Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Berbahaya Sang Pewaris Duda

Hasrat Berbahaya Sang Pewaris Duda

Dikhianati oleh Roy, suaminya sendiri, Shanty kehilangan hak asuh anak setelah rahimnya diangkat. Demi membalas dendam pada mantan mertua dan suaminya yang licik, ia nekat menyerahkan jiwanya kepada pewaris Halim Group yang dingin dan berbahaya. Menjadi nyonya muda di keluarga konglomerat ternyata penuh intrik mematikan. Di tengah rahasia gelap sang suami baru, mampukah Shanty merebut kembali kebahagiaannya atau justru hancur dalam permainan kekuasaan?
Bab
Bagikan

Bab 3

[Temui aku nanti malam tepat pukul tujuh di Orchard Road]

Begitu kalimat pembuka pesan ini yang diikuti alamat sebuah restoran mewah dan nama si pengirim: Hartono Lim

Begitu singkat dan dominan!  Seperti pemiliknya. 

Niatku ingin menyantap lunch selesai sudah. Alih-alih ke kantin, aku malah naik ke rooftop untuk menikmati tiupan angin yang mengantarkan terik mentari, dua kombinasi yang bertolak belakang. 

Aku berpikir dalam diam. Benakku dipenuhi segala hal absurd, yang berkelindan satu sama lain tak tentu ujung pangkalnya. Sejurus kemudian, sebuah keputusan sudah termaktub dalam hatiku. 

Astaga! Jam di pergelangan tangan menunjukkan angka satu , artinya waktu makan siang yang berharga sudah terbuang sia-sia. Buru-buru kuhabiskan soft drink yang tinggal separuh setelah menikmati sandwich tuna dalam dua kunyahan besar.

Aku bergegas turun. Ms. Jane, kepala ruangan kami, tadi pagi memintaku menemuinya. Firasatku tak enak soal panggilan mendadak ini. 

Benar saja. Begitu pintu ke ruang kerjanya terbuka, beliau menatapku dengan ekspresi kesal, yang tak mau repot-repot ditutupi. 

"Why are you so late?", tanyanya tanpa basa-basi

"Maaf Ma'am, tadi saya kena stomachache ", sahutku sekenanya. 

Bukannya menunjukkan rasa simpati, wanita yang awet muda ini hanya mendengus, tak terpengaruh dengan mimik wajahku yang memelas. 

"Okay, I will straight to the point. Waktu you pertama kali apply dekat sini, saya dah cakap tak ada romance at work place. Tapi yang saya dengar, you nak dekat doctor Vincent"

"Maksudnya, Ma'am?"

Aku terperangah, sesaat tak bisa menebak arah pembicaraan yang tak disangka-sangka ini. Betul Vincent menaruh hati namun sudah kutepis. Lantas apa masalahnya?

"You memang naif atau stupid? Masih tak paham juga saya cakap apa?", balasnya ketus. Fountain pen ditangannya sampai terlepas. 

"Saya nak tegaskan saja, I have no time for romance, I am here for working", sahutku tak mau kalah. 

"Are you reasoning with me?"

Do you even reasonable?! Pekikku dalam hati. Rasa suka Ms. Jane pada dokter Vincent sudah jadi rahasia umum, tapi apa iya sampai harus mengintimidasi perawat yang nggak tahu apa-apa sepertiku? Mentang-mentang keponakan direktur.

"Saya tak peduli, you harus move ke ruang lain. Tak boleh di bagian penyakit dalam lagi"

"Baik, but you have to give me time. I need to tidy my things up", balasku santai.

Kulihat kilatan kaget di mata Jane. Mungkin Dia nggak menyangka bisa secepat ini mendepak 'gadis murahan' yang mendekati pria idamannya. 

Makan tuh duda! Umpatku lagi. Memang dikira semua orang penyuka duda? Apalagi yang bisanya cuma menjanjikan hubungan tak jelas macam Vincent, cuih! 

"Good! I will manage your transfer next week. Kamu akan move ke emergency room, disana kurang tenaga medis"

"Baik Ma'am, kalau begitu saya pamit dulu", ucapku. Tanpa berlama-lama aku pergi meninggalkan wanita angkuh yang tak menarik itu. 

