
Hanya Menjadi Wanita Pengganti
Bab 2
Kamar pengantin itu terasa begitu sunyi, hanya suara nafas seorang lelaki bernama Zayn yang memburu terdengar di telinga Naya. Dinding-dinding yang seharusnya dipenuhi dengan kebahagiaan, kini menjadi saksi bisu dari penderitaan yang dialami oleh lelaki itu.
Naya tersenyum lebar, entah dirinya mimpi apa? Malam ini ia berada di dalam kamar pengantin bersama lelaki yang ia cintai selama ini. Ya meskipun kamar pengantinnya berada di kamar Naila, adik perempuannya.
Naya menatap wajah Zayn yang terlihat tajam, emosi laki-laki itu seakan tak terkendali. Dalam hati, Naya merasa kasihan pada lelaki itu, namun dia juga merasa bingung harus bersikap bagaimana? Tapi disisi lain Naya sangat bahagia, ini kesempatan emas bagi dirinya untuk menjerat seorang Miliarder tampan ini menjadi miliknya seutuhnya.
"Sudahlah, Mas Zayn. Mengapa kamu masih menangisi, Naila? Ya, aku tahu kalau kamu sangat patah hati, tapi ya sudahlah. Kita jalani saja pernikahan kita," ucap Naya mencoba menenangkan Zayn sembari memeluk lelaki itu dari arah belakang.
Namun, reaksi pria itu tak sesuai harapan. Zayn langsung melotot dan mengepalkan tangannya erat-erat, marah yang dirasakannya sepertinya semakin memuncak.
"Kau tidak akan pernah mengerti perasaan saya, Naya! Lagi pula, saya tak ingin membahasnya denganmu!" bentak Zayn tajam. Ia kemudian memutar tubuh Naya, ketika dirinya sudah melepaskan pelukan dari wanita itu. Bahkan, Zayn sampai mendorong kasar tubuh wanita itu ke atas tempat tidur.
Naya memekik kaget, tangannya yang mencoba menahan tubuh lelaki itu yang ternyata berada di atas tubuhnya.
"Oh jadi Tuan Zayn mau malam pengantin? Aku siap untuk melayani kamu," ujar Naya mencoba berkelakar untuk mengurangi ketegangan di antara mereka. Ia malah menggoda Zayn.
Akan tetapi, Zayn semakin marah, merasa kesal dengan sikap Naya.
"Dasar murahan!" seru Zayn penuh amarah. Ia memalingkan wajahnya, kemudian beranjak berdiri.
Bukannya sakit hati dihina sebagai wanita murahan oleh Zayn, Naya malah tersenyum tipis. Wanita itu berusaha beranjak bangun. Di tengah keheningan, suara gemuruh dari nafas Zayn terdengar lagi oleh Naya, membuat Naya semakin ingin menenangkan pria itu.
"Mas Zayn, maafkan aku. Aku tak bermaksud apa-apa. Kita memang tidak saling mencintai, tapi kita jalani sana pernikahan ini. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu," ucap Naya dengan suara dibuat lembut.
Zayn terdiam, mencoba meresapi kata-kata Naya dan melupakan kekesalannya yang ditinggal oleh Naila. Meskipun tak mudah, pria itu sadar bahwa Naya adalah istrinya sekarang, terlebih keluarga besarnya juga percaya jika Naya adalah wanita yang ia cintai.
Zayn menatap Naya dengan sorot mata yang masih terlihat menyeramkan.
"Tapi jangan harap cinta dariku, Diandra Kanaya Pury! Kau bukan wanita baik-baik, tak pantas menjadi istriku. Kalau bukan demi nama baik, saya tidak sudi menikah denganmu!" ucap Zayn ketus.
"Ya mungkin sekarang kamu belum mencintaiku. Ya, siapa tahu nanti, kamu.... "
"Apa? Kamu bilang apa? Jangan harap!" bentak Zayn, "bukan wanita seperti kamu yang pantas menjadi pendampingku! Tubuhmu pasti sangat menjijikkan!" sungut Zayn .
Naya tersenyum kemudian mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Zayn, "kita lihat saja nanti, Mas Zayn," bisik Naya.
Bola mata itu saling bertemu dengan jarak yang begitu dekat sampai Naya merasakan hembusan nafas Zayn.
Zayn menatap heran. Mengapa Naya terlihat biasa saja saat menjadi pengantin pengganti. Justru wanita itu tidak terlihat terpaksa, malah seakan ingin menikmati.
