Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harga Diriku 10 Juta Per Malam

Harga Diriku 10 Juta Per Malam

Yatim piatu dan terlilit utang miliaran, mahasiswi bernama Arabella Alexandro terpaksa menjalani kehidupan ganda sebagai wanita penghibur di diskotek. Di balik senyum palsunya, ia berjuang membiayai kuliah serta bertahan hidup sendirian tanpa bantuan keluarga besar. Suatu malam, ia bertemu Arkan Stevanno Orlando, CEO kaya raya yang memesan jasanya. Akankah pertemuan dengan Arkan menjadi pintu keluar dari kemelaratan atau justru memicu konflik baru yang lebih pelik?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden tebal, membangunkan Arabella Alexandro dari tidurnya yang singkat. Tubuhnya terasa pegal, namun ada kehangatan yang asing memeluknya. Ia membuka mata perlahan, dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia berada dalam pelukan seseorang. Arkan Stevanno Orlando. Lengan kekar pria itu melingkar erat di pinggangnya, menariknya mendekat hingga dada bidangnya menempel di punggung Arabella. Napas teratur Arkan terasa hangat di tengkuknya.

Arabella menatap lengan Arkan yang kokoh, lalu wajahnya yang tenang dalam tidur. Di bawah pengaruh alkohol semalam, Arkan tampak begitu buas dan mendominasi. Namun kini, dalam tidurnya, ia terlihat lebih damai, bahkan sedikit rapuh. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam menyerbu benaknya, membuat pipinya memanas. Perasaan campur aduk antara jijik, malu, dan sedikit kebingungan menyelimuti dirinya. Ia, Arabella Alexandro, seorang mahasiswi yang berjuang mati-matian, tidur di pelukan salah satu pria terkaya dan paling berkuasa di kota ini.

Tidak lama kemudian, Arkan menggeliat pelan. Matanya mengerjap, perlahan terbuka. Pandangannya yang masih sedikit mengantuk bertemu dengan punggung Arabella. Ia mengerutkan kening sejenak, seolah berusaha mengingat kejadian semalam. Kemudian, kesadaran penuh menghantamnya. Arkan segera melepaskan pelukannya, menarik lengannya dengan cepat seolah Arabella adalah bara api. Ada sedikit ekspresi terkejut dan mungkin, penyesalan samar di wajahnya.

Ia bangkit dari ranjang, duduk di tepi, membelakangi Arabella. Ada jeda hening yang canggung di antara mereka, hanya terdengar suara napas mereka yang teratur.

"Mulai sekarang," suara Arkan terdengar serak, dingin, dan tegas, memecah kesunyian. Ia tidak menoleh ke arah Arabella. "Apa pun yang terjadi semalam, rahasia ini tidak boleh keluar dari kamar ini. Apa pun. Mengerti?"

Arabella merasakan darahnya berdesir. Kata-kata Arkan seperti tamparan keras yang menyadarkannya pada kenyataan. Tentu saja, ini hanya transaksi. Tidak lebih. Ia mengangguk, meskipun Arkan tidak melihatnya. "Mengerti," jawab Arabella dengan suara pelan, nyaris berbisik.

"Bagus," Arkan mengangguk tipis. "Nomor rekeningmu?"

Arabella terdiam sejenak. Ia terkejut dengan permintaan Arkan yang langsung ke intinya. Tidak ada basa-basi, tidak ada pertanyaan pribadi. Hanya transaksi murni. Ia menyebutkan nomor rekening banknya, masih merasakan dinginnya nada suara Arkan.

Setelah mendapatkan nomor rekening, Arkan segera meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Jemarinya lincah mengetik, melakukan transfer. Arabella bisa mendengar suara ketukan keypad yang cepat. Beberapa detik kemudian, ponsel Arkan berbunyi, menandakan transfer berhasil. Arkan tidak menyebutkan berapa nominal yang ia kirimkan.

