
Head Over Heels
Bab 2
Suara ayam jantan yang berkokok membangunkan Raina dari tidurnya. Sejenak cewek itu terduduk di pinggir kasur dengan rambut panjang yang berantakan dan muka bantal khas orang bangun tidur. Perlu beberapa saat untuk Raina mengamati setiap sudut ruangan itu. Benar-benar berbeda dengan kamarnya. Mulai dari desain interior, warna cat tembok, poster-poster yang terpajang di dinding, motif selimut tebalnya, meja rias, lampu, lantai, dan bahkan sampai karpet-karpetnya sekalipun. Kamar ini didominasi oleh warna krem pastel yang eyecatching dan terlihat lebih luas pula.
"Astaga! Gue lupa! Ini kan di rumahnya si bangke curut itu!"
Plak!
Raina menepuk jidatnya sendiri kemudian mengusap wajahnya gusar dan memukul guling dalam pangkuannya. Rasanya, ia tidak rela jika harus meninggalkan rumah penuh kenangan itu dan memilih untuk tinggal disini. Namun, apa boleh buat, Raina tidak mungkin terus-terusan merengek meminta pulang dan melawan kehendak ibundanya yang selalu memaksa itu kalau pada akhirnya ia tidak akan pernah menang.
Raina menghela napas. "Huh! Sialan! Kalo nggak karena terpaksa, gue juga ogah kali tinggal disini. Nggak kebayang gimana jadinya hidup gue kalo tiap hari gue ngeliat makhluk terkutuk itu. Hhhh ... empet banget! Mana gue sama dia udah resmi jadi sodara lagi. Heran gue kenapa dunia sempit banget ya? Kenapa mesti Miko curut laknat itu coba?! Hih! Eneg banget!"
Secangkir cokelat panas sempat melintas di benak Raina. Cewek itu segera meluncur ke toilet yang ada di dalam ruangan itu untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Kurang lebih 15 menit, Raina lalu berjalan keluar. Dan tepat ketika ia membuka pintu disaat yang bersamaan pintu kamar sebelah juga dibuka oleh seseorang dari dalam.
Kreeekkk~
Kontan, Miko menyembulkan kepala ke arah Raina yang juga melakukan hal yang sama, menolehkan kepalanya ke arahnya. Sepersekian detik keduanya saling melempar tatapan yang sulit diartikan. Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Raina bahkan tidak menyadari kalau kamar mereka bersebelahan. Gadis itu mengerjap. Ia segera memutuskan kontak mata diantaranya dan Miko lalu mendengus. Rasanya muak sekali pagi-pagi sudah melihat wajah songong itu. Raina hanya memutar bola mata dan menarik gagang pintu sampai menutup.
"Hhh ... Si monyet! Jadi nyesel buka pintu kalo tau bakalan kayak gini. Bikin ilang mood aja." Miko bergumam seraya menyender pada kusen pintu dengan tangan terlipat di dada.
Raina berdecak seiring dengan satu tangannya yang bertolak pinggang sementara sebelahnya lagi langsung memukul dinding keras-keras.
Dug!
"Heh! Lo pikir gue sengaja gitu buka pintu bareng sama elo?! Lo pikir mood gue juga nggak ilang pagi-pagi udah liat muka songong lo itu? Hih! Asal lo tau ya, setiap kali gua ngeliat lo tuh, bawaannya gue pengen maraaah teruuuus tau nggak?! Heran gue, lo mau bikin gue cepet tua ya?!"
Sudut bibir Miko terangkat. Ia terkekeh geli. Dan, Raina risih melihat itu.
"Ngapain lo ketawa-ketawa?! Aneh! Jauh-jauh sana mendingan. Kayaknya lo mesti ke periksa kejiwaan lo deh."
Miko tampak mendelik melihat Raina mengibaskan tangannya seolah mengusir. Mungkin ia tidak terima dengan perkataannya barusan. Namun, gadis itu tidak memperdulikan dan malah dengan acuh tak acuh ia langsung melengang pergi menuruni tangga.
