
Gulai Daging Ibu
Bab 3
Bismillah
Gulai Daging Ibu
#part_3
#by: R.D.Lestari.
Dengan hati yang masih berdebar, Sulis mencari kembali sesuatu yang ia pikir adalah potongan jari tadi. Sayangnya, setengah jam mencari, benda itu tak kunjung ia temukan.
Ia sesungguhnya masih sangat ragu dengan penglihatannya. Apa itu memang jari tangan manusia, atau hanya mirip semata?
'Ah, sudahlah. Mungkin itu ceker ayam yang di campur saja,' pikir Sulis.
Ibu beranak satu itu bangkit dan membawa mangkuk yang berisi beberapa potong daging dan separuh nasi yang tak habis ia makan ke dapur. Selera makannya seketika hilang saat melihat benda yang mirip jari tadi.
"Manis ... Manis!" seru Sulis memanggil kucingnya. Berniat memberikan sisa daging untuk kucing kesayangannya.
Manis datang sembari mengeong riang, mengendus mangkok yang di berikan Sulis di hadapannya.
Bukannya malah melahap daging yang bagi Sulis amat nikmat itu, Manis malah terlihat mau muntah dan memutar tubuhnya.
Sulis yang melihat tingkah kucing berbulu hitam lebat itu merasa heran. Tak pernah sekalipun Manis menolak daging apapun pemberiannya selama ini, karena kucing gembul itu memang doyan makan.
Sulis mengambil kembali mangkuk yang masih berisi daging dan mengarahkan ke hidungnya. Mengendus bau gulai yang terasa berbeda, aroma amis yang masih terasa.
Tak menunggu lama, ia segera melangkah ke arah dapur dan membuang sisa lauk yang tak ia makan begitu saja.
Tanpa ia sadari, sepasang mata menatapnya dengan kilat amarah karena pemberiannya begitu saja ia buang. Darahnya mendidih seketika. Gagang sapu yang ia pegang dicengkeram dengan geram.
"Sial*n! susah-susah dibuat, main buang! awas kau Sulis!" gumamnya geram.
***
Parni melangkah girang membawa keranjang hijau berisi beberapa bungkus gulai daging hasil masakannya mengelilingi kampung.
Dengan wajah sumringah, Parni menawarkan dagangannya, tak lupa mencicipi dengan satu bungkus kecil tester yang dihadiahi pujian dari para tetangga dan calon pembelinya.
Mereka memuji rasa dan juga harga yang cukup murah untuk ukuran gulai daging yang banyak.
Dalam sekejap jualan Parni ludes tanpa sisa. Ia melangkah riang menuju ke rumah. Selama setahun belakangan, semenjak suaminya mengalami sakit lumpuh, tak pernah ia memegang uang sebanyak hari ini.
Berbagai asa ia ukir di dalam kalbunya. Membeli beberapa jajanan yang selama ini dirindukan anak-anaknya.
Selama ini anak-anaknya hanya bisa menelan ludah saat melihat teman-teman seusianya menyantap makanan ringan. Mereka hanya bisa melihat tanpa mampu meminta, karena mereka tau seberapa sulit hidup mereka. Jangankan untuk jajan, makan pun nasi bekas orang yang sudah tak termakan dan sudah berbau tengik, tapi demi perut yang minta diisi, mereka menepis rasa dan bau yang terkadang membuat nasi tercekat di kerongkongan.
Hidup bagi keempat anak Parni sangatlah keras. Untuk seragam sekolah pun mereka harus bergantian pakai.
Jarak usia anak yang tak sampai dua tahun, membuat mereka bagai seumuran. Bertubuh kurus dan juga hitam.
Terkadang mereka membantu Parni mencari plastik-plastik bekas di sekitar kampung.
Mereka anak-anak yang baik, yang mengerti bagaimana susahnya kedua orang tua di usia teramat belia. Toni anak pertama saja belum genap berusia sepuluh tahun.
Dari memulung itulah, keempat anak itu saling menyuap jajan satu sama lain. Jajan yang bagi anak-anak seusia mereka itu gampang, amat susah bagi keempat anak Parni.
