Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hati Suamiku Milik Sepupuku

Hati Suamiku Milik Sepupuku

Kirana telah mengerahkan segala upaya demi memenangkan cinta Revan dalam pernikahan perjodohan mereka. Namun, harapannya hancur saat mengetahui bahwa suaminya mencintai wanita lain, yaitu sepupunya sendiri, Sekar. Pengkhianatan menyakitkan ini terungkap secara langsung, membuat rumah tangga mereka yang dingin kian runtuh. Di tengah luka yang mendalam, sosok Bara Mahendra dari masa lalu kembali hadir, membawa warna baru saat Kirana berada di titik terendah.
Bab
Bagikan

Bab 2

Udara malam Jakarta terasa dingin menusuk, seolah ikut merasakan kebekuan di hati Kirana. Ia mengemudikan mobilnya tanpa arah, air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang sudah terasa lengket. Kemana ia harus pergi? Rumah ini, rumah orang tuanya yang dulu terasa begitu hangat, kini terasa asing. Ia tak ingin menambah beban pikiran kedua orang tuanya yang pasti akan terpukul mengetahui kebeningan pernikahan Kirana dan Revan hanyalah ilusi. Teman-temannya? Ia tidak punya cukup keberanian untuk menceritakan rasa malu dan sakit hati ini.

Pikirannya kosong, namun pada saat yang sama, dipenuhi oleh kilasan-kilasan pengkhianatan. Wajah Revan yang datar, senyum Sekar yang licik, tawa mereka yang dulu ia anggap persahabatan, kini menjelma menjadi belati yang menusuk ulu hatinya. Ia merasa bodoh, begitu naif karena terlalu percaya pada janji kosong dan senyuman palsu.

Jalanan tol yang ramai seolah ikut berpacu dengan denyut nadinya yang tak beraturan. Kirana mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, berharap oksigen bisa membersihkan paru-parunya dari sesak yang menyesakkan. Namun, rasa sakit itu terlalu nyata, terlalu dalam.

"Bara..." Nama itu kembali terucap, kali ini bukan desahan, melainkan sebuah bisikan penuh harap.

Kenangan tentang Bara Mahendra bagai mercusuar di tengah badai. Bara, si anak laki-laki berandal dengan senyum yang selalu tulus. Sahabat masa kecilnya yang paling setia, yang selalu melindunginya dari kenakalan anak-anak lain. Kirana ingat betul bagaimana Bara akan selalu berdiri di garis depan setiap kali Kirana diejek karena rambutnya yang keriting atau kacamatanya yang tebal.

Mereka terpisah saat Kirana masuk SMP dan Bara harus ikut orang tuanya pindah ke luar kota. Kontak mereka sempat terjalin melalui surat dan telepon rumah, namun seiring berjalannya waktu, kesibukan sekolah menengah membuat komunikasi mereka merenggang, hingga akhirnya terputus sama sekali. Kirana pernah mencoba mencarinya melalui media sosial, namun nama Bara Mahendra terlalu umum, dan ia tak menemukan jejak pasti. Ia mengira Bara sudah benar-benar hilang dari kehidupannya.

Sekarang, di titik terendah dalam hidupnya, sosok Bara kembali muncul, bagai penyelamat di ambang kegelapan. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada dorongan kuat untuk menemukan Bara. Mungkin hanya untuk sekadar nostalgia, atau mungkin ia membutuhkan pengingat bahwa ada kebaikan tulus yang pernah ada dalam hidupnya.

Kirana menghentikan mobilnya di bahu jalan tol, menepikan kendaraannya di tempat yang agak sepi. Ia menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan GPS di ponselnya. Tujuannya adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tempat di mana Bara dan keluarganya dulu pindah: Magelang. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecilnya bersama Bara.

Tanpa pikir panjang, ia memutar kemudi, mengubah arah mobilnya. Keputusan ini terasa spontan, namun juga tak terelakkan. Kirana merasa ini adalah satu-satunya cara untuk melarikan diri dari bayang-bayang pengkhianatan yang menghantuinya.

