Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan Sang Mantan Istri

Godaan Sang Mantan Istri

Pernikahan Altair Nanggala dan Zoe Zivana tampak harmonis, namun sebenarnya hambar karena keterpaksaan demi keturunan. Bayang-bayang masa lalu muncul saat Naura Zoffany, mantan istri Altair yang dicintainya, kembali. Dulu mereka bercerai karena Naura dianggap mandul, padahal ia sedang mengandung tanpa diketahui Altair. Naura merahasiakan itu demi melindungi bayinya dari mertua. Kehadiran Naura kini menguji kesetiaan Altair pada Zoe yang rapuh.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Zoe Zivana bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyiapkan sarapan lengkap di dapur, sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya ia lebih sering memesan makanan dari luar. Tapi kali ini berbeda. Ia memutuskan untuk memasak sendiri.

"Dia pasti suka kalau aku masak sendiri," gumam Zoe sambil menuangkan adonan pancake ke wajan.

Zoe mencoba mengingat apa yang dulu disukai Altair sebelum mereka menikah. Ia tahu Altair suka pancake dengan sirup maple dan segelas kopi hitam tanpa gula. Dulu, di awal pernikahan mereka, Zoe sering membuat sarapan seperti ini. Tapi perlahan, kebiasaan itu memudar, seiring dengan dinginnya hubungan mereka.

Ketika semuanya siap, Zoe menyajikan makanan itu di meja makan. Ia kemudian melangkah ke kamar, mendapati Altair masih duduk di depan meja kerjanya, membaca dokumen. Jas kerjanya sudah tergantung di kursi, siap ia kenakan.

"Mas Al," Zoe memanggil lembut, "Aku sudah siapkan sarapan. Yuk makan dulu sebelum kamu ke kantor."

Altair menoleh, wajahnya datar seperti biasa. "Aku sudah bilang, aku nggak terbiasa sarapan pagi-pagi. Kamu nggak perlu repot-repot."

"Tapi ... aku pikir mungkin hari ini kamu mau coba makan dulu," Zoe mencoba tersenyum, meskipun hatinya mulai terasa berat.

Altair hanya menghela napas. "Zoe, aku benar-benar nggak ada waktu. Ada rapat pagi ini. Aku harus pergi."

Zoe terdiam, menelan kekecewaannya. Ia tahu Altair tidak berniat menyakitinya, tapi setiap kalimat dingin itu selalu meninggalkan luka kecil di hatinya.

Setelah Altair pergi ke kantor, Zoe duduk di meja makan, memandangi sarapan yang telah ia siapkan dengan penuh semangat tadi pagi dengan tatapan kecewa. Ia mencoba mencicipi pancake itu, tapi rasanya hambar di mulutnya.

Pikiran Zoe melayang ke awal pernikahannya dengan Altair. Saat itu, ia merasa seperti wanita paling beruntung di dunia. Altair adalah pria yang tampan, sukses, dan sangat dihormati. Tapi seiring waktu, ia menyadari bahwa pernikahan mereka bukanlah cerita dongeng seperti yang ia harapkan.

"Aku nggak akan menyerah," bisik Zoe pada dirinya sendiri. "Altair hanya butuh waktu. Dia pasti akan melihat usahaku suatu hari nanti."

Zoe selalu mencoba meyakinkan dirinya bahwa Altair adalah pria yang pantas diperjuangkan. Ia tahu Altair adalah orang yang penuh tekanan karena tanggung jawabnya sebagai CEO, dan mungkin itulah yang membuatnya sulit membuka hati.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Zoe tahu ada alasan lain. Ia sering melihat Altair termenung, seolah memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia bagi.

Atau seseorang.

Sementara itu, Altair yang kini tengah duduk di belakang meja kerjanya di kantor. Di depannya ada tumpukan dokumen yang perlu ia tanda tangani, tapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu.

Altair mengingat saat-saat bersama Naura, wanita yang pernah ia cintai dengan segenap hatinya. Mereka dulu memiliki dunia kecil mereka sendiri, penuh dengan tawa dan mimpi-mimpi. Tapi semuanya hancur karena satu alasan, mereka tidak bisa memiliki anak.

