natta tidak membayangkan kalau kini dirinya akan memakai seragam ini lagi. Lantas Natta membenah dasinya dengan benar sebelum akhirnya keluar kamar. Pusat perhatian keluarga pun tertuju padanya. Natta mendudukkan diri di meja makan sambil merasa aneh.

"Kenapa ... ngelihatin Natta?" tanya Natta karena ayah, ibu, kakak, dan adiknya sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan.

"Kok kayak ada yang aneh, ya? Iya nggak sih, Bu? Kayak ada yang aneh, tapi nggak tau apa," ucap Aliando yang menggigit ayamnya tanpa mengalihkan pandangan dari Natta.

"Baru kali ini dia dandan normal. Biasanya kan ada aja yang dipakai di bibir atau dijepitin di rambut dengan alasan tren jaman sekarang," ucap ibu Natta yang seperti tidak kaget lagi dengan ulah Natta yang berubah-ubah.

Natta jadi mengambil piring dengan perasaan aneh. Dulu dia memang sangat memalukan, tapi sekarang secara mental Natta itu sudah dewasa dan punya anak. Jelas sangat memalukan untuk berdandan ala-ala anak muda jaman ini.

"Makan yang banyak biar nggak pingsan," ucap ibu Natta sambil memberikan nasi ke piring Natta. Meski wajahnya tampak cuek, ia masih begitu hangat pada Natta. Senyum di bibir Natta jadi mengembang, ia tatap ibunya penuh.

"Makasih, Bu," ucap Natta.

"Tumben kamu bilang begitu ke ibu. Biasanya bakal marah-marah karena nggak suka makan banyak," ucap ibu Natta yang heran dengan perubahan Natta pagi ini.

Sontak Natta menggeleng. "Natta nggak akan marah, kan Ibu udah masakin capek-capek."

Aliando, ayah, dan ibu Natta jadi semakin heran. Setelah sakit, sepertinya ada banyak hal yang berubah dari pribadi Natta. "Natta, kamu beneran udah sembuh? Kayaknya kamu masih lemes."

"Udah kok. Natta baik-baik aja."

Sesi sarapan pun mereka lewati dengan perubahan Natta yang lebih kalem dan dewasa dari biasanya. Padahal kalau hari-hari normal biasanya, mereka akan selalu ribut karena Natta harus berdebat dengan Aliando atau ibunya. Situasi yang sepi dan tenang ini sempat membuat mereka cemas, tapi mereka juga menikmatinya. Mungkin ini artinya sudah saatnya Natta bersikap dewasa dan berubah menjadi lebih baik.

"Pakai dulu helmnya," ucap Aliando yang berangkat sekolah bareng Natta. Kakak Natta itu memang hanya berbeda dua tahun dengan Natta sehingga saat ini adalah kakak kelas Natta. Natta duduk di bangku kelas 10 dan kakaknya kelas 12.

Setelah Natta memakai helm dan naik motor, ia memeluk kakaknya agar tidak jatuh. "Nanti kalau di sekolah jangan malu-maluin gue," ucap Aliando.

"Iya, tenang aja."

Biasanya kalau dikatai begitu, Natta akan marah dan menganggap Aliando berprasangka bahwa adiknya adalah anak yang nakal atau tukang cari masalah, tapi kali ini Natta hanya mendengarkan dan menanggapi dengan tenang. Aliando jadi benar-benar merasa bahwa Natta berubah.

"Ta, lo nggak abis kepentok pohon atau jatuh dari tangga, kan?" tanya Aliando yang jadi merinding.

Natta tersadar bahwa sikapnya dari pagi tadi sepertinya membuat keluarganya syok karena berbeda dengan saat dirinya masih muda. Maka Natta harus mencari alasan yang tepat agar mereka tidak semakin berpikir aneh. "Kak, gue minta maaf kalau selama ini tingkah gue nakal dan menyebalkan. Gue cuma pengin berubah jadi lebih baik. Makanya gue berusaha menerima nasihat apa pun yang diberikan ke gue. Gue udah capek untuk terus-terusan bertingkah kekanakan. Sekarang gue udah SMA."

