
Habis Manis Sepah Dibuang
Bab 3
Aku mengangguk, lalu menjawab, “Rela kok. Bukannya kamu sudah bilang? Perusahaan tetap akan berjalan tanpa aku. Berhubung begitu, aku juga mau tahu gimana Pak Michael membalikkan keadaan.”
Ekspresi Michael langsung terlihat sangat muram. Dia langsung melambaikan tangannya dan berkata, “Yanisa, awasi dia!”
Yanisa tentu saja sangat patuh. Aku memeriksa formulir serah terima dengan saksama sekali lagi. Setelah memastikan tidak ada yang salah dan menandatanganinya, aku mulai membereskan barang-barangku. Pada saat aku hendak pergi dengan membawa barang-barang pribadiku, Yanisa malah menghentikanku.
“Kak Jocelyn, maaf. Kami perlu periksa barangmu sekali supaya mencegah ada yang bocorkan rahasia perusahaan.”
Aku menatapnya, lalu mencibir, “Memangnya kamu itu siapa sampai berani periksa barangku? Istri bos?”
Yanisa langsung merasa sangat malu. Para rekan kerja juga melirik ke arah kami.
Tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang yang berkata, “Maksudnya itu maksudku juga!”
Begitu melihat Michael, Yanisa seketika kegirangan. Dia menatapku dengan tatapan menantang, lalu melemparkan diri ke pelukan Michael dan berkata dengan sok sedih, “Pak Michael, untung kamu datang. Kalau nggak, aku sudah nggak layak lanjut kerja di perusahaan ini.”
“Nggak ada siapa pun yang lebih layak kerja di sini dari kamu!” Michael merangkul pinggang Yanisa, lalu menatapku dan berkata, “Jocelyn, keluarkan barang-barangmu untuk diperiksa!”
Aku melirik kotak di tanganku. Isinya hanya kalender, cangkir, handuk, dan sebagainya. Aku pun tertawa, lalu membuang kotak itu ke lantai. Suara yang barang yang jatuh ke lantai segera menarik perhatian semua orang.
“Lihat! Isinya cuma sampah! Aku nggak mau lagi!” kataku sambil menendang kotak itu. Kemudian, aku mengacungkan jari tengahku ke hadapan Michael dan melanjutkan, “Michael, ingat baik-baik penghinaan yang kamu berikan padaku hari ini!”
Seusai berbicara, aku langsung menekan tombol lift dan berjalan pergi. Sementara itu, sudut mulut Michael terlihat berkedut dan ekspresinya sangat suram.
Aku pergi mencari Profesor Randy. Sebagai penengah, dia langsung merekomendasikan aku kepada Christian Liandi dari Tekno Solutions setelah aku mengundurkan diri. Saat melihat wajah mereka yang mirip, aku pun tertegun.
Profesor Randy langsung tertawa dan berkata, “Christian itu putraku. Dia selalu suruh aku perkenalkan eksekutif berbakat kepadanya. Aku mana kenal sama eksekutif berbakat. Jadi, aku cuma bisa perkenalkan murid-muridku padanya. Aku sangat percaya padamu, tapi kamu nggak setuju-setuju. Kali ini, akhirnya tugasku selesai juga.”
Kemudian, Profesor Randy menepuk-nepuk bahu Christian dan melanjutkan, “Aku sudah perkenalkan orangnya padamu. Sisanya, kamu negosiasi sendiri.”
Christian menyuruhku untuk duduk, lalu berkata sambil tersenyum, “Aku sudah dengar dari Ayah dari dulu kalau kamu sangat berbakat di bidang ini. Sebelumnya, kamu juga yang dapatkan beberapa pesanan besar Start Tech.”
“Pak Christian, pujianmu terlalu berlebihan. Setiap perusahaan punya karakteristik sendiri. Mencari karakteristik ini dan kebutuhan klien, lalu buat proposal yang sesuai adalah tugas karyawan profesional.”
“Yang kamu katakan benar!” jawab Christian.
Ada secercah apresiasi yang melintasi matanya. Setelah melihatnya, aku tahu bahwa aku sudah menemukan tempat yang cocok denganku.
Sebenarnya, Christian memiliki reputasi yang sangat bagus di industri. Di awal Michael mendirikan perusahaannya, perusahaan Christian adalah pedomannya. Sayangnya, Michael tidak bisa mencapai tingkatan Christian.
Setelah makan, aku dan Christian mencapai kesepakatan. Kami pun menandatangani kontrak kerja dengan lancar.
Saat keluar dari restoran, kami kebetulan bertemu dengan Michael dan Yanisa. Yanisa sengaja membelalak dan berseru, “Yang benar saja! Kak Jocelyn, kamu kejar sampai kemari? Aku sudah tahu kamu nggak mungkin tinggalkan Pak Michael!”
Michael juga mengejek, “Jocelyn, kalau kamu lebih cepat tunduk padaku, mungkin aku akan maafkan kamu.”
Aku pun tertawa. Tak disangka, dia begitu tidak tahu malu sampai sekarang. Aku pun mencibir, “Memangnya kamu layak kukejar?”
“Apa katamu?”
Aku menjawab sambil tersenyum sinis, “Maksudku, kamu nggak layak. Aku juga bukan datang demi kamu, melainkan orang lain!”
“Siapa? Jocelyn, cepat juga kamu pindah hati. Tapi, siapa di industri ini yang nggak tahu kamu itu wanitaku? Memangnya ada orang yang mau terima wanita yang sudah pernah kutiduri?”
Anda Mungkin Juga Suka