Ibunya, wanita yang sangat ia hormati, selalu menekankan pentingnya memiliki keturunan.

"Altair, kamu adalah penerus keluarga ini. Kamu harus memastikan ada generasi berikutnya," katanya suatu hari.

Tekanan itu membuat Altair terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan Naura, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Ia ingat malam terakhir mereka bersama. Naura menangis, memohon agar mereka mencoba lagi. Tapi Altair tidak bisa melawan keinginan ibunya.

"Ini bukan tentang cinta, Naura," katanya waktu itu. "Ini tentang kewajiban."

Dan itu adalah kebohongan terbesar yang pernah ia katakan.

Ketika waktu makan siang tiba, Altair akhirnya memutuskan untuk menghubungi sahabat lamanya, Davin. Mereka bertemu di sebuah restoran mewah yang sering mereka datangi.

Singkat saja keduanya saat ini sudah ada di restoran yang menjadi tempat bertemu.

"Ada apa dengan wajahmu? Kelihatan kusut banget," tanya Davin sambil mengaduk kopinya.

Altair menghela napas panjang. "Gue nggak tahu, Dav. Kadang gue ngerasa hidup gue kosong, meskipun dari luar semuanya kelihatan sempurna."

"Zoe?" tanya Davin, langsung menebak.

Altair mengangguk pelan. "Dia wanita baik, tapi ... gue nggak pernah benar-benar mencintainya. Gue menikahinya karena keluarga. Sekarang gue mulai merasa bersalah karena dia selalu berusaha, sementara gue ... gue bahkan nggak bisa berpura-pura peduli."

Davin menggelengkan kepala. "Lu nggak bisa terus begini, Alta. Kalau lu nggak mencintai dia, kenapa lu nggak ngomong terus terang? Lu nggak adil ke dia."

Altair menatap sahabatnya dengan tatapan berat. "Gue nggak mau nyakitin dia. Gue juga nggak tahu apa yang harus gue lakuin."

Davin terdiam sejenak, lalu berkata, "Masalahnya bukan Zoe, kan? Ini tentang Naura."

Nama itu membuat Altair tersentak. Ia menatap Davin dengan tajam. "Gue udah selesai sama Naura. Itu masa lalu."

"Kalau bener, kenapa lu masih mikirin dia? Gue tahu lu, Alta. Lu mungkin nggak ngomong, tapi gue bisa lihat. Lu nggak pernah benar-benar move on dari dia."

Altair tidak bisa menyangkal. Bayangan Naura selalu menghantuinya, bahkan setelah lima tahun berlalu.

---

Malam itu, Zoe menunggu Altair pulang seperti biasa. Ketika pria itu akhirnya tiba, wajahnya tampak lelah. Altair langsung melangkah menuju sofa tanpa sepatah kata, melepas dasi dan menenggelamkan dirinya dalam kesunyian.

Zoe ingin bertanya banyak hal, tapi ia tahu Altair tidak akan menjawab. Ia memandang pria yang kini menjadi suaminya, mencoba memahami pikirannya, meskipun Altair terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan.

Pikirannya kembali pada foto yang ia temukan di laci kerja Altair tadi siang. Naura, Zoe tahu nama itu, meskipun Altair jarang sekali menyebutnya. Ia tahu Altair pernah menikah sebelumnya, dan ia juga tahu pernikahan itu berakhir karena Naura tidak bisa memberikan keturunan.

Tapi apa artinya foto itu sekarang? Kenapa Altair masih menyimpannya?

Zoe menggenggam gelas tehnya erat-erat. Hatinya penuh dengan pertanyaan yang enggan ia ucapkan.

"Mas Alta," panggilnya lembut.

Altair mendongak sedikit, menatapnya sekilas. "Ada apa?"

Zoe menggigit bibirnya, berusaha memutuskan apakah ia harus melanjutkan pertanyaannya atau tidak. Tapi akhirnya ia hanya berkata,

"Kamu capek, ya? Aku buatkan teh hangat, ya."

Altair mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa. Zoe berdiri dan menuju dapur, membawa gelas teh miliknya yang sudah dingin.

Di dalam hatinya, Zoe bertanya-tanya. Apakah aku ada di hatinya? Apakah dia benar-benar sudah melupakan Naura, ataukah wanita itu masih menjadi bayangan yang mengisi kekosongan dalam hatinya?

