Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Head Over Heels

Head Over Heels

Miko hadir dalam kehidupan sebagai sosok rival yang paling dibenci, namun kehadirannya justru memicu badai emosi yang tak terduga. Hubungan benci tapi rindu ini perlahan mengobrak-abrik seluruh perasaan dan logika yang ada. Di balik persaingan sengit mereka, tersimpan getaran yang mengguncang hati secara mendalam. Kisah ini mengikuti perjalanan emosional yang rumit saat musuh bebuyutan berubah menjadi seseorang yang paling memengaruhi jiwa.
Bab
Bagikan

Bab 3

Satu hal melekat dalam diri seorang seorang Miko dan tak diketahui oleh kebanyakan orang, yaitu kenyataan bahwa ia adalah sosok yang sulit ditebak. Hal ini diperkuat lantaran adanya rasa sedikit tidak rela ketika melihat Raina dan Johan makan bersama di kantin-padahal dari dulu saja Miko tidak pernah akur dengan cewek itu. Bukannya apa-apa tapi mengingat sedikit profile Johan yang kurang bagus-yaitu kebenaran bahwa Johan adalah seorang yang hobi memainkan hati cewek atau sebut saja dia player, Miko jadi khawatir sendiri terhadap Raina. Ia juga tidak tahu kenapa. Namun dalam hati Miko meralat, ia khawatir bukan karena apa-apa tapi bagaimanapun juga Raina adalah saudaranya mulai kemarin.

Jadi, sebenci-bencinya dulu-bahkan sampai sekarang, Miko kepada Raina, benci karena melihat waktu kecil Raina adalah sosok yang pemalu dan pendiam, berbeda dengan Raina sekarang yang lebih berani-sehingga Miko selalu mengejeknya semasa itu sampai-sampai tidak jarang orangtua mereka dipanggil ke sekolah karena keributan yang dibuat dua anak itu. Ya! Katakan ini tidak masuk akal, tapi mengolok-olok dan membuat Raina naik pitam adalah keseruan tersendiri bagi Miko karena hidupnya terasa penuh hiburan.

Setidaknya seperti itu, tapi sekarang, siapa yang tahu kalau cowok itu tengah memikirkan Raina di sela-sela aktivitasnya mengerjakan soal-soal di papan tulis.

"Woy! Mik!"

Seseorang memukul bahu kanan Miko. Kontan membuat cowok itu terkejut dan menoleh ke sumber suara. "Apaan sih, Ndre! Ngagetin aja!" kesalnya.

Andre Bimantara-teman sebangku Miko, itu menghela napas sejenak. "Dipanggil tuh sama Bu Elis, nggak nyaut-nyaut. Ngelamun aja!"

Dan, memang. Seorang guru yang berada di depan kelas itu tengah menatap kearah Miko, disertai gelengkan kepala. Juga, ia menjadi pusat perhatian semua murid di kelas itu sekarang. Lalu, Miko hanya menampakkan deretan gigi rapihnya tanpa dosa. "Ibu manggil saya?"

"Iyalah, pinter! Makanya besok-besok kupingnya tuh dibawa, jangan cuma ditinggal di rumah!"

Disaat sedang hening-heningnya, celetukan oleh seseorang dari arah pojok depan meja guru tersebut seketika membuat tawa murid-murid sekelas meledak. Termasuk Andre. Sementara guru wanita dengan nametag Ellizabeth S.Pd. M.Si. itu hanya menahan tawa.

"Hahhahahaahhahaa!"

Miko memberengut kesal, mengepalkan tangan dan memukulkannya pelan ke meja menatap Raina yang menjulurkan lidah kearahnya dengan wajah songong, menurut cowok itu. "Sialan!"

"Lo bener banget, Na! Hahahhaa! Mungkin Miko lupa bawa kuping, jadi agak-agak nggak konek." Andre menepuk-nepuk pundak Miko, masih dengan tawa kencangnya. "Yang sabar ya, boos!"

"Hahhahahhaahaaa!"

