
Hasrat Berbahaya Sang Pewaris Duda
Bab 2
Tiga tahun kemudian,
Dari balik kaca pemantau di pintu, aku menatap wanita yang masih tampak cantik di usia tua. Dalam kamarnya yang mewah - sudah seperti suite hotel bintang lima saja bentuknya - tampak cairan infus ringer laktat masih terhubung ke pembuluh vena pergelangan tangannya.
Sudah dua minggu beliau dirawat di kamar ini. Usia tua ditambah gaya hidup tidak sehat waktu muda dulu, membuat penyakit antri mendatangi wanita yang belakangan kutahu bernama Nyonya Lim ini. Singkatnya, komplikasi penyakit sudah menyerang organ-organ penting di tubuhnya.
Dari posisiku berdiri, bisa kulihat dia begitu sibuk dengan apapun yang menggoda penglihatannya di bawah sana. Dari sini pula terpampang jelas tampilannya yang sungguh memukau. Mulai dari rambut kelabunya yang disisir rapi ke belakang, pakaian, serta wajah bersih yang dipoles make up tipis. Tak ketinggalan pangkal hidungnya yang tampak mencuat dari salah satu sisi wajahnya. Pendek kata, beliau ini epitome dari kesempurnaan ragawi.
Perlahan kubuka pintu seraya membawa nampan berisi makanan oriental, obat, dan buku status pasien. Di rumah sakit kami, pasien kelas VVIP boleh memilih ragam jenis menu seperti: Western, Indian, Malay, atau oriental, namun tetap disesuaikan dengan diet pasien.
"Selamat pagi, Nyonya Lim", sapaku ramah
"Hai, selamat pagi juga", sahutnya lagi seraya menatapku dengan senyum tipis aristokrat. Jenis senyum yang membuat seseorang tidak nampak jauh namun tak juga akrab, dirimu tetap sungkan mendekatinya. Kalau pernah melihat senyum ratu Letizia atau ratu Rania dari Yordania, pastilah bisa paham maksudku.
"Waktunya sarapan di hari yang indah Nyonya", ujarku ramah sambil membuka tutup nampan lalu menekan tombol pada tempat tidur agar posisi duduknya lebih nyaman.
Sepertinya beliau tidak mau 'membeli' basa-basiku yang murahan, bisa kulihat dari sudut bibirnya yang terangkat sedikit.
"Apa guna makanan ini untukku, suster? Makan apapun pasti jadi racun bagiku sekarang", tukasnya lagi seraya menatap makanan di depannya tanpa minat.
"Makanan ini sudah disesuaikan dengan diet Anda, Nyonya, tak perlu khawatir. Perlu bantuan?", aku menyahut dengan senyum paling ramah yang bisa kuberikan.
Dia hanya mendesah, lalu mulai mengaduk bubur di depannya. Dalam karir sebagai perawat di rumah sakit, kerap kali kutemukan orang lansia seperti pasien di depanku ini. Manusia yang sudah menyerah untuk hidup namun enggan pula mati. Buktinya mereka masih berjuang dengan pengobatan.
Ironisnya, obat yang terkadang diharapkan untuk bikin sehat, malah jadi bumerang khususnya bagi pasien yang sudah komplikasi seperti beliau. Bukannya dokter yang tidak kompeten atau asal-asalan meresepkan obat, bukan itu.
Tetapi kondisi organ pasien lansia banyak yang sudah aus, tak lagi mampu mentolerir efek samping obat. Belum lagi ada obat tertentu yang punya efek melemahkan obat lain atau bahkan menghilangkan khasiatnya. Dalam dunia medis ini menimbulkan situasi yang dikenal sebagai polifarmasi. Alih-alih sehat, penyakit pasien malah makin kronis jika tidak ditangani dengan tepat. Makanya pengobatan komplikasi penyakit pada pasien seperti ini tricky sekali. Butuh skill tingkat dewa.
"Jadi, kau sudah berumah tangga?", tanyanya tiba-tiba seraya menyuap sesendok bubur ke mulutnya.
"Maaf?", ujarku tergagap. Sampai buku status pasien yang sedang kuisi jadi tercoret pulpen. Tak biasanya wanita konglomerat ini menanyakan hal pribadi. "Hmm, saya masih single", ujarku lagi begitu bisa menguasai diri
"Tak ada niatan untuk menikah?"
