
Harga Diriku 10 Juta Per Malam
Bab 3
Terik matahari pagi semakin menyengat, menembus kulit Arabella Alexandro yang pucat. Setiap langkah yang diambilnya untuk mengelilingi lapangan terasa seperti siksaan. Ia sudah menghitung, ini putaran kesepuluh. Napasnya terengah-engah, paru-parunya serasa terbakar. Keringat membasahi dahi dan membasahi poni rambutnya. Perutnya bergejolak, kosong. Ia belum sempat sarapan pagi ini. Rasa pusing mulai menyerang, pandangannya sedikit buram. Dunia di sekelilingnya tampak berputar, dan kakinya terasa lemas.
"Sialan kau, Arkan!" gumamnya di antara napas terputus-putus, melampiaskan amarah dan frustasinya pada pria yang telah menghukumnya. Penghinaan ini, rasa sakit ini, semua karena dia. Pria yang semalam begitu dominan di atas ranjang, kini begitu kejam di depan kelas.
Arabella berusaha memaksakan diri untuk terus berlari, namun tubuhnya mulai menyerah. Ia melambat, lalu berhenti total, membungkuk dengan tangan bertumpu pada lutut, mencoba menormalkan napasnya yang terputus-putus. Kepalanya berdenyut-denyut hebat, dan mual yang luar biasa menyergapnya.
Dari jendela kelas, Arkan Stevanno Orlando mengamati. Ia melihat Arabella berhenti, membungkuk, dengan bahu bergetar. Meskipun wajahnya tetap datar, ada sedikit kilatan di matanya yang tak bisa dimengerti. Ia keluar dari kelas, berjalan ke tepi lapangan dengan langkah tenang namun berwibawa.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Suara Arkan memecah keheningan lapangan, terdengar dingin dan keras. "Jangan berhenti! Lanjutkan hukumanmu! Jangan harap aku akan memberimu kelonggaran!"
Mendengar suara Arkan, amarah Arabella kembali memuncak. Ia mendongak, menatap Arkan dengan mata merah menyala. "Pak, saya sudah tidak kuat!" teriaknya, suaranya serak. "Ini terlalu berat! Saya belum sarapan!"
"Aku tidak peduli!" balas Arkan, suaranya tetap tanpa emosi. "Itu bukan urusanku. Kamu yang melanggar aturan. Sekarang, lanjutkan, atau nilai mata kuliahku akan kujadikan nol!"
Ancaman itu membuat Arabella kembali terpojok. Ia mengepalkan tangannya erat-erat, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan kakinya untuk kembali berlari. Setiap langkah terasa berat, seperti menyeret beban ribuan kilogram. Dunia di sekelilingnya semakin berputar. Jantungnya berdebar tidak karuan, dan rasa mual itu kini menjadi tak tertahankan.
BRUK!
Tiba-tiba, pandangan Arabella gelap. Kepalanya berputar hebat, dan kakinya kehilangan pijakan. Tubuhnya limbung, dan dalam sepersekian detik, ia merasakan tanah mendekat. Kemudian, semuanya menjadi gelap. Arabella pingsan, jatuh tak sadarkan diri di tengah lapangan yang panas.
Arkan, yang tadinya berdiri tegak dengan wajah dingin, terkejut melihat Arabella ambruk. Matanya membelalak, ekspresi datarnya runtuh, digantikan oleh gurat kepanikan yang samar. Ia tidak menyangka Arabella akan selemah itu, atau sekeras kepala ini hingga benar-benar ambruk. Tanpa membuang waktu, Arkan berlari, langkahnya cepat dan panjang, mendekati tubuh Arabella yang tergeletak tak berdaya.
Para mahasiswa yang tadinya menyaksikan hukuman Arabella dari kejauhan, kini berbisik-bisik, beberapa bahkan berteriak kaget. Mereka melihat dosen killer itu, Arkan Stevanno Orlando, berlari mendekati mahasiswi yang baru saja dihukumnya.
Arkan berlutut di samping Arabella. Wajah Arabella pucat pasi, bibirnya sedikit membiru, dan keringat dingin membasahi dahinya. Arkan menyentuh lehernya, memeriksa denyut nadinya. Lemah, namun masih terasa. Tanpa ragu, Arkan menggendong tubuh Arabella dalam pelukannya. Tubuh Arabella terasa ringan di tangannya, seolah tak berbobot. Aroma parfumnya yang manis bercampur dengan aroma keringat, menciptakan perpaduan yang aneh namun familiar.
Semua mata tertuju pada Arkan dan Arabella. Para mahasiswa saling berpandangan, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Dosen yang terkenal dingin dan tak tersentuh itu, kini menggendong seorang mahasiswi yang baru saja dihukumnya, seolah-olah ia adalah orang yang paling penting di dunia.
Arkan melangkah cepat, menggendong Arabella keluar dari lapangan, menuju gedung utama. Ia mengabaikan tatapan heran dan bisikan-bisikan dari para mahasiswa yang kini berkumpul, penasaran. Prioritasnya saat ini adalah membawa Arabella ke tempat yang lebih aman.
"Minggir!" desis Arkan dingin, saat beberapa mahasiswa menghalangi jalannya. Mereka segera menyingkir, memberikan jalan.
Arkan tahu persis ke mana ia harus pergi. Ia membawa Arabella menuju Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Pintu UKS terbuka. Seorang perawat yang sedang membereskan peralatan, terkejut melihat Arkan masuk dengan menggendong Arabella.
"Astaga, Tuan Arkan! Ada apa ini?!" seru perawat itu panik, segera mendekat.