Aliando jadi paham mengapa Natta bertingkah aneh sejak pagi. Ternyata itu yang sedang dipikirkan oleh adiknya. "Gue bangga lo punya pemikiran begitu, tapi karena masih muda gue berharap lo lebih menikmati masa muda lo dan mengekspresikan apa pun perasaan lo. Belum waktunya untuk lo menata dan menahan perasaan yang memang pengin keluar."

Natta mempertimbangkan apa yang disampaikan Aliando. Sepertinya dia khawatir kalau Natta terlalu dewasa dan tidak bisa menikmati masa mudanya karena harus selalu dipaksa bersikap bijak. "Gue ngerti," kata Natta.

Sampai di parkiran sekolah, beberapa orang menatap Natta yang berada di atas boncengan Aliando. Selama ini belum pernah ada perempuan yang bisa naik motor Aliando. Natta tidak terkejut lagi karena kakaknya itu tampan dan cukup populer di sekolah. Mungkin karena kakaknya adalah wakil dari ketua OSIS sekolah ini.

"Lo tau di mana kelas lo?" tanya Aliando. Karena Natta tidak mengikuti masa MOS sama sekali, harusnya Natta tidak tau. Jadi akan terkesan aneh kalau dia menjawab Aliando dia tau posisinya.

"Enggak," ucap Natta.

"Ayo gue anter." Aliando menarik tangan Natta agar mulai berjalan. Sepanjang koridor Nata bisa melihat para siswa yang merumpi untuk membahas soal hubungannya dengan Aliando. Pasti mereka berpikir kalau Natta adalah pacar atau gebetan Aliando. "Ini kelas lo."

Natta berhenti di depan kelas yang menunjukkan ruang "10 IPA 1". Maka Natta pun mencium punggung tangan Aliando seperti biasanya dan Aliando mengusap puncak kepala Natta. Hal itu menimbulkan pekikan histeris oleh orang-orang di sekitarnya yang berpikir bahwa mereka sedang melakukan simulasi berumah tangga.

"Belajar yang bener."

"Okey!" Natta menggendong tasnya lagi dan masuk ke kelas. Sampai di dalam sudah ada wali kelas yang menyambutnya. Ia pun diminta untuk memperkenalkan diri karena semua siswa di kelas ini sudah saling mengenal satu sama lain.

"Selamat pagi semuanya!" seru Natta dengan senyuman. Anak-anak di dalam kelas itu kagum dengan Natta yang berani dan percaya diri dalam bicara, sedangkan kebanyakan dari mereka tidak pandai public speaking. Sebenarnya bukan karena Natta berani, tapi mentalnya yang sudah dewasa dan terbiasa melakukan presentasi. "Kenalin aku Nattanil Aghnia Putri. Kalian bisa panggil aku Natta. Salam kenal semuanya."

Tok! Tok!

Baik Natta, wali kelas, maupun seisi kelas menoleh ke arah sumber suara. Itu adalah Hasbi. Astaga, Natta lupa kalau dulu Hasbi itu tidak ikut MOS karena kakeknya meninggal sehingga dia memperkenalkan diri paling terakhir di kelas. Bagaimana Natta bisa lupa, sih? Ia pun otomatis membuang pandangan karena tidak ingin menatap Hasbi lama-lama. Hasbi versi muda itu sangat tampan dan memiliki tatapan memabukkan. Jadi Natta tidak ingin tenggelam di dalamnya.

"Permisi, Bu," ucap Hasbi.

"Baik, silakan kamu memperkenalkan diri juga."

"Hai, gue Hasbi," ucapnya singkat.

