
Godaan Wanita Kedua
Bab 3
"Sepertinya kamu masih memiliki nyali untuk bertemu denganku setelah apa yang telah kamu lakukan Alvaro. Menyembunyikan Elisa secara diam-diam dariku," sindir Aries.
"Kamu tahu jelas apa alasanku melakukan itu semua. Jika bukan karena istrimu itu, aku tidak akan menyembunyikan Elisa. Alin telah menyakiti Elisa dan membuatnya hampir saja kehilangan nyawa, bahkan anak yang dikandung olehnya," kata Alvaro membalas telak ucapan yang terlontar dari mulut Aries.
Aries tersenyum sinis, pantas saja Alvaro merasa kehilangan dengan bayi yang saat ini dikandung oleh Elisa karena anak yang dikandung oleh istrinya itu adalah darah dagingnya Alvaro.
Ingin sekali Aries menghabisi Alvaro saat mengingat tentang kenyataan jika Elisa mengandung darah daging dari orang lain.
"Itu semua kamu lakukan karena kamu memang mencintai Elisa, atau merasa bertanggung jawab atas yang terjadi pada?" Aries sinis.
"Aku paham kamu khawatir, karena Elisa memang mengandung anakmu," sahutnya lagi.
Alvaro tertawa, menertawakan kebodohan seorang Aries yang merupakan pengusaha ternama, terkenal pintar namun bodoh untuk mengungkapkan suatu kenyataan dan melihat kebenaran yang ada di depan matanya.
"Jika Elisa memang mengandung anakku saat itu. Aku pasti sudah membunuhmu saat Elisa kehilangan janinnya," cibir Alvaro.
"Apa maksudmu?" Aries menatap tajam Alvaro.
Alvaro tertawa, "Haruskah aku bahagia atau tidak saat Elisa kehilangan janin yang dia kandung?" tanya Alvaro. Terdengar jahat, tapi semua itu sengaja dia lakukan untuk membuat Aries sadar, akan kesalahannya.
"Apa maksudmu?" Lagi-lagi hanya itu yang dapat Aries katakan.
"Bukannya maksudku sudah jelas, dengan hilangnya janin yang dikandung Elisa berarti saat itu juga dia melepas semua kenangan yang menyangkut tentang dirimu. Termasuk darah dagingmu yang ada di dalam rahimnya," ungkap Alvaro.
"Cih, kamu sengaja mengatakan hal itu semua untuk membuatku menyesali semuanya? Aku tidak akan mudah percaya dengan semua tipu muslihatmu Alvaro," tawa Aries, ia berusaha untuk menyembunyikan ketakutan dan juga kekhawatirannya.
Bagaimana jika apa yang Alvaro katakan itu benar, janin yang dikandung oleh Elisa waktu itu adalah darah dagingnya. Berarti secara langsung, dia telah menelantarkan anaknya sendiri.
"Untuk apa aku melakukan semua itu? Aku hanya ingin kamu tahu kenyataan dan juga kebenarannya Aries. Walaupun setelah kamu mengetahui semuanya, keadaan tidak akan lagi menjadi sama. Elisa sekarang sudah menjadi milikku, dan kamu tidak akan bisa mengambilnya lagi dari tanganku," ujar Alvaro tersenyum mengejek pria di hadapannya.
Aries menggeleng, "Tutup mulutmu!"
Menyesal, apa sekarang dia merasakan hal itu? Aries menyesali semuanya? Ini tidak mungkin, dia tidak sebodoh itu. Percaya begitu saja pada apa yang Alvaro katakan. Pria itu pasti sengaja membuatnya marah, merasa menang karena saat ini berhasil merebut Elisa darinya.
"Kenapa? Apa sekarang kamu menyesal?" tanya Alvaro.
"Tidak pernah ada penyesalan di dalam hidupku," jawab Aries.
Alvaro mengangguk, memang tidak ada gunanya bicara dengan Aries. Pria itu mempertahankan prinsipnya walaupun itu salah. Tapi, Alvaro tidak ingin perduli dengan hidup Aries, yang harus dia pastikan saat ini jangan sampai Aries mengganggu lagi hidup Elisa.
Alvaro tidak ingin Aries atau pun Alin mendekati Elisa lagi. Jika sampai hal bodoh yang Alin lakukan pada Elisa terulang lagi, maka Alvaro tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawa Alin jika sampai wanita itu berani menyentuh kekasihnya.
"Setidaknya aku masih menghargaimu sebagai mantan sahabatku Aries. Aku datang untuk memperingatimu sekali lagi, jangan pernah mendekati Elisa untuk alasan apapun. Aku tidak ingin kamu menemuinya lagi seperti yang kamu lakukan tempo hari," ucap Alvaro memberikan peringatan pada Aries.
