
Harakat Cinta
Bab 3
Pria tampan bermotor sport tadi berhasil mengalahkan para preman. Dirinya memastikan para preman tersebut benar-benar hengkang dari hadapannya dan Jingga, sebelum meninggalkan tempat tersebut. Pria tersebut lalu menaiki montornya. Ketika sudah berada di atas montor, pria itu kasihan melihat Jingga. Dirinya ingin membantu Jingga setidaknya mencarikan tempat yang dirasa aman dari gangguan para preman utusan mami. Pria tersebut lalu berkata, "Hai Gadis yang tadi mau Aku tabrak! Ayo ikutlah denganku! Kamu bisa membonceng diriku dan pegang pinggangku dengan erat!" pinta pria tersebut tanpa bertanya lebih lanjut.
Jingga pun tanpa pikir panjang dan berdebat untuk menyetujui tawarannya. Jingga membonceng dengan perasaan tidak karuan. Antara takut, malu dan juga canggung. Alasan dari semua rasa itu adalah Jingga belum pernah sekalipun membonceng laki-laki.
Dahulu, saat Jingga masih SMP, ibunya melarang Jingga membonceng teman lelaki. Sejak saat itu, Jingga menuruti nasihat ibunya. Jingga menjadi anak yang patuh. Dalam hidupnya, dia tidak pernah melanggar perintah ibunya sebatas tidak melanggar norma agama. Namun, kali ini demi keselamatan dirinya Jingga harus melanggar perintah ibunya dan membonceng pria yang belum dikenalnya.
Sementara para preman sedang bersembunyi dan duduk di tempat yang agak teduh sambil memesan es degan pinggir jalan. Mereka merasa risau jika bertemu mami yang merupakan bos mereka.
"Sialan. Gadis incaran Mami kabur dengan pria ingusan pengendara montor itu. Mana CCnya besar lagi. Mampus deh Kita orang. Bakal kena semprot Mami," umpat salah seorang pengawal Mami.
"Jangan takut, ada kalanya Kita memang tidak berhasil," tukas salah seorang preman tersebut.
"Tapi tau sendiri Mami itu galaknya bukan main," kata preman satunya.
"Tenang saja Kawan! Kita sudah memegang kartu Mami. Dia tidak akan bisa bertahan tanpa Kita," jelas preman satunya.
Keempat preman tersebut memanggutkan kepalanya pertanda memahami penjelasan sesama preman tersebut. Mereka bernafas lega dan dengan santai kembali ke lokalisasi.
Para pengawal mami tersebut balik kanan dengan tangan kosong. Muka mereka ditekuk pertanda pulang tanpa hasil. Tetapi itu hanyalah taktik mereka saja. Sejatinya, para preman sudah bosan diperlakukan layaknya budak oleh mami.
Jingga sementara waktu selamat karena pertolongan pria yang hampir menabraknya tersebut. Allah pasti memberikan pertolongan pada seseorang yang sedang didholimi seperti Jingga.
Pria itu terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi tapi konstan. Jingga memegang pinggang pria yang baru saja ditemuinya dengan erat. Pria tersebut konsentrasi kedepan dan sesekali melihat spion. Ketika pengawal Mami sudah tidak terlihat lagi di spionnya maka Langit mengurangi laju montornya. Langit membawa motornya menepi dan berhenti di toko retail moderen yang letaknya disebelah kiri di pinggir jalan. Pria tersebut menggandeng Jingga yang masih mengatur nafasnya. Kemudian pria tersebut mengajak masuk Jingga untuk membeli minum. Setelah membayar minuman dan makanan kecil yang dibelinya, pria itu mengajak Jingga duduk. Dengan pelan dan hati-hati pria itu bertanya, "Siapa nama Kamu? Maaf terpaksa tadi Aku gandeng Kamu. Namaku Langit."
Pria penolong Jingga tersebut bernama Langit. Pertemuan yang sudah ditakdirkan Allah itu ternyata dapat diambil hikmahnya.
"Terima kasih ya, atas pertolongannya. Namaku Jingga," jawab Jingga yang masih ngos-ngosan setelah berlari kencang. Tangan Jingga terus memegangi perutnya.
"Kenapa dengan perut Kamu?" tanya Langit yang melihat Jingga terus memegangi perutnya.
"Perut Saya sakit sekali. Belum makan dari pagi. Jadi, mungkin Saya lapar," ucap Jingga jujur.
"Makanlah roti ini sebagai pengganjal perut. Nanti kita makan di cafe dekat balai kota," kata Langit.
"Terima kasih ya," ucap Jingga.
