Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah

Godaan Liar Sang Ustazah

Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kita akan memulai kisah Ustazah Susan, dari beberapa tahun sebelum menikah dengan Ustad Hasbi.

Nama lengkapnya Susana Wulandari, biasa disapa Susan. Kala itu berusia 21 tahun. Langkah hidupnya sudah cukup panjang untuk merasakan suka dan duka kehidupan. Satu tahun yang lalu, ia resmi menikah dengan Aldi Wibowo, lelaki berusia 23 tahun yang merupakan tetangga sekampungnya sejak kecil. Mereka berasal dari keluarga sederhana; tak ada kemewahan, tapi juga tak kekurangan cinta.

Aldi berpenampilan manis dan tampan walau postur tubuhnya cenderung kurus. Ia bekerja di Jakarta di salah satu kantor ternama sebagai Office Boy. Gaji yang ia terima tak seberapa, cukup untuk makan sehari-hari dan menyisakan sedikit untuk dikirim ke Susan setiap bulannya.

Karena alasan penghasilan itulah Aldi belum bisa membawa istrinya tinggal di Ibukota. Biaya hidup yang mahal menjadi pertimbangannya. Mereka sepakat Susan tinggal di kampung mengisi rumah sederhana peninggalan almarhum neneknya.

Walaupun di kampung, namun faslitas mudah terjangkau, jarak ke kota kecamatan dan kabupaten tidak terlalu jauh. Namun yang pasti hidup di sana lebih tenang, dan tidak terlalu jauh dari rumah orang tua Aldi. Sehingga jika ada keperluan mendesak, Susan tidak benar-benar sendiri.

Ibunya Susan sudah lama meninggal dunia. Ia hanya memiliki keluarga dari pihak ayah yang sekarang tinggal di Sumatera, namun hubungannya dengan mereka tak begitu dekat. Karena itulah, lingkungan keluarga besar Aldi dan almarhum ibunys di kampung menjadi satu-satunya dunia kecil tempat ia menambatkan hati.

Susan dikenal ramah, sopan, dan ringan tangan. Ia cepat akrab dengan semua orang. Mereka menyukainya, terutama karena senyum hangat dan tutur katanya yang lembut. Susan dan Aldi satu almamater dari SMP sampai SMA, walau berbeda angkatan.

Masa remaja dan pacaran mereka lalui dengan sangat normal. Susan mampu mempersembahkan kesucian dirinya pada Aldi di malam pertamanya, walau sejak lama cukup banyak godaan lelaki pada Susan. Termasuk beberapa guru di SMP dan SMA. Maklum Susan termasuk primadona di lingkungannya,

Meski hidupnya jauh dari kemewahan, Susan tak pernah mengeluh. Namun, sebagai istri, ia juga ingin turut meringankan beban suaminya. Beberapa kali ia mengusulkan untuk mencari kerja di kota. Pekerjaan ringan apa saja yang bisa dilakoni tanpa harus meninggalkan rumah terlalu lama. Tapi Aldi selalu menolak dengan lembut.

“Aku gak mau kamu kecapekan, Sayang,” begitu katanya, “Tugasmu cukup jaga diri dan rumah. Aku yang cari uang.”

Susan paham, Aldi bukan melarang karena otoriter, tapi karena sayang. Namun hari-hari terasa panjang saat kesunyian datang menghampiri. Tak jarang ia termenung menatap jendela rumah sederhananya, bertanya dalam hati, apakah ini cukup? Apakah begini saja? Ia tak meminta banyak. Ia hanya ingin merasa berguna.

Dan seperti itulah keseharian Susan berjalan. Tenang, sederhana, tapi dengan banyak ruang kosong di hatinya yang diam-diam tumbuh besar. Ruang itu perlahan mendorongnya untuk mencari harapan baru, meskipun langkah pertama sering kali diiringi keraguan dan gemetar.

Dan karena Itu pula Susan mulai rajin membuka media sosial. Selain untuk sedikit bersosialisasi, dia juga ingin mencari harapan—lowongan kerja yang bisa menopang hidup keluarganya sebagai seorang istri demi mengurangi beban suaminya. Juga demi memanfaatkan ijazahnya

Pada suatu hari, Susan menemukan sebuah iklan di facebook. Iklan itu adalah lowongan pekerjaan. Di sana tertulis:

"Dibutuhkan 10 tenaga terapis wanita. Usia 20–35 tahun, berpenampilan menarik, bersedia kerja shift pukul 09.00–15.00 WIB."

