
Godaan Sang Mantan Istri
Bab 3
Pagi itu, Altair Nanggala berdiri di depan jendela kantornya yang besar, memandangi pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Kopi hitam di tangannya sudah hampir dingin, tapi pikirannya terus melayang pada mimpi buruk yang mengganggunya semalam. Di dalam mimpi itu, Naura tersenyum, lalu perlahan menghilang dalam kabut. Senyum yang dulu selalu membuatnya merasa memiliki dunia kini hanya menjadi bayang-bayang di benaknya.
Namun, Altair tidak punya waktu untuk tenggelam dalam lamunan. Hari ini adalah hari penting. Perusahaan akan menyambut beberapa karyawan baru, salah satunya adalah kandidat terbaik yang berhasil menembus seleksi ketat, seorang manajer pemasaran yang baru direkrut.
"Pak Altair, karyawan baru sudah tiba. Anda ingin bertemu sekarang?" suara sekretarisnya memecah pikirannya.
Altair meletakkan kopinya di meja. "Bawa mereka ke ruang rapat. Aku akan datang sebentar lagi."
---
Di ruang rapat, Naura Zoffany duduk sambil merapikan blazer birunya. Hatinya berdebar-debar, bukan hanya karena ini hari pertamanya bekerja, tapi karena perusahaan ini adalah milik Altair Nanggala-pria yang pernah menjadi pusat dunianya.
Naura tidak pernah membayangkan bahwa ia akan bertemu Altair lagi. Lima tahun telah berlalu sejak mereka berpisah, dan ia sudah membangun kehidupan baru bersama anaknya, Aruna. Namun, ketika tawaran pekerjaan ini datang, ia tidak bisa menolaknya. Gajinya cukup besar untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi Aruna, dan Naura yakin ia bisa menghadapinya.
"Aku sudah bukan Naura yang dulu," gumamnya dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, ketika pintu ruang rapat terbuka dan Altair melangkah masuk, segala keyakinan itu runtuh.
---
Altair berhenti di ambang pintu, matanya langsung tertuju pada wanita yang duduk di tengah ruangan. Untuk beberapa detik, dunia seperti berhenti berputar.
"Naura?" suaranya terdengar seperti bisikan, nyaris tak percaya.
Naura menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, pandangan mereka bertemu. Ada banyak hal yang ingin Naura katakan, tapi ia hanya bisa tersenyum tipis dan berkata, "Selamat pagi, Pak Altair."
Altair berusaha menguasai dirinya. Ia melangkah masuk, menyapa semua karyawan baru, tapi matanya terus mencuri pandang ke arah Naura. Wanita itu masih sama seperti yang ia ingat, hanya saja lebih dewasa. Rambutnya kini lebih pendek, dan tatapannya tidak lagi selembut dulu.
Setelah memberikan sambutan singkat, Altair keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat. Jantungnya berdegup kencang, dan pikirannya dipenuhi pertanyaan: Kenapa Naura ada di sini? Apa ini kebetulan, atau ada alasan lain?
---
Altair memanggil sekretarisnya ke ruangan. "Siapa yang mengurus perekrutan untuk posisi manajer pemasaran?" tanyanya dengan nada tajam.
Sekretarisnya, Livia, tampak bingung. "Tim HRD, Pak. Kandidat itu memang memiliki kualifikasi terbaik. Ada sesuatu yang salah?"
Altair menggeleng pelan, menenangkan dirinya. "Tidak, tidak ada yang salah. Tapi, pastikan aku mendapat laporan lengkap tentang semua karyawan baru, segera."
Setelah Livia pergi, Altair bersandar di kursinya, menggosok pelipisnya. Ia tahu ia harus berbicara dengan Naura, tapi ia tidak tahu bagaimana memulainya.
---
Sementara itu, di ruang makan karyawan, Naura mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa pertemuan dengan Altair tidak bisa dihindari, tapi ia tidak menyangka reaksi pria itu akan sekuat tadi.
"Bu Naura, Anda baik-baik saja?" tanya salah satu rekan barunya.
Naura tersenyum kecil. "Oh, saya baik-baik saja. Hanya sedikit gugup, itu saja."
Namun, dalam hatinya, ia tahu alasan sebenarnya. Bertemu Altair lagi membuat kenangan lama yang selama ini ia coba kubur muncul kembali.
Menjelang siang, Altair akhirnya memutuskan untuk memanggil Naura ke ruangannya. Ketika Naura masuk, Altair berdiri di dekat jendela, memunggunginya.
