
Hello Again, Husband!
Bab 3
Natta menghela napas berat. Baru sehari kembali ke masa lalu, rasanya sudah semelelahkan ini. Lantas dia membuka pintu rumahnya dengan santai karena tidak dikunci dari dalam. Saat masuk ke rumah, ia mendengar bunyi yang aneh. Selain decitan kayu, dia juga mendengar seseorang menahan desahannya seperti akan menangis.
"Hah? Bunyi apaan, dah? Emang ada setan di sini?" gumam Natta sembari mengedarkan pandang.
"Ah! Ah!"
Pupil Natta melebar saat dia menyadari sumber suara ini dari kamar orang tuanya yang terbuka sedikit. Di sana dia melihat ayah dan bundanya yang sedang melakukan hubungan intim.
"Oh, my eyes!" gumam Natta yang merasa dia tak seharusnya melihat kejadian itu, tapi dia merasa dejavu. Dia pernah melakukan itu dengan Hasbi.
"Semoga nggak jadi adek," gumam Natta, kemudian melanjutkan langkahnya.
***
Natta dan teman-temannya baru datang dari kantin. Ia melihat Hasbi yang sedang berbincang dengan siswa lain di bangkunya, sehingga kursi Natta sedang dipakai oleh siswa lain.
"Eh, Nat, lo di sini aja dulu. Nanti kalau bel masuk baru balik ke bangku lo," kata Indira yang jadi membentuk meja antar siswi yang tadi ke kantin bersama.
"Boleh, mau ngegosip dulu, ya?" Mereka semua pun tertawa bersama. Ini adalah momen yang cukup ia rindukan.
Di tengah obrolan mereka, Natta tak sengaja melirik ke arah Hasbi yang sedang menatapnya. Sontak Natta membuang pandangannya ke arah lain dan ikut berbincang lagi. Sepertinya dalam waktu dekat, Natta harus segera menemukan seseorang untuk menjadi kekasihnya. Jangan sampai dia terjebak bersama Hasbi lagi.
Harusnya begitu, tapi jujur saja perasaan Natta masih sering kalang-kabut kalau harus menerima tatapan Hasbi seperti itu. Dia terus teringat akan malam panjang Hasbi sebagai suaminya. Sekarang ketika di pertemukan versi muda yang pasti tidak tau apa-apa, Natta seperti ingin menerkam Hasbi. Padahal bocah itu pasti masih polos dan tidak berpikiran ke mana-mana. Natta jadi malu dengan dirinya sendiri.
"Eh, denger-denger bentar lagi perekrutan pengurus OSIS. Kalian tertarik join nggak, sih?" tanya Syifa di tengah obrolan mereka.
Indira melirik ke arah Natta. "Lo tertarik, Ta?"
Natta baru tersadar oleh ucapan mereka barusan, kemudian mengangguk-angguk saja seolah mendengarkan dari tadi. Dulu dia tidak berani mendaftarkan diri ke OSIS karena tidak percaya diri bahwa dirinya pantas ikut organisasi, tapi sekarang kan berbeda. Natta memiliki kesempatan untuk mengubah pengalamannya. Bisa saja dia juga menemukan jodoh di sana. Selama tiga tahun berada dalam kelas yang sama dengan Hasbi hanya akan membuat Natta kesal sendiri. Jadi lebih baik untuknya mencari kesibukan.
"Iya, gue tertarik. Kalian?"
Beberapa di antara mereka tidak berani, tapi khususnya Natta, Indira, Syifa, Tania, dan Yolanda sangat tertarik untuk mendaftar. Mereka pun sepakat untuk mendaftar dan mengisi formulir itu bersama.
"Bagus, hore!"
"Apa sih yang lagi diomongin cewe-cewe?" tanya Doni yang duduk di kursi Natta. Sebelumnya mereka memang fokus membicarakan tentang ekstrakurikuler sepak bola atau basket yang menarik, tapi bising yang timbul dari anak-anak perempuan membuat mereka penasaran.
"Yang gue denger sih lagi bahas soal OSIS," jawab Sidan.
"OSIS?" gumam Hasbi.
Sontak Doni menoleh pada Hasbi. "Lo tertarik, Bi?"
Hasbi mengedikkan bahunya. "Entah."
Ketika mata pelajaran olahraga tiba, guru olahraga tidak memberikan begitu banyak arahan. Beliau hanya meminta para siswa untuk melakukan pemanasan dan mengambil beberapa alat seperti bola, raket, kok, hingga matras. Katanya hari ini adalah olahraga bebas, di mana muridnya bebas mau mencoba olahraga yang mana.
Setelah pemanasan, Natta merasa lelah untuk berebut bola basket. Lebih baik dia menunggu salah satu alat menganggur, sehingga dia menepi di dekat pohon beringin dan bersandar di sana. Pandangannya fokus memperhatikan teman-temannya yang sedang berbincang dan tertawa karena salah dalam mencoba permainan.
