
Hasrat Agak Laen
Bab 3
Sang mandor yang mendampingiku lalu menanyakan nama mereka masing-masing. Dengan wajah tertunduk mereka masing-masing menyebutkan namanya masing masing. Santi, Ika dan Tanti. Kelihatannya mereka masih muda dan mungkin juga masih belum kawin.
Aku taksir masih berusia sekitar 17 tahun. Pak mandor memperkenalkan aku sebagai staf yang berwenang di afdeling ini, mandor mengatakan, apa yang sedang dikerjakan. Mereka mengatakan sedang membersihkan gulma di sekitar pohon sawit.
Aku mengangguk memberi isyarat kepada mandor agar mereka bekerja kembali. Mandor lalu memerintahkan ke 3 perempuan itu kembali bekerja. Agar tidak kelihatan aneh aku menanyakan perkembangan kepada mandor di wilayah ini. Dengan penuh rasa hormat si mandor melaporkan perkembangan tanaman sawit yang menjadi wilayah tanggung jawabnya.
Setelah selesai melapor pekerjaan si mandor itu dengan suara setengah berbisik mengatakan kepadaku, kalau aku berminat dia bisa mengatur 3 karyawati, aku pura-pura tidak berminat. Aku kan perlu jaga wibawa juga di depan karyawanku. Aku hanya menkonfirmasi nomor HP si mandor.
Kami meninggalkan wilayah itu lalu kembali ke tempat motorku diparkir. Mandor menjelaskan soal cewek-cewek di perkebunan, Sebenarnya banyak juga karyawati yang bisa dipakai, masalahnya di mana tempat mau dibantai.
Yanti menjadi pelayanku luar dalam. Dia makin pandai menjadi patner sexku, Selain sudah pandai nyepong dia juga makin bagus pijatannya. Setiap malam sebelum tidur aku dipijatnya sampai aku tertidur. Biasanya sebelum acara pijat kami sudah main beberapa ronde.
Nafsu sex ku mungkin terlalu kuat, karena setiap malam si Yanti aku embat sampai dia ampun-ampun. Suatu hari dia berterus terang kepadaku bahwa badannya lemes kali tidak kuat setiap malam menservice aku. “Pak tambah pembantu satu lagi ya pak, untuk membantu saya melayani Bapak,” katanya.
“Siapa yang akan kamu ajak,” tanyaku.
“Bapak ada pandangan mungkin, nanti saya hubungi,” katanya.
“Ada sih pak anak tetangga saya, tapi dia bukan karyawan, karena baru berhenti sekolah, dia kerjanya mocok-mocok bantu emaknya,” katanya. Mocok-mocok adalah part time alias harian lepas.
“Gimana anaknya cantik enggak?” tanyaku mendesak.
“Paten kali pak, cantik kali kalau di jakarta sudah jadi artis dia, namanya Sulastri,” kata Yanti.
“Sulastri itu yang kerja di bawah mandor Paeran, kerjanya nyiangi pohon sawit,” kataku.
“Betul pak bapak tau ya, dia rumahnya di pasar 5 tetangga saya, kalau bapak tarik kerja disini dia bisa diangkat jadi karyawan,” kata Yanti.
“Apa anak itu bisa diembat,” tanyaku langsung.
“Bisalah pak, kan dia punya lobang juga,” kata Yanti tersenyum menggodaku.
“Ah kalau dia tak mau percuma kerja di sini malah jadi perusak acara,” kataku.
“Tenang Pak, saya atur, nanti saya tanya dulu sebelum dibawa kemari,” kata Yanti.
Singkat cerita suatu hari setelah aku pulang kerja, Yanti memperkenalkan aku dengan Lastri.
Aku katakan aku sudah kenal, dulu pernah dikenalkan sama Mandor Paeran di Afdeling. Lastrinya malu-malu sambil tangannya menutup mulut.
“Tenang pak dia sudah jebol, sama pacarnya katanya, aku bilang dari pada kau pacaran gak menentu lebih baik kau kerja di tempat bapak, malah nanti diangkat jadi karyawan, orang tuanya pun setuju pak.” kata Yanti terus terang.
“Anak-anak kebon ini, kecil-kecil sudah lihai pacarannya, mereka suka main di kebon sawit, banyak kali yang bunting tak menentu, tak jelas sapa lakinya saking banyaknya laki-laki yang pake dia,” kata Yanti makin nyablak.
“Kalau lastri,” tanyaku.
Lastri diam saja, Yanti yang menjawab, ”Kata dia baru sekali main sama pacarnya, entah sudah jebol apa belum gak tau lah pak, anak-anak tanggung itu kan tak tau kali cara main, tiba-tiba udah muncrat aja ya langsung pakai celana, takut ketauan mungkin jadi buru-buru “ kata Yanti.
“Betul itu,” tanyaku pada lastri.
“Iya pak,” kata Lastri yang terus menunduk.
Aku kemudian memerintahkan kepada Yanti untuk mengajari Lastri mengerjakan pekerjaan di rumahku. Mereka aku tempatkan di kamar di sebelah kamarku. Sementara itu aku merasa ngantuk sekali, sehingga aku langsung tertidur.