Perjalanan malam itu terasa sangat panjang. Kirana mengemudi dalam diam, sesekali air mata kembali membasahi pipinya. Pikirannya melayang, kembali ke masa lalu, ke saat-saat polos bersama Bara.

Ia ingat bagaimana Bara akan selalu datang ke rumahnya setiap sore setelah pulang sekolah, membawa jajan pasar favorit Kirana. Mereka akan bermain petak umpet di taman belakang, atau membangun istana pasir di kotak pasir buatan Ayah Kirana. Bara selalu punya cara untuk membuat Kirana tertawa, bahkan saat ia merajuk.

Pernah suatu kali, Kirana jatuh dari sepeda. Lututnya berdarah dan ia mulai menangis. Bara, meskipun lebih kecil darinya, langsung menghampiri, mengobati lukanya dengan plester kartun kesukaan Kirana, lalu menggendongnya pulang.

"Nanti kalau Kirana sudah besar, kalau ada yang jahatin Kirana, Bara yang akan lindungi!" janji Bara dengan lantang, mengepalkan tinjunya seolah-olah ia adalah pahlawan super. Kirana saat itu hanya tertawa, menganggapnya sebagai janji kekanak-kanakan. Tapi sekarang, janji itu terngiang-ngiang di telinganya. Ia membutuhkan Bara. Ia membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya dari rasa sakit ini.

Kenangan itu membawa senyum tipis di bibir Kirana, senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. Namun, senyum itu cepat menghilang, digantikan oleh bayangan Revan dan Sekar.

Bagaimana bisa Sekar melakukan ini padanya? Sepupu yang ia percayai, yang ia anggap saudara kandung. Kirana mengingat bagaimana Sekar akan datang ke rumah mereka, tersenyum manis, memuji Kirana. "Kak Kirana cantik sekali hari ini," atau "Gaun Kak Kirana indah sekali, cocok untuk Kakak." Sekarang, Kirana melihat senyum itu sebagai topeng, pujian itu sebagai racun.

Sekar bahkan seringkali menjadi 'tempat curhat' Kirana tentang Revan. Kirana pernah mengeluh pada Sekar betapa dinginnya Revan, betapa sulitnya meluluhkan hati suaminya. Dan Sekar akan mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan saran-saran "bijak" tentang bagaimana menjadi istri yang lebih baik, bagaimana "memenangkan" hati Revan.

"Mungkin Kak Kirana harus lebih sabar," kata Sekar kala itu. "Pria memang butuh waktu untuk membuka hati."

"Revan mungkin punya beban pikiran, Kak. Coba Kakak lebih pengertian."

Kata-kata itu terngiang di telinga Kirana, kini terdengar seperti ejekan, seperti bensin yang disiramkan ke api yang membara di hatinya. Betapa bodohnya ia tidak melihat kebenaran yang terpampang jelas di depan matanya. Sekar adalah serigala berbulu domba. Ia adalah orang yang menari di atas penderitaan Kirana, sambil tersenyum manis.

Matahari mulai mengintip dari balik cakrawala timur saat Kirana memasuki gerbang kota Magelang. Udara pagi yang sejuk dan segar menyambutnya, jauh berbeda dengan udara Jakarta yang selalu panas dan bising. Pemandangan pedesaan yang hijau terhampar di sepanjang jalan, sawah-sawah yang membentang luas, dan gunung-gunung menjulang tinggi di kejauhan.

Magelang. Sebuah kota kecil yang menyimpan begitu banyak memori. Kirana mengemudikan mobilnya perlahan, mencoba mengingat jalan-jalan kecil yang dulu sering ia lalui bersama Bara. Ia mencoba mengingat alamat rumah Bara, atau setidaknya lingkungan tempat tinggal mereka.

Ia parkir di dekat sebuah toko kelontong tua yang masih terlihat sama seperti puluhan tahun yang lalu. Kirana keluar dari mobil, matanya menyapu sekeliling. Toko itu, warnanya yang pudar, papan nama yang hampir usang, semua terasa familiar. Di seberang jalan, ada sebuah pohon beringin besar yang dulu sering menjadi tempat mereka bermain. Semua terasa begitu nyata, seperti ia kembali ke masa kecilnya.