"Sudah kutransfer," katanya datar, lalu turun dari kasur. Ia mulai memungut pakaiannya yang berserakan di lantai-kemeja, celana panjang, dan pakaian dalamnya-dengan gerakan gesit dan rapi. Dalam sekejap, ia sudah mengenakan semuanya, kembali menjadi sosok CEO berwibawa yang selalu tampil sempurna.

Tanpa menoleh lagi, tanpa sepatah kata perpisahan, Arkan berjalan menuju pintu kamar. Ia membuka pintu dan keluar, meninggalkannya begitu saja, sendirian di kamar yang sunyi. Suara pintu yang tertutup pelan adalah tanda berakhirnya malam itu.

Arabella terdiam, menatap pintu yang kini tertutup rapat. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Notifikasi dari bank muncul di layarnya. Saat ia membuka aplikasi, matanya membelalak, napasnya tertahan.

Rp 50.000.000,00.

Lima puluh juta rupiah.

Jumlah itu jauh, jauh di atas ekspektasinya, bahkan melebihi dua kali lipat dari harga termahal yang pernah ia terima. Ini gila. Ini jumlah yang sangat besar. Lima puluh juta. Untuk satu malam. Otaknya berputar cepat. Dengan uang sebanyak ini, ia bisa membayar sebagian besar utang orang tuanya, membayar sewa kos untuk beberapa bulan ke depan, dan bahkan membeli buku-buku kuliah yang ia butuhkan.

Ada rasa lega yang melanda, namun juga kegetiran yang mendalam. Harga dirinya... ia telah kehilangan keperawanannya untuk pria ini, pria yang bahkan tidak meliriknya setelah semuanya selesai, pria yang hanya memandangnya sebagai alat pemuas hasrat. Ironisnya, untuk hal yang begitu sakral baginya, ia mendapatkan bayaran yang sangat fantastis.

Arabella bangkit dari ranjang, tubuhnya masih terasa lemas dan sedikit sakit. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi. Di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya. Matanya sedikit bengkak, sisa-sisa riasan semalam masih menempel di wajahnya. Ia menyalakan keran, membiarkan air hangat membasuh tubuhnya. Ia menggosok kulitnya, seolah ingin menghapus setiap jejak sentuhan Arkan, setiap kenangan pahit dari semalam.

Setelah mandi, Arabella merasa sedikit lebih segar. Ia melilitkan handuk ke tubuhnya, lalu kembali ke kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia harus segera berangkat ke kampus. Dengan uang sebanyak ini, ia tidak boleh melewatkan kuliah.

Ia membuka lemari, mencari pakaian. Pilihan jatuh pada sebuah dress pendek berwarna merah marun yang sedikit ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang langsing dan seksi. Ia memadukannya dengan heels hitam dan tas tangan kecil. Arabella tahu bagaimana memadukan penampilannya agar terlihat menarik, bahkan setelah malam yang panjang. Ia memoles sedikit riasan di wajahnya, berusaha menutupi jejak kelelahan. Saat ia memandang dirinya di cermin, ia melihat seorang wanita yang kuat, yang mampu bertahan dalam badai.

Jalanan Jakarta pagi itu dipadati kendaraan. Macet parah di mana-mana. Arabella yang sudah keluar dari hotel dan memesan taksi online, kini terjebak di tengah lautan mobil yang tak bergerak. Jarum jam terus berputar, dan ia tahu ia akan terlambat untuk mata kuliah pertama, "Pengantar Hukum Bisnis." Dosennya terkenal sangat disiplin dan tidak mentolerir keterlambatan.

Kecemasan mulai melandanya. Ia terus melihat jam tangannya, menggerutu dalam hati. Setibanya di kampus, ia langsung melompat dari taksi, bahkan sebelum taksi berhenti sempurna, dan berlari secepat kilat menuju gedung fakultas hukum. Napasnya terengah-engah, jantungnya berpacu kencang. Ia menyusuri koridor, meloncati anak tangga dua-dua, hingga akhirnya tiba di depan pintu kelas.

Dari balik kaca pintu, ia bisa melihat dosen sudah berdiri di depan kelas, menjelaskan materi. Mahasiswa-mahasiswi lain duduk rapi di kursi mereka, mencatat dengan saksama. Arabella menghela napas, mengumpulkan keberanian. Ia harus masuk, meskipun telat.

Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu kelas yang sedikit terbuka. Suara engsel yang berderit menarik perhatian seisi kelas. Semua mata tertuju padanya. Termasuk mata sang dosen.

Arkan Stevanno Orlando.

Dunia Arabella serasa runtuh. Jantungnya mencelos hingga ke ulu hati. Lelaki yang semalam tidur bersamanya, lelaki yang telah merenggut keperawanannya, lelaki yang memberinya lima puluh juta rupiah, kini berdiri di hadapan kelasnya sebagai dosen! Rambutnya yang tertata rapi, kemeja putihnya yang bersih dan tanpa cela, celana bahan hitam, dan sorot mata dinginnya-semuanya identik dengan Arkan yang baru saja meninggalkannya di hotel.

Kenapa dia ada di sini?!

Pertanyaan itu berteriak dalam benak Arabella. Ia merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa?

Arkan menatap Arabella dengan tatapan datar, tanpa ekspresi, seolah ia adalah orang asing. Tidak ada kilatan pengakuan, tidak ada emosi apa pun di matanya. Ia bahkan tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa mereka baru saja menghabiskan malam bersama. Profesionalisme ataukah memang ia pandai menyembunyikan diri?

"Sudah telat," suara Arkan terdengar dingin dan tegas, bergema di seluruh ruangan yang mendadak hening. "Silakan keluar dari kelas ini."

Kata-kata itu menghantam Arabella seperti palu. Rasa malu, marah, dan bingung bercampur aduk. Ia tidak bisa menerima ini. Diperlakukan seperti ini di depan teman-temannya, oleh pria yang sama yang...

"Tapi, Pak!" Arabella keberatan, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. "Tadi saya telat karena terjebak macet. Saya tidak sengaja." Ia berharap Arkan akan berbaik hati, mengingat apa yang terjadi di antara mereka.

Namun, Arkan tidak menunjukkan tanda-tanda peduli. Wajahnya tetap datar, tak ada sedikit pun simpati. "Saya tidak peduli dengan alasanmu," katanya dengan nada dingin, suaranya menusuk. "Aturan adalah aturan. Kamu melanggar. Sekarang, keluar dari kelas ini dan lari keliling lapangan sebanyak 30 kali!"

Arabella terkesiap. Tiga puluh kali?! Itu hukuman yang sangat berat. Ia hanya telat beberapa menit, dan ia adalah seorang wanita. Terlebih lagi, ia baru saja melewati malam yang menguras fisik dan emosi.

"Apa?! Tiga puluh kali?!" Arabella tak dapat menahan amarahnya lagi. Suaranya sedikit meninggi. "Saya hanya telat sedikit saja, Pak! Ini tidak adil!"

Mata Arkan menajam. Ada kilatan berbahaya di sana. Ia tidak suka dibantah. "Kamu mau mengikuti hukuman, atau nilai mata kuliahku akan berkurang?" Ancamannya jelas, tanpa kompromi. Ia tahu betul bagaimana menghancurkan masa depan akademik seseorang.

Arabella terdiam, lidahnya kelu. Ancaman Arkan bukan main-main. Jika nilainya berkurang, beasiswanya bisa terancam, dan mimpi kuliahnya akan pupus. Ia tidak punya pilihan lain. Harga dirinya kembali terinjak-injak, kali ini di depan banyak orang. Pria ini... pria ini adalah iblis bertopeng malaikat.

Ia menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca, penuh kebencian yang mendalam. Arkan balas menatapnya tanpa ekspresi, seolah ia hanyalah seorang mahasiswa bandel biasa yang pantas mendapat hukuman.