Lagi, tawa satu kelas bertambah keras berkat Andre yang memang jahil dengan sengaja menirukan kata-kata tokoh di kartun 'sopo jarwo' seperti tadi.

"Lo kenapa jadi ikut-ikutan ngetawain gua sih, Ndre!" umpat Miko sembari meninju pelan lengan Andre, lalu mendelik kearah Raina. "Heh kecoa! Mending lo diem aja deh! Lo nggak pernah nyadar apa?! Suara lo tuh cempreng tau nggak! Lebih ancur dari kaleng rombeng!"

Mendengar itu, jelas Raina tidak terima dong? Cewek itu langsung menatap Miko tajam seraya meremas kertas yang berisi coretan menghitungnya diatas meja sampai berbentuk bulat kemudian melemparnya kearah Miko dan tepat mengenai dahi cowok itu.

Puk!

"Rasain tuh! Enak aja ngatain suara gue cempreng! Suara lo kali yang cempreng, kayak banci ngondek. Iuuh!" Raina lagi-lagi melempari Miko dengan buntelan kertas.

Puk!

Puk!

Puk!

"Woy! Apaan sih lo, nyet! Nih rasian pembalasan gue nih!" Miko dengan cepat langsung melempar buntelan-buntelan kertas yang berasal dari Raina itu kearah cewek itu. Sementara Raina masih terus melempari Miko dengan kertas-kertas apa saja yang berada di mejanya sembari mencoba menghindarkan kepalanya dari 'serangan' Miko, begitu pula sebaliknya. Dan ini membuat kelas menjadi riweh, alias rame seperti di pasar.

Selalu saja, ujung-ujungnya pasti seperti ini. Bu Elli sudah hafal sekali dengan tabiat dua muridnya itu. "Sudah-sudah! Semuanya diam! Miko, Raina, kalian berhenti atau keluar dari kelas saya?!"

Braks!

Sontak saja, teriakan Bu Elli yang keras dan menggema di setiap sudut ruangan itu disertai ketukan penghapusnya langsung membuat semua mulut yang semula berkicau kini menjadi terdiam. Raina dan Miko pula, aktivitas keduanya terhenti dengan lemparan buku tulis yang jatuh ke lantai, karena tidak berhasil mengenai Miko, karena cowok itu mampu menghindar.

Bruk!

Buku dengan gambar motor gede pada sampulnya itu tergeletak manis di lantai. Sementara Bu Elli sudah menampakkan wajah garangnya dengan napas yang sedikit tidak teratur. "Miko, Raina, silahkan maju ke depan dan kerjakan semua soal-soalnya!"

Dua anak itu meneguk ludah sendiri, mengingat mereka sama-sana belum mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru itu-barang satu nomor pun belum. Karena Miko dengan kesibukannya melamun soal Raina yang belakangan ini didekati oleh Johan, dan Raina dengan kesibukannya melamun soal Johan yang mengajaknya jalan nanti malam.

"Tapi, Bu, saya belum seles-"

Brukks!

Ucapan Raina terpotong karena Bu Elli langsung memukul meja dengan penghapus, lagi. Membuat 32 jantung yang rata-rata berusia 17 tahun di kelas itu hampir copot dari sarangnya. Untung saja, tidak ada yang memiliki penyakit jantung, kalau tidak guru itu bisa-bisa didepak dari sekolah dan dilaporkan ke polisi atas tuduhan penganiayaan murid.

Raina dengan malas langsung bangkit dari tempat duduknya, dan mengambil buku tulisnya yang jatuh di samping tempat duduk Miko. Namun naas, Raina tiba-tiba terjatuh karena kaki cowok itu yang sengaja menjegalnya.

Bruukkss!

"Aduh!"

Miko terkikik geli di dalam hati, sementara Raina tersungkur di lantai dengan tawa yang ditahan oleh sebagian murid yang melihat kejadian itu.

"Dasar curut sialan!"

