
Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku
Bab 2
Saat Ezra hampir berhasil merebut kotak abu ibuku untuk digunakan mengubur anjing kampung yang disebutnya, aku bertindak spontan. Aku menggigit pergelangan tangannya dengan keras. Rasa anyir langsung memenuhi mulutku, membuatku merasa mual hingga ingin muntah.
"Wanita jalang!" Dengan wajah penuh amarah, Ezra menamparku dengan keras.
Aku terjatuh, tetapi tetap memeluk erat kotak abu ibuku. Kepalaku terbentur ujung meja hingga menghasilkan bunyi keras.
"Ezra!"
Naila segera mendekat dengan wajah panik memeriksa tangan Ezra yang terluka. Setelah memastikan keadaannya, dia menatapku dengan tatapan tidak senang.
"Farah, kenapa kamu menggigit Ezra? Dia sangat peduli padamu. Cuma kotak abu, apa kamu masih khawatir Ezra nggak akan mempersiapkan yang lebih baik untuk almarhum ibumu setelah ini?"
Aku memeluk kotak abu ibuku erat-erat dan mencoba berdiri dengan susah payah. Darah dari kepalaku menetes ke kotak abu, membentuk bercak-bercak kecil. Ibuku sangat menyayangiku semasa hidupnya, tetapi dia bahkan lebih menyayangi Ezra.
Pada saat itu, aku benar-benar kehilangan kendali.
"Peduli padaku? Apakah itu sebabnya dia mengganti pengantin di hari pernikahanku dan membuat ibuku mati karena marah?"
"Ezra! Jangan lupa, siapa yang dulu mempertaruhkan nyawanya, berlari ke dalam kobaran api, dan kehilangan wajahnya demi menyelamatkanmu yang saat itu baru berusia tujuh tahun! Sekarang, aku cuma mau pergi. Pergilah dari hadapanku!"
"Cukup!" Ezra melangkah besar ke arahku, meraih leherku, dan mendorongku ke dinding.
Rasa sesak yang hebat membuatku sulit bernapas. Namun, yang membuatku lebih sulit menerima adalah jawaban Ezra yang keluar dengan nada geram.
"Farah!"
Cengkeramannya semakin kuat. Wajahnya berubah menjadi begitu menakutkan dan penuh kebencian.
"Berapa lama lagi kamu akan terus mengungkit jasa itu? Kamu sudah mendapatkan kehidupan seperti sekarang dan itu masih belum cukup?!" Ezra mengucapkan kata-kata terakhirnya dengan gigi yang terkatup.
"Berani-beraninya kamu bilang mau pergi! Aku sudah merasa bersalah. Jangan nggak tahu diri!"
Aku merasa wajahku mulai membiru karena kekurangan oksigen, air mataku bercampur darah terus mengalir tanpa henti. Aku tidak berani melepaskan kotak abu ibuku untuk melawan. Sebab, aku tahu jika aku melepaskannya, ibuku akan jatuh ke lantai.
Semasa hidup, ibuku sudah cukup menderita. Setelah meninggal, aku tidak ingin dia terus terluka. Saat Ezra hampir mencekikku hingga mati, Naila berjalan mendekat.
Dia tidak menghentikan Ezra, hanya berkata dengan nada memelas, "Farah, Ezra tetap mencintaimu. Ezra menikah sama aku karena semua orang merasa aku lebih cocok sama dia. Kalau kami menikah, harga saham perusahaan akan meningkat."
"Tapi Ezra sudah bilang sama aku secara pribadi, kamu akan selalu menjadi Nyonya Keluarga Tanoto. Ezra sudah melakukan sejauh ini. Kenapa kamu dan ibumu nggak bisa mengerti dan memakluminya, malah mempermasalahkan hal-hal yang tampak dari luar?"
Begitu Naila selesai berbicara, aku bisa merasakan kemarahan Ezra yang semakin memuncak.
"Farah! Kenapa kamu nggak bisa seperti Naila yang pengertian? Kenapa nggak bisa!"
Cengkeraman tangannya semakin kuat hingga buku jarinya memutih.
"Minta maaf sama Naila. Aku berjanji, selain di depan umum, kamu akan selalu menjadi Nyonya Keluarga Tanoto secara pribadi."
Saat aku hampir kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen, Ezra akhirnya melepaskan tangannya. Dia memandangku dari atas dengan tatapan yang tampak seperti belas kasih, tetapi lebih mirip ejekan dan perintah.
Amarahku tiba-tiba memuncak, menghapus semua akal sehatku. Rasa marah itu meluap dari setiap inci tubuhku.
"Ezra! Aku sudah bilang! Aku nggak peduli mau jadi Nyonya Keluarga Tanoto atau nggak!"
Aku berlari ke dapur, meraih pisau dapur, dan berbalik ke arah mereka dengan niat menghabisi mereka. "Awalnya, aku cuma mau pergi. Sekarang, aku mau kau mati!"
Saat pisau hampir mengenai mereka, emosi Ezra akhirnya meledak. Dia melindungi Naila dengan satu tangan, lalu menendang perutku dengan marah.
Di perutku ... ada anak yang sangat diidamkannya. Tendangannya yang tiba-tiba membuatku terlempar ke rak buku.
Rasa sakit yang menusuk dari perutku langsung menjalar ke seluruh tubuh. Darah yang merah pekat mengalir di antara kedua kakiku, menciptakan genangan merah di bawahku.
Dalam sekejap, lantai di sekitarku berubah menjadi lautan darah.
Anda Mungkin Juga Suka