Sementara itu, di ruang tamu, Altair menatap ponselnya. Ia menemukan dirinya membuka daftar kontak dan berhenti di nama yang sudah lama tidak ia hubungi. Naura. Jarinya melayang di atas layar, tapi ia tidak menekan tombol apa pun.

Malam itu, di bawah atap yang sama, dua hati yang sama-sama lelah berjuang untuk tetap bertahan. Zoe dengan usahanya mempertahankan cinta yang seakan tak pernah utuh, dan Altair dengan bayang-bayang masa lalunya yang terus menghantui.

TBC 🥀🥀🥀---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BIDADARI
8.1
Aida Tazkia merasa rendah diri karena kondisi fisiknya sebagai penyintas kanker. Reiko Byakta Adiwijaya, pria dari keluarga konglomerat, justru tetap menikahinya meski melontarkan hinaan tajam. Di balik pernikahan tanpa cinta ini, tersimpan rahasia besar yang disembunyikan Reiko. Aida kini terjebak dalam belenggu keluarga Adiwijaya yang penuh tekanan. Mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati dan cinta tulus di tengah keraguan akan kesempurnaannya sebagai wanita?
Sampul Novel Cinta Pertama Dari Istri Kedua
9.4
Kehadiran suami yang nyaris tanpa cela ternyata tak mampu memberikan kepuasan bagi sang istri. Dalam sebuah keputusan yang ceroboh, ia justru memilih untuk mendatangkan istri kedua ke dalam rumah tangga mereka. Alih-alih memperbaiki keadaan, tindakan tersebut malah menjadi pemicu bencana besar yang mengancam keutuhan pernikahan. Kini, hubungan yang semula stabil harus menghadapi badai kehancuran akibat kehadiran sosok baru yang tak terduga.
Sampul Novel Hanya Suami di Atas Kertas
8.0
Agnes Permatasari, seorang wanita karier, terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan Rama Pratama akibat tekanan mertua dan ipar yang toksik. Setelah bercerai, Rama segera menikahi wanita kaya pilihan ibunya, meninggalkan Agnes dalam bayang-bayang status janda. Di tengah hinaan dan cacian masyarakat, Agnes harus berjuang menentukan arah hidupnya. Apakah perpisahan ini akan membuatnya semakin terpuruk, atau justru menjadi titik balik baginya untuk bersinar?
Sampul Novel Hasrat Istriku
8.4
Naya terjebak dalam dilema besar antara karier impian dan kehidupan rumah tangganya. Demi menjaga posisi di perusahaan, ia terpaksa merahasiakan status pernikahannya dari rekan kerja. Meski sangat mencintai Ghiyas, ambisi profesional Naya terus menguji kesetiaannya. Kini, di tengah usia pernikahan yang masih sangat muda, ia dipaksa keadaan untuk menentukan pilihan sulit. Akankah Naya mempertahankan pekerjaannya atau justru memilih keutuhan cintanya?
Sampul Novel Madu Cinta Sang Ceo
8.9
Raja Adiwijaya, CEO dingin, terpaksa menikahi Putri Cantika yang culun demi melunasi utang nyawa pada mendiang ayah gadis itu. Saat benih cinta mulai tumbuh, Tiara sang cinta pertama muncul kembali. Terbuai masa lalu, Raja nekat ingin menjadikan Tiara istri kedua meski Putri menolak keras. Terjepit antara janji setia dan obsesi lama, Raja menuntut Putri tetap bertahan di sisinya. Akankah Putri menerima kehadiran madu dalam rumah tangga mereka demi janji tersebut?
Sampul Novel My Soulmate From My Heart (Series 2)
9.5
Arland menolak keras perjodohan yang diatur sang mama dengan Cheryl, gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Untuk menggagalkan rencana itu, Arland menjalin hubungan pura-pura dengan Kiran. Namun, skenario tersebut justru berujung pada perasaan cinta yang nyata. Saat Arland mulai tulus mencintai Kiran, rintangan besar muncul menghadang. Hubungan mereka terbentur tembok tebal karena mama Arland tidak memberikan restu bagi keduanya.