"Iya sama-sama. Maaf sebelumnya kenapa Kamu sampai dikejar preman?" tanya Langit.
"Sebenarnya preman tersebut utusan seorang Mami lokalisasi yang menagih hutang Ibuku. Tapi Ibuku bilang tidak punya hutang pada Mami itu. Aku belum paham jelas persoalannya. Tapi tadi tiba-tiba aku akan dijadikan sebagai pengganti hutang Ibuku untuk dibawa ke lokalisasi," jawab Jingga datar.
"Aku turut prihatin denganmu. Ku doakan semoga selalu dilindungi Tuhan," ujar Langit. "Iya amin dan terima kasih doanya," jawab Jingga.
"Ini kartu namaku. Kamu bisa menghubungiku kapan pun Kamu butuh bantuan," ujar Langit.
"Iya terima kasih. Aku simpan ya!" jawab Jingga menerima kartu nama Langit.
"Yuk Kita lanjutkan perjalanan. Ku ajak Kamu makan di cafe dekat balai kota sana," ucap Langit.
"Sekali lagi Aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Aku belum bisa menerimanya. Sudah ditolong lari dan ditraktir minum udah seneng banget," ucap Jingga sopan.
"Jingga, bener ya anggap Aku ini teman Kamu. Jadi, kapan pun Kamu butuh bantuan maka hubungi aku," ucap Langit sambil menyodorkan kembali beberapa lembar uang lima puluh ribuan.
"Apa ini Langit?" tanya Jingga merasa heran.
"Aku tahu Kamu tidak membawa uang dan ini untuk bekal perjalananmu nanti. Apakah mau pulang atau lanjut kemana," ucap Langit.
"Sekali lagi Aku ucapkan terima kasih ya Langit. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," ujar Jingga pada Langit.
Mereka berdua akhirnya berpisah setelah lari dan berjumpa. Langit tidak bisa memaksakan Jingga karena mereka tidak ada ikatan apa-apa. Hanya saling doa ikatan tersebut mungkin terbentuk.
"Sepertinya sudah aman untuk kembali ke rumah. Oh iya, Ibu bagaimana ya? Meskipun Ibu sering marah padaku tapi Ibu yang membesarkanku. Uang pemberian Langit cukup untuk membeli keperluan Ibu juga. Aku belikan makan ah," gumam Jingga.
Jingga kemudian mencari makanan untuk ibunya. Tidak lupa juga membeli sabun cuci yang tadi akan dibelinya.
Jingga berjalan dengan banyak tanya dalam benaknya. Pertanyaan itu mengganggu konsentrasi kuliahnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu semua berkumpul menjadi satu di pikirannya. Mulai dari rencana penyelidikan dirinya tentang hubungannya dengan Bu Sukma. Mulai bertanya dalam hati siapa ayahnya.
Sekelebat bayangan sosok Langit mulai menghiasi pikiran Jingga. Sejenak melupakan masalahnya, Jingga justru mulai tertarik membayangkan Langit.
"Astagfirullah, kenapa Aku jadi mikirin Dia sih," gumam Jingga dengan tawa kecil menghiasai bibirnya.
Jingga memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Jingga teringat ibunya. Biar bagaimana pun juga, Bu Sukma adalah ibunya Jingga yang merawat dengan penuh pengorbanan. Jingga tidak boleh larut dengan keegoisan hatinya karena sakit hati terhadap perlakuan ibunya.
Posisi Jingga saat ini dengan rumahnya lumayan jauh. Jika dia harus berjalan, dirinya pasti tidak akan kuat karena kelelahan. Dia berarti berlari lumayan jauh.
Jingga ingin mengeluarkan ponselnya karena berniat untuk memesan ojek online. Dirabanya saku bajunya. Ternyata tidak ada.
"Astaga! Aku tidak membawa apa pun juga. Berarti tadi Aku berlari hanya membawa badan saja." Tangannya diangkat dan pundaknya ditempelkan sampai di rahang bawah.
Jingga memutuskan untuk naik angkot saja. Rumahnya juga dilalui jalur angkot sehingga aksesnya tidak sulit. Jingga menunggu datangnya angkot dengan sabar. Tidak jauh dari dia menunggu angkot, ada warung makan sederhana yang menyediakan banyak menu makanan pagi yang cocok untuk sarapan. Jingga membeli sebungkus nasi beserta lauk pauknya untuk sarapan ibunya. Dia juga tidak lupa membeli minuman hangat kesukaan Bu Sukma yaitu kopi susu.
Anda Mungkin Juga Suka