"Dia pingsan di lapangan," kata Arkan dengan suara datar, namun ada nada urgensi yang samar di sana. "Tolong periksa dia."
Arkan membaringkan Arabella dengan hati-hati di ranjang UKS yang bersih. Perawat segera bertindak, memeriksa denyut nadi dan napas Arabella. Ia juga mengambil alat pengukur tekanan darah.
"Sepertinya dia kelelahan dan dehidrasi, Tuan Arkan. Ditambah lagi, sepertinya dia belum sarapan," jelas perawat setelah melakukan pemeriksaan singkat. "Tekanan darahnya sedikit rendah."
Arkan hanya mengangguk, ekspresinya sulit dibaca. Ia berdiri di samping ranjang, menatap Arabella yang terbaring lemah. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya. Rasa bersalah? Mungkin. Ia telah menghukum gadis itu terlalu keras, tanpa mempertimbangkan kondisi fisiknya.
Perawat segera menyiapkan segelas air gula dan biskuit. "Tuan Arkan bisa menunggu di sini. Saya akan coba menyadarkannya."
Arkan tetap diam, tidak bergerak. Ia mengamati perawat yang dengan cekatan menekan beberapa titik di tubuh Arabella, mencoba menyadarkannya. Dalam keheningan UKS, hanya terdengar suara napas Arabella yang samar dan gerakan perawat yang sibuk.
Arkan kembali memikirkan kejadian semalam. Wanita ini... Arabella. Wanita yang terlihat begitu tangguh di balik riasan tebal dan gaun minimnya, namun kini terbaring tak berdaya di depannya. Ia ingat setiap sentuhan, setiap desahan, setiap detail dari malam mereka. Meskipun mabuk, ingatan Arkan tentang Arabella sangat jelas. Ia adalah wanita yang berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarik Arkan, sesuatu yang lebih dari sekadar daya tarik fisik. Mungkin itu adalah kesedihan yang samar di matanya, atau mungkin keteguhan yang ia rasakan dalam setiap gerakannya.
Tiba-tiba, Arabella menggeliat pelan. Matanya mengerjap, perlahan terbuka. Pandangannya yang masih buram menatap langit-langit UKS, lalu beralih pada sosok yang berdiri di samping ranjang.
Arkan.
Wajahnya terpampang jelas di hadapannya. Ekspresinya yang dingin dan tanpa emosi membuat Arabella kembali teringat akan hukuman yang diberikannya. Seketika, rasa marah dan malu kembali menyergap. Ia ingin berteriak, ingin menanyakan kenapa pria ini begitu kejam padanya.
"Kau sudah sadar?" Suara Arkan memecah keheningan. Nada suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya, namun tetap datar.
Arabella mencoba bangkit, namun tubuhnya masih terasa lemah. "Kenapa... kenapa saya di sini?" tanyanya dengan suara serak. Ia merasakan tenggorokannya kering.
"Kau pingsan di lapangan," jawab Arkan singkat. "Perawat bilang kau kelelahan dan belum sarapan."
Perawat segera menyodorkan segelas air gula. "Minum ini dulu, Nak. Lalu makan biskuitnya. Kamu butuh energi."
Arabella menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia menatap Arkan lagi, matanya penuh dengan pertanyaan dan amarah. "Mengapa... mengapa Bapak menghukum saya seberat itu? Saya hanya telat..."
"Aturan tetap aturan," potong Arkan dingin, meskipun ada sedikit nada yang menunjukkan ia mempertimbangkan pertanyaan Arabella. "Saya tidak mentolerir keterlambatan. Jika saya memberi kelonggaran padamu, maka semua orang akan ikut-ikutan."
Arabella ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tidak akan pernah melanggar lagi, bahwa ia berjuang sangat keras untuk kuliah. Tapi ia menahan diri. Arkan tidak akan peduli.
"Istirahatlah dulu," kata Arkan, lalu berbalik. "Aku harus kembali ke kelas."
Perawat menahan Arkan. "Tuan Arkan, sepertinya dia harus istirahat lebih lama. Dan mungkin butuh sarapan yang layak."
Arkan terdiam sejenak. Ia melihat ke arah Arabella yang masih terbaring lemah. "Baiklah. Kalau begitu, izinkan dia untuk tidak mengikuti mata kuliah selanjutnya. Pastikan dia makan dan minum yang cukup."
"Baik, Tuan Arkan," jawab perawat patuh.
Arkan berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia melirik Arabella sekali lagi. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak bisa Arabella pahami. Lalu, ia pergi, meninggalkan Arabella sendirian di UKS, dengan pikiran yang kalut dan hati yang penuh dengan kebencian dan kebingungan.
Arabella memaksakan diri untuk menghabiskan air gula dan biskuit yang diberikan perawat. Tubuhnya perlahan terasa lebih baik, namun pikirannya terus berkecamuk. Arkan. Pria yang sama. Malam ini ia membookingnya, pagi ini ia menghukumnya, lalu menggendongnya saat pingsan. Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa takdir seolah mempermainkan dirinya dengan cara ini?
Ia tahu, pertemuannya dengan Arkan Stevanno Orlando jauh dari kata selesai. Ini baru awal dari sebuah drama yang tak terduga dalam hidupnya. Dan ia, Arabella Alexandro, harus mempersiapkan diri untuk apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Ia harus kuat. Demi masa depannya, demi melunasi utang-utang itu, dan demi bertahan di tengah badai yang diciptakan oleh takdir dan seorang pria bernama Arkan.
Anda Mungkin Juga Suka