Kirana memberanikan diri masuk ke dalam toko. Aroma kopi bubuk dan rempah-rempah langsung menyeruak, aroma yang sama seperti dulu. Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih menyambutnya dengan senyuman.

"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita itu ramah.

Kirana merasa sedikit gugup. "Selamat pagi, Bu. Maaf, saya... saya sedang mencari seseorang."

"Siapa, Mbak? Mungkin saya kenal," jawab wanita itu, tersenyum.

"Saya mencari keluarga Mahendra, Bu. Dulu mereka tinggal di daerah sini." Kirana mencoba mengingat nama jalan, tapi otaknya terasa buntu.

Wanita itu mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Mahendra... Oh, keluarga Pak Budi Mahendra yang dulu punya bengkel kecil di ujung jalan itu ya?"

Jantung Kirana berdebar. "Iya, Bu! Betul sekali! Pak Budi dan istrinya, Bu Lastri, dan... anaknya, Bara."

Senyum di wajah wanita itu mengembang. "Oh, Bara! Tentu saja. Dia anak yang baik, dulu sering bantu ibunya belanja di sini." Wanita itu terdiam sejenak, sorot matanya berubah menjadi sedikit sendu. "Sayangnya, mereka sudah tidak tinggal di sini lagi, Mbak."

Dunia Kirana seolah runtuh lagi. "Tidak tinggal lagi? Lalu... kemana mereka pindah, Bu?"

"Beberapa tahun yang lalu, setelah Pak Budi meninggal, Bu Lastri memutuskan untuk ikut Bara pindah ke Yogyakarta. Katanya Bara bekerja di sana, di bidang arsitek," jelas wanita itu. "Bu Lastri sering berkunjung ke sini, tapi sudah lama juga tidak terlihat."

Yogyakarta. Harapan yang baru saja tumbuh di hati Kirana kini terasa memudar. Yogyakarta adalah kota besar, bahkan lebih besar dari Magelang. Mencari seseorang bernama Bara Mahendra di sana, tanpa alamat pasti, tanpa nomor telepon, akan seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Kirana mengucapkan terima kasih kepada ibu pemilik toko, lalu keluar dengan perasaan hampa. Perjalanan panjangnya seolah sia-sia. Ia duduk di bangku di bawah pohon beringin, menatap jalanan yang masih sepi. Rasa lelah dan putus asa menyelimuti dirinya. Ia merasa seperti pecundang. Segala usahanya sia-sia.

Apakah ini takdirnya? Selalu berlari dari satu kekecewaan ke kekecewaan lain?

Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menampilkan pesan terakhir dari Revan. Pesan yang penuh pengkhianatan. Ia ingin melempar ponsel itu, menghancurkannya, tapi ia tahu itu tidak akan mengubah apa pun.

Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya. Bara bekerja sebagai arsitek. Bidang itu adalah dunia yang ia kenal. Keluarga Wijaya, keluarganya sendiri, memiliki banyak proyek properti. Mungkin, hanya mungkin, ia bisa menemukan Bara melalui koneksi bisnis. Ini adalah harapan terakhirnya.

Kirana memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta sekarang. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri, untuk menyembuhkan luka-luka hatinya. Ia mencari penginapan terdekat, sebuah hotel kecil yang tenang, dan memutuskan untuk menghabiskan beberapa hari di Magelang, mencoba menenangkan diri sebelum menghadapi badai yang lebih besar di Jakarta.

Beberapa hari di Magelang berlalu dengan lambat. Kirana menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di sekitar kota, mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan kenangan masa kecilnya bersama Bara. Candi Borobudur, yang dulu selalu menjadi tempat favorit mereka untuk bermain petak umpet di antara stupa-stupa. Pasar tradisional, tempat mereka sering membeli permen kapas dan jajan pasar. Setiap sudut kota seolah menyimpan gema tawa dan janji-janji masa lalu.