"Nggak ikut ke sana?" celetuk seseorang yang berdiri di sebelah Natta.
Sontak Natta mendongak. Didapatinya seorang pria tampan dengan senyum manis tengah menatapnya. Dia siapa, ya? Natta tidak ingat kalau pernah mengenalnya dulu.
"Maaf?"
Dia pun berjongkok agar lebih mudah berbincang dengan Natta. "Kenapa di sini sendirian dan nggak ikut main sama yang lain? Lo dibulli?"
"Hah? Enggak. Emang lagi males olahraga aja," jawab Natta langsung karena tidak ingin dipandang buruk.
Pria itu terkekeh. "Gue Ares," ucapnya kemudian meneguk habis botol air mineral dingin itu.
Seperti terhipnotis, Natta tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ares sedikit pun. Pria ini sungguh memiliki sesuatu. Auranya membuat seseorang betah berlama-lama dengannya. "Kalau lo?" tanyanya.
Natta yang baru sadar langsung tersentak. Hal itu membuatnya otomatis cegukan selama beberapa kali. Ares jadi terkekeh dibuatnya. "Natta," jawab Natta.
Ares mengangguk paham. Lantas Natta melirik ke arah badge di lengan kiri Ares. Ternyata dia adalah siswa kelas 12 yang berarti seumuran dengan Aliando, kakaknya Natta.
"Kalau gitu, gue pergi dulu ya, Natta." Ares menepuk beberapa kali puncak kepala Natta sebelum akhirnya pergi. Sontak Natta menyentuh kepalanya. Ternyata rasanya nyaman sekali diperlakukan begini. Apa mungkin karena dia sudah lama berhubungan dengan orang yang super cuek seperti Hasbi?
Dari kejauhan, Hasbi memperhatikan interaksi Natta dengan Ares. Ia pun berkata pada teman-temannya untuk keluar dari permainan. Mereka memperbolehkan, Hasbi pun berjalan mendekati Natta. Saat sampai di depannya, Natta menoleh. Sekarang siapa lagi yang mau mengajaknya bicara?
Natta membulatkan matanya. Cukup mengejutkan karena akhirnya Hasbi mencoba berinteraksi dengannya. "Apa?" tanya Natta karena dari tadi Hasbi diam saja.
Kemudian Hasbi mengulurkan sebuah raket ke depan Natta. "Tadi disuruh olahraga sama Pak Anton, bukan duduk di pinggir," ucap Hasbi tanpa ekspresi.
Wah, benar-benar laki-laki yang menyebalkan. Tidak kenal pun dia berani menyuruh-nyuruh. Awas saja, jangan sampai Natta jatuh cinta atau kembali memiliki hubungan dengannya. Lantas Natta pun menarik kasar raket yang diberikan Hasbi itu dan beranjak dari tempatnya berada. Namun, Hasbi sempat bicara sebelum langkah Natta semakin jauh.
"Lo mau daftar OSIS?" tanya Hasbi.
Natta menautkan kedua alisnya. Selama duduk satu bangku, Hasbi belum pernah benar-benar bertanya atau penasaran tentangnya, tapi kenapa tiba-tiba? Apa ada yang salah dengan kepala pria ini?
"Bukan urusan lo," jawab Natta dengan ketus lalu berjalan lebih dulu. Baik, anggap saja Natta terlalu emosional. Karena dia memang kesal setiap melihat wajah Hasbi. Mengingat pria itu telah mencium bibir wanita lain di depannya.
"Sial, jadi keinget lagi, kan!" gumam Natta.
Sampai di dekat teman-temannya, Natta mulai bermain dengan yang lain. Tanpa mempedulikan Hasbi yang terus menatapnya.
***
"Sebangku sama Hasbi enak nggak sih, Ta? Udah sebulan sejak MOS, kalian berdua anteng-anteng aja. Kalau gue sih pasti udah macarin dia," ucap Syifa tanpa beban.
"Iya, si Hasbi ganteng gitu. Kayaknya dia bakal jadi rank 1, kan? Kemarin ulangan aja dapet nilai sempurna terus," kata Yolanda sambil memperhatikan model kuteknya baik-baik.
"Jelek, Nda. Pakai warna ini aja," ucap Indira yang memberikan kutek miliknya karena warna kulit Yolanda tidak cocok dengan warna kutek itu.
"Okey, makasih."
"Eh, tapi jangan salah! Si Natta kan juga nilainya sempurna terus. Enak banget kalian sebangku! Kalian ada saling nyontek gitu nggak, sih?" tanya Tania yang membuat Syifa ikut menyimak dengan saksama.
Natta sendiri hanya bisa terkekeh. Bagaimana tidak mendapat nilai sempurna jika sudah pernah melalui itu semua? Bagi Natta, pelajaran SMA sangat lah mudah karena dirinya sudah mengetahui seluruh kunci jawabannya. "Kita nggak pernah ngobrol," ucap Natta yang menjelaskan mengenai interaksinya dengan Hasbi.