Natta susah payah menahan debaran jantungnya karena berdiri di samping laki-laki itu. Ternyata Hasbi versi muda itu sangat tinggi dan memiliki tubuh yang bagus. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Hasbi versi tua, tapi Natta hanya  jarang memperhatikannya.

"Karena hanya tersisa satu bangku, kalian bisa duduk di bagian pojok belakang. Kalau nanti mau tukar tempat duduk, silakan."

Natta otomatis melotot. Dia akan duduk di bangku yang sama dengan Hasbi? Tidak mau! Saat Nata melirik ke arah Indira yang tengah menatapnya, ternyata sahabatnya itu sudah duduk dengan siswi lain. Helaan napas berat pun keluar hingga Hasbi meliriknya.

Hasbi pun berjalan ke bangku itu lebih dulu yang disusul Natta kemudian. Mereka duduk dengan perasaan canggung. Tidak, bukan mereka. Hanya Natta yang canggung karena Hasbi merasa baik-baik saja. Ia mengambil buku dan meletakkannya di meja lalu mencatat beberapa hal penting yang disampaikan guru. Hasbi adalah karakter ambisius yang betul-betul niat sekolah, berbeda dengan Natta yang semasa SMA cukup malas.

Itu sebabnya dia dulu langsung cocok dengan Hasbi karena saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Hasbi yang cenderung pendiam dan Natta yang cerewet. Perpaduan yang menarik.

Di tengah penjelasan guru, Natta menguap. Bukan tanpa sebab, semalam dia memang susah tidur karena cemas harus melewati hari pertama masa SMA. Tanpa sadar, Natta jadi meletakkan kepalanya di meja dan mulai memejamkan mata. Hasbi yang tak sengaja meliriknya bisa melihat jelas Natta yang tertidur. Perempuan ini lebih tenang dari yang Hasbi kira, tapi sepertinya dia tidak nyaman duduk bersama Hasbi. Entah karena apa padahal Hasbi tidak melakukan sesuatu yang aneh.

Kemudian Hasbi melihat kening Natta yang berkerut beberapa kali. Mungkin karena paparan sinar matahari dari jendela kelas yang ada di sebelah Hasbi. Kalau mau menutup tirainya, itu akan membuat para siswa tidak nyaman. Lantas Hasbi mengambil buku kosongnya yang lain dan ia tegakkan di antara dirinya dengan Natta agar wajah Natta tidak terkena sinar itu.

Setelah bel istirahat berbunyi, Natta terbangun dan baru sadar sudah tidur sepanjang penjelasan guru. Panik karena dulu ada tugas di pertemuan pertama, Natta segera mengedarkan pandangannya. Ternyata semua teman kelas Natta sudah ke kantin. Kala melirik ke arah Hasbi, pria itu masih ada di sana sambil mencatat sesuatu. Buku yang ditegakkan di antara dirinya dan Hasbi membuat Natta berdecih. Pelit sekali dia sampai takut Natta mencontek. Dengan kesal, Natta pun pergi keluar kelas lebih dulu, sedangkan Hasbi mengembalikan buku yang ia tegakkan tadi ke dalam tasnya.

Saat keluar kelas, tempat yang Natta tuju adalah kantin. Dia mendekat ke kerumunan yang merupakan teman kelasnya. "Permisi, halo teman-teman! Gue boleh gabung, nggak?"

"Oh, hai! Lo Natta, kan? Yang tadi perkenalan terakhir sama Hasbi?"

"Iya, gue Natta. Salam kenal, ya." Natta pun berkenalan lagi dengan beberapa siswi yang ada di sana. Salah satunya adalah Indira.

"Eh, Natta duduk sama Hasbi, ya? Gimana Nat menurut lo? Dia anaknya asik, nggak?" tanya Indira sambil terkekeh.

"Eh, iya! Semuanya kan pada duduk sama cewek, Natta doang yang duduk sama cowok. Spill dong! Hasbi kan ganteng gitu!"

