
Hasrat Liar
Bab 3
"Sekarang, aku ingin kamu berlutut," kata Desy kepada Rey setelah ia membersihkan diri dan ia duduk di tepi tempat tidur lagi.
"Baiklah, Des," kata Rey begitu patuh dan berlutut di depan Desy seperti yang ia lakukan beberapa menit yang lalu.
"Bagus, sayang," kata Desy kepada Rey dan merentangkan kedua kaki untuknya. "Kamu bisa lebih dekat," kata Desy kepadanya saat dia menatap dengan kagum ke arah kemem yang merah mudanya dan sudah basah. "Seperti inilah bentuk kemem wanita," kata Desy kepada Rey dan mengusap celah kemem dengan jempol.
Desy kemudian menunjukkan dan menjelaskan tentang berbagai bagian kemem. Sambil melakukannya, Rey merentangkan bibir kemem untuknya dan menunjukkan di mana klitorisnya berada.
"Kamu bisa menyentuhnya Rey," kata Desy kepada Rey setelah dia selesai menjelaskan.
Rey mendekatkan telapak tangan kanannya ke lipatan tubuh Desy dan ia menyentuhnya dengan lembut. Dia mengusap jempol perlahan ke celah klitorisnya dan Desy hanya memejamkan mata saat Rey sudah melakukannya. Desy mengeluarkan erangan kecil saat Rey membelai daerah intimnya dengan lembut.
"Kamu gak apa-apa Des?" Rey bertanya kepada Desy saat mengusap kemem yang indah.
"Ya, Sayang, itu hebat." kata Desy kepada Rey sambil menahan erangan. Dia semakin panas dan basah setiap detik saat Rey terus menyentuhnya. "Sekarang Sayang, aku ingin kamu mulai menjilati kememku," pinta Desy kepada Rey dan ia segera memperhatikan Rey dari atas.
"Tentu saja, Des, aku akan membuatmu puas," kata Rey dengan nada menantang.
Rey melepaskan tangannya dari kemem Desy dan tubuhnya segera membungkuk. Desy bisa merasakan napas hangat Rey di vulvanya saat dia berhenti untuk menghirup aroma memabukkannya lalu menempelkan lidahnya di kememnya dan menjilatnya.
"Sayang, tunggu sebentar," kata Desy kepada Rey setelah dia menjilatinya dua kali dengan cara yang tidak berpengalaman dan tidak menyenangkan.
"Ada apa, Des?" tanya Rey menghentikannya, lalu menatap Desy.
"Saat kamu menjilati kemem wanita, kamu harus lebih lembut. Kamu bukan sedang menjilati permen lolipop." Kata Desy kepada Rey yang sedikit tersipu. "Gak apa-apa, aku akan menjelaskan dengan tepat bagaimana kamu harus melakukannya," tambahnya. "Aku ingin kamu mulai dengan menjilatnya pelan-pelan, lalu lakukan persis seperti yang aku perintahkan, oke?"
"Ya, oke, Des," kata Rey malu dan mulai menjilat pelan-pelan kemem milik Desy.
"Ya, seperti itu." kata Desy menyemangati Rey. "Sekarang, aku ingin kamu mulai mencium kememku di sana, ciuman lembut di seluruh kemem," kata Desy dan memperhatikan Rey saat ia melakukan apa yang diperintahkannya.
Rey mencium di celah kemem, di lipatan luar kememnya, di sekitar dan di atas klitorisnya dan bahkan mencium gundukan kememnya yang baru dicukur.
"Kamu melakukannya dengan hebat, Sayang," kata Desy di sela-sela erangannya, "Sekarang aku ingin kamu mulai menjilatiku, tetapi gunakan hanya ujung lidahmu. Aku ingin kamu menelusurinya di sepanjang celah kememku dan di sekitar bibir kememku."
Rey mendengarkan Desy dan ia mengikuti instruksinya, saat ia mulai menjilatinya. Ia mulai dari bawah dan menelusuri ujung lidahnya di celah kemem, mengusapnya ke atas dan ke bawah sebelum menggerakkan lidahnya dan menelusurinya di sekitar bibir kemem, lalu kembali ke celah kememnya. Ia memperhatikan celah kememnya menjadi lebih licin saat ia terus melakukannya dan merasakan sedikit rasa asam saat cairan Desy berkilauan di bibirnya yang basah.
