
Hati Suamiku Milik Sepupuku
Bab 3
Kirana tiba di Yogyakarta menjelang siang. Kota pelajar ini menyambutnya dengan keramaian yang berbeda dari Jakarta; lebih santai, namun tetap menyimpan denyut kehidupan yang kental. Setelah check-in di sebuah hotel di pusat kota, ia segera merencanakan langkah selanjutnya. Menghubungi Bara secara langsung terasa terlalu mendadak setelah bertahun-tahun tanpa kabar. Kirana memutuskan untuk mencoba cara lain: pura-pura menjalin kerja sama profesional. Itu akan memberinya alasan yang sah untuk bertemu Bara, tanpa harus mengungkapkan seluruh kerapuhan hatinya.
Ia menghubungi sekretarisnya lagi, Ibu Rina.
"Ibu Rina, saya ingin Anda menyiapkan proposal kerja sama untuk Adiwangsa Arsitek. Buat proposal yang sangat menarik, seolah-olah kami tertarik untuk menggunakan jasa mereka dalam proyek pengembangan properti terbaru keluarga," pinta Kirana, mencoba terdengar profesional dan percaya diri.
"Baik, Nona Kirana. Proyek yang mana yang harus saya cantumkan?" tanya Ibu Rina.
Kirana berpikir cepat. "Gunakan saja proyek apartemen mewah di Senopati. Itu proyek yang sedang berjalan, jadi tidak akan terlalu mencurigakan jika kita mengajukan kerja sama arsitektur internal." Proyek itu memang nyata, meskipun niat Kirana jauh dari sekadar kerja sama bisnis.
"Baik, Nona. Akan segera saya siapkan. Siapa yang harus saya hubungi di Adiwangsa Arsitek?"
"Direktur utamanya, Bara Mahendra. Sampaikan bahwa saya, Kirana Wijaya, ingin bertemu dengannya secara pribadi untuk membahas potensi kerja sama ini." Kirana sengaja menekankan namanya, berharap Bara akan mengenali nama itu, bahkan setelah sekian lama.
"Siap, Nona. Ada lagi?"
"Tidak, cukup itu saja. Segera hubungi saya jika sudah ada kabar," Kirana mengakhiri panggilan.
Ia meletakkan ponselnya di meja, menarik napas panjang. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini adalah sebuah perjudian. Bagaimana jika Bara tidak mengingatnya? Bagaimana jika ia sudah sangat berbeda? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika ia menolaknya? Keraguan itu menusuk, namun harapan untuk bertemu Bara lebih besar.
Sore harinya, saat Kirana sedang menikmati secangkir kopi di kafe hotel, ponselnya berdering. Nama Ibu Rina tertera di layar. Kirana langsung mengangkatnya.
"Nona Kirana, saya sudah berhasil menghubungi Adiwangsa Arsitek," suara Ibu Rina terdengar antusias. "Pak Bara Mahendra bersedia bertemu dengan Anda besok pagi, pukul sembilan, di kantornya."
Napas Kirana tercekat. Besok pagi. Secepat ini? Ia merasa gelombang kegugupan melandanya. "Baik, Ibu Rina. Terima kasih banyak. Bisakah Anda mengirimkan alamat lengkapnya?"
"Sudah saya kirimkan via email, Nona. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tidak, terima kasih, Ibu Rina."
Kirana menutup telepon, matanya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan alamat kantor Adiwangsa Arsitek. Ia akan bertemu Bara. Setelah bertahun-tahun. Perutnya terasa mulas, kombinasi antara kegugupan dan antisipasi.
Malam itu, Kirana tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya melayang, membayangkan pertemuan besok. Apa yang harus ia kenakan? Apa yang harus ia katakan? Apakah Bara akan mengenali dirinya yang sekarang? Ia bukan lagi Kirana kecil yang polos, bukan lagi remaja yang mudah tertawa. Ia adalah wanita yang patah hati, membawa beban pengkhianatan yang berat.
Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, sisa dari malam-malam tanpa tidur dan tangisan. Wajahnya terlihat lebih tirus, dan senyumnya... senyumnya seolah telah hilang ditelan kepedihan. Ia merindukan Kirana yang dulu, Kirana yang bahagia.
Kirana mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah demi bisnis. Ia harus tetap profesional. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini lebih dari sekadar bisnis. Ini adalah upaya terakhirnya untuk mencari pijakan, untuk menemukan kembali dirinya di tengah puing-puing kehidupannya yang hancur.
Pagi hari itu, Kirana memilih setelan blazer berwarna navy dengan blus putih yang rapi. Ia berusaha tampil sesempurna mungkin, menutupi jejak-jejak luka di hatinya. Setelah sarapan ringan, ia memanggil taksi daring menuju kantor Adiwangsa Arsitek.
Jalanan Yogyakarta mulai ramai. Gedung-gedung modern berpadu harmonis dengan bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda, menciptakan pemandangan yang unik. Kirana merasa sedikit tenang melihat hiruk pikuk kota, mencoba mengalihkan pikirannya dari kegugupan yang melanda.
