
Hasrat Dunia Lain
Bab 3
Nurdin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, namun tidak langsung membukanya.
“Siapa…?” tanyanya untuk memastikan. Dia masih sedikit ragu, walau tahu itu suara Kinanti, namun dia juga merasa suara perempuan yang mengetuk pintu kamarnya itu sama persis dengan suara yang mengganggunya sejak tadi. Kinanti tidak mungkin mengganggunya.
Tapi, karena tidak ada jawaban dari sang pengetuk pintu, Nurdin pun berseru lagi, “Siapa di sana? Jawab dong!”
“Aku, Maaas Nurdiiiin!” Jawaban mendesah lembut nan manja kembali terdengar, namun Nurdin masih meragukannya.
“Aku siapa? Sebutkan namamu!” Nurdin sudah memegangi pegangan pintu walau belum membukanya.
“Aku Kinanti, Maas,” jawab di balik pintu kian mendesah manja.
“Hah, kamu beneran Kinanti?” Mata Nurdin seketika membelalak kaget dan malah makin tidak percaya.
“Beneran Mas Nurdin, kamu sudah lupa ya sama aku….”
“Masa sih kamu Kinanti?” desah Nurdin dengan nada heran yang seheran-herannya.
Nurdin mengenal pemilik nama itu, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau akan datang ke pondokannya. Apalagi lewat tengah malam begini. Nurdin pun merasa tidak pernah memberitahuna tempat tinggalnya, karena dia sadar tidak mungkin Kinanti mau datang jika pun dia tahu.
Namun akhirnya dia bergegas membukakan pintu setelah sadar, bahwa suara yang sejak tadi memanggilnya itu memang suara sang bidadari yang sangat dinantikannya.
“Selamat datang, Say……!” kata Nurdin seraya membukakan pintu namun terputus.
“Hah…!” Dia melanjutkan dengan berseru kaget. Jantungnya berdetak kencang karena ternyata di luar kamar, tidak dia temukan Kinanti, bahkan tidak ada siapa-siapa. Sepi. Hanya embusan angin yang dirasakannya begitu dingin dan membuat tubuhnya merinding lagi.
Dalam keadaan bingung dan berdebar-debar, Nurdin masih menyempatkan diri berpaling ke kanan dan kiri, mencari Kinanti yang menurutnya bersembunyi. Tapi, tak terlihat bayangan atau kelebatan sosok seseorang yang bersembunyi.
‘Di kamar mandi kan?’ Tak mungkin. Kamar mandi terlalu jauh dari kamar Nurdin. Jika seseorang berlari dan akan besembunyi di sana, sebelum sempat masuk, pasti Nurdin sudah melihatnya lebih dulu.
“Kinanti…?” Nurdin mencoba memanggil perempuan yang baru dikenalnya kemarin malam itu. Tetapi, tidak ada jawaban. Dan makin merindinglah sekujur tubuh dia. Semakin resah pula hatinya di sela debaran-debaran rasa yang mulai mencekam.
Setelah ditunggu beberapa menit Kinanti tidak muncul lagi, bahkan bayangannya pun tak terlihat, Nurdin pun segera menutup pintu kamarnya dengan hati yang terus berdebar dan bertanya-tanya. ‘Kemana Kinanti perginya?’
Nurdin menutup pintu kamarnya, namun gerakannya mendadak terhenti. Mata dia menemukan sesuatu yang mencurigakan di lantai tepat di depan pintu kamarnya. Sesuatu yang aneh, namun membuatnya penasaran.
“Kenapa ada kapas?” tanyanya pada diri sendiri. Hati Nurdin semakin galau, kecurigaannya pun kian mengacaukan pikirannnya.
Segumpal kapas jatuh di lantai depan pintu kamarnya. Sedikit bergerak-gerak karena embusan angin malam yang sangat dingin. Ada rasa ingin tahu yang menggelitik hatinya, maka, dia pun segera memungut kapas itu dengan sangat hati-hati.
Ketika tubuh Nurdin membungkuk untuk mengambil kapas itu, tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang. Kapas itu pun bergerak, terbang, masuk dengan sendirinya ke dalam kamarnya. Gerakan kapas itu sempat membuat Nurdin terperanjat dan sekujur tubuhnya menegang. Pintu lantas dia tutup, dan kapas itu pun dipungutnya kembali. Lalu diperhatikannya benda putih kecil itu dengan seksama.
‘Apakah kapas ini milik Kinanti?’ pikirnya sambil terus mengamat-amati segumpal kapas yang tak lebh besar dari dua jempolnya yang disatukan.