"Ouuhh, kamu hebat sekali, Rey," ucap Desy kepada Rey saat dia melakukan apa yang diperintahkan. "Sekarang aku ingin kamu menggunakan lidahmu untuk melingkari klitorisku dan setiap menjilatinya, kamu harus terlihat menggoda," kata Desy kepada Rey dan memperhatikan lidahnya saat dia melakukan hal yang sama, ia menjilati dan menggoda klitorisnya. "Sialan, Sayang, ya seperti itu, ooh no....!" seru Desy sambil mengerang, di saat Rey membuatn tubuhnya menggila dengan lidahnya. "Sekarang masukkan lidahmu ke dalam kememku sedalam mungkin dan melengkung ke atas."
Rey menatap Desy yang mengerang dengan puas. Dia melihat kenikmatan di wajahnya saat dia terus menjilati kememnya dan merasakan darah mengalir kembali ke palkon. Dia benar-benar menikmati menjilati Desy dan melakukan apa yang diperintahkan Desy. Dia menjilati ujung kecil sensitif Desy sebentar lalu atas permintaan Desy, dia mendorong lidahnya sedalam mungkin ke dalam dirinya. Dia merasakan rasa kewanitaannya yang luar biasa dan menyukainya.
"Hebat, Rey!" kata Desy saat Rey mendorong lidahnya ke dalam kemem. Dia kesulitan berbicara di antara erangan dan gerutuannya yang semakin kuat, ketegangan di dalam dirinya meningkat. "Sekarang, Sayang," kata Desy sambil terkesiap, "Aku ingin kau... oh mantap... Aku ingin kamu... menutup mulutmu di sekitar klitorisku... dan mengisapnya sekuat tenaga," Desy nyaris tak bisa berkata lagi. Dia memperhatikan Rey saat dia menarik lidahnya keluar dari kemem, Rey bermain di klitorisnya dan dia merasakan sensasi luar biasa saat mengisap klitoris hingga berdenyut-denyut hingga mencapai orgasme.
"Ya, ya, YA!" Desy menjerit dan mendongakkan kepalanya, menutup matanya saat tubuhnya mengejang hebat.
Desy merasakan hal yang sangat luar biasa dan itu mengalir melalui tubuhnya saat dia menjerit karena kenikmatan, menghentakkan pinggulnya ke arah Rey dan mengejang saat dia terus menempelkan mulutnya ke klitorisnya dan mengisapnya sampai orgasmenya. Ketika kenikmatan terakhir berlalu, Desy jatuh terlentang. Baru setelah itu Rey melepaskan klitorisnya dan berdiri.
"Kamu gak apa-apa, Des?" tanya Rey setelah berdiri.
"Sayang, kamu luar biasa sekali. Aku gak nyangka kamu akan membuatku cepat keluar, tapi kamu berhasil menaklukan aku Rey." Ucap Desy bangga kepada Rey yang masih terengah-engah.
"Terima kasih, Des," kata Rey dengan rasa bangga dan malu sambil menatap Desy yang telanjang dengan penuh nafsu.
Desy kembali menatap Rey yang masih muda dan seksi, dia masih sedikit terkejut karena Rey telah berhasil membuat Desy keluar untuk pertama kalinya, bahkan dengan bimbingannya.
"Beri aku waktu untuk mengatur napas," kata Desy kepada Rey saat dia menyadari palkon Rey sudah kembali mengeras dan menegang. "Kita akan melanjutkannya." Kata Desy sambil menunjuk ketegangan palkon Rey. "Kurasa sudah waktunya untuk hal yang nyata Rey." Ucap Desy dan melihat palkon Rey sudah berkedut karena kegembiraan.
Kata-kata dari Desy begitu bergema di kepalanya saat Rey berdiri di sana. Sejak Rey mulai tertarik pada wanita, dia menganggap Desy sangat menarik perhatiannya. Dia akan terus menatapnya saat Desy berjalan di sekitar rumah dengan pakaian pendek, dan dia akan meliriknya ketika mereka pergi berenang, melihat tubuh seksinya yang hanya ditutupi bikini kecil, tetapi tidak pernah dalam mimpinya yang mempunyai hasrat liar, dia berpikir akan kehilangan keperjakaannya padanya.
Palkon itu terus berdenyut saat melihat tubuh cantiknya yang beristirahat di tempat tidur dan menunggunya untuk menjadikannya seorang pejantan tangguh bagi para wanita. Desy akhirnya duduk di sisi tempat tidur. Dia membuka laci di meja samping tempat tidur dan mengeluarkan bungkus plastik kecil.
