
Harakat Cinta
Bab 2
"Eeemmm cantik juga," decit mami sambil berjalan melingkari Jingga dan melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Ini anak Kamu, Sukma?" tanya mami.
Mami mengedipkan mata kepada para pengawalnya. Hal itu ditanggapi dengan cepat oleh para pengawalnya. Lalu para pengawal mami sigap untuk segera menangkap Jingga.
"Jangan pernah Kalian sentuh anakku!" teriak Bu Sukma.
Mami dan para pengawalnya tidak menghiraukan ancaman Bu Sukma. Bagi mereka, teriakan itu hanyalah dicitan kecil yang tidak berarti.
Salah satu pengawal menyergap Jingga dengan mencengkeram erat tangannya. Dipeganginya dengan sangat kuat supaya tidak lari. Jingga meronta dengan tenaga ekstra melawan pria gagah besar dan berotot kekar.
"Ada apa ini sebenarnya, Bu?" tanya Jingga sambil terus melawan dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman pengawal mami.
"Hei, anak ingusan! Diam Kamu! Ibu Kamu ini adalah perempuan liar. Dia bekas wanita penghuni lokalisasi milikku," tukas mami dengan nada bicara yang tidak enak didengar.
Jingga terus menggerakkan tubuhnya agar bisa lepas dari jerat kasar preman pengawal mami.
"Sukma, jika Kamu tidak sanggup membayar hutangmu maka anakmu ini yang akan menjadi jaminan atau setidaknya DP. Dia punya barang berharga bernilai jual tinggi," ucap mami dengan gertakan tegas.
"Hutang apa lagi Mami? Semua sudah Saya lunasi," kata Bu Sukma datar.
"Kepergian Kamu tanpa ijin dari lokalisasiku itu adalah hutang terbesarmu padaku. Sampai kapan pun, Aku akan menagihnya," jelas mami seorang mucikari di rumah tempat maksiat.
"Pengawal! Bawa Jingga masuk ke mobil untuk ganti membayar hutang ibunya!" perintah Mami pada pengawalnya.
"Jangan Mami! Dia tidak tahu apa pun. Biarkan Saya yang akan menanggungnya sendiri," ujar Sukma Ibu Jingga.
"Ibu, ini kenapa Bu? Jingga mau diapakan? Tolong Jingga, Bu!" ronta Jingga.
"Diam Kamu! Kamu akan Saya bawa ke lokalisasi untuk melayani tamu-tamu Saya sebagai ganti rugi atas diri Ibu Kamu," ucap mami dengan binar mata melotot.
"Aku tidak mau!" jawab Jingga berani.
Mami memegang dagu Jingga dan mendongakkan ke atas sambil berkata , "Kamu tidak akan bisa menolaknya."
Mami segera memerintahkan pengawalnya untuk membawa Jingga masuk ke dalam mobil.
"Cepat bawa anak gadis itu ke mobil! Cepat!" perintah Mami.
Jingga meronta-ronta sambil terus berzikir di dalam hatinya. "Diam Kamu!" kata Mami
Jingga menghentakkan kepalanya hingga membuat mami kaget dan melepaskan dagu Jingga. Jingga meludah sebagai bentuk perlawanan.
"Kurang ajar!" hardik Mami sambil menampar pipi Jingga.
Jingga yang dari tadi mengawasi gerak gerik para pengawal Mami bisa mengambil celah untuk kabur. Jingga menginjak kaki orang yang mencengkram dirinya dan menendang kemaluannya sehingga tangan pengawal mami melepaskan Jingga. Jingga kemudian berlari sangat kencang. Nafasnya memburu untuk menghindari ancaman Mami. Terlalu pedih hidupnya jika terjebak oleh Mami lokalisasi. Jingga bertekad agar jangan sampai dirinya tertangkap dan jatuh ke lembah menjijikkan. Menghadapi ibunya saja membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Terkadang ingin menyerah tetapi nikmat Tuhan akan hidup jauh lebih indah dari segalanya.
"Lari yang jauh Jingga! Jangan pikirkan Ibu!" pekik Ibu Jingga yang meskipun galak dengannya tapi masih punya hati nurani.
"Dasar pengawal teledor!" ucap Mami marah dan pergi meninggalkan Sukma. Para Pengawal mami lari mengejar Jingga. Mami masuk mobilnya dan melajukan kendaraannya secepat mungkin. "Dasar anak ingusan! Bisa-bisanya meludahiku. Tunggu pembalasan dariku!" hardik Mami.