Bukan Parni tak tau bagaimana kegundahan keempat anaknya, tapi keadaan yang membuatnya hanya bisa diam sembari menitikkan air mata. Apalagi ketika melihat senyum terbit di wajah keempat buah hatinya saat berbagi sebungkus jajanan, bukan hanya teriris tapi ia akan rela menyerahkan nyawanya sendiri demi melihat kebahagiaan yang terpancar setiap hari.
Saat melewati kuburan, Parni menghentikan langkahnya sejenak dan melihat kerumunan warga. Ia hendak mendekat demi mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat di mana ia menemukan ide cemerlang yang membuat kantongnya tebal seketika.
Saat hendak mendekat, kakinya terasa amat gemetar. Isak tangis terdengar begitu menyayat hati membuat batin keibuan Parni begitu saja terbit di relung hati.
Ia memilih berlalu bukan karena ia acuh, tapi ada ketakutan yang teramat sangat mengguncang jiwanya. Lebih baik menghindar, daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Parni mempercepat langkahnya, melewati banyaknya warga yang ikut merasa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam area pemakaman.
Ia hanya ingin segera sampai rumah dan bertemu keluarganya tercinta.
***
Sekitar dua ratus meter sebelum sampai rumahnya, Parni menyempatkan diri singgah di warung yang biasa jadi tempatnya berhutang.
Seorang wanita yang hampir senja menyambut kedatangannya dengan muka masam.
"Mau apa, Par. Hutang? yang kemarin aja belum bayar!" ujarnya ketus saat Parni masuk ke dalam warungnya.
Parni mengepal kedua tangannya. Geram. Jika saja tak berdosa, pasti untuk pertama daging dari wanita ini yang akan ia gulai.
Parni menatapnya dan membayangkan jika lidah yang mengeluarkan ucapan kasar itu ia potong-potong dan di campur dengan cabai rawit dan irisan bawang serta daun salam. Pastinya amat nikmat bila bercampur dengan nasi yang masih hangat.
"Heh, malah ngelamun. Udah, ga boleh lagi hutang,"
Ucapan Nek Timah, sebutan warga pada wanita tua itu, membuat Parni tersadar. Ibu beranak empat itu lantas menjawab," saya datang mau menyicil hutang. Besok akan saya lunasi, Nek," janjinya.
"Ini untuk menyicil hutang, dan ini untuk membeli beras dan jajan," Parni menyerahkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan.
"Tumben bisa nyicil hutang dan beli beras, biasa minta nasi bekas tetangga," sindir Nek Timah.
Darah Parni berdesir saat mendengar nyinyiran Nek Timah. Betapa kejamnya ucapan yang dilontarkan wanita yang seharusnya lebih bisa menjaga lisannya.
Sekuat tenaga ia menahan bulir yang menyeruak ingin tumpah saat itu juga. Namun, ia tetap bertahan. Janji hatinya, suatu saat ia akan membuktikan pada Nek Timah, siapa dirinya sebenarnya.
"Saya akan segera membayar semua hutang saya, Nenek jangan takut, dan saya pastikan, tak akan pernah satu kali pun meminta nasi lagi kepada tetangga, terutama pada Nenek,"Parni menekan suaranya dan sedikit menyentak tangannya saat Nek Timah menyerahkan bungkusan belanjaan pesanan Parni.
Belum sempat menjawab, Parni memutar tubuhnya dan berlalu pergi begitu saja, meninggalkan sesal yang teramat dalam di batin Nek Timah. Ia menyesal, terbawa emosi dan berucap kasar hingga tetangganya yang miskin itu terluka karena ulahnya.
Wajah Parni menghangat saat buliran air mata itu tumpah begitu saja tanpa ia pinta. Ia segera menyekanya.
Kehidupan yang keras kadang tak memberi celah untuknya, meski hanya sekedar menangis menyesali nasib.
Senyum Parni terbit seketika saat melihat keempat buah hatinya sedang menunggu di depan rumah dengan wajah penuh asa.
Parni memandangi mereka dari jauh, bukan hanya senyum, tapi sorakan girang yang membuat mulut Parni bergumam," Ibu akan melakukan apa pun demi kalian! meski nyawa Ibu jadi taruhannya."
****
Anda Mungkin Juga Suka