Susan membaca iklan itu berulang kali. Tak ada yang mencurigakan, bahkan terdengar cukup menjanjikan. Para pelamar diminta datang langsung dengan membawa lamaran dan siap untuk wawancara di tempat. Hatinya pun tergoda untuk mencoba.

Bekerja hingga jam tiga sore bukan hal yang berat baginya. Soal penampilan, ia tak pernah merasa khawatir. Hampir setiap orang yang bertemu dengannya selalu memberi pujian—kadang terang-terangan, kadang sembunyi di balik senyum atau lirikan mata. Kulitnya putih bersih, tubuhnya proporsional, dan wajahnya, menurut banyak orang, tak membosankan untuk dipandang.

Setiap kali Susan belanja ke pasar, selalu saja ada yang menggoda. Pedagang, tukang parkir, bahkan pemuda kampung yang sok sopan tetapi tak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Susan. Tapi ia tak pernah menggubris mereka. Ia bukan tipe perempuan yang mudah diajak main-main. Susan tetap setia degan Aldi yang sudah menyayanginya sepenuh hati.

Pagi pukul sembilan, setelah membersihkan rumah dan memasak untuk dirinya sendiri, Susan bersiap berangkat menuju alamat Pusat Kebugaran yang tertera di iklan. Ia sudah menghubungi nomor yang tertera sebelumnya, hanya untuk memastikan iklan itu benar adanya. Dan yang pasti dia juga merahasiakan rencananya itu kepada suami, mertua atau saudara lainnya. Dia hanya berpamitan meminta izin main ke rumah saudara jauhnya.

Setelah berganti dari ojeg naik angkot, tanpa kesulitan berarti ia tiba di depan sebuah ruko empat lantai dengan papan nama bertuliskan: “Pusat Kebugaran & Pijat Refleksi Harmonis.”

Hatinya berdebar. Ini adalah kali pertama ia melamar pekerjaan. Ia melangkah masuk, disambut senyum manis dua perempuan sebaya dengannya.

"Mau melamar ya, Mbak?" tanya seorang wanita berkulit hitam manis dengan baju hijau muda. Pertanyaan itu sedikit mengurangi rasa gugup Susan.

"Iya, Mbak," jawabnya dengan jantung yang masih berdegup.

'Kenapa aku malah makin grogi?’ batin Susan. 'Bukankah niatku baik, ingin bekerja?'

"Silakan naik aja langsung ke lantai empat, Mbak. Tangga ada di sebelah sana," ucap wanita berbaju hijau sambil menunjuk ke pojok ruangan.

"Terima kasih, Bu... eh, Mbak," balas Susan sambil tersenyum semanis mungkin.

"Sama-sama," timpal wanita satunya dengan senyum ramah.

"Eh, Mbak!" panggil salah satu dari mereka saat Susan hampir beranjak.

Susan menoleh dengan kaget.

"Pasti Mbak diterima deh," ucap wanita berkaos pink sambil memainkan matanya.

"Loh, kok tahu, Mbak?" Susan terlihat heran.

"Habis Mbak cantik sih," jawab mereka hampir bersamaan.

Pipi Susan terasa hangat, mungkin karena malu atau tersanjung. Ia tersenyum, lalu menaiki tangga menuju lantai empat.

Ia mengetuk sebuah pintu kaca berwarna hitam pekat. Seorang pria berkumis tebal, berbadan tegap, dan mengenakan kemeja safari membukakan pintu tanpa senyum.

"Mau melamar?" tanyanya sambil berjalan ke arah meja.

"Iya," jawab Susan sambil mencoba tersenyum setenang mungkin.

"Surat lamarannya sudah lengkap? Mana?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih tegas.

Susan menyerahkan map berisi surat lamaran dan kelengkapannya. Pria itu membuka mapnya, membolak-balik cepat, lalu menatap Susan.

