Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Liar Darah Muda

Hasrat Liar Darah Muda

Firhan Ardana, pemuda 24 tahun, memulai karier magangnya di kota asal sembari menghadiri reuni SMP yang penuh kenangan. Namun, pertemuan itu justru menjeratnya dalam pusaran gairah yang rumit. Ia terjebak di antara pesona Puspita yang misterius, daya tarik Meilani yang blak-blakan, serta godaan berbahaya dari sang primadona, Azaliya. Di tengah gejolak darah muda, Firhan harus menghadapi konflik batin antara cinta dan nafsu yang mengaburkan batas moralitasnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!

Suara klakson panjang itu seperti alarm kiamat. Gendang telingaku terasa seperti digetok palu godam, memaksa otakku-yang sedang melayang entah ke mana-kembali menjejak realitas. Panik, aku menoleh ke belakang. Barisan kendaraan berderet seperti parade semut, tapi yang ini penuh kemarahan. Raungan klakson mereka menyuarakan satu pesan yang sama: "Gerak, woy!"

Dan sialnya, biang keroknya adalah aku. Atau lebih tepatnya, motor sport hitam mengilap 150cc-ku, yang berdiri gagah tak bergerak di barisan paling depan lampu merah. Lampu hijau sudah lama menyala, tapi aku malah ngelamun. Dengan terburu-buru, aku memutar gas, melesat seperti pembalap kelas dunia yang telat briefing.

Rasa malu? Ada, jelas. Tapi rasa bersalah lebih besar. Orang-orang di belakang pasti sudah mendampratku dalam hati, bahkan mungkin ada yang mendoakan ban motorku kempes.

"Maaf, maaf!" gumamku pelan, tentu saja mereka tak mungkin mendengar.

Namaku Firhan Ardana, 24 tahun, calon anak magang di sebuah perusahaan ternama di kota ini. Kata "calon" itu penting, karena aku masih dalam masa percobaan tiga bulan. Kalau masa percobaan ini gagal, tamat sudah riwayatku. Bayangkan, harus balik lagi ke kampung dengan status pengangguran. Malu setengah mati.

Soal penampilan, aku cowok standar Indonesia: tinggi 170 cm, berat badan normal. Kalau tampang? Itu relatif. Ada yang bilang mukaku ganteng, ada yang bilang manis, dan ada juga yang bilang sangar. Entah kenapa, aku curiga mereka yang bilang "sangar" itu ngincer rokokku waktu SMA. Tapi intinya, aku bukan levelnya artis sinetron, apalagi Brad Pitt.

Hari ini, aku sedang dalam perjalanan menuju acara reuni SMP. Lokasinya di gedung mewah di pusat kota. Sebenarnya, reuni ini acara tahunan. Tapi baru kali ini aku punya cukup keberanian untuk datang. Mungkin karena sekarang aku sudah jadi Firhan yang berbeda. Dulu, di masa SMP, aku anak cupu yang sering nggak dianggap. Untungnya, zamanku belum ada istilah "cyberbullying," jadi paling parah aku cuma dijutekin di kantin.

Reuni ini, bagiku, adalah seperti gladi resik hidup baru di kota ini. Setelah bertahun-tahun jadi anak rantau karena ikut ibuku pindah, akhirnya aku kembali. Kota ini tempat semua kenangan masa kecil tersimpan, termasuk... dia.

"Aku merindukanmu..." gumamku lirih, kata-kata itu seperti tercecer dari sudut hatiku yang penuh debu.

Aku melirik jam tangan. Telat 30 menit. Gawat. Acara ini memang bukan wisuda, tapi siapa sih yang mau masuk gedung sambil diliatin semua orang? Tarikan gas motorku semakin dalam, melesat membelah lautan kendaraan yang entah kenapa terasa lebih ganas hari ini.

Dari jauh, seorang pengendara ojek online tiba-tiba menyalip dengan kecepatan rudal, membuatku refleks mengerem. "Bangke!" Hampir saja aku cium trotoar.

Zakarta-atau apa pun nama kota ini-memang masuk daftar lima besar kota termacet di dunia. Dunia, bro! Bayangkan hidup di tempat di mana setiap hari kamu harus berjibaku dengan kendaraan seperti ini. Ditambah jalan berlubang dan lampu lalu lintas yang kayaknya cuma pajangan. Lucunya, tiap tahun kita bayar pajak kendaraan, tapi hasilnya? Nihil. Kadang, aku membayangkan ada semacam "monster aspal" yang setiap malam memakan jalan-jalan kita.