"Duduklah di sebelahku, Rey," kata Desy kepada Rey yang segera melakukannya. "Kamu tau apa itu kondom, kan?" tanya Desy, dan Rey mengangguk. "Bagus." kata Desy dan ia merobek bungkusnya. "Sekarang kamu gak perlu ini denganku karena aku menggunakan alat kontrasepsi, tetapi kamu harus memakainya jika dengan gadis-gadis yang ingin berhubungan seks denganmu, jadi aku ingin menunjukkan kepadamu cara memakainya." Desy menjelaskan sambil menarik karetnya.
Desy memegang palkon Rey yang besar dan panjang, ia mengusapnya sekali, lalu menunjukkan cara memasang kondom di ujung palkonnya dan perlahan membuka gulungannya di sepanjang batang.
"Apakah kamu sudah siap untuk melakukannya Rey?" tanya Desy setelah ia melepaskan kondom. Ia ingin pengalaman pertama Rey senyaman mungkin tanpa menggunakan kondom. Selain itu, ia membayangkan palkon Rey segera meluncur ke dalam dirinya begitu menggairahkan.
"Uuuh... ooouh," kata Rey dan mengusap palkonnya beberapa kali.
"Oke, sabar Rey," kata Desy sambil naik ke tempat tidur dan menyingkirkan pakaiannya. Ia mengambil bantal besar dan meletakkannya di bawah punggung bawahnya. "Aku ingin kamu mulai dari atas." Kata Desy sambil meletakkan bantal besar di bawah kepalanya juga dan setelah berbaring telentang, merentangkan kedua kakinya. "Setelah kamu bisa, kita bisa bertukar posisi, dan aku akan berada di atas," kata Desy, meskipun ia tidak yakin apakah Rey akan bertahan cukup lama untuk bertukar posisi.
Rey tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya saat Desy membuat dirinya nyaman di tempat tidur, menawarkan dirinya kepadanya dengan cara yang tidak seharusnya dilakukan. Tetap saja, Rey tidak peduli, yang di lihatnya hanyalah seorang wanita cantik telanjang, yang bersedia membiarkannya masuk ke dalam dirinya dan membuatnya menjadi seorang pejantan tangguh. Dia mulai naik ke tempat tidur dan berjalan di antara kedua kaki Desy yang sudah terbuka lebar. Ia menatap kemem Desy yang terus menggoda dan menempatkan palkonnya yang sudah berada di pintu masuk.
Desy hanya memperhatikan Rey dengan teliti. Dia melihat hasrat liar di wajah Rey saat dia mempersiapkan diri untuk kehilangan kepolosannya. Dia tetap diam di saat Rey sudah menempelkan palkon di sela kemem miliknya.
"Oouuuhh..."
Getaran mengalir melalui tubuhnya saat ujung kejantanan Rey sudah bertemu dengan lipatan intimnya dan sedetik kemudian, kenikmatan itu telah menguasainya saat Rey sudah bisa menembus lubang sucinya lebih dalam.
"Oh, Des nikmat. Ouuhh... yaa..." Rey menjerit dan mengeluarkan gerutuan saat ia menerobos kemem Desy dengan penuh gairah.
Rey tak percaya betapa nikmat rasanya saat batangnya dengan mudah meluncur masuk ke dalam kemem Desy. Ia mengeluarkan erangan lagi dan melihat bagaimana Desy telah menerima seluruh batang besar dan panjang masuk ke dalam kememnya yang hangat. Ia mengerang karena sensasi kenikmatan yang tak terlukiskan saat palkon itu menghilang di dalam. Ia bisa merasakan dan mencoba untuk bergerak perlahan
"Oh, ya, Sayang!" Desy mengerang saat Rey mendorong palkon ke dalam kemem untuk yang kedua kalinya.
Desy melihat tubuh Rey yang kuat dan mengamatinya saat Rey mulai memegang pahanya yang terbuka lebar dan mulai mendorong dirinya dengan gerakan lambat.
Plok plok plok plok...
Plok plok plok plok...
"Rey, aku suka... terus Rey yang kuat..."
Rey terus mendengarkan erangan Desy yang semakin keras. Ia mulai dengan sangat pelan, khawatir ia akan selesai terlalu cepat, tetapi setelah melakukannya dengan pelan, ia menyadari bahwa ia sama sekali tidak akan ejakulasi dan mempercepat gerakannya.
"Oh, ya, Sayang!" panggil Desy penuh hasrat liar saat Rey mulai memompa kememnya yang basah dengan irama begitu cepat, hingga terdengar benturan kedua tubuh.