"Silakan masuk ke ruang aula. Itu pintunya, gabung dengan pelamar lain. Ini nomor urutnya. Tunggu sampai nomor kamu dipanggil untuk wawancara," katanya, menyerahkan kertas kecil bernomor 58.

“Terima kasih, Pak,” ucap Susan, menatap nomor tersebut. Ia terkejut. Ternyata sudah begitu banyak yang melamar.

Ia menuju pintu aula, membuka dan melangkah masuk. Dugaan Susan benar: ruangan itu sudah dipenuhi puluhan wanita. Ada yang duduk, ada yang berdiri sambil mengobrol pelan.

Di tengah kerumunan itu, Susan melihat sebuah kursi kosong. Ia berjalan pelan ke arah sana, menyapa pelamar lain yang dilewatinya.

"Permisi," ucapnya pelan. Tapi tak satu pun membalas senyum atau sapaan itu. Mereka tampak cuek dan dingin. Beruntung tadi dua resepsionis menyambutnya dengan ramah, jika tidak, mungkin Susan sudah putar balik pulang.

Pelamar baru terus berdatangan. Ia melihat ada tiga wanita lain masuk hampir bersamaan dengannya. Di saat bersamaan, pintu kaca di sisi ruangan terbuka—seorang perempuan keluar dari sana. Mungkin itu ruang wawancara, pikirnya.

Susan menarik napas panjang. Ia duduk dengan tenang dan bersiap menunggu namanya dipanggil.

Cukup lama Susan menunggu—lebih dari dua jam—hingga akhirnya nomor miliknya dipanggil oleh seorang pria yang wajahnya mengingatkan pada keturunan Timur Tengah. Jantungnya kembali berdebar saat mendengar nomornya disebut. Dengan langkah pelan, ia mendekati pria itu dan menuju ke sebuah ruangan kaca yang tertutup tirai, tanpa celah untuk melihat ke dalam.

"Silakan masuk," kata pria tersebut sambil melirik dada Susan yang tertutup blazer batik—hadiah ulang tahun dari suaminya beberapa bulan lalu.

"Terima kasih," jawab Susan lirih sambil masuk ke dalam ruangan, matanya menyapu interior sejuk di dalamnya.

Tampak seorang pria lain sedang dipijat di atas kasur kecil oleh seorang pelamar yang sebelumnya telah dipanggil. Pria yang memanggil Susan lalu menunjuk ke sebuah sofa.

"Silakan duduk," katanya.

Susan duduk hampir bersamaan dengannya di sofa tunggal yang tersedia.

"Nama saya Fahmi," ujar pria berusia 40 tahun itu, sambil menyodorkan tangan.

"Susan Wulandari," balas Susan, menyambut tangannya untuk bersalaman.

Fahmi kemudian membuka map lamaran yang sebelumnya telah diserahkan Susan kepada pria lain di depan—kemungkinan bagian keamanan. Ia membaca dengan seksama isi lamaran sambil sesekali melirik ke arah Susan.

"Anak kamu berapa?" tanyanya kemudian.

"Belum punya, Pak," jawab Susan sambil memberanikan diri menatap wajahnya.

"Suami kamu kerja?" tanya Fahmi lagi.

"Kerja di Jakarta, pulang sebulan sekali," jawab Susan, kali ini dengan pandangan menunduk. Ia enggan menatap mata Fahmi dan memilih menatap map di tangannya.

Pria itu lalu menatap tajam ke arah dada Susan yang sedikit terbuka karena posisi duduknya yang agak condong ke depan. Susan menyesal memakai kaos tipis longgar yang dilapisi, meskipun sudah dilapisi blazer, tetap saja potongannya tak cukup menjaga auratnya.

Saat pikirannya sedang melayang memikirkan pakaiannya, tiba-tiba Susan dikejutkan oleh suara bergeser dari arah lemari buku di sampingnya. Ternyata lemari itu bergeser seperti pintu rahasia, dan dari baliknya muncul seorang pria bertubuh besar, agak botak, dan langsung menatapnya. Ternyata lemari itu bukan sekadar lemari—ia juga berfungsi sebagai pintu.