Emergency room katanya? Heh, silakan saja dia berlarian kesana. Dikira aku nggak tahu betapa rempongnya bertugas di IGD? Saban hari ada saja pasien kritis yang masuk kesana, membuat petugas IGD selalu sigap dan terburu-buru, sorry that's not my cup of tea. 

Lagipun, kalau rencanaku berhasil paling lama lusa aku udah out dari negara tetangga ini. Siapa juga yang mau berlama-lama tinggal di rumah sakit dan menghadapi atasan baper kayak si Jane. 

Setelah shift kerja berakhir, tak butuh waktu lama aku sampai di apartment yang letaknya memang tak jauh dari tempat kerja. Selesai mandi, kukenakan night dress simple dipadu dengan riasan sederhana yang menonjolkan kecantikan mata. Ini jadi jurus andalanku malam ini.

Setahuku pria-pria kaya tidak suka dandanan menor, lebih baik riasan yang nude dan classy. 

Begitu turun dari taksi, aku segera menghampiri resepsionis yang bertugas dan menyebutkan identitasku. Tak pakai drama, pria muda berseragam gelap itu segera mengantarku ke sebuah private room yang mewah. Meski kagum, aku berusaha berlagak santai, seolah terbiasa dengan tempat seperti ini. 

Padahal sejak bercerai dengan Roy sudah lama aku tidak mengunjungi tempat-tempat mewah. Usahaku yang cuma klinik kecantikan dan restoran, belum mampu membuat diri ini hidup seperti kalangan jetset. Lagipula benakku yang sempit masih dipenuhi skenario balas dendam yang belum tuntas, mana mungkin sanggup berleha-leha. 

"You late five minutes", tanpa memandang wajahku pria itu menukas begitu aku tiba disisinya. 

"Ehm, ya. Maafkan aku", jawabku tanpa merasa bersalah. "Jadi, boleh aku duduk sekarang?", tanyaku lagi waktu melihat tatapan matanya yang menyipit. Mungkin dikiranya nyaliku bakal ciut mendengar tegurannya barusan. 

"Tentu, silakan duduk", tanpa basa-basi seperti yang lazim dilakukan manusia fana, pria tampan di depanku ini langsung bertanya, "Jadi kita makan dulu atau langsung ke inti pembicaraan?"

"Sebaiknya makan dulu, aku belum sempat makan", tanpa ragu kusahut. Untuk pria dominan sepertinya, berpura-pura itu hal paling tak berguna. 

Dia hanya mengangguk sekilas, tampaknya setuju dengan tindakanku ini. Dengan tangannya, dia memberi isyarat hingga pramusaji yang menunggu di luar tadi segera masuk dan menyerahkan buku menu dengan takzim. 

Aku membolak-balik buku menu itu tanpa minat. Semua makanan yang tertera disana terlihat seperti bongkahan emas bagiku, setidaknya untuk saat ini. Bukannya tak pernah makan yang begini, apalagi waktu masih berstatus istri Roy dulu, hanya sudah tak terbiasa. Lagi. 

"Sudah diputuskan mau pesan apa? Atau aku aja yang pesan?"

"Ya, kamu saja yang pesan", balasku datar. 

Dia menyebutkan makanan yang ingin dia pesan, dan tepat pada saat inilah aku sibuk menatap wajahnya yang rupawan. Rahang kokoh, mata tajam, bibir sensual, serta hidung yang tinggi. Tampaknya Tuhan sedang murah hati waktu membentuk dirinya dalam rahim Nyonya Lim.

Begitu dia selesai bicara dengan pramusaji tadi, cepat-cepat kubuang pandang lewat jendela kaca di depanku. Pemandangan kota Singapura di malam hari tak bisa lebih indah dari ini. 

Restoran yang kami datangi memang terletak dalam bangunan hotel bintang lima yang dibangun dalam apartemen mewah, jadi posisinya yang tinggi cukup memanjakan mataku yang memang suka dengan segala yang berkilau, walau itu menipu.

"Apa yang kau tatap di bawah sana?", tanyanya setelah keheningan yang panjang. 

"Kepalsuan", balasku lalu menatap dirinya yang tersenyum tipis, "Coba lihat lampu yang berkilauan itu, gedung-gedung yang megah, serta orang berpakaian parlente yang tampak bahagia disana, pasti banyak sekali yang mengidamkan hal itu"

"Lantas?", kali ini dia mencondongkan tubuh ke arahku dan menautkan kesepuluh jemarinya, bahasa tubuh yang konon menunjukkan rasa percaya diri sang pemilik. 