Gedung itu, mercusuar nostalgia yang menjulang ke angkasa, sudah memanggil-manggil dari kejauhan. Tinggal satu sandungan bernama lampu merah lagi, dan gerbang dimensi waktu yang membawaku kembali ke masa lalu itu akan terbuka lebar. Tapi tunggu... ada yang aneh.

Di tiang lampu merah itu, bukan lagi angka digital membosankan yang menghitung mundur. Melainkan sebuah layar digital raksasa yang seakan mencuri perhatian semua pengendara. Di sana, sebuah lingkaran hijau berdenyut, seperti jantung alien yang sekarat, perlahan-lahan mengempis. Setiap detaknya menggerogoti ukuran lingkaran itu, dan di tengahnya, angka-angka sisa waktu berkedip-kedip. Inovasi Dinas Perhubungan, katanya. Biar pengendara nggak cuma bengong, tapi ikut merasakan sensasi bom waktu menjelang lampu merah menyala. Sebuah ide brilian, kalau saja jantungku tidak ikut berpacu lebih cepat dari biasanya.

04

Melihat pertunjukan lampu hijau yang tinggal beberapa kedipan lagi, insting pembalap jalanan dalam diriku berteriak. Empat detik? Cukup! Pedal gas kutekan lebih dalam, mengirimkan getaran kecil ke seluruh tubuh. Aroma knalpot motorku bercampur dengan aroma kopi dari warung di pinggir jalan. Semoga dewi fortuna masih berpihak padaku untuk menerobos lampu kuning yang sebentar lagi pasti muncul bagai wasit yang meniup peluit panjang.

03

Semakin dekat ke gedung tempat reuni, semakin ramai pula para 'penumpang gelap' di kepala ini. Wajah-wajah masa lalu berkelebat, beberapa samar, beberapa masih jelas terukir. Bagaimana ya rupa mereka sekarang? Apakah si Budi masih setia dengan rambut gondrongnya? Apa kabar si Ani yang dulu selalu membawa buku tebal ke mana-mana? Mampukah aku mengingat semua nama yang pernah menghiasi buku tahunan sekolah? Yang lebih menakutkan, apakah mereka masih mengingat si 'aku' yang dulu? Bisakah aku menyatu kembali dengan gerombolan masa lalu itu? Mungkinkah mereka menerima 'aku' yang sekarang? Atau jangan-jangan malah aku jadi seperti alien yang salah mendarat di pesta mereka? Argh... mending aku putar balik saja deh. Urusan adaptasi memang bukan keahlianku sejak lahir. Rasanya seperti mencoba berbahasa klingon di tengah konser dangdut. Terlalu banyak variabel, terlalu banyak potensi awkward moment.

02

"Huuuuussshhh...!" Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir kawanan pikiran negatif yang sudah siap berpesta di otakku. "Ini cuma reuni, Bambang! Bukan audisi pencarian jodoh!" Aku mencoba mengaktifkan mode 'bodo amat' level dewa. Apapun yang terjadi setelah lampu merah ini, kuterima dengan lapang dada... atau setidaknya, mencoba terlihat lapang dada. Seperti pasrah saat kalah main batu-gunting-kertas melawan bocah lima tahun.

01

Hari ini reuni dengan teman-teman sepermainan yang kini wajahnya mungkin sudah banyak bermain kerutan. Besok, tantangan baru menanti: beradaptasi dengan spesies baru di tempat magang. Dua hari berturut-turut ini akan menjadi debutku di panggung kehidupan yang baru. Semoga saja sutradaranya tidak iseng memberiku peran figuran tanpa dialog. Semoga saja semua skenario berjalan sesuai harapan. Semoga saja...

00

Lingkaran hijau itu benar-benar habis tak bersisa, seperti kuota internet di akhir bulan. Layar digital itu berganti kostum, dari hijau cerah menjadi oranye menyala, sebuah peringatan terakhir yang diabaikan oleh sebagian besar pengendara di negeri ini. Detik berikutnya, warna merah membara mendominasi layar, sebuah titah tak tertulis yang memaksa semua roda berhenti berputar. Waktu seolah melambat, seperti adegan slow motion dalam film action, saat sang jagoan berhasil menjinakkan bom di detik-detik terakhir. Atau seperti saat pelari maraton melihat garis finish yang tinggal beberapa langkah lagi. Semuanya terasa dramatis.

Tapi, namanya juga hidup, seringkali lebih mirip sinetron azab daripada film superhero. Kenyataan seringkali punya selera humor yang kejam. Kulihat posisi motorku masih beberapa meter dari garis putih sakral sebelum lampu merah. Bukan di zona aman seperti yang kubayangkan.