"Kamu ... sengaja melamar pekerjaan di sini?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya datar.
Naura menghela napas. "Tidak. Aku tidak tahu ini perusahaanmu sampai aku menerima tawaran pekerjaan."
Altair berbalik, menatapnya tajam. "Kenapa kamu tidak pergi setelah tahu?"
Naura menegakkan bahunya, mencoba terlihat kuat. "Karena aku butuh pekerjaan ini. Aku butuh memastikan masa depan anakku."
Kata-kata itu membuat Altair terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara Naura yang membuatnya merasa bahwa wanita itu menyembunyikan sesuatu.
"Anakmu?" tanyanya, mencoba terdengar santai.
Naura mengangguk. "Ya, anakku. Aku punya seorang putri."
Altair ingin bertanya lebih banyak, tapi ia menahan diri. "Baiklah. Aku tidak akan mempersulit mu. Tapi pastikan urusan kita tidak mengganggu pekerjaan."
Naura menatap Altair dengan mata yang penuh emosi, tapi ia hanya berkata, "Terima kasih, Pak Altair."
---
Setelah Naura pergi, Altair kembali duduk di kursinya, tapi ia tidak bisa berkonsentrasi. Kata-kata Naura terus terngiang di telinganya: "Aku butuh memastikan masa depan anakku."
Altair tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa anak itu mungkin...
Ia segera mengusir pikiran itu dari kepalanya. Tidak, itu tidak mungkin. Jika anak itu memang anaknya, kenapa Naura tidak pernah memberitahunya?
Di meja kerjanya, Naura memandang layar komputer sambil menggigit bibirnya. Hatinya terasa berat setelah pertemuannya dengan Altair. Ia tahu ini tidak akan mudah, tapi ia juga tidak punya pilihan.
Naura tahu bahwa cepat atau lambat, Altair akan mengetahui kebenarannya. Tapi ia tidak siap. Ia masih ingat jelas bagaimana Altair dan keluarganya memandang pernikahan mereka sebagai cara untuk menghasilkan keturunan. Ketika ia akhirnya hamil dua minggu setelah perceraian mereka, ia memutuskan untuk merahasiakannya. Ia tidak ingin anaknya tumbuh dengan beban menjadi 'penerus keluarga'.
Tapi sekarang, semuanya terasa semakin rumit.
Hari pertama Naura di kantor berakhir dengan rasa lelah yang luar biasa. Ketika ia pulang ke rumah, ia langsung disambut oleh Aruna, anak perempuannya yang berusia lima tahun.
"Mama, aku bikin gambar di sekolah hari ini!" Aruna menunjukkan gambarnya dengan penuh semangat.
Naura tersenyum, mengusap kepala anaknya. "Bagus sekali, sayang. Nanti Mama pajang di kamar, ya."
Aruna tertawa riang, tapi di dalam hatinya, Naura merasa khawatir. Kehadiran Altair dalam hidup mereka lagi bisa menjadi ancaman besar bagi kedamaian yang selama ini ia dan Aruna miliki.
Di sisi lain, di apartemennya, Altair menatap kosong ke arah foto pernikahannya dengan Zoe yang terpajang di meja. Ia tahu hidupnya tidak akan sama lagi setelah hari ini.
Di bawah langit Jakarta yang mulai gelap, takdir mulai menggerakkan roda-roda yang akan membawa mereka ke dalam pusaran konflik yang semakin rumit.
-----
Pagi itu, Zoe memutuskan untuk datang ke kantor Altair lebih awal, membawa sarapan kesukaan suaminya yang kemarin ia siapkan tapi diabaikan. Ia berpikir mungkin Altair akan menghargainya jika ia langsung mengantarnya ke kantor. Zoe tahu pernikahannya tidak sempurna, tapi ia tidak mau menyerah begitu saja.
Dengan senyum yang dipaksakan, Zoe melangkah memasuki lobi perusahaan Nanggala Group. Ia menyapa resepsionis yang sudah mengenalnya dan naik ke lantai atas menggunakan lift pribadi. Setibanya di lantai eksekutif, ia langsung menuju ruang kerja Altair.
Namun, langkah Zoe terhenti di depan pintu ketika ia mendengar suara Altair yang cukup keras.
"Livia, aku bilang aku nggak mau ada karyawan lain yang tahu soal masa laluku!" suara Altair terdengar tajam.
"Tentu, Pak. Saya akan memastikan itu," balas suara sekretarisnya dengan nada tegang.