"Padahal mereka tidak tahu betapa banyak penderitaan disana. Dibalik gedung-gedung tinggi nan megah itu hidup sekeluarga dalam kondisi berdesakan, didalam kemilau lampu itu mungkin ada orang sepuh yang harus tetap bekerja walau sudah ringkih karena mahalnya biaya hidup disini, dalam gelak tawa para eksekutif muda itu bisa saja tersimpan getir yang tak kentara lantaran membayangkan deadline yang harus dikerjakan besok". Wajahku yang tadinya menatap ke luar, kini berbalik menatap wajahnya, "bukankah itu semua kepalsuan?"

Prok, prok, prok

Terdengar tepukan perlahan. 

"Bravo! caramu menarasikan semuanya cukup menarik. Unfortunately, I am not a melancholic person. Lagipula tak seharusnya kamu selalu pesimis. Maksudku, bisa saja orang sepuh yang bekerja itu karena bosan nganggur di rumah, bisa juga orang lembur itu karena kemarin malam sibuk kelayapan, misalnya. Iya nggak?"

"Yah, bisa jadi. Tapi tak ada salahnya juga dengan caraku memandang sesuatu, iya kan?"

Kulihat dia hanya mengedikkan bahu. Mungkin terlalu malas meladeni ucapan perempuan sepertiku yang sama sekali tak bernilai miliaran rupiah, seperti transaksi bisnisnya yang berhasil. 

Untunglah disaat aku sudah kehabisan bahan untuk dibicarakan, terdengar ketukan perlahan di pintu. Tak lama pramusaji membawa pesanan yang tadi diminta pria di depanku ini. 

Seperti dugaanku, dia memesan hidangan berbahan dasar daging, Beef bourguignon, mashed potatoes, serta salad. Lalu untuk minumannya selain air putih juga ada wine yang kuketahui jenis Sauvignon Blanc. Kurasa ini semua karena dia tak sudi berlama-lama dalam pertemuan yang tak menghasilkan duit ini. 

"Ayo dimakan", ujarnya ramah lalu mulai mengambil pisau dan garpu didepannya. Sementara aku sendiri masih menundukkan kepala sejenak, sebelum menyantap hidangan yang menggugah selera ini. Astaga! Dagingnya benar-benar lumer di mulut. Tak sia-sia harganya setara dengan  gajiku satu minggu. 

"Kamu masih berdoa sebelum makan ya?"

Tersirat nada geli dalam suaranya, seolah-olah tindakanku barusan itu kegiatan paling konyol yang pernah dilihatnya. 

"Iya, kenapa? Salah ya?"

"Nggak kok, cuma buang-buang waktu aja"

"Oh, begitu"

Jawabanku singkat saja. Nggak berniat menggurui juga. Siapalah aku hingga berhak menghakimi atau merubah seseorang. Tuhan saja tak lantas mengirimkan api untuk membakar pria ini hidup-hidup hanya karena tidak berdoa. 

"Apa kamu suka hidangannya?", tanyanya lagi. Mungkin hendak mengurai kecanggungan diantara kami berdua. 

"Ya, sangat enak. Dagingnya benar-benar empuk dan sangat tepat disantap dengan Sauvignon ini", sahutku seraya menyesap wine itu perlahan. 

Dia tersenyum paham. Senyum yang berupa lengkungan samar dibibir. Menghilang dalam sekejap, sama seperti hidup yang berlalu tiba-tiba sebelum kamu sempat menyadarinya. 

Hanya dua puluh menit waktu yang kami butuhkan untuk menyelesaikan makan malam lezat nan hambar ini. Kalau tidak salah sebentar lagi kami akan membicarakan 'bisnisnya'. 

Lagi-lagi dugaanku tidak salah. 

Setelah mengusap mulutnya dari wine yang tersisa, dia berdehem kecil dan berucap dalam suara bariton yang dalam. 

"Jadi ibu berniat menjadikan kamu menantunya. Setelah mendengar cerita beliau tentang situasimu, kurasa gagasannya bukanlah hal yang konyol. Maksudku, tak buruk menjadikanmu sebagai nyonya di rumahku"

Dia berhenti sejenak, memastikan aku benar-benar paham makna ucapannya. Aku mengangguk tanda mengerti lalu dia melanjutkan lagi, "Seperti yang kamu tahu aku ini seorang duda dengan dua anak, jadi aku tidak lagi menginginkan anak. Kemudian, kudengar kamu juga punya anak dari pernikahan sebelumnya. Jujur saja, Aku tak mau anak itu tinggal dengan kita, apa kamu siap?"