"Heh! Harusnya yang jauh-jauh tuh elo tau nggak?! Karena ini rumah gue dan lo cuma numpang, monyet!!"
Persetan. Perkataan Miko yang bisa dikatakan terlalu menusuk itu hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Lapang dada saja, tidak menoleh sedikit pun dan tetap melangkah menuju dapur di rumah itu.
"Bi, bikinin aku cokelat panas dong."
"Eh, Non Raina sudah bangun? Sebentar ya, Non, Bibi bikinin dulu."
"Iya, Bi!"
Terdapat sebuah minibar di sisi dapur, Raina duduk di salah satu kursi berkaki panjang itu. Perintahnya langsung dilaksanakan oleh wanita paruh baya dengan apron melekat di tubuh yang tergopoh-gopoh itu, sejenak meninggalkan aktivitas memasaknya. Mengeluarkan sebuah cangkir dari sebuah kabinet untuk menyeduh 1 sachet coklat bubuk chocolatos dengan air panas lalu diaduknya sebentar dengan sendok. Raina memijat kepalanya dengan sebelah tangan.
"Ini, Non, cokelat panasnya."
"Makasih, Bi."
Raina tersenyum kecil seraya mendekatkan cangkir tersebut kearahnya. Wanita itu hanya mengangguk dan kembali menyibukkan diri dengan kompornya. Sementara Raina mulai menyesap sedikit demi sedikit cokelat panas itu. Membuat rasa hangat terasa di perutnya. Satu hal yang ia sukai dari dulu adalah ketika menghirup aroma uap itu. Raina selalu melakukannya.
"Pagi, Raina."
Tak lama kemudian suara berat terdengar dari belakang, seiring dengan langkah yang mendekat. Seketika, Raina menolehkan kepala ke sumber suara. Ia langsung mencium tangan orang itu dengan menempelkannya di dahi. Ya. Raina tahu bagaimana memberikan kesan yang baik dengan orang lain, yaitu dengan menjadi anak yang sopan. Ini pula salah satu daya tarik yang dimilikinya.
"Selamat pagi, om!"
Kening pria itu berkerut. Ia baru saja ingin mengingatkan tetapi Raina sudah menyahut terlebih dahulu. "Eh! Maksud aku, pagi ... Pah! Hihi maaf om-eh papa maksud aku, belum terbiasa."
Dharma hanya menggeleng kecil. "Kamu kok sendirian aja, Miko mana? Apa anak itu belum bangun jam segini?"
"Oh, udah kok, Pah. Aku liat tadi udah keluar kamar."
"Mana? Kok nggak turun?"
"Mungkin masih di atas."
Pria itu mengangguk. Sejenak pandangannya tertuju pada secangkir cokelat panas yang baru saja diminum Raina. Ia langsung mendaratkan pantat di kursi panjang lain.
"Wah, nikmat sekali. Apa kamu suka cokelat panas?"
Bibir Raina membentuk cengiran kecil seiring dengan tanganya yang terlipat diatas meja. "Suka, pah!"
"Berarti kamu mirip sama Miko. Karena sampe sekarang dia kalau bangun tidur biasanya suka nyeduh cokelat panas dulu dan duduk disini juga, kursi yang sedang kamu duduki ini." Dharma tersenyum kecil melirik kursi yang diduduki Raina. Sementara gadis itu mengerjap tidak percaya.
"Kursi ini? Maksudnya, udah dilabel gitu punyanya si curu-eh maksud aku... Miko?" tanya Raina hati-hati. Sedikit merasa tidak enak juga, ia lalu bersiap ingin turun namun Dharma menahannya.
"Hahahaa ... Nggak papa, Raina. Sering dipakai bukan berarti diklaim 'kan? Siapa saja boleh, kok duduk disitu. Termasuk kamu. Karena kamu 'kan sudah menjadi bagian dalam keluarga ini, juga saudara sama Miko."