Namun, setiap kenangan indah itu selalu berakhir dengan bayangan Revan dan Sekar, menghancurkan ketenangan yang baru saja ia rasakan. Luka itu masih terlalu dalam, terlalu basah.

Pada hari ketiga, Kirana memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia menghubungi sekretaris Ayahnya, memintanya untuk mencari informasi tentang arsitek bernama Bara Mahendra di Yogyakarta. Ia tahu ini mungkin terdengar gila, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya jalan.

"Nama lengkapnya Bara Mahendra, Bu. Dia lulusan Universitas Gadjah Mada, jurusan arsitektur," Kirana memberikan informasi yang ia ingat dari cerita ibu pemilik toko. Ia tahu itu tidak banyak, tapi itu permulaan.

Sekretarisnya, Ibu Rina, seorang wanita paruh baya yang sangat loyal, terdengar sedikit terkejut dengan permintaan mendadak ini, namun ia profesional dan tidak banyak bertanya. "Baik, Nona Kirana. Akan saya coba carikan informasinya. Mohon beri saya waktu."

Kirana menutup telepon, menarik napas lega. Setidaknya, ia sudah melakukan sesuatu. Ia tidak lagi pasif, tidak lagi hanya meratapi nasibnya.

Sore harinya, Kirana duduk di teras hotel, menyeruput teh hangat, matanya menatap siluet senja yang memudar di balik gunung. Ponselnya berdering. Nama Ibu Rina tertera di layar. Jantung Kirana berdebar kencang.

"Nona Kirana, saya sudah menemukan beberapa informasi," suara Ibu Rina terdengar jelas. "Ada beberapa Bara Mahendra yang lulusan arsitektur UGM. Tapi yang paling menonjol adalah seorang Bara Mahendra yang kini menjabat sebagai direktur utama di sebuah firma arsitektur besar di Yogyakarta. Namanya 'Adiwangsa Arsitek'. Dia cukup terkenal, Nona. Banyak proyek besar di sana yang dia tangani."

Darah Kirana berdesir. Adiwangsa Arsitek. Sebuah nama yang tidak asing di telinganya. Firma itu memang cukup dikenal di kalangan pengembang properti. Apakah ini Bara-nya? Apakah ini sahabat masa kecilnya?

"Apakah ada foto atau informasi lain, Bu Rina?" Kirana bertanya, suaranya sedikit bergetar karena antusiasme yang membuncah.

"Ada foto profilnya di situs web perusahaan, Nona. Saya bisa kirimkan link-nya."

"Tolong kirimkan, Bu Rina. Sekarang juga!"

Beberapa detik kemudian, notifikasi pesan masuk terdengar. Kirana dengan cepat membuka tautan yang dikirimkan Ibu Rina. Layar ponselnya menampilkan sebuah foto.

Seorang pria dengan rahang tegas, rambut hitam sedikit berantakan namun tertata rapi, dan sepasang mata cokelat yang teduh. Senyum tipisnya, meskipun dewasa, masih menyisakan jejak senyum lebar yang Kirana kenal dulu. Ada kerutan halus di sudut matanya, menunjukkan usianya yang bertambah. Tapi tidak salah lagi. Itu dia. Bara Mahendra.

Rasa campur aduk menyeruak di dada Kirana. Lega, haru, sekaligus kerinduan yang mendalam. Ia masih sama. Bara-nya. Pahlawan masa kecilnya. Sebuah rasa aman yang sudah lama hilang, kini kembali terasa.

Tapi, apa yang akan ia katakan pada Bara? Setelah bertahun-tahun terputus kontak, tiba-tiba muncul lagi dengan kondisi hancur seperti ini? Kirana merasa ragu. Ia adalah putri dari keluarga Wijaya, seorang wanita yang seharusnya selalu tampil sempurna dan kuat. Kini, ia hanya seorang wanita yang patah hati, mencari perlindungan di masa lalu.

