
Habis Manis Sepah Dibuang
Bab 2
Michael melipat tangannya di dada, lalu berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau mau pergi, pergi saja. Kalau sudah pergi, aku nggak akan kasih kamu kesempatan lagi.”
Aku menarik napas dalam-dalam dan menjawab, “Nggak usah. Michael, sudah 8 tahun. Aku capek. Sudah saatnya aku akhiri perasaan ini.”
Aku menaruh kunci rumah ke tangannya, lalu langsung pergi tanpa berbalik lagi.
Michael berteriak dari belakang dengan sombong, “Jocelyn, jangan nyesal kamu!”
Lelucon macam apa itu? Aku tidak pernah melakukan hal yang kusesali. Satu-satunya kesalahanku hanyalah menjalin hubungan dengannya selama 8 tahun. Aku benar-benar lelah selama 8 tahun ini. Setelah memutuskan untuk berpisah sekarang, aku juga tidak menyesal.
Aku mencari sebuah hotel dan mengambil sebuah kamar di sana. Saat senggang, berbagai macam pikiran akan memenuhi benakku. Aku pun menyelesaikan semua pekerjaanku, juga mengajukan pengunduran diriku ke perusahaan.
Begitu mengetahui aku ingin mengundurkan diri, penanggung jawab departemen SDM mengirim pesan padaku.
[ Kak Jocelyn, ada apa? Kok kamu tiba-tiba undurkan diri? Apa karena Yanisa? Tahu nggak, wanita itu benar-benar keterlaluan! Mentang-mentang punya hubungan baik sama Pak Michael, dia suka menindas kami. Beberapa proyek kami juga direbutnya! Kak Jocelyn, kalau kamu pergi, gimana dengan perusahaan? ]
Lihat saja, bahkan karyawan departemen SDM juga dapat melihat Yanisa sangat berbeda dari orang normal. Namun, memangnya kenapa meskipun karyawan perusahaan mengeluh? Mereka tetap harus menuruti kata-kata Yanisa.
Michael yang ingin merusak kariernya sendiri, tetapi aku tidak. Jadi, aku hanya membalas.
[ Ini semua pilihan Michael sendiri. Kamu jalankan saja prosedurnya seperti biasa. ]
Dia seketika mengerti bahwa aku dan Michael sudah sepenuhnya berpisah dan mau tak mau merasa agak panik.
Di dalam perusahaan, jika Michael itu bosnya, aku ini penasihat yang selalu berada di sisi Bos. Ada banyak pesanan perusahaan yang kutangani dan berhasil kudapatkan. Keahlian dan kepekaanku dalam pasar jauh lebih baik daripada Michael. Kami berdua memainkan peran yang berbeda dan saling melengkapi.
Awalnya, Michael mengatakan aku adalah tangan kanannya. Dengan adanya aku, perusahaan baru bisa makin sukses. Namun, entah sejak kapan, dia merasa semua ini adalah sesuatu yang seharusnya didapatkannya.
“Semua keberhasilanku saat ini kudapatkan berkat usahaku sendiri. Jocelyn, jangan kira karena sudah lama di sisiku, kamu juga berjasa. Perusahaan tetap bisa berjalan tanpamu!”
Dalam pertengkaran terakhir kami, Michael berkata begitu. Aku juga sudah melihat jelas semuanya. Berhubung aku bukan siapa-siapa, lebih baik aku berhenti bekerja dan biarkan dia sendiri menangani semuanya.
Keesokan harinya, aku tetap pergi ke perusahaan. Berhubung sudah mengundurkan diri, aku perlu melakukan serah terima pekerjaan.
Saat aku tiba, Michael dan Yanisa menghampiriku bersama. Michael berkata dengan sombong, “Kamu sudah berikan surat pengunduran dirimu, ‘kan? Kalau begitu, serahkan semua pekerjaan yang lagi kamu tangani.”
Yanisa juga menatapku, lalu menimpali sambil tersenyum berseri-seri, “Kak Jocelyn, meja kerjamu sekarang sudah jadi milikku. Tolong bereskan barang-barangmu dan cepat pergi.”
Aku mengangguk dan menjawab, “Oke. Tapi, tolong serah-terima pekerjaan denganku dulu.”
Aku mencetak 3 salinan formulir serah terima, yang satu untuk perusahaan, yang satu untuk orang yang ambil alih pekerjaanku, dan yang satu lagi untuk aku sendiri.
Setelah menerimanya, Yanisa tersenyum padaku dan berkata, “Jangan lupa data klien juga, ya!”
“Itu semua ada di dalam komputer. Aku juga sudah serahkan daftar kliennya ke perusahaan dari awal.”
Ucapanku membuat Michael tertegun sejenak. Kemudian, dia bertanya dengan terkejut, “Jocelyn, kamu benar-benar mau undurkan diri? Kamu rela tinggalkan hasil jerih payahmu selama bertahun-tahun?”
Anda Mungkin Juga Suka