Dengan berat hati, Arabella berbalik. Ia mendengar bisikan-bisikan dari teman-temannya, namun ia mengabaikannya. Ia melangkah keluar dari kelas, meninggalkan Arkan dan tatapan sinisnya. Setiap langkah terasa berat, membawa beban penghinaan dan amarah yang membara. Ia tahu, hidupnya baru saja menjadi jauh lebih rumit, dan Arkan Stevanno Orlando adalah penyebab utamanya. Di bawah terik matahari, Arabella mulai berlari mengelilingi lapangan kampus, air mata yang tak terbendung akhirnya menetes membasahi pipinya. Ini adalah harga yang harus ia bayar. Harga yang sangat mahal.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFFAIR
9.5
Mauren yang masih 19 tahun terpaksa menikahi Aron, duda kaya berusia 45 tahun, setelah dijual oleh ayahnya. Di sisi lain, putra Aron yang berumur 23 tahun, Liam, terjebak dalam pernikahan hambar bersama Bella karena ketidakpuasan ranjang. Sementara Liam merasa frustrasi dengan istrinya, Mauren harus menderita melayani nafsu pria tua tanpa pernah merasakan kepuasan. Takdir pahit ini menjerat mereka dalam kemelut rumah tangga yang penuh penderitaan batin.
Sampul Novel An Affair
9.2
Winter Samantha menyamar demi menghancurkan keluarga Smith yang telah merenggut nyawa orang tuanya. Ia sengaja menjerat Edward Smith dan putranya, David, ke dalam skandal perselingkuhan yang berbahaya. Namun, di tengah misi balas dendam tersebut, muncul Sean William, sahabat masa kecil yang mencintainya dengan tulus. Kini Winter terjebak dalam dilema besar: tetap menghancurkan musuhnya atau memilih hidup bahagia bersama lamaran cinta sejatinya, Sean.
Sampul Novel CEO Mengejar Cinta Adik Mafia
8.0
Rio terjebak dalam pusaran dendam yang berubah menjadi cinta mendalam sekaligus penyesalan pahit. Meski perasaan di antara keduanya begitu kuat, ia dipaksa mengorbankan egonya demi melindungi keselamatan sang pujaan hati. Kisah ini membuktikan bahwa cinta tak pernah salah memilih sasaran, namun perjuangan untuk bersatu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Rio harus menerima kenyataan bahwa mencintai tidak selalu berarti harus memiliki sosok tersebut.
Sampul Novel Cinta Beracun: Jatuh Cinta Pada Kekasihku yang Kejam
9.0
Brynn terjebak dalam hubungan toksik dengan Lawrence, pria yang kerap menghina sekaligus memanjakannya. Saat Lawrence mengumumkan pernikahannya, Brynn merasa bebas dan mencoba memulai hidup baru melalui kencan buta. Namun, di tengah hinaan keluarga calonnya, Lawrence tiba-tiba muncul dan mengklaim Brynn sebagai miliknya di depan semua orang. Brynn pun tertegun; mengapa pria itu ada di sini dan membelanya padahal hari ini adalah jadwal pernikahannya?
Sampul Novel Kecanduan Manis: Istri Manja Tuan Wahid
9.4
Kehidupan Rossa hancur setelah hamil akibat cinta satu malam dengan orang asing. Di tengah kemelut itu, ia terpaksa menikahi tunangan masa kecilnya demi kesepakatan bisnis. Meski awalnya dingin, Rossa perlahan menyerahkan hatinya. Namun saat akan melahirkan, ia justru menerima surat cerai yang menghancurkan jiwanya. Setelah memilih pergi, takdir kembali mempertemukan mereka. Sang suami mengaku sangat mencintainya, tapi akankah Rossa bersedia membuka hatinya lagi?
Sampul Novel Menantu Menjadi Madu
9.6
Chika mendambakan pernikahan yang abadi, namun Irsan justru menceraikannya demi menuruti keinginan sang ibu. Di tengah rasa sakit hati dan luka yang mendalam, Chika bertekad untuk membalas dendam. Namun, rencana tersebut berubah haluan saat ia justru jatuh hati pada ayah tiri dari mantan suaminya sendiri. Akankah hubungan yang rumit ini membawa kebahagiaan? Simak perjalanan cinta tak terduga yang penuh dengan gejolak emosi dan konflik ini.