
Hasrat Dunia Lain
Bab 2
“Terima kasih Pak Satpam!” ucap Nurdin penuh rasa hormat.
“Security, Mas,” balas lelaki setengah baya berseragam security itu sambil membalikan tubuhnya hendak kembali beranjak.
“Oh iya maaf. Terima kasih Bapak Security sudah mengantar saya.” Nurdin kembali mengulangi ucapan terima kasihnya lebih panjang. Sepenjang rasa geli yang menggelitik jiwanya.
‘Manusia aneh, memang apa bedanya Satpam sama Security?’ ucap Nurdin dalam hati sambil menatap punggung lelaki setengah baya yang dalam sekejap matanya sudah menghilang di kegalapan malam.
‘Eh, cepet amat dia ngilangnya?’ tanya Nurdin lagi dalam hati, ‘Emang dia satpam dari bagian mana sih?’ lanjutnya saat dia baru tersadar, tidak sempat bertanya dan memperhatikan lelaki itu secara mendetail saat tadi jalan bersama.
Di proyek ini terdapat puluhan satpam yang bertugas di masing-masing bagiannya. Banyak juga bagian keamanan lain yang tidak berseragam. Lebih tepatnya disebut centeng, preman atau sejenisnya. Proyek raksasa memang sangat rawan dari gangguan ormas, LSM juga warga sekitarnya.
Nurdin pun langsung masuk ke pondokan dan tiduran di kamarnya seraya menatap langit-langit yang membisu. Dalam hitungan menit berikutnya kebisuan itu sirna saat tiba-tiba dia mendengar suara yang sedikit menggelitik rasa penasarannya. Suara seorang perempuan penuh desah kemanjaan yang samar-sama memanggil namanya beberapa kali.
Dahi Nurdin pun mengkerut, hatinya bimbang dengan pendengarannya sendiri. Menurutnya, tidak mungkin ada perempuan yang memanggilnya di tengah malam seperti ini. Bahkan di siang hari pun, karena di pondokan itu nyaris tak pernah didatangi perempuan sebelumnya. Nurdin lalu melupakan suara itu.
Namum tak lama kemudian dia mendengar langkah kaki seseorang di depan kamarnya. Dan dia tahu itu langkah kaki Fatria, teman satu pondokannya. Nurdin pun bergegas membuka pintu kamarnya, serta memanggil Fatria yang hendak masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamarnya.
“Dari mana Fat?” tanya Nurdin sedikit mengejutkan Fatria.
“Oh eh, gua dari kamar mandi, Bro!” Fatria sedikit gelagapan karena pikirannya sedang melamun.
“Fat, jam berapa ini?” tanya Nurdin kemudian.
“Eh, itu di tangan lu ada arloji, ngapain nanya ke gua?” Fatria mengernyitkan dahinya sambil menatap lengan kanan Nurdin. Dia memang mamakai arlojinya di sana.
“Gak tahu nih arloji gua ngedadak mati,” jawab Nurdin sambil kembali menatap jam tangannya.
“Setengah satu kurang,” jawab Fatria setelah melirik jam tangan yang melingka di lengan kirinya. Lalu dia pun membetulkan kain sarung yang dipakainya dan tampak ada sedkit noda basah di bagian pahanya kirinya. Nurdin refleks menutupnya, dan menyesal tidak keburu membasuh noda berbau anyir itu, karena memang baru disadarinya.
“Dari mana lu kedengarannya baru pulang.” Fatria mengalihkan pembicaraan.
“Biasa habis nongrtong di warung Pak Gatot.”
“Malem banget, lu pulang sendiri?”
“Kagak, gua dianter satpam.”
“Oh pantesan.”
Nurdin lantas keluar dari kamarnya, kemduian mendekati Fatria yang hendak masuk kembali ke kamarnya.
“Bro, lu tadi, waktu ke kamar mandi ngeliat ada cewek gak di sekitar sini?” bisik Nurdin.
“Maksud lu?” Fatria balik tanya seraya mengkerutkan dahinya, heran.
“Tadi gua denger suara cewek di luar kamar. Kaya manggil-manggil nama gua gitu, Fat!.” Bisikan Nurdin makin pelan dan seketika membuat Fatria tersentak. Apa mungkin suara Bu Karen dalam mimpinya bisa terdengar, tetapi Fatria tak sedikitpun wanita itu memanggil nama Nurdin.
“Manggil nama siapa?” Fatria ingin memastikan.
“Nama gua, Mas Nurdiiiiin, Mas Nurdiiiiin, gitu, Fat!”