Tiba-tiba ada aroma harum yang menguar dari kapas itu yang sontak mengingatkan Nurdin pada jenis parfum yang baru sekali itu dia temukan. Parfum yang dikenakan Kinanti kemarin malam saat berjumpa dan melayaninya dengan penuh gairah.
“Aneh, mengapa Kinanti tidak muncul lagi? Bukankah ini parfumnya, ini pasti kapan milik dia,” pikir Nurdin setelah beberapa lamanya tidak medengar kembali ketukan pintunya maupunssuara Kinanti.
“Mengapa dia hanya meninggalkan kapas ini? Lalu untuk apa kapas ini? Apakah Kinanti sakit? Apakah dia hanya bermaksud mengingatkan kenangan indah nan menggairahkan yang semalam? Bukankah aku telah berjanji akan menemuinya kembali, tapi bukan malam ini.” Nurdin terus bertanya-tanaya namun juga tertawa kecil sendirian.
Dengan pelan-pelan Nurdin kembali berbaring dengan jantung yang mulai berdebar karena rasa takut. Namun tak lama kemudian menjadi debaran indah nan mamabukan. Kapas itu dia letakkan di samping bantalnya, sehingga harumnya yang lembut masih tercium olehnya. Aroma yang benar-benar kembali membuatnya mendadak mabuk kepayang.
Pikiran Nurdin mulai menerawang pada satu kenangan manis yang diperoleh kemarin malam bersama Kinanti. Kisah itu, sempat pula dia ceritakan kepada Hardi, teman baiknya dalam satu divisi program magang di proyek pembangunan resort raksasa itu. Hardi bahkan sempat tergiur dengan cerita indah Nurdin tentang Kinanti itu.
“Kinanti, kenapa kamu tak kembali, Sayaang,” lenguh Nurdin dalam desahan birahinya.
Malam semakin mengalunkan kesunyian. Dan kesunyian itu kini menaburkan perasaan cemas pada nurani sang lelaki menghsap aroma kapas. Perasaan cemasnya lambat laun membawa desiran indah untuk sebaris kenangan dirinya bersama Kinanti yang tentu saja menjadi kenangan terindah dari semua keindahan yang pernah tercipta sebelumnya.
Bau harum parfum pada kapas yang ada di bantalnya, semakin menggoda angan dan khayalannya pada tataran tingkat dewa. Bidadari bernama Kinanti seakan hadir di antaranya. Khayalan itu terus melembaga dan menumbuh-kembangkan perasaan rindu yang membiru dalam relung sanusabri terdalamnya. Dia ingin segera bertemu dan kembali bercumbu dengan sang bidadari itu.
“Kinantiiii ooooh sssst, aku rindu dan cinta kamu, Sayaaang…..” Nurdin mulai menggeliat dalam gelisah sahwatnya.
Darahnya mulai terbakar angannya sendiri. Nafsunya menghentak-hentakan jantungnya, menuntut suatu perbuatan nyata dari syahwat hewani yang terlanjur datang menyergapnya. Nurdin menjadi sangat bernafsu dan ingin segera bertemu kembali dengan Kinanti untuk memberikan segala kemapuan seksualnya seperti kemarin malam, bahkan lebih.
“Kinantiii, Syaaaangku ooooh…kamu dimana, Saaaayng?” erang Nurdin dari kerinduan yang semakin dalam dan membiru..
Sejurus kemudian, kerinduan itu perlahan menjadi racun pada segenap jiwa sang mahasiswa magang itu. Emosinya meletup-letup tak beraturan. Amarah jiwa itu bukan hanya sekadar luapan gairah bercinta, melainkan gelora bara kebencian dan kesedihan yang semuanya bercampur aduk menjadi satu minda yang sangat menyiksa jiwa.
“Aaaaah….!” Nurdin meremas bantalnya kuat-kuat dengan tubuh yang gemetar.
“Aku maraaah, aaaah sssst aku sangat benci diaaaa, uuuuh..” lenguhnya kembali sambil ditariknya remasan itu hingga robek kain bantalnya. Isinya berhamburan, dan dia terus meremasnya dalam geraman kesakitan yang mengerikan.
“Ooooh kenapaaaa ini….?” Sekujur tubuhnya berkeringat, urat-urat menegang dan gemetaran hingga menggemeletukkan gigi-geriginya dengan sangat kuat. Matanya pun mendelik dalam kepanikan dan kemarahan yang tak terkira.
Perubahan yang terjadi dalam sekejap itu sungguh sangat mengerikan, Namun Nurdin belum menyadarinya. Dia terus menggeram dan mencakar-cakar bantal, napasnya terengah-engah seperti orang habis lari jauh. Matanya menjadi semakin liar. Geramannya berubah menjadi auman menggelegar. Melolong seperti anjing, bahkan mengerang seperti monyet buas yang hendak mengamuk.
