
Hanya Menjadi Wanita Pengganti
Bab 3
Naya yang sudah mengganti pakaiannya menggunakan piyama ke luar dari kamar. Wanita cantik yang berusia 26 tahun ini menghampiri Zayn yang lagi duduk santai di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya.
"Mas Zayn, sudah malam. Ayo istirahat," ucap Naya setelah bertatap muka dengan Zayn.
"Saya mau tidur di sini," ucap Zayn ketus.
"Jangan, Mas Zayn. Kamu tidur di kamar Naila saja. Aku akan tidur di kamarku, " ucap Naya mengalah daripada Zayn tidur di sofa.
Tanpa sepatah kata pun yang terucap, Zayn beranjak berdiri. Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar pengantin.
"Sabar, Naya," bisiknya sambil mengelus dadanya. "Belum saatnya kamu malam pertama dengan Tuan pengusaha yang tampan itu."
Naya tidak langsung ke kamarnya. Ia pun duduk senderan di kursi. Naya mengambil ponselnya di saku piyamanya. Menghidupkan layar ponselnya, mencari kontak Naila-sang adik yang usianya beda 2 tahun dengannya.
Nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.
"Yaah... masih belum aktif juga," gumamnya.
Sejak tadi, semenjak Naila kabur. Ponsel Naila tidak aktif, bahkan ratusan chat WhatsApp yang Naya kirim masih centang satu (√).
Meskipun Naya sangat senang bisa menggantikan posisi Naila sebagai istrinya seorang Presdir dingin itu. Namun tetap saja, Naya juga ingin mengetahui alasan kepergian sang adik perempuannya itu.
Terlebih, Naila ini anak kesayangannya ayah dan ibunya. Terkadang, Nyonya Nurma dan Tuan Ferdi terlihat pilih kasih.
"Sebenarnya alasan kamu apa, Naila? Bukankah kamu sangat mencintai Tuan Zayn? Kelau kamu kabur tanpa asalan yang pasti. Itu artinya kamu memberikan peluang kepada Kakak untuk mendapatkan cinta dari lelaki yang selama ini Kakak taksir," monolog Naya.
***
Naya bangun pagi-pagi, ia merias dirinya secantik mungkin. Bahkan sampai menggunakan pakaian yang seksi. Ia mengenakan rok mini, penampilan Naila seperti ini hanya sekedar untuk menarik perhatian suaminya, pria yang selama ini Naya cintai dalam diam. Wanita yang memiliki bulu mata lentik, bola mata bulat ini pun menyiapkan sarapan. Yaitu segelas susu rasa vanila dan roti.
"Astaga, Naya! Mengapa kamu menggunakan pakaian seperti itu?" Ayah Ferdy sampai geleng-geleng kepala melihat penampilan Naya.
"Kenapa dengan pakaian Naya, Ayah?" tanya Naya sambil memperhatikan penampilannya di pantulan kaca, kebetulan ada cermin.
"Sangat tidak sopan, Naya," kata Ayah Ferdy berterus terang.
"Ish, Ayah. Masalahnya apa? Sekarang Tuan Zayn itu suami Naya. Jadi, Naya bebas dong menggunakan pakaian seperti ini?" ucap Naya santai.
"Kamu ini... sepertinya hanya kamu yang terlihat biasa saja saat adik perempuan kamu kabur. Kamu seperti menikmati peran kamu sebagai wanita pengganti. Terus, kamu malah mencoba untuk menarik perhatian lelaki yang sangat dicintai Naila. Kita belum tahu alasan Naila pergi, Naya? Ibu kamu juga sejak semalam menangis terus sampai membuat telinga Ayah terasa panas," ucap Ayah Ferdy.
"Terus Naya harus bagaimana, Ayah? Apakah Naya harus menangis juga seperti Ibu, begitu? Ayah, dengar! Bukan maksud Naya untuk menarik perhatian Tuan Zayn. Tapi, aku hanya berusaha untuk menghibur Tuan Zayn disaat Naila tidak ada. Jika memang nanti Naila kembali, terus dia ingin menikah dengan Zayn. Ya ... Naya siap menjadi janda," ucap Naya, padahal faktanya dia menikmati perannya sebagai wanita pengganti. Bahkan sangat menginginkan laki-laki yang memiliki Perusahaan Dirtara Grup itu jatuh cinta padanya.