“Hehehe, pecun nyasar kali. Sejak zaman Firaun masih pake teelpon koin hingga kini ganti android, di sini itu katanya kaga pernah ada cewek. Emang kenyataannnya begitu kan? Bisa panas ini pondokan kalau didatengin cewek, hehehehe,” canda Fatria sekenanya.
“Alah, gak yakin gua!” Nurdin malah mendesah dalam gelisah.
“Maksud lu?” Fatria makin bingung.
“Gua serius, Bro. Dari tadi kagak bisa molor gara-gara ngedenger suara itu.” Nurdin mengekspresikan wajahnya dalam mode super serius.
Fatria berpikir sejenak sambil menyendarkan punggungnya pada kusen pintu. Seingatnya, waktu dia ke kamar mandi tidak melihat sekelebat pun ada manusia, apalagi perempuan. Pondokan itu sangat sepi, relatif jauh dengan pemukiman penduduk dan saat ini sudah lewat tengah malam. Di proyek ini sangat langka pekerja berjenis kelamin perempuan, kecuali tiga orang petugas admin, itu pun tidak pernah datang ke pondokan khusus lelaki.
“Mungkin lu lagi kangen sama cewek lu, Bro!” gumam Fatria agak kesel dan sangat meyakini jika mimpinya tidak mungkin terdengar oleh Nurdin.
“Maksud lu, Ariani? Ah, suara dia tidak seperti itu, Fat. Lagian lu juga tahu dia lagi KKN di Batam, kagak mungkin ke sini. Gila lu, kalau ngomong kagak pake logika!” semprot Nurdin yang juga ikut kesal.
“Ya berarti lu lagi halu, Blog! Halusinasi! Ah, ngapain juga lu repot-repot mikirin suara yang kagak jelas begitu. Emangnya lu petugas recording apa?” sergah Fatria sambil memablikan badannya dan masuk kembali ke kamarnya, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
‘Sialan!’ Nurdin mengumpat dalam hati dengan desah napas yang tipis. Lalu membalikan badannya hendak kembali ke kamarnya.
“Hah!” Nurdin sedikit tersentak dan memelankan langkahnya lantas terhenti tepat di depan pintu kamarnya. Kedua bola matanya mengitari sekeliling. ‘Hmm, pondokan itu biasanya juga sepi dan lengang, kenapa malam ini terasa agak beda?’ pikirnya sambil mengusap tengkuknya yang sedikit meremang.
Denny yang biasanya masih memutar musik sampai jauh malam, kali ini agaknya sudah tidur, lampu di beberapa kamar lain pun telah padam. Hanya kamar Ade dan Bachtiar yang terlihat masih ada nyala walau sudah sangat redup. Mungkin mereka sedang menekuni materi proyek yang tadi siang dipaparkan para pekerja senior.
‘Aduh!’ Nurdin mengaduh saat tengkuknya kembali terasa meremang. Badannya sedikit bergidik saat merasakan sentuhan halus di punggungnya saat dia masuk ke kamarnya. Dan saat hendak menutup pintu, kembali suara perempuan itu terdengar dalam desah kenikmatan memanggilnya.
“Maaas Nurdiiiiin…! Mas Nurdiiiin….”
Lampu kamar Nurdin sengaja diredupkan. Dia menyalakan lampu biru 5 watt sejak tadi. Menurutnya, tidur dengan nyala lampu biru yang remang-remang membuat kesejukan tersendiri dalam hatinya. Namun, kali ini, kesejukan itu tidak ada. Yang ada justru kegelisahan dari berkecamuknya hati yang terheran-heran atas terdengarnya suara panggilan tadi yang berulang-ulang.
Nurdin kembali merebahkan tubuhnya, telentang di atas kasur menatap langit-langit yang tetap membisu. Angin malam di luar kamar, desaunya terasa menerobos ventilasi di atas jendela kamar, dan suara panggilan itu kembali terdengar setelah beberapa detik desau angin berlalu.
“Maas Nurdiiiin… datanglah padaku, Maaas…!”
Dengan berkerut-kerut dahi, Nurdin bangkit dari rebahannya. ‘Suara itu sekarang di luar jendela,’ pikirnya.
Nurdin mendekati daun jendela. Ingin membukanya tetapi, ‘Jangan dibuka. Tidak mungkin ada cewek di luar jendela. Dari mana dia masuk? Pintu gerbang dikunci. Tidak mungkin dia memanjat pagar. Kalau ada cewek yang ke sini dan manjat pagar, itu namanya cewek paling nekad sedunia. Lagian sejak kapan ada cewek ke sini?’ cegah hatinya.