"Ada, tapi belum ketemu jodohnya. Apa nyonya bisa kasih rekomendasi?", tanyaku lagi basa-basi.
Lagi-lagi dia tersenyum miring seraya mengusap mulut dengan serbet basah. Lekas kuberikan obat yang harus dimakan beserta segelas air hangat. Dalam sekali telan, semua pil ditanganku tadi lenyap dalam tenggorokannya. Tak lama langsung hanyut terbawa segelas air hangat yang menyusul masuk. Aku sungguh takjub melihat kemampuan beliau menelan pil yang besar-besar itu.
"Tak perlu heran begitu", tukasnya lagi waktu melihat roman mukaku. "Kalau sama duda anak dua kamu mau?", tambahnya lagi.
Kembali aku dibuat bingung dengan arah pembicaraannya. Mengapa wanita di depanku ini suka sekali melanjutkan kata-katanya yang terjeda tanpa pembukaan?
"Ehem, kalau duda, yah... Lihat situasinya juga"
Seolah paham keenggananku, Nyonya Lim hanya tertawa kecil. "Kamu tenang saja, dia masih muda juga tampan. Soal materi tak perlu ragu, lebih dari cukup. Lagipula dia duda ditinggal mati bukan duda cerai atau selingkuh"
Aku masih berusaha mencerna tawarannya yang menarik ketika pintu kamar tiba-tiba didobrak dari luar. Diiringi pekik sorak dua bocah yang menghambur memeluk beliau.
"Nainai, sudah sehat?", tanya bocah perempuan yang kelihatannya si sulung.
"Nai, tadi Jiejie marahin Joan", bocah lelaki bertubuh gempal segera melapor sambil duduk di depan sang nenek.
Nyonya Lim tersenyum sabar mendengar ocehan keduanya seraya mengelus-elus sayang rambut mereka. Tak tampak sedikitpun roman tak sabar pada wajahnya yang anggun.
Sementara aku?
Meski sempat trenyuh dengan pemandangan yang hangat ini -bagaimanapun, aku juga seorang ibu, walau tak diakui - segera saja perhatianku teralih pada sosok rupawan berwajah muram di belakang kedua anak kecil ini.
Rahang yang kokoh, tatapan mata yang tajam, hidung yang tinggi, serta tubuh yang atletis, mampu mendebarkan hati kaum Hawa yang menatapnya.
Jangan membayangkannya dalam setelan tiga potong khas CEO sukses dalam kisah roman, absolutely not. Dia hanya mengenakan jins biru gelap, kaos polo putih, sepatu kets, dan baseball cap. Tapi entah kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku enggan berpaling. Untuk sesaat aku hanya terpaku disana bagai terkena gendam.
"Jadi suster, ini anakku Hartono Lim dan kedua cucuku. Anakku ini sudah ditinggal istrinya tiga tahun silam", ucap Nyonya Lim, memecah keheningan yang melanda pikiranku.
Sesaat aku masih melamun sebelum buru-buru mengulurkan tangan pada pria yang kini berdiri tepat disisiku. "Shanty", ujarku lirih, mencoba tampak berani. Sepanjang yang kutahu, laki-laki sukses tidak menyukai perempuan penakut dan lamban.
"Hartono", sahutnya datar, namun begitu cengkraman yang erat pada jari-jari ini makin menguatkan dugaanku jika dia seorang Alpha Male. Setelahnya aku bergegas membereskan semua peralatan makan pasienku, lalu pamit pada Nyonya Lim yang kini duduk bersandar didampingi cucunya.
Waktu tatapan kami bertemu, ada kilatan tajam di manik matanya. Meski hanya sesaat cukup membuatku paham jika beliau sedang menyiratkan sesuatu.
Duda yang dimaksudnya barusan pastilah Tuan Hartono Lim yang terhormat.
Lekas aku beranjak dari sana dan menutup pintu di belakangku, bersandar pada daun pintu itu sejenak buat menenangkan debaran jantung yang menggila.
"Eureka!", sorakku dalam hati.
Upaya maksimalku dalam dua minggu ini tidak sia-sia. Aku sengaja bekerja di rumah sakit kelas atas dan melayani pasien ruang VVIP, semuanya demi saat ini.