Desy terkejut karena Rey masih terus melakukannya dan mulai mengerang lebih keras saat Rey menghentak kemem dengan keras. "Ya sayang, teruskan aja, jangan malu-malu!" teriak Desy dan mengeluarkan erangan keras lainnya, sementara suara buah zakar Rey yang menghantam pantatnya mencapai telinganya dengan setiap dorongan pinggulnya yang kuat.
"Ya ampun Des, ini terasa sangat nikmat," kata Rey sambil terus mendorong palkonnya ke dalam kemem dengan penuh semangat.
Rey mendengarkan erangan dan panggilan kenikmatan Desy dan menyaksikan dengan terpesona saat bukit kembar memantul ke mana-mana, bergoyang ke segala arah saat Rey mendorong palkon ke dalam kemem dengan kuat.
"Sayang, kamu ingin berganti posisi?" Desy bertanya ketika menyadari bahwa Rey mulai lelah dan mulai memperlambat dorongannya. Dia berharap Rey tidak memperlambatnya karena dia akan segera mencapai klimaks.
Desy sangat ingin naik ke atasnya dan menunggangi Rey, ia ingin Rey menjadi pejantan tangguh hingga mencapai klimaks.
"Ya," kata Rey dan melepaskan palkon dari kemem Desy. Dia terengah-engah dan memperhatikan Desy saat duduk dan menggeser bantal tempat dia duduk.
"Berbaringlah," kata Desy dan Rey segera menggantikannya.
Desy membungkuk, meraih palkonnya dan menjilatnya dengan cepat. Dia menikmati rasa cairannya di palkon dan terhibur oleh ekspresi di wajahnya. Dia kemudian naik ke atas tubuh Rey dan duduk di pinggangnya. Ia meraih palkon Rey, menekannya ke vulvanya sambil menatapnya, lalu mengangkat pinggangnya sedikit.
Desy menggunakan tangannya untuk menuntun palkon Rey ke arah lubangnya dan sambil menatap lurus kedua matanya, tangan menuntun palkon masuk ke dalam kemem dengan erangan yang saling keluar dari bibir mereka.
"Enak Des!" Rey merengek saat kejantanannya mulai masuk ke dalam kemem.
Rey mendongak ke atas ke arah wajah Desy yang luar biasa bermain di atasnya, palkon yang keras dan ia mengerang kala Desy sudah mulai menungganginya.
"Sial, rasanya luar biasa," Rey berteriak dengan gembira "tolong jangan berhenti," pintanya dan meraih pinggang Desy, kedua tangannya ikut naik turun seiring gerakan tubuh Desy.
Rey menunduk ke palkon, ia melihatnya sudah menghilang di dalam surga milik Desy, lalu menatap bukit kembar yang besar dan cara payudaranya yang menggoda saat ia menungganginya, dan akhirnya menatap wajah Desy, ia mencuri pandangan dengannya dan melihatnya mengerang dengan senang.
Bukit kembar ikut bergoyang-goyang dan Desy menatap wajah Rey di saat ia menghantamkan kemem ke palkon sekeras dan secepat yang ia bisa.
"Des, aku gak bisa bertahan lebih lama lagi." Kata Rey tergesa-gesa saat Desy memompa palkon Rey lebih keras dari yang pernah ia kira.
Rey menutup matanya agar tidak melihatnya dan mencoba memikirkan apa pun selain Desy yang telanjang menunggangi, semua ini dilakukannya dalam upaya yang sia-sia untuk menunda klimaksnya.
"Des, aku akan keluar," kata Rey dengan suara gugup beberapa detik kemudian tubuh Rey mulai mengerang liar.
"Silakan sayang, keluarkan untuk aku! Keluarkan aja di dalam kememku," kata Desy yang terus menungganginya dengan penuh gairah dan terus memompanya.
Desy merenungkan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya dan menyaksikan Rey yang sudah orgasme.
"Des, aku keluaaarr.....!" Rey berteriak dan mulai menyemprotkan mayones dalam kemem Desy.
Desy bisa merasakan palkon Rey menyemprotkan cairan ke dalam dirinya dan menunduk melihat wajah Rey yang berubah karena kenikmatan. Ia menatap Rey dengan takjub saat dia mulai menangis sambil menyemprotkan cairan hangat yang banyak sekali ke dalam kemem yang basah. Dia mendengar kabar bahwa ada beberapa pria menangis saat mereka mengeluarkannya di dalam, tetapi dia tidak yakin itu nyata, sampai dia melihat sendiri jika Rey menangis tersedu-sedu saat dia memenuhi kemem yang sudah penuh cairan hangat.
