
HASRAT ISTRIKU
Bab 2
Malamnya setelah kami selesai makan malam aku, istriku dan Steven keluar menikmati suasana kota S bagian atas pada malam hari. Banyak hal juga yang obrolkan, lebih banyak tentang kehidupan asmara Steven dan sesekali membahas kehidupan perkawinanku dengan Memei.
"Aku tuh bukannya nggak ada cewe yang ngejar-ngejar aku. Tapi emang belom ada yang cocok aja." bela Steven ketika kami berdua mencoba mengejek kesendirian sahabatku ini.
"Emang cewe yang kayak gimana sih Steve yang kamu cari?" tanya istriku penasaran.
"Hhmmm...mm..."
"Kayak kamu Mei!"
"Yang mukanya chubby-chubby manis gitu, terus yang bodinya bikin enak kalo dipeluk. Yang bikin betah kalo dikelonin. Hehehehe" jawab Steven sambil melirikku dengan ekspresi iseng menggoda kami berdua.
"Ahhh.... Kamu ini senengnya ngeledek aku terus."
"Pih, liat tuh kelakuan temenmu. Masa istri temennya sendiri diledek mulu kayak gitu"
"Udah malah pake acara nggombal lagi!" jawab istriku merajuk sambil menggembungkan pipinya yang chubby itu. Sungguh manis sekali ekspresi wajah istriku itu ketika digoda oleh sahabatku ini.
"Hahaha... Kamu malah kayak gitu ekspresinya kok mih. Gombal-able banget emang kok, iya gak Steve?" balasku justru malah untuk menggoda istriku.
"Bener banget lo Ndre! Bukan salah gue dong ya kalo deket-deket bini lo, hawanya pengen muji dia terus" Sambung Steven menyetujui pernyataanku.
Sampai sisa malam kami bertiga nongkrong bersama, istriku hanya menjadi bahan candaan kami berdua. Dan dia juga meresponi candaan kami berdua, bahkan sesekali istriku mulai berani kontak fisik dengan Steven sahabatku, entah itu mencubit lengan ataupun perutnya dan menjitak ringan kepala Steven untuk membalas keisengan Steven. Aku yang melihat mereka berdua yang mulai akrab bukannya marah atau cemburu, tapi malah ikut tersenyum dengan tulus. Tidak ada sedikit perasaan negatif apapun sama sekali. Yaa... Biasa aja gitu ngeliatnya... Ikut happy aja ngerasain keakraban kami. Memang aku dan Steven dari dulu sudah sangat akrab, bahkan bisa dibilang kami sangat dekat. Jadi melihat istriku juga akhirnya akrab dengan sahabatku ini, aku senang-senang saja.
Sekitar jam 10an setelah puas berkeliling dan mengobrol, kami pun pulang. Di perjalanan saat kami pulang, ketika kami melintas di salah satu jalan tempat ramai anak muda sedang berkumpul, di depan mobil kami melintas sebuah sepeda motor yang ditumpangi sepasang muda – mudi, mungkin mereka sedang pacaran pikirku. Yang membuat kami terkejut adalah bokong si perempuan yang dibonceng di belakang sangat terekspos dengan frontalnya. Sedikit banyak bokong wanita itu mirip dengan bokong istriku yang besar itu. Cukup lama posisi pasangan tersebut dengan sepeda motornya berada tepat di depan kami, karena jalanan cukup padat pada saat itu. Mau tidak mau, kami bertiga cukup lama menyaksikan pemandangan bokong wanita tersebut.
"Anjing Ndre, liat tuh cewek bodinya mantep bener!" teriak Steven sangat antusias.
"Iye liat juga gue, biasa aja dong ngeliatnya." jawabku santai tidak mau terlihat sama antusiasnya dengan Steven, mengingat di jok belakang ada istriku.
"Gue mah udah punya." lanjutku.
"Maksudnya?" sahut Steven sambil menatapku.
"Tuh, punya bini gue lebih mantep malahan" kataku sambil sedikit menengok ke belakang.