"Hah? Kenapa?" tanya Syifa.
"Tapi iya, sih, bisa kayak gitu. Hasbi orangnya agak pendiem, kan?" ucap Indira yang jadi ikut melirik Hasbi yang sedang memainkan ponselnya.
"Bukan agak lagi, tapi emang pendiem."
"Tapi kalian lupa, ya? Sekarang kan Natta lagi deket sama Kak Ares! Bisa-bisanya kalian mau jodohin dia sama Hasbi," ucap Yolanda yang membuat mereka semua teringat.
"Ooooh, iya! Anjir, sori-sori, Ta! Kita mah lupa wkwk!"
Natta tidak tau sejak kapan. Mungkin sejak perkenalan di lapangan waktu itu. Teman-temannya jadi berpikir kalau Natta punya hubungan dengan Ares yang baru dia kenal. Kalau diingat-ingat, Ares merupakan bagian dari pengurus OSIS dan juga anak paskibra, tapi dia tidak dekat dengan Aliando. Jadi Natta pun tidak kenal dia siapa.
"Enggak, njir. Jangan ngegosip lah. Gue sama Kak Ares nggak ada apa-apa," ucap Natta yang diselimuti tawa, tapi sebenarnya dia juga berharap ada sesuatu di antara dirinya dengan Ares.
"Ini buat lo, Bi." Ucapan seorang perempuan dari kelas lain membuat perhatian satu kelas tertuju pada mereka. Natta dan teman-temannya jadi ikut menoleh dan melihat ke arah Hasbi yang memperhatikan duduk di bangkunya tengah memperhatikan perempuan berani itu.
"Wiiih, Hasbi lagi ditembak?" ucap Yolanda, merasa takjub dengan perempuan itu, sedangkan Natta hanya diam di tempatnya. Dia yakin seratus persen kalau cinta perempuan itu akan ditolak. Hasbi punya harga diri tinggi, jadi dia tidak suka diperlakukan istimewa oleh perempuan duluan. Punya hubungan 15 tahunan sudah sangat cukup membuat Natta kenal bagaimana karakter Hasbi.
Satu-satunya hal yang membuat Natta membulatkan mata adalah ketika Hasbi menerima garpu itu dan hendak memakan camilan yang diberikan sang perempuan. Tanpa sadar Natta beranjak dari tempatnya dan langsung mengambil alih garpu Hasbi. "Ini dibuat dari apa? Coklat?!"
"I--iya, kenapa?" Perempuan itu jadi panik karena Natta tiba-tiba menengahi mereka.
"Eh Natta ngapain?" Teman-temannya jadi bingung karena selama ini Natta tidak peduli atau dekat dengan Hasbi.
"Lo bodoh, ya?" seru Natta pada Hasbi. "Ini coklat! Lo alergi coklat! Lo mau masuk rumah sakit karena sesak napas lagi?"
Semua orang baru tau akan hal itu, khususnya Hasbi sendiri. "Gue alergi coklat? Gue pernah masuk rumah sakit?" Hasbi pun bingung dengan penjelasan Natta karena dia tidak merasa bahwa dirinya punya alergi sampai masuk rumah sakit. Walau selama ini memang tidak pernah dirinya mencoba memakan coklat.
"Ta, lo cemburu? Hasbi aja nggak tau kalau dia punya alergi," ucap Doni. Tatapan dari seluruh teman sekelasnya seolah memberikan tekanan pada Natta untuk menjelaskan apa yang dimaksud perempuan itu barusan. Natta jadi bingung karena dia tanpa sadar dan sangat reflek untuk menghentikan Hasbi. Ini namanya kebiasaan dan Natta sudah sangat terbiasa berperan sebagai istri sekaligus pasangan Hasbi.
"Gu--gue ...." Natta tidak tau harus menjawab. Satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk aman adalah memberikan garpu itu lagi kepada Hasbi. "Kalau lo nggak percaya, lo bisa coba sendiri."
Natta tidak peduli lagi kalau Hasbi masuk rumah sakit. Yang penting dia bisa keluar dari situasi menegangkan ini.
"Coba, Bi. Kita buktiin Natta bener atau cuma cemburu aja!" seru Sidan yang membuat teman-teman sekelas mereka ikut terprovokasi.
Hasbi menatap Natta dengan ekspresi yang tidak bisa Natta simpulkan, lalu menerima garpu itu. Dia memakan coklat pemberian perempuan tadi. Awalnya semuanya baik-baik saja dan mereka hampir menyimpulkan bahwa Natta punya perasaan untuk Hasbi, tapi tak lama kemudian pandangan Hasbi berubah gelap tanpa bisa melihat atau mendengar sekelilingnya lagi.
"HASBI!"
Anda Mungkin Juga Suka