Zayn pun menepis tangan Naya, kemudian laki-laki itu keluar dari kamar.
Naya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, ia terus tersenyum.
Saat Zayn mau keluar rumah, Nyonya Nurma-Ibu mertuanya mencegah langkah Zayn. Pesta pernikahan memang sudah usai, namun suasana pengantin masih terasa.
"Zayn, sekali lagi Ibu minta maaf atas nama Naila-Putri Ibu. Sampai detik ini, Ibu masih belum mendapatkan informasi di mana Naila sekarang," ujar Ibu Nurma lirih, dia begitu khawatir. Memikirkan nasib Naya yang menggantikan posisi Naila, memikirkan Naila juga yang entah di mana?
Zayn hanya mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. Tanpa memberikan tanggapan, laki-laki itu keluar rumah hanya untuk mencari udara segar.
Nyonya Nurma segera masuk ke kamar pengantin, di sana Naya terlihat sedang melepas riasan pengantin di kepalanya.
"Naya, ibu jadi merasa bersalah. Zayn terlihat kecewa sekali," ujar Ibu Nurma.
"Sudah, Ibu jangan merasa bersalah begitu. Ini salah Naila, bukan Ibu. Kenapa dia mendadak kabur? Ibu serahkan saja semuanya sama aku. Do'ain saja semoga Naya bisa membuat Zayn melupakan Naila," ujar Naya.
"Zayn itu sangat mencintai Naila. Ibu tidak yakin kamu bisa," ujar Ibu Nurma meragukan Naya.
"Astaga, Ibu! Lupa ya? Naya ini wanita paling cantik di kota ini, " Naya begitu percaya diri, padahal dia juga ragu. "Ibu tidak melihat? Banyak lelaki yang tergila-gila padaku. L"
"Ya ya ya, Ibu tahu. Kamu sudah membuat dua lelaki paling kaya di kota ini patah hati. Yang ibu khawatirkan, ketika kalian saling mencintai. Naila kembali, terus.... Ah mengapa pikiran ibu jadi mengarah ke sana."
Naya hanya tersenyum tipis, ia kembali melanjutkan melepas riasan pengantin itu
Saat ini, Zayn mengubungi seseorang untuk mencari keberadaan Naila. Ia hanya ingin penjelasan saja dari Naila.
Setelah itu, Zayn kembali ke kamar.
Begitu Zayn membuka pintu kamar pengantin, matanya terbelalak seketika. "Ya Tuhan!" Zayn langsung memutar tubuhnya membelakangi Naya.
Dihadapannya, Naya berdiri dengan pakaian seksi berwarna hitam yang mengekspos kulit kuning langsatnya. Pakaian tersebut sangat minim, membuat Zayn merasa tidak nyaman melihat penampilan Naya.
"Mengapa kamu menggunakan pakaian seperti itu?" tanya Zayn dengan nada ketus. Ia masih belum mau menengok ke arah Naya.
Naya tampak tersnyum mengangkat bahu seolah tidak mengerti masalahnya. "Loh, Mas Zayn. Ini pakaian yang biasa digunakan para wanita jika mau malam pertama dengan suaminya," ucap Naya tersenyum.
Zayn menghela napas, ia masih berdiri membelakangi Naya. "Bisa-bisa kamu masuk angin jika menggunakan pakaian itu. Aku tidak mau tahu, kamu harus ganti pakaian. Mata saya sampai sakit melihat penampilan kamu yang menggunakan kurang bahan seperti itu," bentaknya, mengepalkan tinjunya untuk menahan emosi. Zayn sama sekali tidak berminat untuk malam pertama dengan Naila.
Naya merasa kesal, usahanya telah gagal. Bibirnya terlihat cemberut. Namun, ia tahu bahwa dirinya tidak akan menyerah. Dengan berat hati, Naya melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian lainnya sesuai permintaan dari Zayn.
"Iya, Mas Zayn, iya! Aku ganti pakaiannya," sahut Naya.
Pakaian untuk malam pertama itu seharusnya digunakan Naila, Ibu Nurma yang menyiapkannya untuk malam pertama Naila dan Zayn.
Zayn yang merasa dirinya bergairah, ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar.
"Gagal deh malam pertama dengan Mas Zayn!" gerutu Naya saat Zayn keluar dari kamar. "Dia normal gak sih?"
Anda Mungkin Juga Suka