"Hahaha sial lo! Lo sih enak, udah punya bini spek semok, alias sexy dan montok. Bisa ngerasain tiap hari, Lah gue?" Seloroh Steven menanggapi ucapanku.
"Kalo aja lo gak ada di sini, udeh gue......" ucap Steven sengaja menggantung perkataannya sambil melihat istriku di belakang.
Istriku yang sadar dirinya kembali menjadi bahan candaan kami langsung melototkan matanya tapi dengan ekspresi khas merajuknya sambil mencubit perut kami berdua dengaan cukup kencang.
"Kaliaaan berduaaaa yaa!! Pada edan beneran kayaknya! Malah aku yang jadi sasaran. Sana kalo berani, cewek di depan digodain sana! Jangan nggodain aku mulu bisanya!" Ucap istriku sambil mencubit pinggang kami berdua.
"Aduuuh..duh...duh... Ampun Mei!! Cuma bercanda kali" ucap Steven sambil meringis kesakitan. Karena kuakui, cubitan tadi cukup kencang dan sakit kurasa. Mungkin karena istriku benar-benar gemas kepada kami berdua yang sedari tadi menjahilinya dengan candaan-candaan kami. Aku hanya tertawa melihat keributan kecil yang terjadi di dalam mobil ini.
"Si Papih nih juga, liat istrinya digodain orang lain malah ketawa-ketawa. Emangnya seneng ya kalo istrinya digodain cowok lain?" jawab istriku sambil melihatku dengan tatapan yang entah kenapa seperti tersirat sesuatu.
"Eh Mei, gue sama Andre tuh dari dulu udah sering saling berbagi apa yang kita punya... Jadi gue rasa kayaknya kalo gue pengen sama kamu juga, dia juga bakalan ngasih tau gak?" ucap Steven tak tau aturan.
"Eh, si kampret... Lo kira bini gue sepeda motor supra butut gue dulu yang sering lo pinjem buat jualan ayam potong! Sembarangan aja lo kalo ngomong..." Ucapku sambil menoyor pelan kepalanya.
"Hahahahaha.... Becanda broo...." sahutnya sambil tertawa mendengar jawabanku.
Dulu memang kami sebegitu dekatnya sehingga kami saling mensupport dalam hal apapun. Termasuk ketika dia memulai bisnis kecil-kecilannya dalam menjual ayam potong dengan cara berkeliling dari pasar ke pasar, maupun ke pedagang-pedagang ayam goreng dipinggir jalan menggunakan sepeda motorku yang dipinjamnya. Sampai sekarang bisnisnya sukses dan berkembang, kami tetap dekat sebagai sahabat, bahkan mungkin lebih dari sekedar sahabat. Dan dia juga tidak pernah melupakan jasaku yang meminjamkannya sepeda motorku ketika dia merintis usaha tersebut. Sampai sekarang, ketika aku masih berjuang juga dan membutuhkan bantuan, dia akan dengan sangat senang hati membantuku.
"Si papih bisa-bisanya nyamain mamih sama motor butut punya papih dulu yaa....." celetuk istriku ditengah tertawa kami yang membuat tawa kami berdua semakin menjadi-jadi.
Kemudian pikiranku tiba-tiba melayang memikirkan bagaimana jika aku benar-benar berbagi istriku dengan sahabatku ini. Dimana kami berdua menggarap istriku secara bersamaan, disaat istriku menghisap kejantananku, disaat yang sama juga kemaluan istriku disodok oleh batang kejantanan Steven yang aku akui cukup panjang itu. Dan kami berdua sama-sama menyemprotkan sperma kami kedalam mulut istriku sampai meluber saking banyaknya gabungan volume sperma kental kami. Lalu imajinasiku beralih dimana aku hanya melihat istriku dan sahabatku saja yang saling berpacu dalam desahan kenikmatan, sedangkan aku hanya melihat sambil mengocok batang kejantananku. Membayangkan itu saja, tanpa sadar kejantanaanku mengeras ketika aku masih saja menyetir mobil ini.
Dan tiba-tiba lamunan khayalanku itu hilang karena aku dikagetkan oleh teriakan Steven...