Nurdin lalu menempelkan telinganya pada daun jendela. Tapi yang didengar hanya desau angin dan gemerisik dedaunan yang bergerak karenanya. Kamarnya memang paling ujung dari sederetan kamar-kamar yang ada di pondokan itu. Di samping kamar, di seberang jendela itu, adalah sebidang tanah yang biasa dipakai olah raga oleh seluruh penghuni.
Di sana ada lapangan bulu tangkis, dan meja ping-pong yang jika malam dalam posisi miring, menempel pada dinding kamarnya. Tanah yang merupakan fasilitas olah raga itu pun dikelilingi pagar hidup berupa pepohonan yang terbuka bebas namun tidak ada penerangan. Sebagian daun dan dahan pohon ada yang menjorok ke halaman pondokan, yang berfungsi sebagai peneduh bagi mereka yang sudah usai bermain pingpong di siang bolong.
Sudah lebih dari tiga menit Nurdin berdiri depan jendela dan menempelkan ddaun telinganya. Tetapi suara perempuan yang mendesah manja nan menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Lalu dia pun kembali ke pembaringan dan merebahkan dirinya, namun jiwanya terasa semakin resah dan bertanya-tanya.
‘Kenapa gua doang yang ngedenger suara itu? Fatria kagak. Dan sepertinya gua pernah kenal suara itu. Pernah ngedengernya langsung belum lama ini. Suara siapakah gerangan?”
Ada gonggongan anjing dari halaman belakang pondokan. Gonggongan itu mulanya hanya sesekali seperti sedang mengganggu orang yang sedang lewat. Tetapi lama-lama gonggongan itu menjadi jadi lolongan panjang yang saling bersahutan. Mangalun mendayu-dayu mirip irama orang merintih kesakitan.
‘Kenapa jadi banyak anjing gitu? Perasaan selama di sini, belum pernah gua liat ada anjing liar?’ Nurdin masih kebingungan.
Tak lama kemudian, suara lolongan anjing yang sangat menyayat itu menyatu dengan suara perempuan yang kian jelas di pendengaran Nurdin, memanggil-manggil namanya.
“Maaas Nurdiiin! Maaas, sudah lupakah dirimu padaku, Maas Nurdiiiin…!”
“Hah!” Nurdin segera melompat dari tempat tidurnya. Lalu membuka jendela dalam satu gerakan yang sangat cekatan.
Jantungnya berdetak-detak ketika wajahnya diterpa angin yang berhembus kencang membawa udara dingin. Sekujur tubuhnya merinding, matanya melebar, karena dia tidak menemukan siapa-siapa di luar jendela kamarnya. Padahal suara tadi jelas terdengar dari sana, seakan mulut perempuan itu ditempelkan pada celah jendela supaya Nurdin bisa mendengarnya. Tetapi keadaan di luar justru sangat sepi, lolongan anjing pun menghilang.
“Brengsek!” hardik Nurdin agak keras.
Dia menunggu beberapa saat sengaja tidak menutup kembali jendelanya, membiarkan angin dingin menerpa tubuhnya dan masuk ke kamar. Suara perempuan yang penuh desah menggairahkan itu pun tidak terdengar lagi.
“Sialan!” Kembali Nurdin mengeluh kesal sambil duduk di kursi plastik yang ada di setiap kamar pondokan itu. Lalu menyalakan lampu utama di kamarnya.
Kamar pun menjadi terang. Cermin di depannya menampakkan wajahnya yang sayu. Dan sekian detik kemudian, pintu kamar ada yang mengetuknya dengan lembut. Pelan sekali, seakan pengetuknya sangat berhati-hati supaya suaranya tidak didengar oleh penghuni di kamar yang lainnya.
Nurdin melirik ke arah pintu. Membiarkan ketukan itu terulang beberapa kali. Lalu, dia mendengar kembali suara perempuan di balik pintu.
“Maas, Mas Nurdiiin…!”
Dek!
Jantung Nurdin seketika serasa berhenti berdetak. Dadanya bergemuruh, berkecamuk antara kaget dan senang. Dia teramat kenal dengan pemilik suara lembut penuh desahan manja yang selalu menggairahkan jiwa lelaki yang menderangrnya.
‘Kinanti? Benarkah itu dirimu?’ tanya Nurdin dalam hati sambil beringsut mendekati pintu kamar.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





