
Hanya Pria Tak Berguna
Bab 3
Bibi Suni adalah orang yang menemaniku tumbuh besar sejak kecil. Dia mengenal watakku. Jadi, setelah mengatakan sampai sini, dia mengangkat pandangan untuk melihat ekspresiku.
Ketika melihat aku tidak memotong pembicaraannya, dia melanjutkan, "Dia juga mengatakan kalau semua pengeluaran setelah kehamilan akan ditanggung olehmu. Bagaimanapun juga, kamu nggak bisa melahirkan. Jadi, akan lebih baik untuk menyuruhmu ikut berpartisipasi merasakan pengalaman ini."
Pada saat ini, wajahku sudah pucat pasi. Aku merapikan lengan bajuku sambil bertanya, "Ada kata-kata lainnya?"
Bibi Suni menambahkan, "Mereka mengatakan kalau kamu nggak punya anak, jadi nanti semua hartamu akan menjadi milik anak ini ...."
Aku tidak bisa menahan tawaku. Keluarga ini benar-benar pandai bermain trik.
Meskipun aku merasa sangat marah, aku tidak menunjukkannya. Aku tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat.
Bibi Suni bertanya apa yang harus dilakukan selanjutnya. Aku hanya tersenyum, menyuruhnya bersikap seperti biasa.
Dia mengantarkan makan siang untukku. Setelah makan, aku duduk di depan jendela kamar sambil melihat ke bawah. Saat ini, Vincent sedang membawa Cindy keluar.
Kenangan kembali menyerang pikiranku. Lima tahun yang lalu, di sore hari yang sama, aku pulang menemui orang tuaku sambil menangis dan merengek. Aku mengatakan bahwa aku harus menikah dengan Vincent atau aku tidak akan menikah sama sekali.
Saat itu orang tuaku sudah mempunyai calon menantu pilihan dalam hati mereka. Mereka merasa putra tunggal Keluarga Surya, Jevin Surya, cukup baik.
Kedudukan Keluarga Surya di Kota Jana cukup tinggi. Sejak kecil, aku dan Jevin sudah bertetangga. Orang tuaku selalu menyukainya, bahkan sering mengundangnya makan di rumah kami.
Namun, selama ini aku tidak pernah memiliki perasaan seperti itu terhadap Jevin. Sejak mengenal Vincent, seluruh hatiku selalu tertuju padanya. Tentu saja aku tidak akan bersedia menjadi menantu Keluarga Surya.
Aku selalu mengatakan pada orang tuaku bahwa pernikahan di generasi kami seharusnya bisa kami putuskan sendiri. Jevin pasti juga tidak menyukaiku.
Namun, orang tuaku mengatakan bahwa Jevin tidak mungkin akan begitu sering berinisiatif menjemput dan mengantarkanku ketika aku pergi bermain jika dia tidak menyukaiku.
Sebenarnya, saat itu aku tidak peduli apakah Jevin menyukaiku atau tidak.
Hari pertamaku bertemu dengan Vincent adalah di acara rekrutmen organisasi mahasiswa pada hari pertama masuk universitas. Kami mengambil formulir pendaftaran hampir dalam waktu yang bersamaan.
Dia dengan sangat sopan mengucapkan maaf padaku, lalu berinisiatif memberikan formulir pendaftaran itu padaku.
Hari itu, Vincent mengenakan seragam olahraga berwarna abu-abu. Mata dan alisnya tampak jernih, badannya tinggi, senyumnya juga sangat cerah.
Tangannya tampak sangat indah. Sebagai seseorang yang menyukai tangan yang indah, aku tidak bisa berhenti.
Takdir yang tiba-tiba membuatku tanpa sadar mengingat nomor ponselnya.
Setelah berpisah, aku menyimpan nomor WhatsApp-nya. Ketika aku menyebutkan namaku, Vincent tanpa ragu berkata padaku, "Nona Sarah, aku sudah lama mendengar tentangmu."
Sejak hari itu, aku tanpa sadar berharap bertemu Vincent secara kebetulan di jalanan. Bahkan demi bisa lebih banyak berinteraksi dengannya, aku berusaha keras untuk masuk organisasi mahasiswa.
Cinta pada pandangan pertama. Begitulah aku mengikuti bayangannya dengan sukarela.
Setelah menikah, Vincent berinisiatif mengusulkan untuk membantuku mengelola perusahaan, jadi aku bisa menjalani kehidupan yang santai sebagai seorang istri.
Aku tidak menolaknya. Aku berpikir bahwa suami istri memang harus satu hati. Kondisi keluarga Vincent sangat biasa saja.
Aku berpikir karena dia ingin memiliki prestasi dalam kariernya, aku juga harus membantunya.
Orang tua dan sahabat dekatku pernah menasihati diriku untuk mempertimbangkan semuanya dengan matang.
Terlebih lagi, sebelum menikah orang tuaku sudah memberitahuku bahwa Vincent tidak menikahiku hanya karena murni menyukaiku. Dia juga tertarik pada latar belakang keluargaku.
Aku mengatakan kalau aku tidak peduli dengan hal-hal itu. Selama Vincent benar-benar mencintaiku, semuanya bukanlah masalah.
Setelah menikah denganku, orang tua Vincent hidup dengan nyaman. Mereka berhenti dari pekerjaan mereka di pabrik, menerima uang bulanan yang ditransfer Vincent setiap bulannya, hidup dengan sangat nyaman.
Anda Mungkin Juga Suka