"Ndre, ikutin Ndre...Ikutin....!!!" cerocosnya dengan sedikit suara yang sedikit lebih keras sambil menepuk-nepuk bahu kiriku.
Kamipun membuntuti perlahan dibelakang motornya, namun ternyata di perempatan depan mereka berbelok arah sementara kami terus lurus " yah..." ucap Steven dengan sedikit nada kecewa.
"Hahahaha.... Sukurin kamu Steve, gak jadi dapet mangsa." istriku gantian mengejek sahabatku yang satu ini.
Istriku terus saja tertawa sambil menggoda Steven yang sekarang terlihat kecewa karena 'pemandangan indahnya' sudah hilang di perempatan tadi.
"Seneng ya kamu Mei, liat gue sedih." kata Steven meresponi istriku yang terus saja cekikikan mengingat kejadian tadi dan ekspresi lucu kekecewaannya.
"Awas kamu hati-hati ya, nanti kamu yang gue mangsa. Baru tau rasa kamu!" ucap Steven sambil berakting menakut-nakuti istriku.
"Haahaahaha... Duuhhh.... akuuu takuuuuttt...!" jawab istriku dengan mimik mukanya yang dibuat-buat.
Aku hanya menggeleng-gelengkaan kepalaku saja melihat kelakuan istri dan sahabatku ini.
Akhirnya tak berapa lama sampai di rumah, sebentar kami menonton tv, sambil meminum kopi dan merokok kami berdua masih mengobrole sementara istriku pamit ke dalam kamar untuk ganti baju katanya. Sebelum beranjak ke dalam kamar, istriku masih sempat menggoda Steven sambil berkata; "Dah ya, aku pamit ganti baju dulu. Kalian lanjut ngobrol aja. Steve, awas kamu nanti kalo tidur jangan sampe ngebayangin cewek bahenol yang tadi ya... Nanti sprei kamar tamuku susah nyucinya. hahahahha..." Ucap istriku tertawa menjahili sahabatku sebelum masuk ke dalam kamar.
"Kurang asem kamu Mei. Temen suamimu lagi bete gini malah diledekin." sahut Steven sambil mengangkat tutup gelas berpura-pura ingin melempar kearah istriku.
Beberapa saat setelah kami berdua ngobrol singkat. Aku akhirnya ijin pamit ke dalam kamar kepada sahabatku dengan alasan ingin tidur. Steven tidak langsung masuk ke kamarnya ketika aku beranjak ke kamarku, mungkin dia mau melanjutkan menonton acara tv pikirku.
Ketika aku masuk ke dalam kamar, kulihat istriku masih belum tidur karena dia masih bermain handphone miliknya, mungkin sedang mengecek sosial media miliknya. Aku langsung rebahan di sebelah istriku sambil menarik istriku ke dalam pelukanku.
"Loh, si Steven kamu tinggal sendirian di depan pih?" tanya istriku.
"Iya, aku mau tiduran sambil meluk kamu soalnya." jawabku sambil mengeratkan pelukanku pada istriku.
Istriku hanya tersenyum, sambil juga memelukku. Dalam pelukan itu, sesekali aku meremas pantatnya yang montok itu. Istriku hanya merespon dengan sesekali menjauhkan tanganku dari pantatnya.
Kemudian aku mulai menciumi leher istriku sehingga membuat istriku merubah posisi menjadi terlentang menerima pasrah cumbuanku.
"ahchh....hmmph..." suara desahannya terdengar lirih.
Ciumanku terus merambat turun keatas payudara brutal milik istriku ini sambil aku menurunkan dasternya sedikit ke arah perutnya. Aku jilati payudara sebelah kanan istriku sambil meremas payudara sebelah kirinya. Setelah beberapa saat kurasakan puting payudara istriku mengeras, aku alihkan tangan kananku ke mulutnya. Aku masukan jari tengah dan telunjukku ke dalam mulutnya sambil aku gerakkan keluar-masuk, ternyata istriku meresponi gerakan tanganku itu dengan memegang sambil menghisap dan menjilat jari yang kumasukk
Anda Mungkin Juga Suka