Akhirnya, taksi berhenti di depan sebuah gedung megah dengan desain modern minimalis. Plakat bertuliskan "Adiwangsa Arsitek" terpampang jelas di dinding. Kirana menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. Ini dia.
Ia melangkah masuk, disambut oleh lobi yang elegan dan kesan profesional. Seorang resepsionis muda menyambutnya dengan ramah.
"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat pagi. Saya Kirana Wijaya. Saya ada janji dengan Bapak Bara Mahendra pukul sembilan."
Resepsionis itu tersenyum. "Ah, Ibu Kirana. Silakan naik ke lantai tiga. Ruangan Bapak Bara ada di sana. Anda bisa langsung masuk ke ruang tunggu, nanti asisten Bapak Bara akan menjemput Anda."
Kirana mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan menuju lift. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, namun juga penuh antisipasi. Jantungnya berdegup semakin kencang saat lift bergerak naik.
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Sebuah lorong panjang dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota. Kirana berjalan menuju ruang tunggu yang disebutkan resepsionis.
Di sana, sudah ada seorang pria yang duduk membelakanginya, membaca majalah arsitektur. Punggungnya tegap, rambutnya hitam, dan siluetnya terasa begitu familiar. Kirana mengenali bahu lebar itu, postur tubuh yang kekar namun tetap elegan.
Ia tahu itu Bara.
Bara Mahendra.
Jantung Kirana serasa berhenti berdetak. Ia berdiri mematung di ambang pintu, tak berani melangkah lebih jauh. Ia takut. Takut akan kecewa, takut Bara sudah melupakannya, takut ia hanya akan menjadi bayangan dari masa lalu yang tak relevan lagi.
Pria itu kemudian menutup majalahnya, meletakkannya di meja, lalu berbalik.
Mata mereka bertemu.
Sorot mata cokelat itu, yang dulu penuh kenakalan dan tawa, kini memancarkan kebijaksanaan dan ketenangan. Rahang tegasnya, hidung mancung, bibir yang tipis, semua sama seperti yang Kirana ingat, namun kini dihiasi dengan garis-garis kedewasaan. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang Kirana rindukan.
"Kirana?" Suara Bara terdengar dalam, serak, namun begitu familiar. Sebuah pertanyaan yang bercampur dengan keterkejutan.
Air mata Kirana langsung menetes. Tanpa sadar, ia mengangguk. "Bara..."
Bara bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati Kirana. Matanya menatap Kirana lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa yang di depannya ini adalah Kirana yang ia kenal. Ada keraguan, namun juga kelegaan yang terpancar dari sorot matanya.
"Kau... Kirana Wijaya?" Bara bertanya lagi, seolah masih tidak percaya.
"Iya, ini aku, Bara," jawab Kirana, suaranya tercekat oleh tangis haru.
Bara tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membuka lengannya lebar-lebar. Tanpa ragu, Kirana menerjang ke dalam pelukan Bara. Pelukan itu terasa hangat, menenangkan, dan penuh kerinduan yang mendalam. Ia menghirup aroma maskulin Bara, aroma yang sama seperti dulu, aroma yang terasa seperti rumah.
Kirana menangis tersedu-sedu di dada Bara, semua emosi yang selama ini ia pendam akhirnya pecah. Rasa sakit karena pengkhianatan Revan, kebingungan akan masa depannya, dan kelegaan karena akhirnya menemukan Bara, semuanya tumpah ruah.
Bara mengusap lembut punggung Kirana, membiarkannya menangis. Ia tidak bertanya apa pun, hanya memeluknya erat, seolah ingin meyakinkan Kirana bahwa ia ada di sana, persis seperti janji masa kecilnya.
"Kau baik-baik saja?" Bara berbisik, suaranya penuh kekhawatiran.
Kirana menggelengkan kepalanya di dada Bara. "Tidak, Bara. Aku tidak baik-baik saja."
Bara menarik diri sedikit dari pelukan, menangkup wajah Kirana dengan kedua tangannya, ibu jarinya menyeka air mata Kirana. "Apa yang terjadi?"
Kirana ingin menceritakan semuanya, tentang Revan, tentang Sekar, tentang pernikahan palsu itu. Tapi ia tidak bisa. Tenggorokannya tercekat, kata-kata tak bisa keluar.
"Kita masuk ke ruanganku dulu ya," ajak Bara, suaranya lembut. Ia menggenggam tangan Kirana, menuntunnya ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang tunggu.
Ruangan Bara adalah cerminan dirinya: rapi, modern, dengan sentuhan hangat. Ada beberapa maket bangunan di meja, sketsa-sketsa arsitektur di dinding, dan pemandangan kota dari jendela besar. Bara mempersilakan Kirana duduk di sofa.
"Mau minum apa?" tawar Bara.
"Air putih saja, Bara. Terima kasih," jawab Kirana, mencoba menenangkan dirinya.