Namun, keraguan itu cepat menguap, digantikan oleh dorongan yang lebih kuat. Ia harus bertemu Bara. Ia harus mencari tahu.

"Terima kasih banyak, Bu Rina," ucap Kirana, suaranya penuh kelegaan.

"Sama-sama, Nona. Ada lagi yang bisa saya bantu?"

"Tidak, Bu Rina. Cukup ini saja. Jangan beri tahu siapa pun tentang pencarian ini, ya," pinta Kirana, teringat bahwa ia masih belum ingin orang tuanya tahu tentang keretakan pernikahannya.

"Baik, Nona. Saya mengerti," jawab Ibu Rina.

Kirana menutup telepon. Sebuah keputusan besar sudah ia ambil. Ia akan pergi ke Yogyakarta. Ia akan mencari Bara. Mungkin, hanya mungkin, dengan kembalinya Bara Mahendra, ia bisa menemukan kembali potongan-potongan dirinya yang hancur. Mungkin, ia bisa menemukan kembali kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang menyakitkan di Jakarta. Atau mungkin, ia bisa menemukan awal yang baru.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN CINTA LOKASI
8.1
Naomi Clara, seorang aktris menawan, terjebak dalam perasaan mendalam saat terlibat proyek film bersama Azka Dananjaya. Meski sempat menepis perasaannya, kepedulian Azka yang tulus akhirnya meruntuhkan pertahanan Clara. Namun, ikatan mereka diuji oleh restu keluarga Azka yang menentang status Clara karena bukan berasal dari kalangan ningrat. Azka berjanji akan terus mencintai Clara apa adanya, meskipun rintangan perbedaan kasta mengancam hubungan mereka.
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Sampul Novel Cinta Gadis Tanpa Nasab
9.8
Anna Lee, gadis blasteran yang besar di Korea, menghadapi cobaan saat cintanya pada Emran ditentang keluarga karena status kelahirannya. Namun, Shaka yang merupakan adik tiri Emran justru hadir mendekati Anna. Segalanya berubah ketika orang tua Emran menyadari bahwa Anna adalah putri donatur terbesar pesantren mereka. Meski kini mereka berusaha mempersatukan kembali Anna dan Emran, akankah Anna bersedia kembali di saat keadaan dan hatinya telah jauh berubah?
Sampul Novel Direktur Iblis Takut Kehilangan
8.4
Hidup Lia Adelia hancur seketika saat ia kehilangan suami dan diusir dari rumahnya sendiri. Sebagai janda dengan dua anak, ia berjuang mencari kerja meski terus diremehkan karena status dan fisiknya. Takdir mempertemukannya dengan Bagas Samudra, direktur bank yang dingin dan menyebalkan. Meski Lia bersumpah tidak akan menikah lagi demi mendiang suaminya, sikap Bagas perlahan berubah menjadi penuh perhatian. Apa sebenarnya rencana sang direktur terhadap Lia?
Sampul Novel Gairah Liar Atasanku
9.1
Renata terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada Dion, sang atasan, demi membiayai pengobatan suaminya. Meski awalnya hanya untuk satu malam, Dion menuntut lebih karena nilai uang satu miliar yang besar. Intensitas pertemuan mereka justru menumbuhkan benih cinta terlarang di antara keduanya. Di sisi lain, Vera dan Andika harus menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui pasangan masing-masing telah mengkhianati komitmen pernikahan mereka demi gairah ini.
Sampul Novel Gigolo Selingkuhanku Ternyata Kamu !
9.4
Kezia adalah wanita karier sukses yang hidupnya berubah total setelah bertemu Alex di sebuah klub mewah. Hubungan intens mereka awalnya tampak sempurna, hingga Kezia menemukan rahasia pahit bahwa kekasihnya itu adalah seorang gigolo. Terjebak antara cinta dan pengkhianatan, Kezia mulai mengungkap masa lalu kelam yang melukai Alex. Melalui konflik batin yang hebat, keduanya berusaha mencari arti kejujuran dan pengampunan demi memperbaiki masa depan mereka.