Sekali lagi, Raina menampakkan deretan gigi rapihnya, agak canggung. Mungkin besok-besok ia tidak akan duduk di kursi itu lagi.
••••••••••••••••••••
Istirahat makan siang di SMA Persada, keramaian selalu mewakili suasana di setiap lorong koridor yang Miko lewati dengan sebuah buku tebal di tangan. Ya! Tipikal cowok pendiam yang suka berkutat dengan buku. Kalian boleh menyebut dia kutu buku, karena itu memang realita. Tak jarang pula cewek-cewek tukang gossip yang melihatnya lewat langsung terkagum dan dalam sesaat Miko bisa menjadi bahan gossip hangat untuk diperbincangkan oleh mereka. Memang, Miko terlihat cool dengan gayanya yang cuek dengan sekitar itu. Berbeda dengan kebanyakan cowok yang biasanya akan bergerombol atau membuat geng lalu yang paling tajir akan menjadi bosnya, Miko lebih suka berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Setidaknya, itu salah satu prinsip yang dipegang oleh seorang Krisnanda Jatmiko.
Fokusnya menjadi terbagi antara membaca buku dengan langkah kaki yang entah hendak kemana. Sehingga tepat di undakan paling bawah yang berada di koridor luar yang memanjang itu, tidak sengaja Miko menabrak seseorang dari arah yang berlawanan dengannya sampai jatuh tersungkur ke belakang.
Bruukkksss~
Kontan, Miko mengangkat kepala dari buku non-fiksi-nya. Seketika pandangannya jatuh pada seorang cewek yang tengah terduduk di lantai sambil mengaduh kesakitan den mengusap-usap pantatnya. Semakin sipit saja mata Miko ketika pemuda itu memperhatikan seksama Raina tanpa berniat membantunya berdiri.
"Makanya kalo jalan tuh matanya dipake, Nyet. Nabrak-nabrak sembarangan aja, untung bukan tiang yang lo tabrak."
What the ... hell??
Raina memberengut kesal. Jelas-jelas ini salah Miko, cowok itu yang sudah menabraknya sampai-sampai pantatnya mencium lantai dan ia menjadi bahan lelucon para murid yang berada di sekeliling tempat itu. Kenapa Miko bisa-bisanya memutar-balikkan fakta kalau Raina yang salah? Ah, sepertinya sebentar lagi perang akan dimulai kawan.
"Sialan!"
Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian, cewek itu segera bangkit dari posisinya dan menepuk-nepuk roknya bagian belakang. "Lo apaan sih, segala nyalahin gua lagi! Jalan itu pake kaki, bego! Bukan pake mata! Apalagi sambil baca buku kayak gitu! Lo sengaja ya nabrak gue?!"
Sebelah alis Miko terangkat. Memandang Raina seolah meremehkan. Bahkan, emosinya terlihat lebih stabil dari cewek itu pasalnya Miko hanya berbicara santai. Berbeda dengan Raina yang sudah naik beberapa oktav saja nada suaranya. "Dih! Pede banget? Ngapain juga gue nabrak-nabrak elo? Nggak ada untungnya!"
Raina mendecih. Berkacak pinggang memandang Miko sinis, cowok ini terlalu bertele-tele. "Dasar cowok muna!" desisnya.
"Apa lo bilang?!" Miko maju satu langkah sembari mengangkat dagu tinggi-tinggi sehingga memperlihatkan jelas bagaimana rahang kokohnya yang keras.
Raina hanya mendengus malas melihat itu. "Lo? Co.wok mu.na!"
Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah hidup Miko, ada seorang cewek yang benar-benar berani kepadanya. Bahkan, sampai menunjuk-nunjuk disertai tekanan di pundak, seperti yang dilakukan Raina sekarang ini. Miko hanya menggertakkan gigi dalam mulutnya yang terkatup rapat, seiring dengan sebelah tangannya yang mulai mengepal.
"Lo ...?!"