"Kampret..." Umpatan lirih lolos dari bibirku. Nasi sudah jadi bubur ayam... dan aku sudah lapar. Tanggung! Dengan mental preman pasar yang ogah rugi, aku semakin memelintir gas. Menerobos lampu merah yang baru saja berubah warna. Sebuah keputusan brilian, Gassss!

Di saat yang bersamaan, entah dari mana datangnya, sebuah motor matic meluncur dari arah kanan dengan kecepatan penuh, layaknya roket nyasar yang lupa tujuan. Pengendara motor itu, seorang bapak-bapak dengan jaket ojek online, terlihat kaget bukan main. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot seperti melihat hantu mantan. Dan akhirnya...

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istriku Yang Seksi
8.1
Dunia Alden hancur saat memergoki Synthia, istri yang sangat ia cintai, berselingkuh tepat saat ia hendak memberi kejutan. Dipicu dendam, Alden menjerat Saskia, gadis polos teman istrinya, ke dalam pernikahan paksa. Meski awalnya hanya ingin membalas sakit hati, Alden justru mulai luluh oleh kehadiran Saskia. Kini, Saskia harus bertahan menghadapi sikap dingin sang suami yang arogan. Akankah cinta tulus tumbuh di tengah badai cobaan dan luka masa lalu mereka?
Sampul Novel Kecurangan Maduku
9.5
Andin Rosemala rela merantau demi menopang ekonomi keluarga dan masa depan kedua anaknya. Bagi Andin, pernikahan dengan Rendy Prawira adalah komitmen suci yang harus dijaga meski dalam kesulitan. Namun, saat ia banting tulang di kota, Rendy justru mengkhianati kesetiaannya dengan menikahi Ayu secara diam-diam. Di tengah rasa sakit akibat dicurangi, mampukah Andin bertahan? Akankah Rendy melepaskan istri keduanya, atau justru Ayu yang akan semakin dominan menguasai segalanya?
Sampul Novel Ketika Cinta Adalah Sebuah Kebohongan
9.7
Tiga tahun Kesha menderita dalam pernikahan beracun dengan Juan hingga sebuah pengkhianatan keji dari adiknya menjadi titik balik. Setelah dijebak, Kesha memilih pergi dan meninggalkan surat cerai. Tahun-tahun berlalu, ia kembali sebagai sosok sukses yang memukau. Juan yang terpaku melihat kemiripan Kesha dengan cinta barunya mulai menyadari bahwa ia hanya menjadikan Kesha pengganti. Dalam keputusasaan, Juan mengejarnya demi jawaban atas luka masa lalu mereka.
Sampul Novel Pernikahan Paksa Dosen Killer
8.2
Aurelia Safira, gadis 19 tahun yang asing dengan cinta, nekat mendatangi tempat misterius demi sebuah tantangan. Di sana, ia terlibat insiden tak terduga dengan pria asing. Hidupnya makin kacau saat ia dipaksa menikah dengan Darius Aksara, dosen killer yang sangat ia takuti. Setelah menikah, Lia baru menyadari bahwa suaminya menyimpan rahasia kelam dan profesi yang membahayakan nyawa. Kini, ia terjebak dalam rumah tangga penuh ancaman dan rahasia besar.
Sampul Novel Reinkarnasi Menjadi Istri Presdir Dingin
9.6
Dikhianati dan dibunuh secara keji oleh mantan suami serta selingkuhannya, Lara Anggraini bangkit kembali melalui reinkarnasi. Jiwanya kini terjebak dalam tubuh wanita lain yang ternyata adalah istri dari mantan bosnya, seorang Presdir berwatak dingin. Di tengah kehidupan barunya yang penuh kemewahan namun kaku, Lara mulai merancang rencana besar. Mampukah ia membalaskan dendam masa lalunya yang menyakitkan kepada orang-orang yang telah menghancurkannya?
Sampul Novel Saving My Two Sons Mentally
9.1
Demi menyelamatkan masa depan kedua buah hatinya, seorang istri mengambil keputusan besar untuk bercerai dari suaminya. Kini, ia harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya hidup. Tanpa lelah, ia membanting tulang dari pagi hingga larut malam hanya untuk mencukupi kebutuhan harian serta biaya pendidikan anak-anaknya. Kisah ini menggambarkan pengorbanan luar biasa seorang ibu yang rela bekerja keras demi memberikan kehidupan yang lebih layak bagi anak tercintanya.