••••••••••••••••••••

Pulang sekolah, Raina membanting pintu kamarnya dan melempar tas ke sembarang arah. Moodnya langsung memburuk lantaran dihukum berdiri di depan kelas dengan posisi sebelah kaki diangkat dan tangan yang menjewer telinga sendiri. Lalu Miko? Dengan mudahnya, tanpa sepengetahuan guru, cowok itu diam-diam meminjam buku seorang anak yang pintar di kelasnya dan dengan mudahnya cowok itu menyalin di papan tulis dan menertawakan kebodohan Raina. Tapi, jangan salah, Miko juga bukan cowok pemalas dan tukang nyontek. Karena ia selalu menduduki rangking 1 di kelas, semenjak sekolah dasar pula. Dan baru sekali itu, ia membohongi guru.

"Huh! Ngebetein banget deh." Raina duduk di pinggir kasur dengan malas. Namun, tak lama kemudian ponsel dalam saku roknya berdering. Gadis itu langsung mengambilnya.

hai, raina. lo belum ngasih alamat rumah lo 'kan?

Sebuah pesan dari Johan, Raina menepuk jidatnya sendiri melihat itu. "Kenapa gue bisa kelupaan gini ya?"

sori johan. gue lupa, hihi. lo dateng aja ke jln. pohon mangga no. 27, itu alamat rumah gue.

Tak butuh waktu yang lama, Raina langsung mendapatkan balasan.

oke, sip. ntar gue dateng jam 7 ya.

Dalam hati, Raina bersorak. Moodnya kembali membaik. Membayangkan wajah tampan Johan, ia jadi senyum-senyum sendiri. Tidak sabar menunggu nanti malam.

yup! ntar gue tunggu lo di teras depan, deh. biar nggak salah alamat aja, hihi.

Sebenarnya, Raina hanya berbohong. Karena ia tidak ingin kalau sampai Johan tahu kalau ia tinggal di rumah Miko dan status saudara mereka. Rasa-rasanya, Raina masih terlalu enggan menerima kenyaraan baru itu.

hahhahaa bisa aja lo, rai. dikiranya ayu ting-ting kali salah alamat. oh ya, btw lo lagi apa?

Raina ikut tertawa membaca pesan dari Johan tersebut. Baru kali ini ia merasa dekat dengan seorang cowok. Apalagi cowok itu adalah orang yang ia sukai. Dan saat ini, ia tengah kebingungan ingin membalas apa, karena beberapa kali Raina menghapus balasannya. Sebelum akhirnya ia menjentikkan jari. "Aha! Gue tau!"

lagi kesel gue, johan. lagi bete mampus.

Berbeda dengan Raina yang menghabiskan waktu sekiranya 2 menit lebih untuk mengirim pesan itu, Johan hanya selisih beberapa detik.

bete kenapa? kesel kenapa emang? ada yg ganggu elo ya? siapa emang? bilang ke gue.

Apakah ini sebuah bentuk perhatian? Raina hanya terkekeh melihatnya.

gpp. cuma, tadi gue dihukum sama bu eli gegara gue ga bisa ngerjain soal yg dia kasih.

Memang, Raina teramat malas untuk menyebut nama Miko. Jadilah singkat cerita tersebut.

ohh. kirain siapa. yaudah kalo gitu, sampe ketemu ntar malem ya. gue mau bobo ganteng dulu.

Agak sedikit narsis memang. Tapi Raina hanya terkekeh dan mengakhiri chatting diantara mereka. Pas sekali, suara perutnya langsung berbunyi. Menandakan kalau cacing-cacing tengah berdemo sekarang, meminta jatah makanan. Dan, tanpa basa-basi lagi Raina segera meluncur keluar. Masih dengan senyum-senyum sendirinya.

Suara genjrengan gitar samar-samar terdengar dari ruangan sebelah, ketika Raina menutup pintu.

"Eh eh eh! Mau kemana lo?"

Langkah gadis itu kontan terhenti. Kepalanya tertoleh ke sumber suara, diikuti dengan alisnya yang mengkerut. "Kenapa?"

"Lo mau kemana?" Miko menaikkan dagunya.

Raina memutar bola mata malas. "Emang gue mesti laporan sama elo, setiap gue mau kemana?"