Miko menggenggam erat telunjuk Raina dengan tangannya yang tidak memegang buku, sampai cewek itu meringis kesakitan. "Lo berani sama gue, hah?! Kalo lo cowok, udah gue tonjok pipi mulus lo itu."
"Kenapa? Asal lo tau ya, gue nggak pernah takut sama cowok kayak lo! Ayo, tonjok gua, kalo emang itu yang lo mau."
Menengadahkan wajahnya, Raina membalas tatapan tajam Miko sembari mencoba melepaskan tanggannya dari cekalan cowok itu. Ia yakin, telunjuknya kini pasti sudah memerah.
Dengan kasar, Miko menghempaskan tangan mungil Raina. Bersamaan dengan itu, seseorang datang menghampiri mereka dan menepuk pundak gadis itu dari belakang.
"Raina! Lo ngapain?"
Sejurus kemudian, Miko dan Raina menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda yang tak kalah tampan dengan Miko berdiri di belakang Raina, dengan headphone tergantung di leher dan mulut yang bergoyang karena mengunyah permen karet. Rambutnya yang diolesi gel terlihat hitam mengkilap.
Dia, Johan Marvino. Seseorang yang memiliki hubungan tidak baik atau bisa dikatakan tak pernah akrab dengan Miko sejak masuk sekolah itu. Raina sendiri tidak tahu menahu dan tidak mau tahu pula. Baginya, Miko adalah satu spesies yang tidak penting. Namun, tak jarang Johan dapat kita temukan tengah bersama dengan Raina.
"Lebih baik, kita pergi dari sini aja, Johan!" komando Raina, sembari melirik Miko melewati ekor mata.
"Yaudah, yuk."
••••••••••••••••••••
"Lo sebenernya kenapa, sih sama Miko? Perasaan, kalian nggak pernah akur, deh."
Pertanyaan Johan yang entah sudah ke berapa kalinya. Raina sendiri bosan mendengar itu. Ia tidak suka masalah pribadinya diketahui ataupun diusik oleh orang lain. Ya! Johan adalah hal baru bagi Raina karena belum lama ini ia merasa dekat dengan pemuda itu dan Raina masih menganggapnya sebagai orang lain. Namun dengan senang hati, Raina tentu mau-mau saja berteman dengan Johan, karena tanpa sepengetahuan cowok Chinese itu, Raina sudah sejak kelas 10 memendam perasaan sukanya dan baru di kelas 11 ini hasratnya terwujudkan.
"Gue emang nggak pernah akur sama Miko, Jo." balas Raina malas, sembari mendudukkan pantatnya di kursi panjang yang berada di salah satu bangku kantin dengan sebuah botol yang tadi diambilnya di counter minuman. Diikuti Johan yang duduk di hadapannya.
"Kenapa kalian bisa nggak akur?" tanya Johan penasaran. "Hmm ... Sejak kapan juga kalian jadi kayak musuhan gitu?"
Raina mengusap bagian belakang tengkuknya, canggung. Ia menghela napas. "Sorry ya sebelumnya, Jo, tapi lo kenapa jadi ngorek-ngorek kehidupan gue gini, sih? Emang penting ya buat lo tau?"
Johan mengerjapkan matanya, merasa heran. Tak lama, ia kemudian terkekeh geli. "Gue juga nggak tau ya, Rai. Tapi, kalo gue penasaran dan pengen deket sama elo, emang nggak boleh?"
"Ha?"
Penasaran? Deket? Ulang Raina dalam hati. Apa ia tidak salah dengar? Seseorang yang Raina sukai ternyata penasaran sama dia? Apa ini sebuah kemajuan? Sungguh, baru kali ini Raina merasakan kalau dirinya diinginkan oleh seorang cowok.
"Kenapa? Ada yang marah, ya? Lo udah punya pacar?" tanya Johan hati-hati.
Raina menahan napas. Kedua tangannya bergerak melambai bergerak ke kanan dan ke kiri cepat. "Nggak, nggak, nggak! Bukannya gitu, tapi gue ... gue nggak ada pacar, kok. Lagian, gue kan jelek gini, petakilan juga Miko bilang. Jadi, siapa juga yang bakalan suka sama gue? Palingan nggak ada."