Apa yang begitu sulit didapat orang lain, bisa kudapat agak mudah. Aku berwajah cantik, bisa berbahasa Inggris dan sedikit Mandarin serta memiliki kemampuan diplomasi - alias berpura-pura - yang jempolan. Meski dulu hanya lulusan sekolah perawat dari kampus gurem, asal tidak menyerah meningkatkan branding diri, semua bisa diatasi. Dan yang paling penting, hari ini aku berhasil menangkap 'mangsaku'
Hartono Lim yang kutemui di ruangan tadi, sudah lama jadi incaran. Duda kaya seperti dia tentu tidak akan menuntut istri barunya punya anak -yang mana sangat cocok untuk wanita tanpa rahim sepertiku-, namun jalan menuju beliau harus melalui ibunya yang sakit-sakitan tadi, Nyonya Lim. Pengusaha sukses seperti dirinya tak akan termakan umpan klise; tak sengaja bertabrakan di lorong rumah sakit, misalnya. Namun seperti putranya, nyonya Lim juga tak lantas sembarangan melamar orang meski beliau perlu menantu baru untuk merawat cucunya.
Setelah dua tahun bekerja disini, sudah empat kali Nyonya Lim berobat kemari, dan baru kali inilah beliau mengungkapkan keinginannya - walau tak secara gamblang - untuk mencari ibu baru bagi kedua cucunya. Selama berjalan kakiku seperti mengawang saking senangnya. Hingga tak sadar sudah tiba saja ditempat yang dituju.
Perlahan kuketuk pintu ruangan dokter internis yang menangani pasien VVIP tadi. "Masuk"
Sebuah suara ramah milik pria yang sudah menjadi partner kerjaku setahun belakangan terdengar menyahut. Begitu daun pintu terkuak, kulihat dokter Vincent Kho dalam sebuah kesempatan langka, sedang berbalas pesan di ponselnya.
Biasanya dokter paruh baya ini menghabiskan waktunya yang berharga dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Hampir tak punya kehidupan pribadi. Mungkin ini pula sebabnya beliau digugat cerai tiga tahun lalu.
"Bagaimana? Does she take the medicine?", tanyanya dengan senyum manis terukir di wajah kelimis.
"Beliau sudah lebih baik, Dok. Bahkan obatnya juga dihabiskan dalam sekali tegukan"
"Apa saya cakap? Kalau you yang turun tangan pasti diorang nak dengar. Your charm is not a joke, you know that"
"Apelah dokter ni. I just do my best, only that"
"That's why I like you. Korang kerja serious, muke pun beautiful. It is a rare thing to see"
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan beliau. Bukannya tak paham dengan sinyal yang diberikan dokter Vincent selama ini. Ada rasa tertarik terpancar di matanya setiap menatapku, bahkan beliau juga pernah terang-terangan mengungkap keinginan untuk jadi partnerku.
Sebenarnya rasa tertarik beliau tak bertepuk sebelah tangan. Siapa pula yang tidak suka dengan pria cerdas dan punya pekerjaan mentereng? Namun aku tidak berminat dengan hubungan tak jelas semacam partner. Apa bedanya dengan kumpul kebo terselubung?
"So, have you decided my offer last time?"
"Uhm, yep. I have thought about it and I must say, I can't do it. It's just not to my cup of tea", tolakku sehalus mungkin.
"Hahaha, tak payah feeling guilty. It's okay, no hard feeling", ucapnya dengan gaya jenaka, " Tapi bila-bila you feel regret, I selalu ready buat you", tambahnya lagi
"Baik dokter, thank you. Kalau macam tu, saya kena pergi dulu. Nak taking lunch". Tanpa menunggu lama aku bergegas keluar demi menikmati jam makan siang yang hanya sekejap.
Dulu setelah mengalami guncangan yang berat, kuputuskan untuk melanjutkan kuliah profesi Ners seraya mengambil kelas bahasa mandarin. Begitu pendidikan usai, aku mencoba peruntungan di negeri tetangga, Singapura.
Perjuangan yang berat akhirnya membuahkan hasil. Aku bisa bekerja di rumah sakit bonafide ini. Tujuan utama tentu saja bukan uang.
Kalau hanya uang, aku punya klinik kecantikan dan restoran di kota Batam yang bisa membiayai hidupku. Tapi semua ini pastilah tak cukup. Untuk menepati janji pada mantan suami, aku butuh sesuatu yang lebih besar dari uang: kekuasaan.
"Drrrttttt"
Ponsel disaku seragam bergetar pelan.
Kulihat ada nomor baru mengirim pesan di aplikasi chat-ku.
Anda Mungkin Juga Suka