Sejenak, helaan napas keluar dari mulut Miko. Cowok itu lalu bangkit dari duduknya seraya meletakkan gitar di atas kasur. "Bikinin gua mi goreng."

"Apa?! Gue nggak salah denger? Eh, gue bukan pembokat lo ya! Enak aja nyuruh-nyuruh!" Raina berkacak pinggang tidak terima saat Miko berjalan keluar dengan ekspresi datarnya.

"Bodo amat. Gue nggak mau tau, pokoknya lo mesti bikinin gue mi goreng. Langsung anterin aja ke halaman depan."

Setelah berkata itu, Miko berlalu dari hadapan Raina. Meninggalkan gadis itu yang masih berdiri di tempatnya dengan mulut yang sedikit menganga.

"Woy! Dasar cwok sinting ya lo! Bodo juga! Ogah gila! Masak aja sana sendiri! Lo pikir gue babu lo apa?!"

Miko sempat berhenti sebelum turun ke bawah dan menoleh sebentar. "Kalo lo nggak ngelakuin apa yang gue suruh, gue bakalan bilang sama nyokap kalo lo mau jalan sama Johan. Gue pastiin lo nggak bakalan dikasih ijin keluar."

Ya! Itu sudah pasti. Mengingat Ishabella yang notabene sedikit protektif, dan Raina yang paling tidak bisa berbohong kepadanya. Barang sekecil apapun itu. Wanita paruh baya itu pasti tahu. Karena beliau membatasi pergaulan Raina sejak dirinya dicampakkan oleh suaminya-ayah kandung Raina.

"Apa?! Heh lo tau darimana kal-"

"Gua tunggu 5 menit lagi, mi goreng udah harus ada di depan mata gue."

Dan, dengan santainya Miko menuruni tangga sementara Raina dengan mata melototnya, tangan terkepal, dan tanda tanya di kepala. "Apa-apaan sih tuh orang! Seenak udelnya aja dia maen nyuru-nyuruh gue mentang-mentang di rumahnya sendiri!"

••••••••••••••••••••

Selang beberapa menit kemudian. Nampak di sisi barat halaman depan rumah Miko yang luas dan ditumbuhi berbagai pohon sehingga membuat area itu teduh, terdapat sebuah rumah pohon bercat putih. Beberapa anak tangga menjadi akses jalan untuk ke atas. Dan, Raina dengan wajah masamnya yang ditekuk, berjalan naik dengan membawa dua buah piring berisi mi goreng. Miko yang awalnya duduk di pagar pembatas itu kini langsung meloncat turun tepat saat Raina sampai di anak tangga paling atas.

"Nih."

Raina memberikan piring di tangan kanannya, dengan ogah-ogahan. Miko menatap sebentar cewek yang berdiri 50 cm di hadapannya. Dalam hati ia terkikik geli, rasanya seru juga mengerjai Raina. Tak lama, pemuda itu segera menerima piring itu.

"Eh lo tau nggak, kalo lo tuh udah telat 10 menit?"

Kening Raina berkerut mendengar itu. "Heh! Lo tuh bener-bener ngajak ribut ya? Masih untung gue baik hati mau bikinin dan anterin kesini, lo jadi orang emang nggak tau terimaksih banget ya? Dikasih hati malah mintanya jantung. Kalo nggak mau, yaudah!"

Belum ada 1 menit, piring oval tersebut telah berpindah tangan lagi. Miko berdecak melihat Raina berbalik badan dan siap turun. "Lo nggak tau orang laper ya? Barang yang udah dikasih itu nggak boleh diminta lagi tau, pamali."

Langkah Raina turun terhenti. Miko telah merebut kembali piring dari genggaman tangannya dan duduk di anak tangga yang sama. "Jadi cewek tuh jangan jutek-jutek, kalem dikit napa. Kayak malaikat pencabut nyawa aja."

Pletak!

"Aduh!"