"Siapa bilang lo jelek?" Johan membuat duduk Raina semakin tidak nyaman, menjadi agak gusar. Entah, tapi yang pasti perut gadis itu terasa mulas sekarang.
"Menurut gue, sih, cuma orang buta aja yang bakal bilang kalo lo itu jelek. Jelas-jelas lo cantik, kok. Manis lagi."
Kontan, pipi Raina bersemu mendengar pujian itu. Johan terlalu to the point memujinya. Apakah ini pertanda kalau pemuda itu juga menyukainya? Ataukah, ini hanya harapan Raina saja?
"Ah, lo bisa aja, Jo." gumam Raina sedikit grogi. Pasalnya, jantungnya tengah berdegup kencang sekarang. Sementara cowok di hadapannya itu hanya senyum-senyum sendiri, yang malah membuat Raina semakin salah tingkah. Namun, cewek itu segera menetralisir dengan meneguk sedikit my tea-nya.
Sejenak, Johan berdehem. "Eh, Rai. Lo ntar malem ada acara nggak?"
"Kenapa emang?" Raina mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Dalam hati, ia sudah bersorak namun juga mencoba untuk tidak ke-pe-de-an kalau Johan-
"Gue mau ajak lo jalan."
Tuh kan!
"Jalan? Lo ngajak gue jalan?" susah payah Raina menyembunyikan senyumnya. Johan hanya mengangguk kecil mengiyakan perkatannya. "Lo nggak salah?"
"Emang salahnya dimana?"
Raina menggaruk kecil pelipisnya. "Yaa .. Lo nggak salah ngajak orang? Masa lo ngajak gue, sih? Gue 'kan anak rumahan, jadi jarang banget hangout."
Lagi, Raina terlihat gugup dan Johan tertawa kecil melihat kepolosan itu. "Justru itu 'kan, biar lo nggak cuma diem doang dirumah mantengin tipi, makanya gue ajak lo jalan. 'Kan sekalian buat refreshing biar nggak terlalu 'mumet' lah sama pelajaran di sekolah."
Apakah ini berarti Johan berniat PDKT? Entahlah, tapi Raina sama sekali tidak keberatan. "Iya juga, sih."
"Jadi, lo .. mau?" tanya Johan. Raina hanya mengangguk kecil.
Tanpa bersuara, pemuda itu tampak ber'yes-yes' kesenangan. "Rumah lo di daerah mana? Biar gue jemput?"
"Apa? Rumah?" ulang Raina. Seketika otaknya langsung berputar bahwa ia tidak lagi tinggal di rumahnya yang lama, tapi rumah Miko. "Rumah gue di .."
Nggak mungkin banget gue bilang kalo gue tinggal seatap sama si curut itu. Batin Raina.
"Gimana kalo, kita ketemu aja? Jadi, lo nggak usah repot-repot deh buat jemput gue." saran cewek itu, membuat Johan berpikir sebentar.
"Gue nggak gentle, dong, Rai kalo kayak gitu?" tanyanya. "Udahlah, santai aja, gue nggak ngerasa direpotin, kok, serius. Lagian 'kan ini gue yang ngajak lo, jadi jemput dan anterin pulang udah jadi kewajiban gue dong?"
"Tapi, Jo-"
"Rai, please, gue pengen tahu dimana rumah lo. Ya..?" rajuk Johan, dengan menyatukan kedua tangan di depan wajahnya dan kerlingan mata. "Please, Rai. Lo jangan canggung-canggung gitu dong sama gue?"
Tidak tahan melihat wajah Johan yang memelas seperti itu, Raina akhirnya pasrah. Ia menarik napas dan menghembuskannya cepat. "Yaudah, deh. Ntar gue send alamatnya."
"Okey, thanks ya."
Anda Mungkin Juga Suka