"Des, bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Rey.
"Aku kan tadi udah bilang, kamu tenang aja. Nikmati aja permainan ini."
Desy masih terus menungganginya sepanjang klimaksnya, menyaksikan air kenikmatan yang mengalir di kememnya sampai orgasmenya mereda dan palkon Rey mulai lemas. Dia begitu dekat dengan orgasmenya sendiri sehingga tanpa memikirkannya, Desy mulai menggosok klitorisnya dengan hasrat liar sampai tubuhnya mengejang hebat.
"Gila banget Rey!" Desy menjerit saat dia sudah mencapai puncaknya.
Kedua kaki Desy bergetar tak terkendali, di ikuti oleh pinggang dan tangannya saat tubuhnya melonjak karena kenikmatan. Dia merasa seperti tersengat listrik, tetapi alih-alih rasa sakit, yang ada adalah rasa kenikmatan yang luar biasa.
Desy mendengar erangan seperti binatang keluar dari mulutnya dan berusaha sekuat tenaga untuk terus mengusap klitorisnya. Itu adalah salah satu orgasme terlama dan terkuat yang pernah di alaminya. Rasanya seperti berlangsung selama satu jam lebih mereka bermain sebelum akhirnya dia merasakan keluar untuk yang ketiga kalinya.
Rey kagum pada Desy, saat dia mencapai puncaknya, Desy saat itu masih berada di atasnya. Dia malu dan menerima kenyataan, bahwa dia menangis seperti bayi kecil ketika mengeluarkan mayones di dalam. Itu adalah hal pertama kali bagi Rey dan hal itu terjadi padanya, dia melupakan semuanya ketika Desy mulai mengejang di atasnya.
Rey melihat beberapa video wanita yang mencapai puncaknya, tetapi tidak ada yang seekstrem yang baru saja di alami oleh Desy. Begitu selesai, ia menangkap tubuh Desy dengan kedua tangan dan menurunkan ke dadanya, beberapa getaran terakhir mengalir melalui tubuh Desy saat ia berbaring di atasnya.
Desy merasakan palkon milik Rey sudah menciut dan keluar dari kememnya, saat ia merasakan cairan mereka mengalir keluar darinya dan jatuh ke seprai. Dia sangat lelah karena kenikmatan itu, ia hanya berbaring di pelukan Rey, kepalanya bersandar di dada Rey, sementara bukit kembar yang besar bersandar di perut bagian bawah.
"Rey, kamu gak kenapa-napa kan?" Desy bertanya setelah mereka berbaring tak bergerak selama lebih dari setengah jam, memikirkan apa yang baru saja mereka lakukan.
"Aku baik-baik aja." Rey berkata dengan suara lelah. "Bagaimana denganmu?" tanyanya.
"Aku pun baik-baik aja, Sayang," kata Desy mengangkat kepalanya untuk menatapnya. "Bagaimana perasaanmu tentang apa yang baru aja kita lakukan?" Desy bertanya kepada sambil masih menatapnya.
"Aku gak yakin," kata Rey sambil memikirkannya. "Aku sama sekali gak menyesalinya," katanya yang membuat Desy lega.
"Permainan kamu benar-benar panas dan luar biasa yang pernah aku rasakan selama ini, dan itu benar-benar membuatku ingin terus melakukannya denganmu." Kata Desy. "Aku senang, Rey," Desy mencium dada Rey sebelum duduk.
Desy berjalan ke lemari, mengambil handuk yang lain dan menggunakannya untuk membersihkan kemem, ia menyeka sisa-sisa cairan Rey yang masih menempel di kememnya sebelum menyerahkan handuk itu kepadanya. Dia masih memperhatikan Rey, tangan masih menyeka palkon saat dia mengenakan kembali bra dan celana dalamnya, di ikuti oleh celana dan sweternya.
Saat Rey berpakaian, Desy membuka jendela dan membiarkan udara dingin mengalir ke dalam ruangan, mengeluarkan bau mayones yang kuat.
"Siap?" Desy bertanya setelah ia selesai berpakaian dan mengulurkan tangannya.
"Siap untuk apa Des," kata Rey dengan percaya diri dan meraih tangannya. Ia menariknya ke pintu dan membukanya dengan pelan.
"Sekarang mari kita lihat bagaimana kamu akan melakukannya dengan si kembar." Kata Desy sambil membuka pintu dan melangkah keluar dengan Rey di belakangnya.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