Natta tidak menduga bahwa mereka akan tertarik pada Hasbi. Dulu Hasbi itu tidak begitu dikenal dan cenderung menjadi anak yang tidak pernah diperhatikan di kelas. Sebenarnya ada yang berubah atau Natta saja yang tidak pernah memperhatikan? Soalnya dulu Natta lebih banyak bergaul dengan kakak kelas.

"Emm, hehe ... kayaknya sih baik, tapi kita nggak ngobrol sama sekali."

"Hah, kenapa?"

"Tadi gue ketiduran, hehe ...."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Eden
8.9
Megan terjebak dalam misi mengungkap misteri kematian kakaknya, Helena, sepuluh tahun silam. Berbekal sebuah buku catatan, ia menuju Jazmore namun justru terlempar ke masa lalu, tepatnya tahun 1945. Di tengah hutan belantara, Megan bertemu Alpha Eden, penguasa werewolf yang kuat. Kini, ia harus menghadapi sihir dan kutukan sembari menerima takdir sebagai pasangan sang Alpha. Berhasilkah Megan membongkar rahasia Helena dan kembali ke tahun 2010 dengan selamat?
Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Arlan memenuhi setiap sudut apartemennya dengan foto seorang wanita demi menjaga ingatan agar tidak pudar barang sejenak pun. Tindakan ini bukan sekadar obsesi, melainkan bentuk ketakutan mendalam akan kehilangan memori tentang sosok tersebut. Sementara itu, Vellice hadir sebagai manusia dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai antagonis. Kisah ini mengikuti ikatan unik mereka di tengah benturan dunia modern dan fantasi.
Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Secara misterius, Halimah mendadak memiliki kemampuan supranatural untuk melihat dimensi asing yang mengerikan beserta para calon tumbal yang terancam nyawanya. Fenomena ghaib ini mengubah hidupnya menjadi penuh teror dan tanda tanya besar. Kini, dia terjebak dalam dilema gelap: haruskah ia ikut mencari tumbal tersebut demi keselamatan dirinya sendiri? Ikuti perjuangan Halimah dalam mengungkap rahasia kutukan ini dan mencari cara untuk menyelamatkan jiwanya.
Sampul Novel Different Body
8.0
Apa jadinya jika saat terjaga kamu mendapati dirimu terjebak dalam raga dengan gender yang sama sekali berbeda? Nasib malang inilah yang menimpa Aurora Nadine Rachellina secara tiba-tiba. Dia terbangun dan menyadari bahwa jiwanya kini menghuni tubuh seorang laki-laki. Perubahan drastis tersebut bukan sekadar anomali fisik, melainkan awal dari serangkaian masalah yang jauh lebih besar dan rumit yang harus segera ia hadapi dalam hidup barunya.
Sampul Novel Dikhianati oleh Alpha-ku, Bangkit sebagai Luna
9.7
Bertahun-tahun mencintai sang Alpha, aku justru dikhianati saat ia memilih wanita lain demi kekuasaan. Ia menggunakan darahku untuk ritual ikatan politik dan menolakku secara brutal di depan kawanan. Setelah difitnah dan disiksa, aku menolak tawaran menjadi simpanannya lalu melarikan diri. Aku bangkit menjadi Luna bagi Alpha sejati, namun obsesi sang mantan belum berakhir. Ia menjebakku kembali dan berbisik dingin bahwa sudah waktunya aku pulang bersamanya.
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Jiu Cien nekat menikahi bibi gurunya meski ditentang keras oleh dunia. Namun, kebahagiaan mereka hancur saat sang istri yang tengah hamil dibantai oleh orang-orang iri. Terpukul oleh tragedi itu, Jiu Cien harus bangkit untuk membalas dendam pada para penghancur hidupnya. Ikuti perjuangan hebat Jiu Cien dalam menapaki jalan kependekaran hingga ia berhasil mencapai puncak tertinggi dan diakui sebagai sosok nomor satu dengan julukan Pendekar Dataran Tengah.