"Ya, aku siap"

"Bagus, sekarang mengenai tunjangan dan fasilitas yang akan kamu dapatkan, bisa dibaca disini"

Ponselku bergetar, lalu sebuah pesan berupa dokumen PDF masuk disana. Walau mataku tak sampai membeliak, tetap saja rasa kaget terbersit di hati waktu membaca rentetan kalimat yang tertera disana.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Memberi Ampun: Mantan yang Berlutut
9.6
Grace Bennett menyaksikan pengkhianatan suaminya, Adrian Carter, yang berselingkuh di mobilnya sendiri. Bukannya menyesal, Adrian justru menghina pernikahan kontrak mereka. Grace pun membalas dengan tegas: membekukan bisnis miliaran dolarnya dan menceraikannya di depan publik. Meski Adrian berlutut memohon kesempatan kedua, Grace tetap pergi membawa putranya, Ethan. Ia melangkah maju dengan pria lain tanpa menoleh pada masa lalu yang telah tercemar.
Sampul Novel Benihku Bukan Cintamu
9.4
Aluna Callysta, pengusaha sukses yang tampak sempurna, menyimpan luka batin akibat pengkhianatan Elian Dharma. Mantan kekasihnya itu justru menikahi kakak tirinya sendiri, menghancurkan kepercayaan Aluna pada cinta. Kini ia hanya menginginkan seorang anak tanpa keterikatan emosional dengan pria. Mengandalkan kekayaan melimpah, Aluna menggelar sayembara mencari donor bibit unggul demi melahirkan pewaris. Ia pun berhasil menjadi ibu dari tiga anak tanpa harus jatuh cinta lagi.
Sampul Novel Cinta yang Hilang di Tengah Fitnah
8.7
Pasca pernikahan dibatalkan sepihak, Aleyna Seraphina dijebak adik sepupunya hingga terjebak malam bersama pria asing. Menyadari pengkhianatan dan fitnah besar yang menghancurkan reputasinya, ia memilih pergi dari kota tersebut. Empat tahun berlalu, Aleyna kembali dan bekerja di bawah Rowan Sinclair, miliarder misterius dengan masa lalu kelam. Tak disangka, bos besarnya itu ternyata adalah pria yang bersamanya di malam penuh skandal masa lalu tersebut.
Sampul Novel Istri Kampungan Kesayangan Presdir
9.1
Santi hanyalah seorang gadis desa yang nekat merantau ke kota besar demi menyambung hidup adik-adiknya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Bima, seorang CEO tampan sekaligus Casanova yang kerap bergonta-ganti pasangan. Meski terbiasa dengan kehidupan glamor, Bima justru mulai merasa luluh setelah mengenal ketulusan dan kepolosan yang dimiliki Santi. Perbedaan dunia mereka menjadi awal dari kisah romansa yang tak terduga di tengah hiruk pikuk kota.
Sampul Novel Istri Kedua
7.9
Indira sangat antusias memulai karier sebagai sekretaris pengganti di perusahaan raksasa ibu kota. Namun, sebuah momen canggung terjadi saat ia memergoki bosnya, Edbert, bermesraan dengan sang istri, Merry. Alih-alih marah, Merry justru meminta Indira duduk dan mengajukan permohonan gila agar suaminya menikahi sekretaris itu. Edbert sangat terkejut mendengar ide poligami tersebut. Akankah Indira bersedia menjadi istri kedua demi memenuhi permintaan Merry?
Sampul Novel Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
9.8
Dikhianati oleh Devan dan Siska, aku bertekad membalas dendam dengan mendekati Raditya, atasan Devan yang kaya. Menggunakan identitas Anya, aku menyamar jadi pengasuh putri kecilnya, Kirana. Rencanaku berjalan lancar hingga kehangatan keluarga ini mulai meluluhkan hatiku. Sosok Raditya yang penyayang dan keceriaan Kirana membuat niat jahatku goyah. Di tengah kemewahan rumah itu, kebencianku perlahan sirna dan berganti menjadi perasaan cinta yang tak terduga.