Sementara itu, sisa kesadarannya sesekali tumbuh, membuat dia mampu meredam gejala anehnya itu. Dia sempat bertanya dalam hati, ‘Oh my God, kenapa gua jadi begini? kenapa gua benci sama diri gua sendiri?’
Kesadarannya hilang kembali. Nurdin tenggelam lagi dalam amukan emosi jiwa yang tak terkendali. Dia menerjang hingga berguling-guling di ranjangnya. Tangannya mencakar-cakar kasur, membuat sepreinya rusak tercabik-cabik. Bahkan guling pun diremasnya, digigitnya kuat-kuat bagai beruang lapar. Entah berapa lama Nurdin melakukan itu hingga kemudian dia terkulai lemas sambil terengah-engah.
“Apa sebenarnya yang gua alami ini? Oh, kenapa tubuh gua jadi sakit begini?” keluhnya lirih, nyaris tanpa suara.
PLAK…!
“AUUUUUH!” Nurdin tiba-tiba melolong keras kesakitan dan terkejut. Tiba-tiba pula dia memukul kepalanya sendiri dengan sangat kerasnya.
“Oh kenapa dengan tangan kananku?” Nurdin merasa heran, mengapa tangan kanannya bisa bergerak sendiri menampar wajahnya. Bahkan kini tangan itu itu mengejang-ngejang, jarinya membentuk cakar yang kokoh menghadap wajahnya.
“Astaga! Kenapa dengan tangan gau?” Nurdin menjadi tegang dengan mata melotot memandangi tangan kanannya yang sangat aneh. Hanya tangan kanannya. Ya tangan itu sukar untuk dia kendalikan. Nurdin ingin melemaskan otot-otot tangannya itu, namun semua sia-sia.
Dan sekarang tangan kanannya yang membentuk cakar itu bergerak ke atas. Mendekati wajahnya. Nurdin mencoba menghindar dan melawannya, berusaha mengendalikan gerakannya sendiri. Tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba gerakan tangan itu begitu cepat menghampiri wajahnya dan mencakar wajahnyai.
“AAAOOOOOH….!” Nurdin kembali berteriak histeris kesakitan. Namun tidak bisa begitu keras, karena hanya luapan rasa kagetnya saja. Dia masih memandang tangan kanannya dengan mendelik. Tangan itu sepertinya ingin terus bergerak mencakarnya, dan dia berusaha melawan kekuatan aneh yang menggerkan tangan kanannya itu.
“GILAAA…!” Nurdin berteriak keras, semakin ketakutan oleh tangannya sendiri. Dia benar-benar panik, tak mengerti mengapa tangannya bergerak di luar kehendak dan kendalinya.
Sementara itu dari kamar Fatria, teriakan Nurdin terdengar tidak terlalu keras, tapi sangat jelas. Fatria yang belum tertidur jadi curiga. Dia menelengkan telinganya, menyimak suara dari kamar sahabatnya itu, dan dahinya berkerut menandakan perasaan anehnya yang kian bertumpuk.
“Sinting nih, palyboy cap ondel-ondel! Udah hampir jam dua pagi, masih aja teriak-teriak gak karuan. Ada apa sih?” gerutu Fatria kesal.
Suara gaduh dari kamar Nurdin benar-benar mengganggunya, sampai-sampai dia terpaksa bangkit dan turun dari ranjang, kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Fatria menghentikan langkahnya, ragu-ragu dan berusaha menyimak suara gaduh yang mirip seseorang sedang bergelut mengalahkan sesuatu dari kamar Nurdin.
Mulanya Fatria menyangka Nurdin sedang membawa cewek masuk ke kamarnya. Namun setelah makin disimak, ternyata suara erangan Nurdin tidak mirip dengan seseorang yang sedang mencumbu kekasihnya. Tapi lebih mirip beberapa orang yang sedang bertarung hebat saling beradu pertahanan.
PRANG…!!!
“Hah!” Suara di kamar Nurdin semakin jelas, berisik dan gaduh. Entah apa yang telah jatuh dan pecah sehingga suaranya sempat membuat Fatria tersentak kaget,
“Aneh. Kenapa gua jadi merinding begini?” gumam Fatria sambil melangkah mendekati pintu kamar Nurdin.
BRAK!
PRANG!
Untuk kesekian kalinya kamar Nurdin mengeluarkan suara keras yang diikuti gedebukan seperti gempa. Sepertinya ada sesuatu yang telah membuat kamar itu menjadi sangat porak poranda.
“AUUUUUUUUUUH!” Nurdin melolong.
“ASTAGA!” Fatria memekin tertahan.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