Sebuah jitakan oleh Raina mendarat di kepala Miko. Disusul tempelengan. "Makanya, kalo punya mulut tuh dijaga. Enak aja nyama-nyamain gue sama malaikat pencabut nyawa. Lo kali yang kayak penjaga pintu neraka!"

Sebelah alis Miko terangkat, ia mendongak memperhatikan Raina yang memanyunkan bibirnya acuh tak acuh. "Eh lo yang bener aja, mana ada penjaga neraka seganteng gue?"

Raina mendecih kemudian turun dua anak tangga dan berbalik menatap Miko. "Ya anggep aja ada. Gitu doang ribet."

"Ya ampun." Miko geleng-geleng kepala sendiri. "Gue heran deh, kok Johan mau-mau aja ya deketin cewek jutek nan sadis kayak lo gini? Apa bagusnya elo dimata dia? Gue aja disini males banget."

Sudut bibir Raina terangkat tidak percaya. Cowok di depannya itu benar-benar meremehkannya. Apalagi saat pandangannya menelusuri cewek itu dari atas kemudian turun ke bawah dan naik lagi. Membuat Raina bergidik sendiri.

"Emang sih, lo udah nggak se-item dan seburuk rupa waktu kecil dulu. Tapi, lo ngaca deh. Badan lo aja kecil, kerempeng, dan nggak ada seksi-seksinya gini. Mungkin kalo ada angin kenceng, lo bisa ikut terbang kali ya?"

Hampir saja, bola mata Raina ingin keluar dari tempatnya mendengar hinaan itu. Miko memang paling bisa membuatnya naik darah, terlihat dari napas Raina yang naik turun. "Heh! Lo ngatain gue kayak gitu, lo pikir badan lo bagus?!"

"Oh jelas dong, gue fitnes. Lo nggak liat nih, otot gue?" Miko mengidikkan bahu, lalu mengangkat ujung kaosnya. "Nggak kayak lo, tulang doang."

"Badan kayak triplek gitu aja bangga!" gerutu Raina. "Heh! Asal lo tau ya, gini-gini gue pernah belajar beladiri. Kalo cuma nonjok mulut lo yang nggak nggak disaring dulu kalo ngomong itu doang mah, kecil."

Miko terkekeh geli, sembari meletakkan piring berisi mi goreng yang mungkin saja sudah dingin itu. "Oh jadi lo nggak terima sama kata-kata gue?"

Hal yang sama dilakukan Raina, meletakkan piring di anak tangga sampingnya. "Iya, gue nggak terima. Kenapa? Lo mau ngajak gue berantem?"

Kaki panjang Miko melangkah turun dengan pandangannya yang tak lepas dari cewek itu. Sementara Raina hanya acuh tak acuh dan melipat tangan di bawah dada. Sampainya di anak tangga yang sama dengan Raina, Miko memegang erat pegangan di belakangnya, di kedua sisi cewek itu. Seolah mengepung.

Susah payah, Raina meneguk ludahnya sendiri ketika cowok di hadapannya itu mulai mendekatkan wajahnya dengan tatapan mata elang yang tajam, dan sulit diartikan. "Mau lo apa sih, Na?"

Kening Raina berkerut. Jarang-jarang Miko mau menyebut namanya seperti itu. "Lo nanya mau gue? Bukannya kebalik ya? Harusnya, gue kali yang nanya sama lo, mau lo tuh apa? Kenapa lo suka nyari gara-gara sama gue?"

Tampak Miko tertawa kecil. Seiring dengan tangannya yang berlalu dari samping Raina, kemudian turun ke bawah lagi sampai menginjak rumput. Diikuti cewek itu, yang langsung membalikkan badan Miko.

Raina berkacak pinggang. "Heh curut! Ngapain lo ketawa-ketawa? Ada yang lucu?"

"Ada." Miko menaikkan kedua alis. Sementara Raina langsung memutar otak.

"Dih! Apaan coba? Aneh banget, lo masih sehat 'kan? Jangan bilang lo kena gangguan kejiwaan? Mampus! Gue mesti bilang apa ntar sama bokap lo kalo udah balik?" gumam gadis itu.

