
Hanya Pria Tak Berguna
Bab 4
Mereka juga akan menyebarkan berita bahwa Vincent sekarang sudah menjadi seorang bos. Ini menyebabkan banyak kerabat Keluarga Amjaya datang meminta bantuan Vincent.
Kerabat-kerabat itu bahkan menyuruh Vincent mengatur perjodohan anak-anak mereka, memintanya untuk sebisa mungkin membantu mereka mendapatkan tokoh-tokoh terkemuka di Kota Jana.
Menghadapi situasi keluarga Vincent yang seperti ini, aku tidak merasa cemas. Aku berpikir bahwa karena keluargaku memiliki banyak uang, membantu mereka juga tidak ada salahnya.
Vincent tidak tahu bahwa pada malam sebelum pertunanganku, Jevin pernah datang menemuiku. Dia memberikanku sebuah kontrak pengalihan saham.
Jevin mengatakan bahwa dia berharap aku menandatanganinya. Jika suatu hari nanti pernikahanku tidak berjalan dengan bahagia, dia berharap aku memiliki keberanian yang cukup untuk berbalik, lalu meninggalkan Vincent.
Jevin juga mengepalkan kedua tangannya sambil berkata dengan serius padaku, "Di belakangmu, selain Keluarga Darius, ada juga aku. Kalau suatu hari dia menyakitimu, aku pasti nggak akan membiarkannya hidup dengan tenang!"
Aku tertawa karena merasa Jevin terlalu banyak berpikir. Sejak kecil sampai dewasa, aku selalu percaya pada kemampuanku melihat orang. Aku yakin Vincent pasti tidak akan mengkhianatiku.
Sekarang, ternyata semua nasihat orang lain padaku adalah kenyataannya. Hanya saja, saat itu aku sedang kasmaran, sama sekali tidak memedulikan apa pun.
Setelah menikah, meskipun aku mengikuti semua kemauannya, Vincent tetap akan mencari-cari kesalahanku. Dia mengatakan aku tidak bisa mengurus rumah tangga, agak pemarah, juga tidak sebaik istri teman-temannya yang lain.
Saat itu aku sepenuh hati mengabdikan diri pada Vincent, bahkan rela mengubah kebiasaanku demi dia.
Vincent suka melihatku begitu dia pulang rumah setiap harinya, jadi aku berusaha sebisa mungkin tinggal di rumah untuk menemaninya. Aku juga mempelajari resep masakan untuk membuatkan Vincent makanan enak yang bervariasi.
Sahabat dekatku, Rachel Wallace, mengatakan bahwa aku jadi tidak seperti diriku sendiri setelah menikah. Seorang putri keluarga kaya yang sangat suka berbelanja dan berfoto ternyata bersedia berubah demi seorang pria.
Orang tua Vincent merasa sangat puas denganku. Setiap ada acara makan keluarga, kerabat-kerabatnya akan memujiku cantik dan baik hati.
Di seluruh keluarga ini, mungkin hanya Vincent yang bisa menemukan kesalahanku.
Selama ini aku berpikir bahwa aku yang kurang baik. Sekarang, aku baru sadar bahwa dia hanya menganggapku sebagai batu loncatan. Bagaimana bisa dia menganggapku sempurna jika di matanya tidak pernah ada cinta?
Begitulah, tidak ada seorang pun yang menanyakan pendapatku. Mereka langsung menempatkan Cindy di rumahku.
Malam harinya, Cindy sendiri mengetuk pintu untuk memanggilku makan. Setelah aku menolaknya tiga kali, dia menangis dengan manja di luar pintu.
Suara tangisannya menjadi makin keras, langsung menarik perhatian Vincent. Wanita itu berkata, "Sepertinya Kak Sarah sangat nggak menyukaiku. Aku mengajaknya makan, tapi dia malah memarahiku."
Aku membuka pintu dengan wajah tidak senang, menatap Cindy yang menangis dengan wajah penuh kesedihan.
Vincent bergegas maju ke depan, lalu menarik lengan Cindy dengan wajah penuh sayang sambil menghibur, "Jangan menangis lagi. Serahkan saja padaku."
Cindy langsung mengeluarkan jepit rambut dari sakunya, lalu memberikannya padaku sambil berkata, "Kak Sarah, ini adalah buatan tanganku sendiri. Tolong terimalah. Mulai sekarang, bisakah kita berteman baik?"
Sebelum kata-katanya selesai, aku langsung memotongnya, "Jangan bermimpi. Untuk siapa akting penuh kepura-puraan ini?"
Setelah berkata demikian, Cindy memeluk Vincent dengan sedih.
Vincent bergegas maju dengan penuh amarah, lalu menamparku.
"Sarah, sudah aku bilang kalau Cindy adalah seorang ibu hamil. Dia harus menjaga kestabilan emosinya."
"Dasar wanita jahat! Apa kamu ingin membuatnya marah sampai mati?"
Ekspresi Vincent seolah-olah melihat penjahat yang tidak terampuni.
Tamparan ini menghancurkan sisa-sisa perasaan terakhir di antara kami.
Aku menatap pasangan bajingan di hadapanku, tiba-tiba maju untuk menampar wajah Vincent dua kali.
Anda Mungkin Juga Suka





