
Hari Aku Keguguran, Suami Pamer Anak Haram
Bab 4
Aku mengeluarkan surat cerai dari dalam tas dan menyerahkannya ke tangannya.
"Jangan buang waktu lagi, tanda tangan sekarang."
"Kalau nggak, aku nggak keberatan bikin seluruh Keluarga Paton masuk berita besok. Kamu juga pasti nggak mau semua orang tahu kalau Pak Fandi sama selingkuhannya mukulin istri asli yang baru keguguran, lalu maksa dia nerima anak haram, 'kan?"
Fandi bicara dingin. "Kamu bisa nggak jangan ribut. Hal sekecil ini perlu dibesar-besarkan?"
Aku diam. Aku hanya mendorong surat cerai itu lagi ke depannya.
Dia menatap bibirku yang berdarah dan mataku yang penuh tekad. Rasa jengkel langsung naik ke kepalanya.
"Bagus! Yuli! Kamu hebat sekali!"
Dia hampir meraung, meraih pena, menorehkan tanda tangannya tanpa membaca sepatah kata pun.
"Tanda tangan! Aku tanda tangan! Sesuai mau kamu! Sekarang pergi! Bawa semua barangmu keluar dari Keluarga Paton! Aku mau lihat, setelah ninggalin aku, kamu yang keguguran dan ditinggalkan ini bisa jadi apa!"
Setelah selesai, dia melemparkan surat cerai itu padaku seperti barang kotor. Lalu dia berbalik memeluk Yessy, suaranya lembut menenangkan.
"Yessy, jangan pedulikan perempuan gila ini. Kita bawa Nino pulang."
"Nanti kalau anak kita ulang tahun seratus hari, kita foto keluarga bareng."
Aku meraih surat cerai itu. Aku tidak menoleh sedikit pun. Aku langsung berbalik dan pergi.
Aku buru-buru mengemasi barang-barangku.
Hanya pakaian, dokumen, dan beberapa perhiasan peninggalan ibuku.
Semua milik Fandi tidak kusentuh.
Rumah ini, tempat lima tahun pernikahan yang akhirnya cuma menyisakan sakit dan pengkhianatan. Sedetik pun tak sudi aku tinggali.
Aku menarik koper keluar dari gerbang vila Keluarga Paton. Sinar matahari terasa menyilaukan.
Aku menelpon Lukas.
"Lukas," suaraku datar, "Fandi sudah tanda tangan. Barang-barangku juga sudah aku bereskan."
Lukas terdiam sebentar, lalu bersuara berat.
"Kirim alamatmu, aku jemput kamu."
Dia berhenti sejenak. Suaranya terdengar tegang tapi juga penuh harap. "Kapan aku, si cadangan ini, bisa naik jabatan?"
Tatapanku tetap tenang.
"Setelah aku dapat surat cerai dan benar-benar putus dengan Keluarga Paton."
"Kamu boleh naik, tapi aku mau lihat Keluarga Paton jatuh."
Satu bulan kemudian.
Aku resmi bercerai lewat jalur hukum.
Saat memilih gaun pengantin, aku dengar dari temanku. Fandi yakin aku cuma marah, suatu hari aku pasti balik memohon maaf.
Dia bahkan merasa aku sedang main tarik-ulur. Menurutnya perceraian ini cuma cara untuk kasih dia kejutan besar.
Aku menatap bayangan diriku di cermin dengan gaun putih. Aku pun tersenyum.
Ada kejutan memang, tapi untuk dia.
Dua hari kemudian, Fandi membawa Yessy dan anaknya ke lokasi yang sudah disiapkan untuk foto keluarga.
Dia baru saja turun dari mobil.
Suara petasan dan musik meriah datang dari jauh, makin lama makin dekat.
Dia spontan mengerutkan kening dan menoleh.
Di jalan utama, beberapa mobil pelan-pelan melintas.
Mobil paling depan adalah Rolls-Royce Phantom. Bodi mobil dihiasi mawar putih dan pita sutra. Di bagian depan terpasang jelas huruf besar "Pengantin Baru". Itu jelas mobil pengantin.
Fandi awalnya tidak peduli dan hendak mengalihkan pandangan.
Namun, kaca jendela mobil itu perlahan turun. Siluet wajah pengantin wanita terlihat jelas.
Wajah itu sangat ia kenal.
Senyum di wajah Fandi seketika membeku. Matanya mengecil tajam seakan disambar petir.
"Yuli!"
Anda Mungkin Juga Suka