Pletak!

"Aww!"

Miko menyentil dahi Raina lalu mengarahkan telunjuknya. "Lo ngedoain gue gila, hah? Adek tiri nggak bener emang lo."

"Emang elo udah jadi kakak tiri yang bener, hah?" Raina menepis telunjuk Miko dari wajahnya. "Lagian suruh siapa ketawa-ketawa sendiri kayak orang sedeng."

"Lo pengen tau apa yang lucu dimata gue sampe-sampe lo ngatain gue gila?" Miko menghela napas dan maju selangkah sementara Raina memundurkan wajahnya. "Emang apaan?" desisnya.

"Ya itu, elo.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, menemani Ratnasari di rumah sakit ketika ia sedang berjuang untuk program bayi tabung. Pengkhianatan memuncak saat Aluna dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya akibat sabotase obat. Setelah kehilangan bayinya dan diusir dari rumah, identitas asli Aluna terungkap sebagai putri konglomerat media yang hilang. Kini, sang pewaris telah kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Belaian Cinta
9.6
Ratih harus menjalani hubungan jarak jauh setelah suaminya, Prima, bekerja di Kalimantan demi masa depan putri mereka, Chika. Meski awalnya tampak baik-baik saja, perpisahan ini memicu konsekuensi tak terduga. Pesona Ratih menarik perhatian Wira sang duda, Heru tetangga depan rumah, hingga Derry yang masih sekolah. Tanpa perlindungan suami, Ratih terjerat dalam godaan mereka hingga hamil. Kini, ia harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan misteri ayah janin tersebut.
Sampul Novel Istri Sang CEO yang Melarikan Diri
8.8
Jenessa menjalani peran ganda sebagai sekretaris sekaligus istri rahasia CEO bernama Ryan. Harapan indahnya saat hamil seketika hancur ketika Ryan justru lebih memedulikan cinta pertamanya. Merasa dikhianati, Jenessa memutuskan pergi dan menghilang. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, Ryan terkejut melihat kehamilan Jenessa dan menuntut penjelasan. Namun, dengan penuh keberanian, Jenessa menegaskan bahwa sang mantan suami tak lagi punya hak atas hidupnya.
Sampul Novel JERAT CINTA TUAN MAFIA
8.8
Akibat hancur oleh pengkhianatan sang kekasih, Louisa terjebak dalam masalah besar hingga nyawanya terancam. Beruntung, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya. Namun, dalam kondisi emosional, Louisa justru menawarkan sebuah 'hadiah' berani sebagai tanda terima kasih atas pertolongan tersebut. Tanpa ia sadari, keputusan impulsif itu menjeratnya ke dalam kehidupan sang penyelamat yang berbahaya, mengubah takdirnya selamanya.
Sampul Novel Married to the Scandalous Billionaire
9.5
Pasca konflik dengan ibu tirinya, Beverley Holmes terkejut menemukan namanya sendiri tertera sebagai mempelai wanita dalam sebuah undangan pernikahan. Ternyata, dia telah dijual demi melunasi utang jutaan dolar. Di sisi lain, Brent Oliver sang suami awalnya bersumpah takkan tergoda oleh kecantikan istrinya. Namun, kepolosan Beverley justru perlahan meluluhkan hatinya. Kini Brent bimbang, akankah dia setia pada kekasih rahasianya atau menyerah pada pesona istrinya?
Sampul Novel Saya Adalah Bank Darah untuk Putri Angkat Orang Tua Saya
8.7
Terbangun dari koma tiga tahun, Chloe Holt mendapati posisinya digantikan oleh Maddie, anak angkat baru di keluarganya. Ibunya kini memuja Maddie, sementara Reece Hussain, tunangan Chloe, justru mengumumkan pernikahan dengan gadis itu. Di balik pengkhianatan ini, Chloe mengungkap rahasia kelam: ayahnya sengaja memanfaatkannya sebagai donor darah demi Maddie. Bagi sang ayah, Chloe hanyalah bank darah untuk membentuk ahli waris baru yang jauh lebih penurut.