Zoe mengerutkan kening. Ia tidak ingin menguping, tapi kata-kata Altair tadi membuat rasa penasarannya tumbuh. Masa laluku? Apa maksudnya? pikir Zoe. Ia memutuskan untuk tidak masuk dan memilih menunggu di lobi lantai bawah.
Sementara itu, Naura sedang bersiap untuk menghadiri rapat pagi di kantor. Hari keduanya di perusahaan itu tidak terasa lebih mudah daripada hari pertama. Ia masih berusaha mengendalikan kegelisahan karena harus bekerja di bawah Altair, mantan suaminya.
Saat ia memasuki ruang rapat, ia melihat Altair sudah duduk di ujung meja, berbicara dengan beberapa direktur lain. Altair terlihat begitu tenang dan profesional, tidak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan seperti yang dirasakannya.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Naura, berusaha terdengar santai.
Altair mengangkat wajahnya, menatap Naura sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke dokumen di tangannya. Ia terlihat seperti pria yang benar-benar fokus pada pekerjaannya, tapi Naura tahu lebih baik. Ia bisa merasakan ketegangan di udara setiap kali mereka berada di ruangan yang sama.
Selama rapat, Altair beberapa kali menyebut ide-ide Naura sebagai solusi yang masuk akal untuk proyek baru mereka. Para direktur lain tampak terkesan, tapi Naura tidak merasa bangga. Ia tahu Altair hanya bersikap profesional.
Namun, setiap pujian yang keluar dari mulut Altair membuatnya sedikit gugup. Apakah pria itu benar-benar tulus, ataukah ada sesuatu yang lain di balik sikapnya?
---
Di lobi lantai bawah, Zoe duduk sambil memainkan ponselnya, menunggu Altair selesai dengan urusannya. Ia merasa tidak enak mengganggu, tapi ia benar-benar ingin melihat Altair tersenyum saat menerima sarapan yang ia buat.
Ketika Livia, sekretaris Altair, keluar dari lift, Zoe langsung berdiri. "Livia, ada waktu sebentar?"
"Oh, Bu Zoe. Ada yang bisa saya bantu?" Livia tersenyum sopan, meskipun raut wajahnya terlihat sedikit tegang.
Zoe memutuskan untuk berbasa-basi terlebih dahulu. "Kamu pasti sibuk sekali ya kerja sama Altair? Aku tahu dia orangnya cukup ... keras."
Livia tertawa kecil. "Pak Altair memang sangat fokus pada pekerjaannya, Bu. Tapi beliau juga adil. Kalau ada hasil, beliau pasti menghargainya."
Zoe mengangguk sambil tersenyum. "Oh ya, aku dengar tadi Altair bilang soal masa lalunya. Ada sesuatu yang aku perlu tahu?"
Pertanyaan itu membuat Livia terlihat sedikit gugup. Ia jelas tidak ingin menyinggung hal yang terlalu pribadi. "Saya rasa itu hanya hal biasa, Bu. Pak Altair tidak suka mencampurkan kehidupan pribadinya dengan pekerjaan."
Zoe mencoba membaca wajah Livia, tapi ia tidak bisa mendapatkan petunjuk lebih banyak. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan menunggu dia selesai rapat."
---
Ketika rapat selesai, Naura melangkah keluar dari ruang rapat bersama beberapa kolega baru. Ia bernapas lega, merasa sedikit lebih percaya diri setelah memberikan presentasi yang sukses.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok yang tidak asing di ujung lorong. Zoe Zivana.
Zoe berdiri sambil memegang sebuah kotak makan, terlihat sedang menunggu seseorang. Ketika mata mereka bertemu, Zoe langsung menyadari bahwa wanita itu adalah orang yang sama seperti di foto yang ia temukan di laci Altair kemarin.
Naura juga tampak terkejut, tapi ia berhasil menguasai dirinya lebih cepat. Ia mengangguk sopan dan melanjutkan langkahnya, mencoba menghindari kontak lebih lanjut.
Namun, Zoe tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ia memanggil Naura dengan suara lembut, "Kamu ... Naura, kan?"
Naura berhenti, menoleh dengan senyum tipis. "Iya, benar. Maaf, apakah kita saling kenal?"
Zoe melangkah mendekat, berusaha terlihat ramah meskipun hatinya bergejolak. "Aku Zoe, istri Altai
TBC ☘️☘️☘️☘️☘️
Anda Mungkin Juga Suka