Sekitar jam 8 malam aku dibangunkan Lastri dengan mengguncang-guncang badanku. Makan malam sudah siap. Dia membangunkan aku dengan gestur ragu-ragu dan takut. Aku langsung duduk, lalu kutarik tangannya dan kududukkan disampingku. Kupeluk badannya. Terasa masih terlalu kecil anak ini. Kata dia umurnya 17 tahun, tapi payudaranya masih kecil, badannya pun belum berisi.
Lastri diam saja, lalu kutanya apakah dia takut sama aku. Lastri menggeleng kepala. Karena mengaku tidak takut aku suruh dia duduk dipangkuanku. Mulanya dia diam saja tidak bergerak, setelah tanganku meraih pinggangnya mengarahkan duduk dipangkuanku, dia menurut. Aku peluk tubuhnya dari belakang. Terasa badaannya kaku agak gemetar. “Kau takut ya,” tanyaku.
Lastri menggelengkan kepalanya.
Aku peluk lalu tanganku mencoba meremas payudaranya. Lastri menggelinjang berusaha menghindar remasanku. Aku berhenti berusaha lalu mengajaknya berdiri kami lalu keluar kamar. Di luar Yanti melihat dengan pandangan menyelidik.
Kami makan bertiga satu meja. Lastri masih canggung dan malu. Orang-orang kebon memandang pejabat staf itu adalah orang terhormat, sedang karyawan merasa sebagai rakyat jelata yang beda kasta.
Setelah makan kami bertiga menonton televisi. Aku perintahkan Yanti mengunci semua pintu dan jendela. Aku berpikir Lastri masih terlalu polos, kasihan kalau buru-buru diembat. Kayaknya dia perlu waktu untuk penyesuaian. Aku harus biarkan dulu dia sampai terbiasa dengan lingkungan baru dan menyesuaikan pergaulan di rumah ini.
Aku merasa mulai agak ngantuk sehingga aku berdiri dan mengatakan mau tidur dulu. Yanti ikut bangkit, “Pak saya tidur di kamar bapak ya, saya takut di kamar saya suka ada suara yang aneh-aneh, kadang-kadang pintu sering terbuka sendiri.” mendengar pernyataan Yanti yang aku yakin itu hanya karangan saja si Lastri langsung bangkit memeluk Yanti.
“Kak aku juga takut, aku tidur sama kakak saja lah,” kata Lastri.
“Suka kau lah, tapi kita tidur sama-sama bapak, kau macam mana,” kata Yanti.
“Tak apa-apa lah kak aku takut kali sama hantu,” katanya.
“Tapi kau jangan ganggu kami nanti ya,” kata Yanti.
Lastri mengangguk saja.
Kami lalu berbaring di tempat tidur, Yanti tidur disampingku ditengah antara aku dan Lastri. Lampu sudah diredupkan. Awalnya suasana tenang. Tapi selang 15 menit kemudian Yanti mulai memelukku. Sambil memeluk tangannya meremas-remas penisku yang belum terlalu tegang.
Makin lama makin hot sehingga kami berdua sudah tidak lagi berbusana. Lastri yang belum tidur berusaha mengalihkan pandangan dengan tidur membelakangi kami. Aku dan Yanti tidak perduli dan menganggap dia tidak ada saja.
Yanti mengawali dengan melakukan oral sampai pensiku keras sempurna. Setelah itu dia minta dioral pula. Yanti merintih nikmat sampai akhirnya orgasme. Ronde pertama Yanti memulai menaiki tubuhku dan dia main di atas. Menjelang orgasme suaranya berisik dan akhirnya memekik tapi agak ditahannya.
Setelah itu ambruk. Aku mengambil alih posisi dengan menindihnya dan menggenjotnya terus. Yanti kembali merintih sampai akhirnya meraung pelan karena merasa orgasme. Aku masih belum mencapai puncak, sehingga Yanti aku dera tgerus sampai dia merintih dan minta ampun minta aku menyudahi saja.
Lastri yang awalnya membuang pandangan dari adegan kami dia berbalik melihat Yanti. Mungkin dia takut, kenapa Yanti minta-minta ampun. Akhirnya Lastri melihat permainan kami. Dasar Yanti, sambil merintih minta ampun tapi juga bilang “Tapi enak pak,”
Meski pun penerangan remang-remang tetapi karena mata kami sudah menyesuaikan maka semuanya bisa terlihat dengan jelas. Aku akhirnya mencapai orgasme dan menembakkan spermaku di dalam vagina si Yanti.
Aku turun dari tubuh Yanti tapi posisinya jadi berada di sebelah si Lastri. Aku peluk Lastri, terasa tubuhnya seperti menggigil. Ku cium pipinya lalu keningnya dan terakhir mulutnya aku sergap. Lastri masih pasif diam saja, meski tidak menolak. Lama-lama dia merespon lidahku yang bermain di mulutnya. Kondisiku masih bugil sedang lastri pakai daster dan kain sarung.
Aku menahan diri hanya sampai disitu saja percumbuanku dengan Lastri. Aku rasa terlalu dini jika lastri digarap sekarang.
Jadinya setiap malam aku main sama Yanti di samping ada Lastri. Jika di malam pertama Lastri membuang muka. Setelah lebih dari seminggu dia berani duduk menonton permainan kami. Aku pun mcncumbu dia sudah sampai meremas payudaranya dari luar baju.
Anda Mungkin Juga Suka