Bara menuangkan segelas air putih dan memberikannya kepada Kirana. Kirana meminumnya perlahan, mencoba mengendalikan emosinya. Ia menatap Bara, yang kini duduk di depannya, menatapnya dengan tatapan penuh perhatian.
"Kau terlihat sangat... berbeda, Kirana," ucap Bara, nadanya lembut. "Ada apa? Kau tidak datang ke sini hanya untuk menawarkan proyek, kan?"
Kirana menghela napas. Ia tahu ia tidak bisa berbohong pada Bara. Ia tidak pernah bisa berbohong padanya.
"Tidak, Bara. Aku... aku datang mencarimu." Kirana mengakui, suaranya masih serak. "Aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi."
Ia mulai menceritakan semuanya. Tentang perjodohan, tentang Revan yang dingin, tentang usahanya yang sia-sia untuk mengambil hati Revan. Dan kemudian, tentang kenyataan pahit itu. Tentang Revan dan Sekar. Pengkhianatan yang terjadi tepat di depan matanya.
Bara mendengarkan dengan seksama, ekspresinya berubah dari perhatian menjadi kemarahan yang samar saat Kirana menceritakan tentang Revan dan Sekar. Matanya yang teduh kini memancarkan api. Rahangnya mengeras.
"Jadi... pria itu... dia bermain di belakangmu dengan sepupumu sendiri?" Bara bertanya, suaranya rendah dan penuh amarah.
Kirana mengangguk, air mata kembali menggenang. "Mereka... mereka sudah lama, Bara. Aku tidak tahu berapa lama. Aku merasa bodoh, begitu naif."
Bara mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Kirana erat-erat. "Kau tidak bodoh, Kirana. Kau hanya terlalu tulus. Mereka yang busuk."
Kata-kata Bara menenangkan hati Kirana yang hancur. Sebuah kehangatan merambat dari genggaman tangan Bara, seolah menyalurkan kekuatan.
"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, Bara," Kirana berbisik. "Rumah tanggaku hancur. Aku tidak bisa pulang ke rumah itu. Aku tidak bisa menghadapinya."
"Kau tidak perlu menghadapinya sendirian, Kirana," kata Bara, tatapannya tegas. "Aku di sini. Aku akan melindungimu."
Janji itu. Janji yang sama seperti dulu. Janji yang kini terasa jauh lebih berarti. Bara masih Bara yang sama, pahlawan kecilnya.
"Tapi... kau sudah bertahun-tahun tidak ada, Bara," ucap Kirana, ragu. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Kau punya hidupmu sendiri sekarang."
Bara tersenyum, senyum yang menenangkan. "Hidupku selalu ada untukmu, Kirana. Aku tidak pernah melupakanmu. Aku selalu mencari cara untuk menghubungimu. Tapi setelah kau menikah dengan Revan, aku berpikir... mungkin kau sudah bahagia."
Hati Kirana teriris mendengar perkataan Bara. Ia merasa bersalah. "Maafkan aku, Bara. Aku... aku hanya tidak tahu harus bagaimana."
"Tidak apa-apa, Kirana. Yang penting kau ada di sini sekarang." Bara menghela napas, sorot matanya kembali melembut. "Jadi, apa rencanamu sekarang?"
"Aku tidak tahu," Kirana menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin menjauh dari Jakarta sebentar. Menenangkan diri. Mencoba mencari tahu apa yang harus kulakukan."
"Kalau begitu, tinggallah di sini dulu. Di Yogyakarta," Bara menawarkan, nadanya mantap. "Kau bisa menginap di apartemenku. Ada kamar kosong. Atau aku akan carikan tempat tinggal yang nyaman untukmu."
Kirana menatap Bara, terkejut. "Apartemenmu? Tidak, Bara. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Kau tidak merepotkan sama sekali, Kirana," Bara bersikeras. "Anggap saja ini balasan karena kau mau datang dan mencariku. Aku senang kau datang."
Ada ketulusan dalam ucapan Bara yang membuat Kirana tidak bisa menolak. Ia merasa aman di dekat Bara, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Terima kasih, Bara," ucap Kirana, air matanya kembali mengalir, kali ini air mata kelegaan. "Terima kasih banyak."
Bara tersenyum, mengusap lembut kepala Kirana. "Sama-sama, Kirana. Sekarang, jangan menangis lagi. Kau aman di sini."
Di tengah kehancuran hatinya, Kirana akhirnya menemukan sebuah jangkar. Sebuah harapan baru. Bara Mahendra, sosok dari masa lalu yang kembali hadir, membawa serta kehangatan dan janji perlindungan yang selama ini ia rindukan. Yogyakarta, kota yang dulunya hanya sekadar tujuan pencarian, kini terasa seperti tempat singgah, tempat di mana ia bisa mulai menyembuhkan diri, dan mungkin, menemukan kembali arti kebahagiaan. Jalan di depannya masih panjang dan penuh ketidakpastian, namun Kirana tahu, dengan Bara di sisinya, ia tidak akan sendirian.
Anda Mungkin Juga Suka