Susan tersenyum sopan kepada pria yang baru saja keluar dari balik lemari. Pria itu tampak berusia sekitar lima puluhan, rambutnya tipis hampir botak, namun masih terlihat tampan. Seperti Fahmi, pria ini juga tampak keturunan Timur Tengah.

"Fahmi, masih banyak pelamar?" tanyanya dengan suara berat sambil matanya menatap dada Susan, membuatnya risih.

"Masih sekitar 30 orang lagi, Pak Zakir. Saya sudah perintahkan Satpam agar tidak menerima pelamar lagi hari ini," jawab Fahmi.

"Baiklah. Kalau begitu, biar saya yang wawancarai nona ini. Kamu panggil yang lain," ujar pria yang dipanggil Pak Zakir itu.

"Baik, Pak," jawab Fahmi sambil menyerahkan map lamaran Susan kepada atasannya.

"Mari," ucap Pak Zakir sambil berjalan lebih dulu.

Susan mengikutinya dari belakang, memasuki ruangan melalui pintu rahasia di balik lemari. Tingginya hanya sebatas bahu Pak Zakir, sementara lebar tubuhnya tak sebanding dengan pria itu.

Ia tersenyum kecil dalam hati, membandingkan tubuh Pak Zakir dengan tubuh besar pria itu. Anehnya dia juga membandingkan lelaki itu dengan Aldi suaminya yang memang cenderung kurus.

^*^

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair
8.8
Kehidupan pernikahan yang terasa hambar dan dingin membuatku terjebak dalam nostalgia masa lalu. Kenangan manis bersama Hany, sang mantan kekasih, terus membayangi setiap sudut hari-hariku hingga menjadi beban bagi hubungan saat ini. Bayang-bayang kebahagiaan lama itu kini mengancam keutuhan rumah tangga yang sedang dijalani. Akankah pernikahan ini mampu bertahan di tengah godaan memori yang tak kunjung sirna, ataukah semuanya akan berakhir hancur?
Sampul Novel Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu
9.8
Dunia Alira Evangeline Moore hancur saat Damian Crestfall, pewaris tunggal Crestfall Group, menolak menikahinya setelah tujuh tahun bersama. Alira yang sedang mengandung harus memilih antara tetap bersama pria yang dicintainya atau menyelamatkan janin di rahimnya. Merasa dikhianati oleh janji manis Damian, Alira memutuskan untuk pergi selamanya. Ia bertekad melindungi calon bayinya dan meninggalkan kehidupan Damian demi memulai awal baru yang mandiri.
Sampul Novel Cinta dari Pria yang Tak Terduga
9.1
Kehidupan Emily yang tenang hancur seketika setelah menerima panggilan polisi yang mengubah segalanya. Ia mendapati Jaka Guntur, kekasihnya, berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Di tengah kekacauan itu, Emily justru terlibat hubungan satu malam yang tak terduga dengan paman Jaka, Jacob. Kini, Emily terjebak dalam pusaran konflik rumit dan tarik ulur perasaan antara mantan kekasihnya dan sosok pria berkuasa yang merupakan paman dari mantannya tersebut.
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Sampul Novel Dendam Istri Muda
8.7
Sepuluh tahun pernikahan Lita dan Khalid hancur seketika saat buah hati mereka meninggal di tangan Jenni, pengasuh yang pernah Lita tolong. Jenni memanfaatkan situasi ini untuk merayu Khalid dan menjadi istri kedua demi menuntaskan dendam lama yang ia simpan. Di tengah duka mendalam dan kehancuran rumah tangga, Lita kini harus menghadapi musuh licik dalam rumahnya sendiri. Akankah hubungan Lita dan Khalid bertahan menghadapi pengkhianatan dan kebencian ini?
Sampul Novel DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
9.6
Alvino Rakha Satyawidjaya, putra tunggal konglomerat properti Asia, memilih mandiri sebagai guru meski bergelimang harta. Di sisi lain, Rachelia Amora Dirgantara adalah primadona SMA Cakrawala yang menjalin kasih dengan Leonel Grestavio. Hubungan harmonis mereka seketika hancur saat Rachel mengetahui rencana perjodohan dirinya. Tak disangka, sosok calon suaminya adalah gurunya sendiri di sekolah. Konflik pun bermula saat cinta dan kewajiban mulai berbenturan.