"Ayah hanya mengingatkan saja, Naya. Hanya Naila—wanita yang dicintai Zayn, bukan kamu," ucap Ayah Ferdy.
"Iya, Ayah. Naya tahu," sahut Naya.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Naya berjalan menuju kamar sang adik dengan hati yang berdebar-debar. Lalu, Ia mengetuk pintu kamar.
"Mas Zayn," panggil Naya.
Pintu kamar tidak dikunci, Naya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar tersebut dengan senyum manis di wajahnya.
"Selamat pagi, Mas Zayn," sapa Naya lembut.
Zayn menoleh ke arah Naya dengan ekspresi wajahnya berubah sinis. "Pakaian seperti apa yang kamu gunakan, Naya?" tanya Zayn ketus. "Pakaian kamu ini tidak jauh beda dengan pakaian yang sering digunakan wanita murahan yang suka menjual tubuhnya kepada Casanova." Zayn tersenyum mengejek.
"Benarkah? Aku hanya ingin tampil sedikit berbeda, Mas Zayn," jawab Naya dengan senyuman dibuat semanis mungkin. "Apakah kamu tidak menyukai penampilan aku?" tanya Naya begitu sabar menghadapi sikap Zayn yang selalu menghina dirinya wanita murahan.
Zayn tertawa sinis. "Sama sekali tidak suka. Sakit mata aku melihat penampilan kamu. Asal kamu harus tahu, pakaian yang kamu gunakan ini tak jauh beda seperti para pelacur, dan make up yang kamu itu seperti hantu kuntilanak. Apa kamu benar-benar berharap saya akan tertarik padamu dengan penampilan seperti ini? CIH! Tidak akan pernah terjadi."
Naya merasa kesal, namun ia berusaha menahan diri. Ia menunjukkan nampan sarapan yang ia bawa. "Aku hanya menawarkan sarapan, Mas Zayn. Bukan meminta kamu mengoreksi penampilan aku. Ya, kalau kamu tidak menyukainya tidak masalah. Aku pun tidak berharap kamu bisa menyukai penampilanku," ucap Naya.
Zayn menghela nafas. "Benarkah? Terus, apa yang kamu bawa?" tanyanya sinis.
"Aku membuatkan susu dan roti. Tenang, tidak ada racunnya. Semoga kamu bisa menyukainya," ujar Naya dengan nada lembut.
Zayn menerima nampan tersebut dan menatap Naya tajam. "Oke! Sekarang kamu keluar! Tapi, tolong, lain kali jangan berpenampilan seperti ini di depanku. Saya tidak suka. Kamu ini istri seorang miliarder yang memiliki banyak cabang perusahaan. Maka kamu harus bisa menjaga penampilan kamu!" ucap Zayn yang selalu sinis.
Naya mengangguk, menahan rasa sakit hati yang ia rasakan. "Baik, Mas Zayn. Aku mengerti, lagian aku ini hanya sekedar wanita pengganti, bukan? Terserah aku mau berpakaian bagaimana juga."
"Ya, memang. Tapi karena Naila tidak ada, jadi kamu istriku. Dan besok, aku akan membawa kamu ke kota. Maka saya ingatkan dari sekarang, di sana kamu harus bisa menjaga penampilanmu, jangan menggunakan pakaian seperti pelacur atau pakaian kurang bahan. Apakah kamu tidak bisa meniru penampilan, Naila? Anggun, cantik, sederhana, pakaian juga tertutup."
"Iya, Mas Zayn." Naya benar-benar kesal karena Zayn membandingkan penampilan dirinya dengan Naila.
"Sekarang, keluar dari sini. Saya ingin menikmati sarapan saya dengan tenang."
Naya beranjak keluar dari kamar dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapan dengan kata-kata. Lagi-lagi usahanya gagal untuk bisa membuat seorang Zayn itu menyukai penampilannya.
"Jadi Mas Zayn meminta aku agar penampilanku seperti Naila?" gumam Naya. "Ah, aku akan tetap seperti ini. Aku tidak akan merubah penampilanku seperti apa yang dia inginkan," gerutunya.
Huh, Zayn menghembuskan nafas kasar. Kemudian, ia kembali menghubungi seseorang yang ia perintahkan untuk mencari Naila.
"Halo, bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan kabar?" tanya Zayn kepada orang itu.
Anda Mungkin Juga Suka