"Kenapa? Apa sekarang kamu sendiri yang takut Elisa meninggalkanmu dan kembali lagi bersama denganku?" ujar Aries.
"Jangan mencoba untuk menantangku Aries?!" geram Alvaro.
"Aku tidak menantangmu, aku hanya bicara sesuai kenyataan Alvaro. Lima tahun Elisa bersama denganku, tidak mungkin semudah itu dia melupakan aku," kata Aries.
Tak bisa dipungkiri oleh Alvaro, lima tahun kebersamaan Elisa dan Aries tidak akan semudah itu dilupakan. Tapi, Alvaro percaya pada kesetiaan Elisa, wanita itu tidak akan mungkin mengkhianatinya.
"Aku takut kamu akan kecewa Aries," balas Alvaro dengan sengit.
Setelah apa yang dilakukan olehnya pada Elisa, berani sekali Aries berkata dengan sangat yakin seperti itu, berkata dengan begitu percaya dirinya jika Elisa tidak akan semudah itu melupakan dirinya yang jelas-jelas telah menyakiti hati wanita itu selama berbulan-bulan lamanya.
"Kita lihat saja nanti Aries. Apa aku atau kamu yang akan kecewa saat Elisa memutuskan untuk kembali lagi bersama denganku. Aku bersumpah akan merebut Elisa dari tanganmu, sama seperti apa yang pernah aku lakukan dulu," kata Aries dengan sangat yakin jika Elisa masih mencintai dirinya.
Saat ini Elisa hanya marah kepadanya, tak pernah bermaksud wanita itu untuk pergi apalagi berpisah dengan dirinya. Elisa hanya ingin menenangkan dirinya, masih marah atas sikapnya yang telah menduakan wanita itu dengan sahabatnya sendiri.
Tapi Aries percaya, setelah amarah Elisa meredah wanita itu akan kembali lagi bersama dengannya seperti dulu. Aries percaya pada cinta Elisa padanya.
"Waktu itu pasti akan tiba, dan aku merasa tidak sabar melihat wajah kekalahanmu untuk yang kedua kalinya," ejek Aries.
"Apa kamu yakin aku pun akan mengalah seperti dulu lagi?"
"Kenapa tidak? Dari dulu kamu tetap sama Alvaro, kamu tidak akan pernah bisa melawanku. Baik kita bersaing secara sehat, atau pun secara licik," ucap Aries.
"Iya kamu benar, aku tidak akan pernah bisa melawanmu dalam hal apapun," ucap Alvaro membiarkan Aries membanggakan dirinya sendiri.
Tapi satu hal yang harus Aries tahu, tak selamanya kebahagiaan yang dia dapatkan dengan cara yang salah dan juga licik, selamanya akan berakhir dengan bahagia.
Lima tahun kebahagiaan itu ternyata dengan begitu mudahnya dihancurkan, bahkan oleh dirinya sendiri.
"Sebelum kamu sibuk mengurus kekasihku. Lebih baik kamu cari bukti tentang kebenaran siapa istrimu itu," ujar Alvaro.
Sebelum pergi, Alvaro mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya untuk dia berikan pada Aries. Daripada pria itu sibuk mengurus urusannya dengan Elisa, lebih baik pria itu menyelsaikan masalahnya sendiri dengan Alin.
"Buka lah Aries, anggap saja ini sebagai bentuk kebaikan hatiku padamu," ujar Alvaro.
Alvaro menepuk pelan bahu Aries, seperti yang Elisa katakan. Tidak ada gunanya dia bertengkar ataupun bermusuhan dengan Aries hanya karena dirinya. Untuk saat ini Elisa adalah miliknya, dan tak ada lagi yang Alvaro takutkan tentang hal itu semua.
"Apa ini?" Aries meraih amplop coklat yang ditinggal oleh Alvaro di depannya.
Meskipun enggan untuk menyentuh amplop itu, tapi Aries merasa penasaran dengan isi di dalam benda berwarna coklat itu.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Aries membuka amplop di tangannya, melihat apa isi di dalam amplop tersebut.
"Apa-apaan ini?"
Aries menggeram kesal, emosinya meluap tak bisa terbendung lagi saat mendapati kenyataan yang diperlihatkan oleh Alvaro di hadapan matanya.
Sungguh selama ini dia memelihara ular di rumahnya, memberikan kehidupan mewah dan juga nyaman pada seseorang yang tak pantas mendapatkan kebaikan hatinya.
Aries bersumpah akan membalas Alin, dan membuat wanita itu menyesal selamanya.
### Tamat ####
Balas dendam Aries pada Alin akan dilanjutkan di buku yang lain ya, juga tentang hubungan percintaan Elisa dan Alvaro. Ikuti kisah mereka berempat di buku berikutnya.
Anda Mungkin Juga Suka