Jingga berlari kencang tanpa arah yang jelas. Kekuatan dari Tuhan mampu menyelamatkan Jingga dari orang keji. Dalam pikiran Jingga, dia hanya ingin menyelamatkan diri dari kejaran preman pengawal mami lokalisasi tersebut. Jingga terus berlari kencang hingga nafas terasa sesak. Sesekali Jingga melihat kebelakang. "Oh masih jauh di belakangku ternyata preman jahanam itu. Aku harus berhenti sejenak. Kalau tidak aku bisa mati," gumam Jingga sambil perlahan mengambil nafas dalam-dalam. Keringat mengucur deras di wajahnya. Jingga merasa hari ini sangat sial. Dalam hati, Jingga masih ingat Tuhan. Mulutnya terus beristighfar dan berdoa kebaikan untuknya dan juga ibunya. "Kemana lagi aku harus berlari. Ini sudah terlalu jauh aku lalui," Jingga bermonolog sambil mengernyitkan dahi. Sejenak dia berhenti dan berjongkok. Perutnya mulai terasa mual. Efek berlari sekaligus karena lambungnya kosong. Jingga belum sarapan sejak pagi. Jingga melihat kanan kiri untuk mencari tempat persembunyian sejenak. Matanya memandang sebuah lorong kecil yang cukup untuk dia beristirahat sejenak. Jingga masuk dan merundukkan tubuhnya sambil mengawasi sekitar.
"Ibu, bagaimana keadaan Ibu dirumah? Bu, kenapa Ibu tidak pernah terbuka kepadaku. Aku ini anak siapa jika Ibu pernah tinggal di lokalisasi. Aku jijik sebenarnya mengetahui kenyataan pahit ini. Tapi Engkau adalah Ibuku. Surgaku ada di bawah telapak kaki Ibu," kata Jingga lirih.
"Itu Dia. Gadis tadi yang melarikan diri. Ayo kejar," kata pengawal mami yang ternyata sudah mendekati Jingga.
Jingga menoleh ke arah sumber suara lalu berkata, "Oh tidak, sedikit lagi mereka akan menangkapku." Jingga tetap berlari sekuat tenaga. "Tolong Saya, Tuhan!"
Tiba-tiba salah seorang preman itu sudah berdiri di hadapannya. Jingga kaget dan panik. "Hah, mau kemana Kamu? Sudah tidak bisa melarikan diri," kata preman yang menghadang Jingga.
"Jangan macam-macam ya! Ini jalan raya. Aku akan teriak minta tolong," kata Jingga tegas.
"Diam anak ingusan!" hardik salah seorang preman tersebut.
Jingga dikepung para preman. Jingga berteriak," Tolong! Tolobg! Tolong!"
"Hahahaha, mana ada orang yang akan iba pada gadis cantik jutek dan sombong sepertimu," kata salah seorang pengawal mami.
"Aku punya Tuhan. Pasti Tuhan akan mengabulkan pintaku. Dasar manusia biadab!" hardik Jingga.
Situasi jalan raya tersebut ramai tetapi pengguna jalan memilih cuek dari pada harus berusan dengan peristiwa berat. Jingga merasa orang-orang sekarang ini sudah hilang hati nuraninya. Buktinya, tak seorang pun mau menolong Jingga.
Beberapa saat setelah Jingga disergap dan tangannya akan diikat ke belakang menggunakan tali kalar, Jingga pasrah.
Pria yang nyaris menabrak Jingga masih mengendarai montor melewati jalan yang juga Jingga lewati. Takdir mempertemukannya kembali dengan Jingga di jalan raya.
"Gadis yang aku tabrak tadi. Dia kenapa dikeroyok sama banyak preman. Kasihan aku harus menolongnya," ucap pria itu.
Pria itu tadi menghentikan laju kendaraannya. Dia berhenti sejenak untuk menolong Jingga.
"Hei, hentikan!"
Para preman kaget sehingga reflek melepaskan tangan Jingga yang sedari tadi dipegangnya.
"Kamu siapa? Tidak usah turut campur!" hardiknya pada sekelompok preman brutal tersebut.
"Pergi! Pergi Kalian dari hadapan Kami!"
Para preman tersebut menyerang pria itu tadi. Mereka berkelahi dan mengeluarkan jurusnya masing-masing. Pria bermotor itu sangat piawai berkelahi dengan beragam jurus pencak silat. Para preman bisa dikalahkan oleh pria muda itu.
Anda Mungkin Juga Suka





